Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang Romantis
Rangga dan Winta sampai di restoran mewah tempat mereka biasa makan, mengambil posisi duduk yang jauh dari pengunjung lain, tapi batas kaca dapat memperlihatkan kemesraan mereka.
Membuat iri pengunjung lain, tawa renyah dan dentingan sendok, serta suapan suapan mereka begitu romantis.
Orang lain dapat melihat perbedaan usia mereka tapi kecantikan, ke anggunan dan senyum manis Winta dapat menutup kekurangan dengan pria tampan plontos berjambang halus.
" umi cantik banget pakek baju warna ini."
Winta melihat bajunya yang berwarna ungu muda dan hijab lembayung.
" Abi suka warna ini ?"
" Iya, senada dengan kecantikan umi."
Winta tersipu malu.
" Abi juga tampan."
Rangga menggenggam jemari Winta.
" Umi gak kangen."
" Kangen banget."
" Kita ketempat biasa yok mi."
" Gak usah Abi, ini masih jam kerja Abi, umi ketemu gini aja udah senang."
" Belum lengkap mi ."
" Yok pulang, Abi lanjut kerja."
Winta berdiri, mereka keluar dari restoran diikuti pandangan beberapa pasang mata.
" Hhmmm romantis banget ya, itu suami istri apa pasangan selingkuh ya ?"
Bisikan suara itu terdengar ditelinga Winta membuat rona wajahnya memerah.
Setibanya di rumah, Winta melepaskan hijab lembayungnya di depan cermin kamar. Rona bahagia masih terpancar jelas di wajahnya, senyum tipis tak henti-hentinya mengembang.
Sentuhan, perhatian, dan perlakuan manis dari Rangga, pria yang jauh lebih muda darinya, membuat jiwa dan perasaannya kembali bergelora seperti gadis remaja yang sedang jatuh cinta.
Rasa hampa yang belakangan ini singgah di hatinya sirna, berganti dengan binar kebahagiaan yang membuncah.
Sambil merapikan bajunya, Winta merebahkan diri di ranjang. Ia meraih ponselnya, menatap kembali riwayat pesan singkat dari Rangga.
Setiap bait kata manis yang dikirimkan Rangga terasa bagai candu. Dalam benaknya, Winta sadar betul akan kerumitan hubungan ini. Namun, perhatian hangat yang ditunjukkan pria gagah itu membuat benteng pertahanannya runtuh, mengabaikan segala logika dan ketakutan akan masa depan.
Kata kata yang diucapkan pengunjung di restoran sebelum dia pulang tadi, dia anggap angin lalu, mungkin mereka iri tidak memiliki pasangan romantis seperti dia dan Rangga.
" Akh, cuekin aja, biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu."
Bisinya dalam hati.
Sementara itu di tempat lain, kesunyian di rumah Rangga terasa makin mencekam. Viona duduk termenung di sudut sofa ruang tamu, meremas ponselnya yang dingin.
Pesan balasan dari Rangga bukannya memberikan ketenangan, melainkan menambah duri di hatinya.
Viona mengulang kembali membaca pesan Rangga.
" Maaf ma, tadi papa lupa kalau mama masak makan siang untuk papa, papa diajak makan siang sama klien."
Jawaban yang terkesan logis itu terasa begitu hambar dan penuh kebohongan. Insting seorang istri yang telah bertahun-tahun mendampingi tidak bisa dibodohi oleh alasan "makan siang bersama klien".
Tatapan Viona beralih ke meja makan. Makanan favorit sang suami yang ia racik sendiri dengan penuh penyesalan kini telah sepenuhnya dingin dan meliuk layu. Rasa bersalah atas keterlanjuran nya di masa lalu, saat ia kerap menolak dan mengabaikan suami demi kesibukan sendiri, kini bermutasi menjadi kegelisahan dan ketakutan yang luar biasa.
Ia memeluk lututnya di atas sofa, membiarkan air mata menetes basah di pipinya. Binar bahagia di wajah Rangga tadi pagi, penolakan halus sang suami tadi malam, hingga kebohongan siang ini, semuanya menjadi kepingan puzzle yang menyiksa pikirannya.
Viona dihinggapi ketakutan terhebat dalam hidupnya, ketakutan bahwa pintu maaf dan kesempatan yang ingin ia minta, ternyata sudah tertutup rapat karena hati sang suami telah sepenuhnya dimilik wanita lain.
Bersambung