NovelToon NovelToon
Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

"Maaf kalau kata-kata Om menyinggung, tapi itulah kebenarannya. Dendam tidak pernah berujung baik. Jadi saran Om Jangan biarkan lagi rasa penasaran mu itu. Berhenti saja sampai di sini dan lanjutkan hidupmu."

"Aku harus membuat perhitungan dengan si pembunuh itu. Setidaknya aku ingin melakukan sesuatu untuk Sherin, untuk menebus kesalahanku." ujar Nismara.

"Jangan terprovokasi oleh kata-kata di email itu, Nis. Kalau dia betul mau menolong pasti dia menampakan siapa dirinya. Tidak mengirim pesan seperti itu." Sahut Benjamin sambil berdiri. "Bukan nya Om tidak bersimpati dengan kematian tragis yang Sherin alami. Tapiiii sudahlah, terima saja sebagai takdir. Kamu lanjutkan hidupmu. Kesalahan yang pernah kamu lakukan pada Sherin bisa ditebus dengan cara kamu hidup lebih baik, lebih care terhadap sesama."

"Iya betul." Miranti mencelos. Tapi segera dia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri, ketika dilihatnya Nismara melirik tajam.

"Tunggu, Om Ben. Aku mau tanya, gimana Majafas merekrut gadis-gadis itu bekerja di sana?"

"Aku tidak paham soal itu, Nis. Yang pasti Mereka yang memilih dan menyeleksi. Seperti yang aku bilang tadi, tidak sembarang orang bisa masuk ke Majafas."

Nismara tercenung.

Benjamin menepuk pundak Nismara, merangkul sekilas klien yang sudah seperti anaknya sendiri itu. "Aku masih ada jadwal, Nis. Nanti kita sambung pembicaraan kita. Tapi aku minta berpikirlah dengan jernih, jangan gegabah, Om tahu Kamu adalah perempuan cerdas. Okey."

Nismara mengangguk dengan gamang.

Benjamin meninggalkan ruangan itu.

"Nis, aku sependapat sama Om Ben. Kita jangan terpancing sama pesan itu, sekarang juga peduli kamu itu udah menghilang kan?"

Brak!

Tiba-tiba pintu terbuka kasar, dan sosok Cynthia muncul dengan wajah merah padam.

"Mohon maaf, Bu Nismara, Saya sudah berusaha mencegahnya tetapi ibu ini nekat menerobos." seorang laki-laki berseragam di belakang Cynthia berseru.

"Iya Pak nggak apa-apa." Miranti menjawab kepada satpam kantor itu.

"Di mana Gerald?" Seru Chintya.

Miranti menutup pintu dan menghadang Cynthia. " Cynthia setidaknya kamu punya sedikit adab. Datang ke kantor orang....."

"Diam kamu, aku tidak bicara denganmu!" Cynthia menuding Miranti. "Nismara di mana tunanganku? Calon suamiku!"

"Duduklah dulu." Miranti masih berusaha ramah.

Cynthia mencebik. "Tidak perlu, aku hanya perlu jawaban dari Nismara. Pasti gara-gara kamu kan, Nis, Mas Gege mengundurkan hari pernikahanku. Dan sekarang di mana kamu sembunyikan calon suamiku?"

"Aku tidak tahu." tukas Nismara.

"Jangan bohong!"

"Terserah." Sahut Nismara malas. Dia memijat kepalanya lagi, tiba-tiba pusingnya datang kembali.

" Chin, kami lagi diskusi penting." Miranti mencoba mengusir Cynthia.

" Aku tidak akan pergi sampai Nismara mengatakan di mana ah dia sembunyikan calon suamiku."

Nismara spontan menyembur tawa. "Kamu pikir calon suamimu itu apa? Remote AC yang bisa aku sembunyikan?"

"Nggak usah ngelawak. Mas Gege nggak bisa dihubungi semenjak pagi tadi. Terakhir dia kirim pesan akan berlibur dan tidak ingin diganggu......"

Nismara dan Miranti saling bertatapan. Mereka berdua ingat informasi yang diberikan oleh Benjamin tadi kalau Gerald terbang ke London pagi ini.

"Lah itu sudah terjawab. Kenapa kamu tanya ke aku?" Nismara merespon masih sambil tertawa.

"Aku tidak percaya begitu saja."

"Terus kamu mau percaya siapa? Calon suamimu yang kirim pesan kamu nggak percaya, aku bilang nggak tahu di mana calon suamimu, kamu nggak percaya juga. Dasar aneh "

Cynthia mengepelkan tangannya. Gemas sekali dengan jawaban Nismara. Dia merasa Nismara menyembunyikan Gerald, setidaknya pasti Nismara mengetahui kemana Gerald pergi.

" Jangan kau pikir aku tidak tahu ya, Nis. Ada yang sedang kalian rencanakan kan? Kau ambil situasi kematian anakmu untuk mendekati Mas Gege kembali. Aku tahu kamu tidak betul-betul menginginkan perceraian ini......"

"Sst, diam! Dan pergilah aku pusing!" hardik Nismara.

"Pergilah, Cynthia! Nanti kalau kami punya info tentang Gege, pasti kami akan kasih tahu kamu." Miranti menyentuh pundak Cynthia, lalu mendorong halus agar perempuan dengan dahan aduhai itu mendekat ke pintu.

"Aku akan mengawasimu, Nis. Jangan main-main denganku!" Cynthia berusaha mengibas tangan Miranti, namun Miranti tetap menempelkan tangannya pada Cynthia dan terus mendorong pergi.

Nismara mengambil botol air di depannya dan dia teguk sedikit.

Tak berapa lama Miranti datang kembali dengan telepon menempel di telinganya, Dia terlihat sedang berbicara dengan seseorang. Mukanya terlihat menegang.

"Nis." suara Miranti parau memanggil Nismara. "Joana meninggal dunia."

"Astaga! yang bener, Mir?" Nismara berseru.

"Iya, Nis, tadi aku minta tolong Abdul untuk mencari alamat rumah Joana. Abdul masih dalam perjalanan ke sini dari sekolah Sherin."

Abdul adalah salah satu sopir perusahaan yang sangat dipercaya oleh Miranti dan Nismara.

Nismara spontan duduk menegak. "Hah?! Jadi Joana meninggal di sekolah?"

"Iya, Nis. Tapi Abdul belum tahu penyebabnya, Dia sudah pergi dari situ begitu ambulans datang."

"Ah, jangan-jangan itu berita nggak bener, Mir. Coba kamu pastikan lagi!"

"Okey siap." Miranti mencoba melakukan panggilan telepon pada Abdul. Namun sampai panggilan ketiga belum di respon Abdul. Mungkin dia masih menyetir. Laki-laki itu punya kebiasaan menyetel musik keras-keras jika sedang menyetir sendirian, alasannya tentu saja supaya tidak mengantuk. Sedang telepon genggam Abdul selalu dalam mode silent.

***

Ternyata Joana benar-benar meninggal dunia. Konon dia jatuh dari tangga dan kepalanya membentur cukup keras hingga retak.

Hal ini membuat hati Nismara bergejolak.

"Aku baru saja berpikir untuk menemui Joana sekali lagi, karena aku yakin Joana tau lebih dalam tentang Majafas dan aku yakin ini ada hubungannya dengan kematian Sherin. Tapi dalam waktu kurang dari 12 jam setelah aku ketemu Joana, ada orang yang membunuhnya. Aku yakin ini pasti bukan kecelakaan biasa." Nismara terus bermonolog. Tangan nya bersidekap, otaknya berputar-putar mencari petunjuk.

"Berarti apa yang di katakan si peduli itu memang benar. Pembunuh Sherin ada di sekitarku, dia tahu gerak-geriku dan dia pasti akan berusaha keras untuk menghilangkan semua orang yang mempunyai informasi tentang Sherin."

Akhirnya Nismara memutuskan pergi melayat Joana ke rumah duka. Dan Dia terpaksa pergi bersama Samudra, sebab laki-laki itu sudah mulai cerewet bucin seperti Chintya. Membuat praduga sendiri tentang Nismara yang memang sudah dua hari ini menghindari Samudra. Tidak hanya perempuan, ternyata laki-laki juga sudah kadung memakai perasaan yang didasari cinta bisa jadi cemburu membabi buta.

"Kayaknya ini rumahnya, udah banyak karangan bunga." cetus Samudra sembari menepikan mobilnya. "Kita parkir di sini aja ya, Nis. Biar nanti keluarnya lebih gampang."

Nismara mengangguk.

Berdua mereka berdua masuk ke rumah kecil bercat putih bersih. Sejujurnya Nismara agak terkejut, ternyata Joana berasal dari keluarga sederhana. Padahal tadi pagi dia sempat melihat Joana mengenakan sepatu, tas dan jam tangan branded. Nismara bisa pastikan barang-barang branded itu asli semua.

Setelah bersalaman dengan orang-orang yang duduk di sekitar jenazah Joana, Nismara dan Samudra mengambil duduk di depan rumah. Di bawah tarub khas kematian di perumahan biasa. Orang - orang yang melayat sudah mulai sepi, karena jenazah sudah dimakamkan.

Mata Nismara mulai melirik ke kanan dan ke kiri, ingin menemukan sesuatu yang mungkin dapat dia curigai dan dijadikan sebagai petunjuk. Papan karangan bunga pun tak luput dari mata Nismara. Entah mengapa Dia teringat dengan bunga duka cita dari si Peduli Kamu. Tapi dari tujuh papan karangan bunga yang ada, sepertinya semuanya tampak normal. Di kirim dari nama instansi yang jelas dan namanya cukup familiar.

Ketika Nismara menoleh ke kanan, dia melihat rombongan guru-guru sekolah Sherin. Dan tanpa sengaja dia bertemu dengan Miss Indira. Nismara segera menganggukkan kepala, namun ibu guru itu tidak merespon. Dia terlihat seperti sedang melamun. Bisa jadi dia tidak melihat kehadiran Nismara.

1
Maria
penuh dengan teka teki tp seru. Ada pelajaran yg BS kita ambil dr cerita ini. penyesalan pasti akan datang di belakang, kalau di depan itu namanya pendaftaran.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!