Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum Tipis di Depan Laptop
Lampu pijar lima watt di sudut meja belajar Eda memancarkan pendar kekuningan yang hangat dan agak redup. Malam itu, hawa dingin Kota Solo yang menusuk tulang menerobos masuk melalui celah-celah papan dinding rumah kontrakan, tetapi Eda hampir tidak merasakannya. Seluruh perhatian dan pikirannya terserap sepenuhnya pada layar laptop yang menampilkan halaman ruang rapat daring *Google Meet*.
Di pojok kanan atas layar monitor, kamera kecil laptopnya menangkap bayangan pantulan wajahnya sendiri: rapi berbalut jilbab instan berwarna marun, dengan sepasang mata yang tampak jauh lebih hidup, jernih, dan penuh binar keberanian. Penampilan itu sangat berbeda dari wujud Eda beberapa bulan lalu—seorang wanita yang selalu layu, menunduk, dan terus-menerus didera rasa bersalah akibat tekanan tak bertepi di rumah ini.
"Penguasaan materi Bu Eda sangat bagus. Sintaks pembelajarannya juga tertata rapi dari pembukaan sampai penutup," suara Pak Budi, pengawas pembina gugus, terdengar sangat jernih melalui *earphone* yang terpasang rapat di kedua telinga Eda. "Saran saya untuk latihan simulasi mengajar besok, interaksi dengan 'murid imajiner' dibuat lebih lepas dan natural lagi ya, Bu. Jangan terlalu kaku saat memberikan umpan balik."
"Baik, Pak Budi. Matur nuwun sanget atas masukannya yang sangat berharga. Catatan dari Bapak langsung saya revisi dan rapikan malam ini juga," jawab Eda tulus sambil mengukir senyum lebar yang memancarkan rasa lega.
"Tetap semangat, Bu Eda. SD Harapan Bangsa menaruh harapan besar pada Ibu untuk lolos ke tahap seleksi berikutnya," pungkas Pak Budi penuh nada dorongan sebelum akhirnya mengakhiri panggilan video tersebut.
Begitu Panggilan terputus dan layar laptop kembali menampilkan gambar *wallpaper* desktop, Eda menghembuskan napas panjang yang terasa sangat lapang. Ada rasa puas dan bangga yang membuncah hebat di dalam dadanya. Latihan *coaching* daring malam ini berjalan dengan sangat lancar. Pengakuan dan bimbingan dari pengawas dinas makin memantapkan mentalnya untuk menghadapi tahap tes simulasi mengajar resmi minggu depan.
Namun, kedamaian kecil di dalam kamar itu tidak bertahan lama. Suara langkah kaki yang diseret kasar terdengar mendekat dari arah lorong ruang tengah. Kenop pintu kayu kamar Eda mendadak berputar dengan gerakan keras.
*Klek, klek!*
Karena slot besi tambahan di bagian dalam sudah dikunci rapat oleh Eda, pintu kayu berpelitur pudar itu hanya bergetar pelan menahan dorongan dari luar.
"Ed! Buka pintunya!" suara Agus terdengar membentak pelan dari balik pintu. Suaranya serak, ketus, dan menyimpan nada ancaman yang sengaja ditekan agar tidak memicu keributan besar di luar.
Eda menghentikan jemarinya di atas kibor laptop. Ia melepaskan *earphone* dari telinganya, mematikan layar laptop, lalu berdiri melangkah mendekati pintu kayu tersebut. Namun, Eda tidak berniat menyentuh slot besi apalagi membuka kuncinya. Ia berdiri tegak di balik pintu.
"Ada apa, Agus?" tanya Eda dengan nada suara yang teramat tenang, tanpa ada sisa getar ketakutan sedikit pun.
"Lagi ngomong sama siapa kamu dari tadi di dalam, hah?!" cerceh Agus dengan nada menuduh yang dibuat-buat, kentara sekali sedang mencari alasan untuk menumpahkan amarahnya. "Malam-malam begini bukannya tidur malah tertawa-tertawa sendiri di depan laptop! Laki-laki mana lagi yang kamu ajak ngobrol sampai lupa waktu begini?!"
Eda memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk memelihara ketenangan jiwanya agar tidak terpancing emosi rendah. Tuduhan tidak berdasar dan prasangka buruk seperti itu sudah biasa dilontarkan Agus tiap kali ego maskulinnya tersenggol atau tiap kali ia merasa diabaikan dan tidak lagi dipertimbangkan di rumah ini.
"Aku baru saja selesai latihan simulasi mengajar sama Pak Budi pengawas dinas dan Bu Maya, Agus," sahut Eda datar, suaranya mengalun lugas. "Buat persiapan tes Guru Penggerak minggu depan."
Di balik pintu kayu yang dingin itu, suasana mendadak hening sejenak. Terdengar deru napas Agus yang memburu dan tidak teratur.
"Alasan terus!" balas Agus lagi, suaranya makin meninggi demi menutupi rasa gengsinya yang terus-menerus terusik. "Gara-gara urusan sekolahmu yang tidak jelas itu, kamu jadi makin melupakan kewajibanmu sebagai istri! Mama di luar lagi pusing mikir uang bayar sewa kontrakan yang tinggal dua minggu lagi habis! Kamu malah sibuk sendiri seperti orang tidak punya beban!"
Eda menyunggingkan senyum masam di balik kegelapan kamar. Selama lima belas tahun pernikahan mereka, uang sewa rumah kontrakan sempit di kawasan Solo ini selalu menjadi tanggung jawab Eda sepenuhnya dari hasil memeras keringat sendiri. Padahal Doni, Rini, dan anak-anak mereka ikut menumpang tinggal di rumah itu tanpa pernah menyumbang sepeser pun untuk membayar uang sewa maupun tagihan listrik harian.
"Uang sewa kontrakan ini bukan cuma tanggung jawabku, Agus," kata Eda dengan nada suara yang teramat dingin, tegas, dan menohok lurus. "Di rumah ini ada Mas Doni yang ikut tinggal bersama anak istrinya, dan ada kamu sebagai suamiku, kepala rumah tangga di sini. Kalau kalian bingung memikirkan uang sewa, silakan dibicarakan baik-baik bersama Mas Doni. Jangan cuma melempar semua beban hidup ke aku."
"Kamu... kamu benar-benar sudah melunjak dan tidak ada sopan santunnya ya, Ed!" bentak Agus keras, suaranya bergetar menahan malu dan amarah yang meluap. "Aku ini suamimu! Berani-beraninya kamu ngomong seperti itu ke aku?!"
"Kalau kamu mau dianggap sebagai suamiku, berdiri di depanku sebagai seorang suami yang bertanggung jawab, Agus!" tembak Eda tanpa ragu sedikit pun dari balik pintu. "Bantu cari jalan keluar, bantu cari rezeki, bukan cuma menuntut, menyindir, dan menyalahkan aku saat gajiku sebagai guru PPPK sudah habis dipotong bank buat bayar utang-utang kalian!"
Suasana di lorong luar pintu mendadak membeku seketika. Perkataan Eda bagaikan tamparan keras yang telak menghantam dan meremukkan harga diri Agus di hadapan kenyataan. Tidak ada lagi kalimat balasan atau bentakan dari pria itu. Terdengar bunyi decakan kasar disusul langkah kaki Agus yang dihentakkan ke lantai saat berjalan menjauh meninggalkan lorong kamar menuju ruang tengah.
Eda menyandarkan dahinya di permukaan pintu kayu yang dingin. Jantungnya memang berdegup agak kencang akibat letupan emosi tadi, tetapi di dalam benaknya tidak ada lagi rasa gemetar, ketakutan, atau penyesalan.
Eda melangkah kembali ke meja belajarnya yang bersahaja. Ia membuka notebook kecil miliknya, lalu jemarinya mulai mencatat poin-poin revisi sintaks pembelajaran dari Pak Budi tadi dengan penuh ketelitian. Di dalam kamar remang-remang di sudut Kota Solo itu, Eda mengulas senyum tipis yang penuh dengan keteguhan hati. Dinding-dinding dan pintu terkunci yang dulu diciptakan oleh keluarganya untuk mengurung dan menyiksanya, kini telah berubah menjadi benteng kokoh tempat ia menempa kekuatan baru untuk terbang bebas.