Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Suasana siang hari di Mansion Mahardika biasanya sangat tenang karena Raka sedang berada di kantor.
Dewi sedang duduk bersila di karpet ruang keluarga menemani Elvan mewarnai buku gambar dinosaurus.
Brum.
Suara mesin mobil yang sangat halus terdengar memasuki pekarangan mansion.
Dewi tidak terlalu peduli, dia mengira itu hanya mobil kurir yang mengantarkan paket belanjaan Raka.
Namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki pelayan yang berlarian dengan panik di lorong depan.
"Gawat! Nyonya Besar datang! Cepat rapikan lobi utama!" teriak salah satu pelayan senior dengan suara bergetar.
Dewi mengerutkan keningnya mendengar kepanikan yang tidak biasa itu.
Nyonya Besar? Siapa itu, batin Dewi bingung.
Tap. Tap. Tap.
Suara ketukan sepatu hak tinggi beradu dengan lantai marmer terdengar semakin jelas mendekati ruang keluarga.
Seorang wanita paruh baya berusia sekitar lima puluhan melangkah masuk dengan aura yang luar biasa mendominasi.
Wanita itu mengenakan setelan blazer tweed buatan desainer ternama dan kalung mutiara asli yang melingkar di lehernya.
Wajahnya sangat terawat, namun garis rahang dan sorot matanya yang setajam elang itu sangat mirip dengan Raka.
"Jadi ini wanita jalanan yang berani mencuci otak anak dan cucuku?" sapa wanita itu dengan nada yang luar biasa dingin.
Dewi langsung berdiri dan menepuk debu dari celananya, menatap wanita paruh baya itu dengan sopan namun waspada.
"Maaf Nyonya, Anda siapa ya masuk ke rumah orang sembarangan lalu marah-marah?" tanya Dewi dengan wajah polos.
Wajah wanita paruh baya itu langsung mengeras mendengar pertanyaan Dewi.
"Lancang sekali mulutmu! Aku ini Widyawati Mahardika, ibu kandung Raka dan nenek dari anak yang sedang kau pegang itu!" bentaknya.
Dewi sedikit melebarkan matanya, baru menyadari bahwa bos besar sesungguhnya baru saja turun gunung.
Ini pasti Nyonya Besar yang diceritakan Bram waktu itu, ibu Raka yang tinggal di Eropa, pikir Dewi panik.
Ding!
Suara mekanis sistem mendadak berbunyi nyaring menembus otak Dewi.
Layar biru transparan muncul tepat di antara Dewi dan Nyonya Widyawati.
[Misi Harian: Taklukkan Hati Ibu Suri yang Galak!]
[Kondisi: Nyonya Widyawati baru saja bertemu dengan Marissa dan termakan fitnah tentang Anda.]
[Misi: Buktikan bahwa Anda adalah nyonya rumah yang pantas tanpa merendahkan harga diri Anda!]
[Hadiah Penyelesaian: Poin Kasih Sayang +30 dan Item Teh Penenang Mertua!]
[Hukuman Kegagalan: Anda akan diusir dari mansion hari ini juga dan gaji Anda hangus total!]
Dewi menelan ludah dengan susah payah membaca hukuman yang mengancam saldo rekeningnya itu.
Gaji seratus lima puluh juta bulan ini tidak boleh melayang begitu saja hanya karena nenek galak ini.
"Oma!" seru Elvan tiba-tiba sambil berlari mendekati Nyonya Widyawati.
Widyawati yang tadinya memasang wajah garang langsung tersenyum lembut dan berjongkok menyambut pelukan cucunya.
"Cucu Oma yang tampan, kau sudah besar sekali sayang," ucap Widyawati sambil mencium kedua pipi Elvan.
Elvan membalas pelukan omanya, namun tak lama kemudian dia menarik tangan Widyawati menuju arah Dewi.
"Oma, kenalkan ini Mama Dewi! Mama Elvan yang paling cantik!" lapor Elvan dengan bangga.
Senyum di wajah Widyawati seketika luntur, digantikan oleh tatapan jijik ke arah Dewi.
"Elvan sayang, dia bukan mamamu. Dia cuma pengasuh yang dibayar papamu," koreksi Widyawati dengan nada merendahkan.
"Bukan! Ini Mama Elvan! Kalau Oma jahat sama Mama, Elvan tidak mau main sama Oma lagi!" bantah Elvan sambil mengerucutkan bibirnya.
Widyawati terkejut mendengar cucunya yang dulu sangat pendiam kini berani membantah dan membela orang asing.
Wanita paruh baya itu berdiri dan menatap Dewi dengan pandangan membunuh.
"Pantas saja Marissa menangis menghubungiku semalam. Kau benar-benar sudah meracuni pikiran cucuku," desis Widyawati.
Dewi menarik nafas panjang, mencoba mengaktifkan kesabaran tingkat dewa yang dia pelajari dari sistem.
"Nyonya Widyawati yang terhormat, saya rasa Anda sudah salah paham karena mendengar cerita dari satu pihak saja," ucap Dewi tenang.
"Salah paham katamu? Marissa bilang kau mempermalukannya di depan umum dan melarangnya bertemu Elvan!" tuduh Widyawati.
Dewi tersenyum tipis, sangat tipis hingga terlihat seperti ejekan.
"Saya tidak melarangnya bertemu Elvan. Elvan sendiri yang ketakutan dan menolak dipeluk oleh wanita asing yang menelantarkannya sejak bayi," jawab Dewi telak.
Widyawati terdiam sejenak, kata-kata Dewi barusan seolah menampar logikanya.
Dia memang tahu Marissa kabur tiga tahun lalu, dan sebenarnya dia juga sangat membenci mantan menantunya itu.
Tapi melihat Raka tiba-tiba memungut wanita antah berantah ini jauh lebih tidak bisa diterima oleh standar sosial Widyawati.
"Tutup mulutmu. Aku tidak butuh penjelasan dari wanita yang tidak jelas asal usul keluarganya," potong Widyawati angkuh.
Widyawati berjalan menuju sofa ruang keluarga dan duduk dengan gaya sangat elegan.
"Kudengar kau mengambil alih urusan dapur dan memecat Chef Arnold? Berani sekali kau mengatur rumah anakku," sindir Widyawati.
"Saya tidak memecatnya Nyonya, Tuan Raka sendiri yang melarang Chef Arnold memasak untuk Elvan karena menunya tidak cocok," ralat Dewi sabar.
Widyawati mendengus pelan, menatap Dewi seolah sedang menilai barang murahan di pasar.
"Kalau begitu buktikan kemampuanmu. Aku haus setelah perjalanan dari bandara."
"Buatkan aku Teh Chamomile dengan campuran madu manuka asli. Suhu airnya harus tepat delapan puluh derajat, tidak boleh kurang atau lebih."
Ini adalah ujian jebakan, karena Widyawati tahu teh racikannya itu sangat sulit dibuat tanpa takaran koki profesional.
"Jika rasanya tidak sesuai dengan standarku, kemasi barangmu dan keluar dari rumah ini sebelum Raka pulang," ancam Widyawati.
Dewi hanya mengangguk pelan tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun.
"Baik Nyonya Besar. Mohon tunggu sebentar, pesanan Anda akan segera datang," jawab Dewi dengan senyum manis.
Dewi berjalan menuju dapur utama mansion dengan langkah mantap.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭