NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TIGA: Arah Angin (Bagian 4)

“Selamat satu tahun!” aku memeluk Ara yang baru keluar rumah. Dia tertawa terbahak-bahak.

“Segitu bahagianya satu tahun sama aku?”

“Iyalah. Inget sendiri kan kalau aku pernah menyuruhmu putus denganku sewaktu-waktu kalau kamu tidak bisa move on dari Joan? Bayangin aja rasanya ketar-ketir setiap hari hanya karena takut kamu akan minta putus di keesokan hari,” aku melepas pelukanku. Kulihat Ara bersemu. Mungkin karena menyadari bahwa ternyata dia sudah jatuh hati padaku? Semoga saja begitu.

“Yuk!”

“Eh? Mau kemana? Bukannya cuma di rumah aja?” Ara nampak terkejut.

“Mana mungkin aku nyuruh kamu dandan kalau kita cuma di rumah aja? Come on, Chan! Don’t be silly!” kutodongkan helm yang kubawa ke arahnya. Dia mengangkat bahunya menyerah.

“Alright then,” dia memakai helmnya dan segera naik ke jok penumpangku dengan lancar. Oh, ternyata butuh setahun untuk membuatnya terbiasa dengan motorku. Atau bisa jadi butuh waktu setahun jadi pacarku untuk membiasakan Ara memakai rok dengan motor sport. Dulu Ara benci sekali dengan benda bernama ‘rok’ itu. Sebegitu bencinya, sampai dia hanya punya tiga rok. Itu pun semuanya rok sekolah. Mengingatnya, aku jadi tertawa sendiri.

“Ada yang lucu?” Ara membuyarkan ingatanku. Aku tergagap.

“Oh, nope,” jawabku sambil mulai melajukan motorku. Deru motorku mengeras. Mengiringi keheningan kami tiap kali berboncengan di atas motor. Ara dengan pikirannya, aku dengan pikiranku. Dan lalu kuputuskan untuk memberitahunya nanti. Memberitahu sesuatu yang sudah kupendam sendiri sejak pertama kali kudengar berita buruk itu. Mungkin hari ini adalah waktu yang tepat.

“Rame juga ya di sini kalau hari Sabtu,” tutur Ara ketika memerhatikan sekeliling.

“Efek liburan mungkin, Chan,” jawabku sambil memarkir motorku di tempat biasa. Kulambaikan tanganku ke tukang parkir di seberang jalan. Dia mengacungkan jempolnya tanda mengerti. Baru beberapa meter berjalan, ketenanganku sudah terganggu. Banyak perempuan yang berbisik-bisik saat aku melewati mereka. Tanpa berpikir dua kali kusahut tangan Ara dan mengajaknya berjalan lebih cepat. Ara cekikikan melihat tingkahku yang sudah seperti kesetanan hanya karena melihat perempuan yang bergerombol.

“Hey, chill out! Mereka kan nggak ngejar kamu,” tukas Ara di sela tawanya. Aku tidak melambatkan langkahku sedikit pun sampai kami tiba di kafe tujuan kami.

“Tetep aja itu bikin risih. Kenapa kamu malah ketawa-ketawa sih liat pacarmu dilihatin kek gitu?”

“Lho? Katanya suruh bangga kalau punya pacar ganteng? Gimana sih?” Ara masih saja menggodaku. Aku baru akan mencubitnya saat Robi, pelayan kafe langganan kami, datang mengantarkan menu.

“Tumben ke sini jam segini? Mau pesen apa?”

“Omelettenya ada, Mas?” tanya Ara setelah melihat menu.

“Ada kok. Apa lagi? Jus alpukat?” Robi sepertinya sudah hafal di luar kepala tentang jus favorit Ara itu. Ara terkekeh sebelum menganggukkan kepalanya.

“Lu bro? Samain aja?”

“Kok tahu?” tanyaku sedikit heran.

“Biasanya kan lu emang males mikir,” cetus Robi asal. Kutendang kakinya pelan.

“Sialan!” mau tak mau aku tertawa juga. Robi menepuk bahuku pelan sebelum berjalan ke kitchen. Kuperhatikan Ara yang asyik melihat ke luar jendela. Sesekali dia menyipitkan matanya karena sinar matahari di pagi menjelang siang itu masih gencar-gencarnya masuk ke dalam kafe. Aku menarik napas panjang menyiapkan diri.

“Chan...” panggilku pelan. Ara menelengkan kepalanya, bertanya.

“Ada yang mau aku omongin sama kamu. Penting,” kali ini dia benar-benar menolehkan kepalanya, menatapku lurus tanda aku mendapatkan semua perhatiannya.

“Tapi janji dulu satu hal sama aku.”

“O...kay. And what’s that?” Ara meletakkan kedua tangannya di atas meja.

“Jangan minta putus dari aku setelah kamu denger ceritaku, oke?”

“Apa?” Ara terbahak. Dia mungkin berpikir aku hanya bercanda. Tapi melihatku tidak ikut tertawa, dia menyadari aku serius mengatakannya.

“Sure, if that’s the deal,” jawabnya kemudian sambil menopangkan kepalanya di salah satu tangan. Sekarang aku benar-benar gugup. Mungkin begini rasanya akan dieksekusi mati. Bedanya pada tempat dan eksekutornya. Tahanan akan dieksekusi di lapangan dan oleh penembak jitu, sedangkan eksekusiku ada di kafe dan eksekutorku adalah pacarku sendiri. Tetap saja menakutkan.

“Ini soal Joan...” kalimatku menggantung tapi Ara langsung mendudukkan badannya tegak-tegak. Bagus, Joan masih menyita perhatiannya melebihi yang kupikirkan selama ini. Kuhirup lagi oksigen sebanyak-banyaknya. Entah kenapa paru-paruku jadi kalap soal oksigen.

“Seandainya waktu itu kamu menolakku, kamu bisa saja jadian dengan Joan.”

“Maksudmu?”

“Ya, Chan. Joan menyukaimu. Itulah alasan sebenarnya dia menjauh. Karena dia tidak bisa bersikap baik-baik saja ketika melihatmu bersamaku,” done, akhirnya kukatakan sudah. Aku menelan ludah, menunggu respons Ara. Dia hanya diam, memandangku. Mencerna tiap kalimat yang terlontar dari mulutku.

“Lantas kenapa kamu baru bilang sekarang?”

“Karena aku tahu kamu bakal langsung minta putus kalau kamu tahu bagaimana perasaan Joan terhadapmu. Dan bukan aku namanya jika aku mau menyerahkanmu begitu saja pada si Malin Kundang itu.”

“Tapi itu kan...”

“Licik? Yes, absolutely. But I have to keep what I’ve got. It’s not all my fault,” aku membela diri. Ara menggelengkan kepalanya tak percaya.

“Unbelievable.”

“I know, and I’m sorry. Aku tahu aku keterlaluan. Aku juga nggak ingin nyembunyiin ini dari kamu. Itu jadi bebanku selama ini. Tapi aku juga nggak bisa kehilangan kamu gitu aja karena Joan. Aku juga berjuang, Chan. Dan setahun ini bukan waktu yang sebentar,” dan saat itulah kudapati rona yang benar-benar merah di wajah Ara. Aku terkesima. Aku tak tahu Ara bisa jadi secantik itu hanya karena rona. Dia tak punya bulu mata yang lentik, dandan pun dia tak berbakat. Rambutnya juga hanya dikepang menyamping, pun poninya yang sudah panjang itu hanya disisir asal-asalan. Tapi hanya karena hal sepele seperti itu saja aku sudah tidak bisa memikirkan gadis lain.

“Guys, monggo!” Robi menyodorkan pesanan kami di meja. Aku nyaris melompat mendengar suara Robi. Cepat-cepat kuambil jus alpukatku, takut Robi atau Ara menyadari ketidakfokusanku. Aku terlalu banyak melamun hari ini.

“Makasih udah mau cerita, Chan. Ya, meskipun sebenernya aku jengkel karena baru tahu setelah setahun jadi pacarmu. But, I’m with you now. Mas Joan tetap mas Joan, dia tetap ada tapi sebagai masa lalu aja,” tukas Ara setelah menyeruput jusnya.

“Oke...kamu nggak minta putus kan?” tanyaku sejurus kemudian. Ara meringis.

“Aku cuma jengkel kan? Aku nggak akan minta putus hanya karena ini. Tapi...” kali ini ganti Ara yang membuatku menahan napas. Aku benci sekali kata ‘tapi’ di situasi seperti ini. Pasti pertanda buruk.

“Kamu harus pulang,” tukas Ara singkat. Saking singkatnya sampai aku tidak bisa berkata-kata selama beberapa saat.

“Chan...” aku merajuk meminta keringanan.

“Grow up, Chan! Kamu bukan anak TK lagi. You have to face it no matter what. Dan bagaimanapun juga bapak udah jadi anggota keluargamu. Masalahmu nggak akan selesai gitu aja kalau kamu tetap kabur kayak sekarang.”

“Tapi...”

“Take it or leave it! I always go easy on you. Now be hard on yourself!” Ara menyilangkan tangannya di depan dada. Menunggu. Aku tahu Ara benar. Dan aku benci kenyataan bahwa aku tidak bisa berargumen lebih jauh dengannya. Kumainkan potongan omelette di piringku dengan malas. Aku tak punya pilihan lain.

“Fine!” kuanggukkan kepalaku pasrah, menyetujui permintaan Ara.

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!