"Tertinggal di Kota Sane berarti menyerahkan nyawa pada misteri yang mengintai."
Kota Sane adalah pulau indah bernuansa surga, namun memiliki aturan yang sangat ketat: hanya dibuka 4 bulan sekali dan wisatawan hanya boleh berkunjung selama 2 minggu. Bagi yang tertinggal, mitos mengatakan mereka tak pernah selamat.
Naya, mahasiswi kaya yang manja, mengalami mimpi buruk saat ketiduran di dermaga dan ditinggal kapal terakhir. Di tengah kota yang mendadak sepi bagai kota mati, Naya memohon perlindungan pada Devan—pemilik penginapan kayu yang tampan, dingin, dan tegas.
Naya rela bekerja tanpa gaji demi bisa bertahan hidup selama 4 bulan hingga kapal berikutnya datang. Namun, Devan menolak mentah-mentah kehadiran gadis manja itu.
Ketika malam mulai jatuh dan ancaman Kota Sane mengintai, sanggupkah Devan membiarkan Naya berada dalam bahaya? Rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan pulau ini?
Simpan novel ini dan ikuti kisah romansa penuh ketegangan antara Devan dan Naya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Devan terpukul
Kapal besar itu kini benar-benar telah menjelma menjadi titik hitam kecil di batas ufuk timur, perlahan tenggelam ditelan hamparan lautan luas. Namun Devan masih berdiri mematung di ujung dermaga kayu yang sepi. Angin laut bertiup kencang, mengibaskan kemeja hitamnya yang mulai basah oleh cipratan ombak, namun dinginnya tak sanggup menembus mati rasanya dada pria itu.
Setiap detik yang berlalu terasa seperti sembilu yang menguliti hatinya tanpa ampun.
Dengan langkah terseret dan kepala tertunduk dalam, Devan berjalan kembali menuju Penginapan Bahari. Langkahnya kaku, berderat berat di atas papan kayu. Penginapan yang semalam begitu bising oleh tawa dan sorak-sorai wisatawan, kini terasa seperti kuburan raksasa yang dingin dan hampa.
Devan menaiki tangga menuju lantai dua. Ia melangkah ke pintu kamarnya—kamar tempat Naya menginap selama dua minggu terakhir.
Dengan tangan yang bergetar hebat, Devan mendorong pintu kayu itu perlahan.
Kriieek...
Aroma itu langsung menyergap indra penciumannya. Aroma khas bunga melati dan wangi vanila yang begitu lembut—aroma tubuh Naya yang tertinggal dan melekat kuat di dalam ruangan itu.
Kamar itu sudah teratur rapi. Seprei putih di atas tempat tidur kayu sudah dilipat sempurna, tak ada lagi barang-barang gadis itu di atas meja. Naya benar-benar telah pergi, tak menyisakan satu pun jejak kehidupan... kecuali kehangatan memori yang kini balik mencekik leher Devan.
Kamar kayu di lantai dua itu begitu sepi hingga detak jarum jam dinding terdengar bak pukulan palu yang menghantam dada.
Devan melangkah mendekati tempat tidur. Matanya yang biasanya tajam dan berwibawa kini redup, kosong, dan dipenuhi pendar darah yang memerah. Tangannya yang gemetar terulur, menyentuh permukaan bantal tempat Naya menyandarkan kepalanya semalam.
Mata Devan menangkap sehelai rambut panjang berwarna cokelat gelap tertinggal di atas bantal putih itu.
Hanya sehelai rambut.
Namun objek mungil itu menjadi detik terakhir yang meruntuhkan seluruh pertahanan benteng batu Devan.
Yang pernah ditakuti di lautan, pria yang tak pernah meringis sedikit pun saat sabetan senjata tajam merobek kulitnya—seketsika ambruk meluruh ke lantai kayu di samping tempat tidur. Lututnya menumbuk lantai keras-keras, tak lagi sanggup menopang beratnya rasa hancur di dadanya.
Devan mengambil helai rambut itu dengan jemarinya yang besar, menempelkannya tepat di bibirnya, lalu merengkuh bantal bekas tidur Naya ke dalam pelukannya. Ia memeluk bantal itu teramat erat, menenggelamkan wajahnya di sana, menghirup dalam-dalam sisa aroma gadis yang telah menjadi seluruh jiwanya.
"Naya..." bisik Devan parau. Suara baritonnya yang tegap kini pecah, bergetar hebat penuh keputusasaan.
Napasnya mulai sesak.
Isak tangis yang selama ini ia tahan rapat-rapat di balik topeng dingin akhirnya meledak tanpa ampun di dalam kamar yang sunyi itu. Bahu lebar Devan berguncang hebat. Pria itu menangis teraguk-aguk, menumpahkan seluruh rasa sakit, penyesalan
Dan kehampaan yang mencabik-cabik dadanya.
"Maafkan Abang, Naya... Maafkan Abang..." raungnya tertahan di balik bantal, suara tangisnya terdengar begitu pilu dan menyayat hati, bergema nestapa di dinding-dinding kamar kayu.
Ia membenci dirinya sendiri. Ia membenci kenyataan bahwa ia harus berpura-pura dingin, membenci kata-kata "terbawa emosi" yang terpaksa ia ucapkan, dan membenci fakta bahwa ia terlalu pengecut untuk menahan gadis itu tinggal. Ia tahu kata-kata Arkan benar: Naya terlalu muda, terlalu berharga, dan pantas mendapatkan dunia yang lebih indah daripada hidup penuh bahaya bersamanya.
"Abang sayang kamu, Naya... Demi Tuhan, Abang sangat sayang sama kamu..." ucap Devan terengah-engah di antara selingan isak tangisnya yang makin parau. Air mata bening bercucuran tanpa henti dari matanya, membasahi kain bantal hingga basah kuyup.
Ia mengingat bagaimana jemari mungil Naya menggenggam tangannya saat kembang api meledak, bagaimana bibir lembut gadis itu menyambut ciumannya yang hangat, dan bagaimana senyum tulus Naya selalu berhasil menerangi kegelapan di dadanya. Dan kini... semua itu telah sirna. Ia sendiri yang mendorong sumber cahayanya pergi ke lautan lepas.
Devan masih berlutut di lantai. Tubuhnya yang tegap dan kokoh kini merapat ke sisi ranjang, melengkung ringkih bagai pohon tua yang tumbang dihantam badai. Bantal beraroma vanila milik Naya masih didekapnya teramat erat di dada, digenggam seolah jika ia melepasnya sedikit saja, sisa-sisa keberadaan Naya akan menguap habis tak berbekas.
Isak tangisnya yang semula meledak perlahan berubah menjadi tangisan tanpa suara—tangisan paling berbahaya dari seorang pria yang telah mati rasa.
Dada Devan kembang kempis dengan sangat berat. Napasnya tersengal-sengal, patah-patah seperti orang yang hampir tenggelam di laut dalam. Setiap kali paru-parunya menghirup aroma vanila dari kain bantal itu, rasa sakit yang teramat tajam menusuk tepat di ulu hatinya, menjalar hingga membuat tangannya gemetar hebat.
"Kenapa harus seperti ini, Tuhan..." bisik Devan parau, suaranya nyaris habis, pecah berderai di udara yang dingin.
Air matanya terus menetes, jatuh satu demi satu membasahi lantai kayu tua yang menyerap setiap tetes duka sang pemilik penginapan. Devan memejamkan mata erat-erat, mencoba menghapus ingatan tentang sorot mata Naya pagi tadi—mata indah yang biasanya penuh binar hangat, namun berubah menjadi begitu terluka, basah oleh air mata kekecewaan sebelum gadis itu balik badan dan pergi selamanya.
Ia yang telah mengukir luka itu di mata Naya. Ia yang memilih untuk memukul mundur dirinya sendiri, bersembunyi di balik alasan "usia" dan "pengecut", lalu membiarkan gadis itu pergi membawa hati yang hancur.
"Abang pembohong, Naya..." rintih Devan, dahinya menempel kaku di tepi kasur. "Abang bohong waktu bilang itu cuma terbawa emosi... Abang bohong..."
Jemarinya yang kasar mencengkeram kain seprei hingga buku-buku jarinya memutih, seolah-olah ia bisa memutar kembali waktu. Mengulang kembali malam kembang api itu. Ia ingin memeluk Naya lebih erat, menciumnya lebih lama, dan berbisik jujur tanpa gengsi bahwa gadis berumur 20 tahun itulah satu-satunya alasan jantungnya masih mau berdetak di pulau terpencil ini.
Namun segalanya sudah terlambat. Kapal itu sudah membelah lautan, membawa pergi seluruh cahaya yang pernah singgah di hidupnya yang gelap.
Di luar kamar, dari balik pintu kayu yang sedikit terbuka, Nenek berdiri membisu. Tangan keriputnya yang gemetar memegang kusen pintu, sementara air mata tua meluncur perlahan menyusuri pipinya yang keriput. Nenek tidak pernah melihat cucu laki-lakinya—pria yang selalu keras membatu seperti karang laut—menangis tersedu-sedu hingga dadanya terguncang hebat seperti ini.
Nenek tahu betapa Devan mencintai Naya, dan betapa hancurnya pria itu saat harus mengorbankan perasaannya sendiri demi masa depan gadis yang dicintainya.
Di dalam kamar, Devan menyandarkan kepalanya di atas bantal, memejamkan mata dalam pasrah. Di tengah kegelapan matanya, ia masih bisa merasakan hangat jemari mungil Naya di sela-sela jarinya. Namun saat jemarinya mengepal, yang teraba hanyalah udara kosong yang dingin.
",pulau Sane tidak pernah berubah. Lautnya tetap luas, anginnya tetap dingin. Namun bagi Devan... pulau ini telah berubah menjadi penjara tak bertepi, di mana ia dihukum untuk merindukan seseorang yang tak akan pernah kembali lagi."