Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 — Detik-Detik Kritis
Waktu seolah melambat bagi semua yang hadir menyaksikan momen mengerikan itu. Gerald bergerak secepat insting yang telah dilatih bertahun-tahun, mendorong Yao ke samping tepat saat Katarina menekan pelatuk, peluru itu melesat melewati tempat Yao berdiri sepersekian detik sebelumnya.
Tapi Katarina, dengan pengalaman pertempuran yang tidak bisa diremehkan, segera menembakkan peluru kedua — kali ini terarah langsung ke Gerald yang masih dalam posisi melindungi Yao.
Sebuah tembakan lain menggelegar dari arah berlawanan, mengejutkan semua yang hadir.
Marco, yang telah melihat situasi berbahaya itu dari kejauhan, berhasil menembak lengan Katarina tepat sebelum peluru keduanya mengenai sasaran, membuat tembakan itu meleset dan hanya menggores lengan Gerald alih-alih menembus dadanya secara fatal.
Katarina menjerit kesakitan, pistolnya terjatuh ke tanah saat lengannya tertembak, tapi Dimitri, yang menyaksikan saudarinya terluka, segera bergerak dengan amarah yang membara, menembak membabi buta ke arah kerumunan yang berusaha melindungi Yao dan Gerald.
Kekacauan semakin memuncak, dan di tengah hujan peluru yang tidak menentu itu, seorang sosok tiba-tiba melompat untuk melindungi Yao dari arah tembakan Dimitri yang mengarah tepat padanya.
Sofia.
Wanita tua yang telah menjadi ibu kedua bagi Yao selama tujuh belas tahun terakhir, yang telah mengorbankan segalanya untuk melindungi dan membesarkan gadis yatim piatu itu, kini mengorbankan dirinya sendiri sekali lagi — kali ini untuk terakhir kalinya.
Peluru itu menembus dada Sofia tepat saat ia mendorong Yao menjauh dari jalur tembakan, tubuhnya terhuyung dan jatuh ke tanah yang dipenuhi kelopak bunga putih yang kini mulai ternoda merah.
"SOFIA!" jerit Yao, suaranya pecah oleh kengerian dan kesedihan yang begitu mendalam, segera berlutut di samping wanita yang telah menjadi satu-satunya keluarga yang tersisa baginya selama bertahun-tahun.
Pertempuran di sekitar mereka seolah menghilang bagi Yao, dunia menyempit hanya pada wajah Sofia yang mulai pucat, darah yang mengalir deras dari lukanya, dan mata tua itu yang masih berusaha tersenyum lemah meski rasa sakit yang luar biasa jelas terlihat.
"Yao," bisik Sofia lemah, tangannya yang gemetar meraih pipi gadis yang telah ia besarkan sejak kecil. "Kau... kau sudah menemukan kebahagiaanmu. Itu... itu yang selalu kuinginkan untukmu."
"Jangan pergi," isak Yao, air mata mengalir deras membasahi wajah Sofia. "Kumohon, Sofia, jangan tinggalkan aku. Bukan sekarang, bukan seperti ini."
Sofia tersenyum lemah untuk terakhir kalinya, matanya menatap penuh kasih sayang pada gadis yang telah menjadi seluruh dunianya sejak malam mengerikan tujuh belas tahun lalu. "Ferdinand... akan bangga," bisiknya, suaranya semakin melemah, "melihat wanita kuat... yang telah kau menjadi..."
Napas terakhirnya berhembus pelan, dan mata yang selama tujuh belas tahun terakhir selalu penuh kewaspadaan dan kasih sayang itu perlahan tertutup selamanya, meninggalkan Yao yang menjerit dalam kesedihan mendalam di tengah kekacauan pertempuran yang masih berlangsung di sekitar mereka.
Gerald berlutut di sisi lain Sofia, tangannya yang terluka gemetar saat ia mencoba mencari denyut nadi yang sudah tidak ada lagi. Air mata yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun mulai mengalir, menyadari betapa besar pengorbanan yang baru saja disaksikannya — pengorbanan seorang wanita yang tidak memiliki kewajiban apa pun terhadap dunia mafia yang kejam ini, namun tetap memilih untuk mati melindungi seseorang yang ia cintai.
"Kita harus membawanya ke tempat aman," bisik Gerald akhirnya, suaranya pecah oleh duka, meski ia tahu tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan Sofia. "Yao, kumohon, kita harus bergerak. Pertempuran masih berlangsung."
Tapi Yao tidak bisa bergerak, tubuhnya membeku dalam syok dan kesedihan yang terlalu besar untuk dipahami sepenuhnya, tangannya masih menggenggam erat tangan Sofia yang mulai dingin.