NovelToon NovelToon
GALAREA

GALAREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Melasepti__

Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pacar Rea

"Gue berangkat sama lo, Kak?" tanya Rea yang sudah rapi dengan celana jeans ketat dan kaos pas body.

Gala menatap gadis itu dari atas sampai ke bawah, lalu kembali lagi ke atas.

"Lo pakai baju bayi?"

"Hah?" Rea mengerutkan dahi, menilik pakaiannya yang biasa saja menurutnya.

Ini pakaian yang biasa ia gunakan jika ingin hang out bersama teman-temannya, dan ini pertama kali ia masuk kampus tidak menggunakan seragam hitam-putih seperti saat ospek kemarin.

Gala berdecak, lalu pergi ke lemari untuk mengambil baju miliknya. "Pakai ini, entar beli pulang kampus."

Rea menerima sweater lengan panjang milik Gala, lalu mengangguk. Tidak buruk, pikirnya.

"Gue belum maksa lo untuk berhijab, tapi setidaknya jangan pakai pakaian yang membentuk lekuk tubuh, gue gak suka."

Rea menghela nafas pelan, lalu berjalan mengikuti Gala keluar kamar. Mereka sudah siap dengan penampilan masing-masing.

Gala dengan kaos oblong hitam, jeans hitam, sneakers putih, dan almamater kampus. Rea dengan jeans hitam, sweater putih dan sepatu putih.

"Kalian mau berangkat sekarang?" tanya Revin yang sedang duduk sambil memangku kepala Saka, di sofa ruang keluarga.

Gala dan Rea mengangguk, lalu menghampiri keduanya untuk salim.

Setelah salim, Gala sempat menepuk kening Saka sedikit keras, saat melihat pria itu memejamkan mata dengan nyaman.

Saka sontak membuka mata dan mendelik sebal. "Awas kamu, Gal!"

Gala tak peduli, ia segera berlalu diikuti Rea yang tersenyum tipis. Ia merasa senang melihat Gala bisa bercanda dengan Papanya. Tidak seperti dia yang begitu sulit hanya untuk berinteraksi dengan Ayahnya.

"Berangkat bareng, gak apa-apa?" tanya Rea lagi, seraya menerima helm yang Gala ulurkan.

"Kalau mau jalan kaki, ya silahkan," kata Gala seraya menyalakan mesin motornya.

Rea mengerucutkan bibirnya, lalu naik ke boncengan Gala. Tanpa ragu, Rea memeluk pinggang cowok itu, menyandarkan kepala di pundaknya.

"Lo kok kayak anak monyet, sih?"

Rea menatap Gala dari kaca spion. "Gue kangen bonceng gini sama Ayah."

Gala terdiam, lalu berdehem pelan, sebelum menarik tangan Rea agar lebih erat memeluknya.

"Gue bukan Ayah lo, tapi Ayah dari anak-anak lo."

Rea memajukan bibir bawahnya. "Anak aja belum punya."

"Ayo bikin!"

Rea mendengus pelan seraya mencubit perut Gala, membuat cowok itu sedikit menggeliat.

Tak lama, mereka sampai di parkiran fakultas bisnis. Ada beberapa tatapan yang menyorot mereka, terutama mahasiswi yang mengenal sosok Gala.

Yang mereka tahu, Gala itu anti dengan perempuan, sangat jarang dekat dengan perempuan kecuali adanya kepentingan tentang pengurusan BEM atau lain hal.

Tapi, kenapa hari ini cowok itu datang bersama seorang gadis, mahasiswi baru pula.

Rea turun dan melepas helmnya untuk diberikan pada Gala.

Sebelum Rea pergi, Gala lebih dulu menahannya. "Berapa mata kuliah?"

"Dua."

"Kalau pulang duluan, ambil kunci ke gue."

Rea berdecak sebal. "Malas bawa motor. Nunggu lo aja, ya?"

"Terserah."

Gala mengambil dompet di saku celananya, lalu membukanya berniat memberikan beberapa lembar recehan untuk Rea.

Namun, belum sempat ia mengambilnya, Rea lebih dulu merebut beberapa lembar uang yang sempat terangkat oleh tangannya.

"Buat gue, kan?"

Gala berdecak, mengambil alih uangnya kembali. Ia menghitungnya, total ada empat lembar ratusan ribu.

"Kurang ini," katanya seraya mengambil kembali uang di dompetnya hingga beberapa lembar.

Hal itu membuat mata Rea berbinar cerah, dengan senyum mengembang.

"Nih."

Senyum Rea luntur, saat uang yang hinggap di tangannya hanya satu lembar saja, sedangkan lembar yang lain masuk kembali ke dalam dompet Gala.

"Masa cuma satu?" tanya Rea dengan cemberut.

Gala turun dari motor, bergerak menepuk puncak kepala Rea. "Bersyukur."

Rea memajukan bibirnya, berjalan mengekori Gala dengan kaki yang dihentakkan. Bayangan ingin jajan sepuasnya pupus sudah.

Tiba-tiba Gala menghentikan langkahnya, membuat Rea menabrak punggungnya.

Rea berdecak kesal seraya mengusap keningnya yang terasa sedikit sakit.

Gala berbalik, lalu merebut kembali uang yang ada di tangan Rea.

Hampir saja, gadis itu melayangkan protes, sebelum Gala memberikan dompet hitam miliknya di tangan gadis itu.

"Pegang, tapi jangan boros."

Rea mengerjapkan matanya berulang kali, menatap dompet di tangannya dan punggung Gala yang mulai menjauh, bergantian.

Cowok itu berlalu setelah mengacak dan mengecup singkat puncak kepalanya, ah indahnya dunia. Lebih indah lagi saat merasakan tebal dompet Gala di tangannya.

"Ini baru suami gue," gumamnya dengan senyum manis. "Ah, Kak Gala bikin gue meleyot."

.

.

.

Selesai kelas, Rea memilih menunggu Gala di kantin. Cowok itu belum keluar dari kelasnya. Tak lupa, Rea juga mengabari cowok itu jika ia akan menunggu di kantin fakultas.

Me

Gue di kantin ya, swami💋

Rich Swami

Jijik

Ia terkikik geli melihat chatnya yang begitu alay. Terlebih saat melihat balasan dari Gala, yang mengatakan jijik.

Fokus Rea teralihkan saat mendengar ramai-ramai mendatangi area kantin. Ia menatap pintu masuk kantin, mencari sesuatu yang menimbulkan riuh itu.

"Rea! Dicariin sama Gara!"

Rea membulatkan mata, saat melihat sosok laki-laki yang sudah lama tak jumpa dan tak mengabarinya. Elgara, kekasihnya.

"Gara?" gumam Rea saat cowok itu berdiri tepat di hadapannya, dengan senyum manis.

Di belakang Gara, juga ada beberapa teman SMA mereka yang satu kampus dengan Rea.

"Hai," sapa Gara seraya duduk di kursi, tepat di depan Rea.

"Kok bisa di sini?" tanya Rea bingung.

"Lagi liburan," kata Gara seraya menggenggam tangan Rea.

Gara hendak menarik tangan itu untuk mengecupnya, namun Rea lebih dulu melepaskan tangannya.

Gara menatap Rea heran. "Kenapa?"

Rea terkekeh kecil, lebih seperti ringisan. "Gak enak, dilihatin orang," katanya.

Gara mengangguk mengerti, lalu memberi kode pada teman-temannya agar bubar dan tidak lagi memperhatikan mereka.

"Apa kabar?" tanya Gara setelah tersisa mereka berdua di sana, karena yang lain sudah sibuk dengan urusan masing-masing.

Rea menatap Gara dengan lekat. "Kemana aja?" tanya Rea balik, tanpa berniat menjawab pertanyaan cowok itu lebih dulu.

Gara yang mengerti, pun menghela nafas berat. Ia hendak menggenggam tangan Rea kembali, namun gadis itu menolaknya.

Gara tersenyum tipis. "Aku sibuk, sayang. Maaf karena gak sempat ngabarin kamu," katanya dengan lembut.

Rea mengalihkan pandangan, enggan untuk menatap Gara. "Sibuk bukan alasan. Selama aku masih jadi prioritas, sesibuk apapun kamu pasti akan mencari waktu buat ngabarin aku."

"Iya, maaf," ucap Gara seraya menarik tangan Rea untuk mengecupnya singkat, karena lagi-lagi Rea menepisnya.

Rea melirik Gara singkat, entah mengapa kehadiran cowok itu membuatnya tidak nyaman sekarang. Padahal, dulu cowok itu adalah mood booster paling ampuh untuknya.

"Ayo pulang," kata Gala yang tiba-tiba datang, membuat mereka menoleh ke arahnya.

Gara yang menyadari keberadaan Gala sontak tersenyum lebar. "Gala! Gila, tambah ganteng aja lo?"

Gara bangkit dari duduknya, lalu memeluk tubuh Gala ala lelaki.

Gala tersenyum tipis setelah Gara melepas pelukannya. "Lagi liburan?" tanya Gala dibalas anggukan mantap oleh Gara.

Gara dan Gala, dua manusia satu angkatan. Dulu, mereka adalah sahabat yang disatukan oleh kegemaran yang sama dalam hal musik.

Mereka sempat masuk les musik, bermain musik bersama, bahkan pernah mereka mengamen untuk mencari donasi bagi masyarakat yang terdampak bencana.

Mereka cukup dekat, bahkan dapat dikatakan sangat dekat. Namun, sejak Gara berkuliah di luar kota, hubungan mereka merenggang.

Memang, terkadang banyak orang yang disatukan oleh pendidikan dan dipisahkan oleh masa depan.

"Lo ngajak pulang siapa?" tanya Gara seraya menatap ke sekelilingnya, tidak ada orang selain ia dan Rea.

Gala melirik Rea yang menunduk sambil memilin ujung sweater yang dikenakan gadis itu.

"Kirain sepupu gue," kata Gala dengan raut datar, tanpa berhenti melirik Rea.

Gara mengangguk dan tersenyum manis. "Oh, kirain. Dia Rea, Gal. Pacar gue yang dulu, masih ingat, kan lo?"

Gala mengangguk, lalu bergerak menepuk pundak Gara. "Ya sudah, gue duluan, ya? Have fun," kata Gala seraya berlalu keluar area kantin, meninggalkan Rea yang menatap kepergiannya dalam diam.

"Kamu pulang sama siapa?" tanya Gara menatap Rea dengan senyum yang tak pernah luntur.

Rich Swami

Pulang ke apart

Menghela nafas, Rea kemudian bangkit dari duduknya. Ia hendak berlalu begitu saja, namun Gara lebih dulu menahannya.

"Aku antar, ya?"

Rea menatap Gara lama, sebelum akhirnya mengangguk pelan, dan bergerak membalas pesan Gala.

Me

Sorry

Sudah dibaca, namun tak kunjung mendapat jawaban.

"Ayo," kata Gara seraya mengulurkan tangan, berniat menggandeng tangan Rea.

"Duluan aja," kata Rea yang membuat alis Gara terangkat, sebelum mengangguk.

Gara berjalan di depan, lalu diikuti Rea dari belakang. Hal itu, tidak luput dari tatapan Gala yang diam-diam menyendiri di pojok koridor.

Rich Swami

Jangan kontak fisik, gue gak mau nanggung dosa lo!

Mengedarkan pandangan saat pesan itu masuk ke ponselnya, membuat Rea menyadari keberadaan Gala yang tak jauh di belakangnya.

Rea menatap Gala sendu, dibalas Gala dengan mengalihkan pandangannya.

Gala tahu, Rea sedang berperang dengan batin dan pikirannya. Antara rindu dengan Gara dan tak enak hati pada Gala.

Gala juga tahu, jika Rea masih memiliki perasaan pada Gara, karena memang seperti itu kenyataannya. Mereka masih menjalin hubungan, meski sudah di awang-awang.

Gala bukan tidak berani melawan, namun ia ingin memberi waktu pada mereka untuk menyelesaikan masalahnya dengan cara baik-baik.

Gala tidak mau, dengan Gara mengetahui tentang hubungannya dan Rea dalam waktu cepat, akan membuat hubungan baik mereka terpecah.

Gala tidak suka dengan adanya perpisahan, entah itu dengan sahabat ataupun keluarga. Jika, pun harus berpisah sebagai sepasang kekasih, itu harus dengan cara baik-baik.

Bini Matre

Jangan cemburu, ya?

Me

Cemburu makanan apaan?

Bini Matre

Jangan marah

Me

Ga

Bini Matre

Bohong

Me

Kalau gue marah, lo mau apa?

Bini Matre

Ya, enggak apa-apa sih. Lo, kan memang galak.

"Sialan!"

.

.

.

To be continue ...

1
Ossa Mulya
suka banget ceritanya... dan bikin penasaran
Ossa Mulya
lanjuuuutt Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!