Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 22
Zemima tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang membuat bulu kuduk Arsyad meremang. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk, menyilangkan kakinya dengan anggun.
"Aneh ya, Mas..." celetuk Zemima santai.
"Bukannya kemarin waktu aku datang sendirian, Ibu bilang darah tingginya naik karena kaget aku tanya-tanya soal Dina? Tadi aku datang bawa kue mahal dan bersikap sangat ramah, kok dibilang bikin darah tinggi lagi? Jadi sebenarnya yang bikin darah tinggi Ibu itu omongan aku... atau rasa takut karena kebohongan kalian sendiri yang makin kesandung?"
Arsyad menyentak kaku, lidahnya mendadak kelat.
"Kebohongan apa lagi sih?! Mas kan udah jelasin! Mereka itu cuma canggung dan salah paham!"
"Oh, salah paham?" potong Zemima cepat, mengunci pandangannya pada Arsyad dari samping.
"Kalau cuma salah paham, kenapa Mas kepanikan setengah mati waktu aku cuma mengelus dada kamu dan bilang kamu kangen aku? Kenapa Mas buru-buru ngajak pulang pas aku cuma nanya kabar kehamilan Dina? Seorang suami yang jujur dan nggak punya simpanan rahasia, nggak bakal berkeringat dingin cuma karena istrinya bersikap manja di depan keluarga mertua, Mas."
Arsyad menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa kering dan perih.
"Mas panik karena kamu bertingkah aneh, Dek! Kamu nggak biasanya pamer barang mewah dan ngomong berbelit-belit kaya gitu! Mas malu sama Mas Hendra dan Mbak Rika!"
Zemima tertawa pelan, suara tawa merdu yang mengalun bagai cemoohan paling telak.
"Malu?" tanya Zemima seraya memajukan tubuhnya sedikit ke arah Arsyad.
"Mas malu karena aku pakai barang-barang milikku sendiri? Lagian apa yang salah dengan aku self reward kan? Lagian aku juga nggak pake uang nafkah dari kamu... Bahkan lebih dari separuhnya habis untuk membayar cicilan kartu kredit..."
"Lagian kenapa kalian nggak pernah cerita soal si Dina itu sama aku? Kalian kayak terkesan menyembunyikan keberadaan dia! Apa mungkin kalian menganggap aku sudah bukan bagian dari kelaurga lagi karena kejadian waktu ibu sakit terakhir kali dan aku kesal itu?"
"Bukan... Bukan begitu, Dek! Astaga, Mas harus bagaimana menjelaskan padamu kalau kamunya marah-marah dan bahkan berfikiran buruk kepada kami..."
"Ya sudah, silahkan Mas jelaskan sekarang! Aku nggak mau ada kebohongan. Karena omongan Mas sama ibu kemaren itu beda tentang siapa Dina dan kenapa dia bisa ada di rumah keluarga kamu!"
"Dek... Kita bicarakan di rumah ya, Sayang. Mas sedang menyetir nanti konsentrasi Mas terbagi dan malah Mas salah bicara dan membuat kamu salah paham lagi, Sayang..."
Zemima menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan seraya memalingkan wajah menatap gemerlap lampu jalanan di luar jendela. Jemari lentiknya meremas tali tas Hermès di pangkuannya, meredam gejolak emosi yang hampir saja meledak.
Belum saatnya, batin Zemima menenangkan dirinya sendiri.
'Kalau aku bongkar sekarang tanpa bukti transaksi dan dokumen hukum yang mengikat, mereka cuma akan makin gencar ngeles dan membuat skenario baru. Pembalasan ini harus sempurna, tanpa cela, dan langsung mematikan,'
Melihat Zemima yang tiba-tiba terdiam dan melemparkan pandangan ke luar jendela, Arsyad menghembuskan napas lega yang teramat dalam. Pria itu merasa baru saja lolos dari lubang jarum. Ia kembali mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat dingin, lalu berusaha merebut kembali kendali dengan menyunggingkan senyum manis yang dipaksakan.
"Nah, gitu dong, Sayang..." bujuk Arsyad seraya mengulurkan tangan kirinya, mencoba mengusap lembut jemari Zemima.
"Mas senang kalau kamu bisa tenang begini. Percaya sama Mas, nggak ada hal buruk yang Mas sembunyikan dari kamu. Mas cuma takut kamu makin pikiran dan capek. Nanti begitu sampai rumah, kita istirahat ya? Mas bakal pijitin kamu, kita ngobrol santai tanpa emosi."
Zemima tidak menarik tangannya, tetapi juga tidak membalas genggaman Arsyad. Ia membiarkan jemari suaminya menyentuh kulitnya yang dingin, sementara bibirnya mengulas senyum tipis yang penuh misteri di kegelapan kabin mobil.
"Iya, Mas. Kamu benar," sahut Zemima sehalus sutra, menoleh pelan dengan raut wajah yang kembali tenang dan anggun.
"Mungkin aku memang terlalu capek karena pekerjaan di kantor belakangan ini. Kita bicarakan lagi nanti kalau pikiran kita berdua sudah sama-sama jernih."
Arsyad tersenyum puas, merasa alibinya berhasil melunakkan sang istri dan mengembalikan keadaan seperti semula.
"Makasih ya, Dek... Kamu memang istri yang paling pengertian."
Di dalam hatinya, Arsyad bersorak lega karena mengira bahaya telah berlalu. Namun ia tidak tahu bahwa ketenangan Zemima malam ini bukanlah tanda menyerah, melainkan keheningan sebelum badai besar menghancurkan seluruh kehidupannya.
Mobil SUV itu akhirnya berhenti sempurna di garasi rumah mereka. Begitu mesin dimatikan, Arsyad buru-buru turun dan berjalan memutar untuk membukakan pintu bagi Zemima. Sikap manis dan penuh perhatian yang sudah lama hilang itu kembali ia tampilkan demi meluluhkan hati sang istri.
Zemima turun dari mobil tanpa mengumbar senyum, melangkah anggun masuk ke dalam rumah. Arsyad mengikutinya dari belakang seperti bayangan yang haus akan pengampunan.
"Dek, kamu mandi dulu gih biar segar," panggil Arsyad dengan suara selembut mungkin begitu mereka sampai di lantai dua, tepat di depan kamar utama.
"Mas sudah siapkan air hangat di bathtub. Kamu pasti capek banget seharian ini."
Zemima membalikkan badan di ambang pintu kamar, menatap Arsyad dengan tatapan datar.
"Terima kasih, Mas. Tapi aku cuma butuh tidur."
Arsyad menyusul masuk, mengunci pintu kamar dari dalam, lalu melangkah mendekati Zemima yang sedang berdiri membelakanginya di depan cermin besar.
Mata Arsyad menatap lekat bayangan tubuh molek istrinya dari pantulan cermin. Aroma parfum floral woody mahal milik Zemima menguar di udara kamar yang dingin, seketika memancing gairah pria itu yang sudah tertahan hampir lima bulan. Bagi Arsyad, tak ada wanita mana pun yang bisa menandingi pesona, keanggunan, dan kepuasan yang selalu diberikan Zemima di atas ranjang.
Arsyad mengikis jarak, mengulurkan kedua tangannya dari belakang untuk melingkari pinggang Zemima, lalu menyandarkan dagunya di bahu sang istri.
"Mas kangen banget sama kamu, Dek..." bisik Arsyad dengan nada serak yang sarat akan hasrat. Jemarinya mulai mengelus lembut perut Zemima, sementara bibirnya mencoba mendaratkan kecupan di ceruk leher istrinya.
"Hampir lima bulan Mas nggak meluk kamu kaya gini... Mas benar-benar haus sama kamu malam ini."
Namun, alih-alih merespons dengan desahan atau kehangatan seperti biasanya, Zemima justru membeku. Kulitnya terasa dingin di bawah sentuhan Arsyad. Tanpa ragu sedikit pun, Zemima memegang kedua pergelangan tangan Arsyad dan melepaskannya secara tegas dari tubuhnya.
Ia berbalik, menatap Arsyad dengan sorot mata sedingin es.
"Jangan sentuh aku malam ini, Mas," tegas Zemima dengan suara rendah namun menohok.
Arsyad menyentak kaku, napasnya yang tadi memburu mendadak tertahan. Wajahnya memperlihatkan kepanikan sekaligus kekecewaan yang mendalam.
"Dek... kenapa?" bujuk Arsyad seraya mencoba meraih jemari Zemima kembali.
"Kan tadi di mobil kamu bilang kita bakal bicarakan baik-baik kalau pikiran udah jernih? Mas mau buktiin ke kamu kalau Mas cuma cinta sama kamu, Dek..."
Zemima melangkah mundur satu langkah, menghindari sentuhan suaminya. Ia memiringkan kepala, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan cemoohan.
"Memangnya cinta dan rasa kangen itu bisa dibuktikan cuma lewat hubungan fisik di atas ranjang, Mas?" pangkas Zemima santai.
"Dek, tolonglah..." Arsyad memohon, suaranya terdengar sangat serak dan frustrasi. Pria itu mengacak rambutnya sendiri.
"Mas ini suami kamu! Udah hampir lima bulan Mas nggak 'dapat jatah'! Mas menahannya demi kamu! Sekarang pas Mas pulang dan mau manja sama istri sendiri, kamu malah nolak Mas dingin begini?"
"Aku lelah, Aku juga sama selama itu menunggu kamu yang sibuk. Tapi sekarang aku masih kesal sama kamu yang belum mau bicara jujur! Aku tidur duluan!'