NovelToon NovelToon
I AM The Mirecle Itself

I AM The Mirecle Itself

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad wahyu

I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

DUUMMMMMMMMM—!

​Hantaman Solaris-Core Greatsword milik Rayker menghantam udara persis beberapa milimeter di depan telapak tangan kanan Ren. Bentrokan itu tidak menciptakan dentang logam biasa, melainkan ledakan kinetik bertekanan tinggi yang sanggup meruntuhkan gedung pencakar langit.

​Namun, alih-alih tubuh Ren terhempas atau hancur menjadi serpihan daging, pedang raksasa bermassa puluhan ton itu berhenti mendadak di udara. Seperti menghantam dinding tak kasat mata yang terbuat dari berlian abadi.

​"Apa...?!" mata Rayker membelalak. Urat-urat di lengannya menegang tajam, memompa dorongan reaktor Magitech di dadanya hingga mencapai batas maksimal.

​Di bawah kaki mereka, gelombang kejut kinetik meletup memutar! Udara terdesak hebat ke segala arah, mengancam meremukkan trotoar dan toko-toko di sepanjang jalan utama Sol-Vane.

​"Isolasi Ruang: Tingkat Sembilan!"

​Suara Lyra bergema cepat. Wanita itu menghentakkan Aegis-Staff milik-Nya ke tanah. Seketika, kubah cahaya padat tembus pandang (Spatial Isolation Barrier) meledak mengurung Ren dan Rayker dalam radius seratus meter. Gelombang kejut yang tadinya hendak menghancurkan pemukiman warga membentur dinding perisai Lyra, membias menjadi kilatan cahaya biru sebelum padam sepenuhnya.

​Kalkulasi Kuantum yang Rusak

​Di luar kubah perisai, Caelum berdiri memaku. Ribuan angka dan rumus matematika berwarna emas berputar gila-gilaan di dalam Quantum Neural Interface yang melayang di sekeliling kepalanya.

​"Tidak mungkin..." bisik Caelum. Matanya menatap grafik analisis data bertubi-tubi yang muncul di udara.

​Daya Dorong Kinetik Rayker: 4.8 \times 10^{15} \text{ Joules} (Setara ledakan inti taktis).

​Tekanan Gravitasi Lokal: 85 \times \text{ Gravitasi Normal}.

​Respon Kinetik Target (Ren Vaelen): 0 \text{ Joules}.

​Vektor Efek: \text{ERROR: ENTROPY DIVISION BY ZERO}.

​"Caelum! Berapa tingkat pertahanan musuh?!" teriak Lyra sambil menggertakkan gigi, berusaha mempertahankan kestabilan perisai dimensi yang terus bergetar akibat bentrokan tersebut.

​"Aku... aku tidak bisa menghitungnya!" balas Caelum dengan nada suara yang untuk pertama kalinya kehilangan ketenangan dinginnya. "Dia tidak menggunakan Mana. Dia tidak menggunakan perisai kinetik. Serangan Rayker tidak ditahan... tapi diserap dan dihapuskan dari hukum fisika lokal tepat pada saat kontak!"

​Eksperimen Taktis Sang Penghancur Bintang

​Di dalam kubah isolasi, Rayker menyunggingkan senyuman gila. Bau ozon dan hawa panas dari reaktor Inti Bintang menyelimuti tubuhnya. Bagi petarung kasta Sovereign seperti dirinya, menemukan entitas yang sanggup menahan tebasan penuhnya dengan tangan kosong adalah sebuah berkah pertempuran.

​"Menarik... Sangat menarik!" seru Rayker.

​Tanpa membuang waktu satu milidetik pun, Rayker mengubah taktik bertarungnya. Ia menyadari bahwa serangan membentur lurus tidak akan berguna.

​BZZZZZZT—!

​Rayker menarik pedangnya kembali, lalu memutar posisi tubuhnya dengan kecepatan hipersonik.

​"Teknik Pertempuran Sol-Vane: Stellar Kinetic Slash — Triple Comet!"

​Bukan hanya satu, melainkan tiga tebasan beruntun berkecepatan membelah suara diluncurkan dari tiga sudut berbeda—atas, kiri bawah, dan leher. Setiap ayunan pedang meninggalkan jejak api keemasan berkecepatan tinggi yang memotong garis ruang di dalam kubah.

​Namun, apa yang dilakukan Ren?

​Ren Vaelen berdiri di tempatnya tanpa menggerakkan kaki satu milimeter pun. Tangan kirinya masih santai memegang tusukan sosis magis yang belum habis, sementara tangan kanannya bergerak meliuk dengan gerakan teramat halus.

​TAK! TAK! TAK!

​Tiga tebasan pemusnah gunung milik Rayker ditepis oleh Ren hanya menggunakan ujung jari telunjuk dan tengahnya yang dibungkus pendaran perak cair (Liquid Silver Radiance). Setiap kali logam pedang Solaris-Core menyentuh pendar perak tersebut, dorongan massa kinetik Rayker seketika menguap menjadi nihil.

​"Gaya tebasanmu cukup berbobot," puji Ren santai sambil memiringkan kepalanya sedikit untuk menghindari percikan api. "Pemanfaatan gravitasi untuk menambah bobot ayunan pedang itu ide yang cerdas. Tapi... koordinasi antara reaktor di dadamu dan pergelangan tanganmu memiliki jeda 0.002 detik. Itu terlalu lambat."

​"Apa?!"

​Sebelum Rayker sempat mencerna perkataan Ren, Ren mengetuk bilah pedang raksasa itu dari samping dengan sentilan ringan.

​TING—!

​Gelombang getaran balik bernuansa perak merambat tajam sepanjang bilah pedang Solaris-Core. Reaktor Magitech di dalam pedang Rayker mendadak mengalami backfire! Seluruh energi panas yang terkumpul berbalik menghantam lengan Rayker, memaksa sang pahlawan terdorong mundur belasan meter hingga tumit bot zirahnya mengikis beton jalanan.

​Batas Puncak Sovereign

​Rayker berlutut satu kaki, napasnya memburu. Lengan kanannya kebas total, asap tipis ngebul dari sela-sisa zirah bajanya. Ia menatap pemuda berjubah putih robek di hadapannya dengan tatapan tak percaya.

​"Kau... kau bukan berasal dari benua ini, kan?" tanya Rayker pelan.

​Ren menatap jubah sutra gadingnya yang kini makin robek di bagian lengan kanan akibat hempasan hawa panas tadi. Ia menghela napas panjang.

​"Aku cuma penjelajah yang kebetulan lewat," jawab Ren. "Dan sejujurnya, aku tidak punya urusan dengan kota ini. Tapi kalau kau masih ingin melanjutkan latihan ini..."

​Ren melangkah maju satu langkah.

​Seketika, seluruh atmosfer di dalam kubah isolasi Lyra berubah total. Tidak ada raungan gravitasi, tidak ada pancaran radiasi panas. Namun, tekanan eksistensial yang begitu purba dan dingin mendadak menindih jiwa ketiga pahlawan tersebut.

​Caelum mendadak berlutut, memegangi kepalanya saat antarmuka kuantumnya runtuh dan mengalami korsleting massal akibat gagal memproses presensi keberadaan Ren. Lyra membelalak, merasai perisai dimensi yang dibangunnya mulai retak secara alami—bukan karena dihantam, melainkan karena ruang di sekeliling Ren menolak untuk dikurung oleh hukum sihir apa pun.

​Rayker menggertakkan giginya. Rasa bangga sebagai pahlawan tertinggi Sol-Vane mendorongnya untuk berdiri kembali. Ia memusatkan seluruh sisa energi Proyek Apotheosis di dalam jiwa dan tubuhnya.

​"Satu serangan lagi..." seru Rayker, memegang hulu pedangnya dengan kedua tangan. "SUPERNOVA BURST!"

​Seluruh cahaya lampu neon di kota Sol-Vane mendadak redup saat energi listrik dan mana kota tersedot ke dalam pedang Rayker. Bola cahaya keemasan seterang matahari buatan tercipta di ujung pedangnya, siap dilepaskan untuk mereduksi apa pun di depannya menjadi atom.

​Ia melesat menerjang Ren dalam kecepatan puncak!

​Ren menatap bola cahaya matahari itu dengan mata perak cairnya yang tenang. Tanpa mengambil kuda-kuda bertarung, Ren hanya mengayunkan telapak tangan kirinya dari atas ke bawah—sebuah gerakan sederhana menyerupai cara seseorang memadamkan lilin.

​"Anomali: Pembatalan Konsep."

​WUUUSH—!

​Tidak ada ledakan. Tidak ada suara dentuman.

​Matahari buatan berdaya hancur benua milik Rayker mendadak padam seketika saat menyentuh kibasan tangan Ren. Seluruh energi, api, gravitasi, dan gelombang kinetik yang dikumpulkan Rayker hilang begitu saja tanpa bekas, menyisakan Rayker yang berdiri membeku di depan Ren dengan pedang polos tanpa energi.

​Angin malam kembali berhembus lembut melintasi jalanan metropolis.

​Penutup Bentrokan

​Kubah isolasi Lyra pecah berkeping-keping menjadi partikel cahaya yang memudar di udara.

​Rayker berdiri terengah-engah, menatap pedangnya yang dingin, lalu menatap tangan Ren yang bahkan tidak gores sedikit pun. Sang Penghancur Bintang Sol-Vane itu akhirnya menyunggingkan senyum tawa pasrah, lalu menurunkan pedangnya.

​"Aku kalah... benar-benar kalah telak," gumam Rayker sambil menyapukan tangan ke rambut peraknya yang berantakan. "Kau benar-benar monster, Ren."

​Lyra dan Caelum berlari mendekat dengan waut wajah tegang dan siap siaga, namun Rayker mengangkat tangannya, memberi isyarat agar kedua rekannya menahan diri.

​"Jangan serang. Dia tidak berniat jahat," kata Rayker gelisah namun jujur. "Jika dia mau, kita bertiga dan setengah dari kota ini sudah terhapus dalam serangan tadi."

​Ren menyarungkan tangan kanannya ke dalam saku celana, lalu menatap ketiga pahlawan terkuat Sol-Vane itu satu per satu dengan wajah polos.

​"Jadi..." ujar Ren sambil menunjuk jubah sutra gadingnya yang kini robek parah di dua tempat. "Sekarang, bisakah salah satu dari kalian memberitahuku di mana toko penjahit pakaian terbaik di Sol-Vane?"

​Rayker, Lyra, dan Caelum hanya bisa saling pandang dalam keheningan yang absurd.

1
indah Mayaddah f
Kerja berat tiap hari, di panggil si nol terus di hina tapi Ren diam aja. Sabar sekali dia 😔
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬
Saya biasanya lihat kultivasi, hari ini belajar sihir🤣
Myz Pena
waoow meskioun makhluk itu sebesar bukit kecil namun kekuatannya tidak kaleng - kaleng.. sungguh dahsyat
CNNTAYY
haha rahasia valeria aja sampai ketahuan mana ukuran sepatu dan rambut lagi🤭
iorlif
siapakah sosok tanpa tubuh pasti itu?
Siti Aisyah
Hebat sekali valeria bisa mengalahkan seekor calamity wolf itu👍
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
mampir auhtor. mau tanya mau ikut masuk grup aku gak. saling berbagai ceritaa dan support
Muhammad Wahyu: gimana kak?
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!