Bagaimana jadinya jika seorang laki-laki dan perempuan yang tidak saling mengenal terjebak pada situasi yang mengharuskan mereka menikah?
Zivanya Anindita
Gadis berusia 19 tahun harus tinggal di kota besar seorang diri untuk menempuh pendidikan di bangku kuliah. Dia harus bekerja part time untuk menambah penghasilannya.
Kenzo Julian Abram
Seorang pengusaha yang sangat dingin. Dia hanya memikirkan pekerjaan dan tidak memikirkan pernikahan hingga kedua orang tuanya memberikan ultimatum
Ikuti kisah Kenzo dan Vanya yang harus menikah karena kesalahpahaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winda keenandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengapa jadi begini?
Setelah cukup lama berdebat, akhirnya dicapai kesepakatan jika Kenzo akan menemui orang tua Vanya. Istilahnya, melamar.
"Jadi, kita akan menikah beneran?" Tanya Vanya yang masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja mereka bahas.
Kenzo yang mendengarnya hanya mendengus kesal. Dia sudah sangat lelah membahas hal ini dengan Vanya. Entah sudah berapa kali gadis itu menanyakan hal yang sama. Kenzo tidak menjawab pertanyaan Vanya. Dia masih fokus pada kemudinya. Ya, saat ini Kenzo tengah mengantarkan Vanya untuk mengambil motornya di eSTe.
Begitu sampai di depan eSTe, Vanya segera turun untuk mengambil motornya di garasi toko bagian belakang. Karena hari ini toko masih tutup, jadi hanya ada satpam jaga yang bertugas. Setelah mengambil motornya, Vanya segera mengendarainya keluar garasi. Dia begitu terkejut ketika melihat mobil Kenzo masih terparkir di depan toko. Vanya mengarahkan motornya untuk menghampiri Kenzo.
"Kenapa belum pulang?" Tanya Vanya ketika sudah berada di samping pintu kemudi.
Kenzo membuka kaca pintu mobilnya dan melongokkan kepalanya keluar. "Aku akan mengantarmu pulang," jawabnya singkat.
Vanya langsung mengerucutkan bibirnya ketika mendengar jawaban Kenzo. Meskipun begitu, Vanya tidak menolaknya. Dia benar-benar sudah sangat lelah berdebat dengan Kenzo sejak siang tadi. Tanpa membalas perkataan Kenzo, Vanya melajukan motornya menuju kos-kosannya. Sementara mobil Kenzo mengikutinya dari belakang.
Ketika sampai pertigaan jalan dekat dengan kos-kosannya, Vanya membelokkan motornya di sebuah minimarket yang ada di dekat pertigaan tersebut. Melihat Vanya berhenti, Kenzo pun segera memarkirkan mobilnya di depan minimarket tersebut. Dia melihat Vanya berjalan memasuki minimarket tersebut sambil mendorong trolley. Kenzo segera melepas seatbelt nya dan beranjak keluar dari mobilnya.
Sambil berjalan memasuki minimarket, Kenzo menggulung lengan kemeja putihnya hingga sebatas siku. Kancing bagian atas kemejanya juga sudah terbuka. Rambutnya juga sudah tidak serapi tadi. Bahkan, terlihat sedikit berantakan. Meskipun begitu, kesan eksekutif muda yang hot tak hilang dari dirinya.
Beberapa pengunjung wanita yang kebetulan dilewatinya sampai harus menghentikan aktivitas mereka hanya untuk memperhatikan Kenzo. Mereka bahkan saling berbisik sambil memperhatikan Kenzo.
Vanya masih tidak menyadari jika Kenzo mengikutinya. Dia masih asyik berbelanja kebutuhan hariannya yang memang sudah habis. Hingga sebuah suara mengagetkan konsentrasinya.
"Jangan lupa beli telurnya. Nanti buatkan aku mie instan pakai telur," kata Kenzo yang tiba-tiba sudah berada di belakang Vanya.
Seketika Vanya berjengit kaget dan menoleh. "Lhah, ngapain di sini?" Tanya Vanya.
"Cccckkk, masih tanya lagi. Tentu saja mengikutimu," jawab Kenzo sambil memasukkan beberapa benda yang diinginkannya pada trolley Vanya.
Vanya yang melihat hal itu langsung menahan tangan Kenzo. "Apa-apaan sih ini, kenapa membeli banyak sekali," protes Vanya ketika melihat Kenzo memasukkan banyak barang yang tidak diinginkannya masuk ke dalam trolleynya.
"Tapi aku menginginkannya," jawab Kenzo sambil masih tetap memasukkan barang-barang yang diinginkannya.
Vanya tidak bisa membantah lagi. Dia membiarkan Kenzo memilih barang yang diinginkannya. Vanya memilih untuk mengikuti Kenzo sambil menggerutu dalam hati. Setelah selesai, mereka menuju kasir untuk membayar barang yang mereka beli. Kenzo mengeluarkan dompetnya hendak membayar semua belanjaannya. Vanya yang melihatnya, segera mencegah Kenzo.
"Mau apa?" Tanya Vanya sambil memegangi lengan Kenzo.
"Ccckkkk. Aku yang bayar," jawab Kenzo dengan tatapan tajamnya. Ketika Vanya hendak menolak, Kenzo langsung memotongnya. "Aku tidak menerima penolakan," kata Kenzo.
Vanya mengerucutkan bibirnya tidak berani membantah. Akhirnya dia menuruti keinginan Kenzo untuk membayar semua belanjaannya. Ketika kasir sedang menghitung belanjaan mereka, di luar hujan mulai turun dengan lumayan deras. Vanya terlihat gelisah, mengingat dia tidak membawa jas hujan.
Setelah selesai, Kenzo segera membawa belanjaan mereka keluar. Dia melihat hujan lumayan deras. Vanya dan Kenzo berdiri di ujung teras minimarket.
"Kamu ada jas hujan?" Tanya Kenzo.
"Aku nggak bawa," jawab Vanya sambil menggelengkan kepalanya.
Kenzo tampak berpikir sebentar sebelum berkata, "Kamu bawa mobilku, biar aku yang bawa motormu," kata Kenzo.
Vanya menoleh menatap Kenzo. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru di dengarnya. Melihat Vanya yang masih tidak merespon, Kenzo menyenggol lengan Vanya.
"Cccckkk, cepetan. Ini belanjaannya, mana kuncinya?" Kata Kenzo sambil memberikan belanjaan kepada Vanya.
"Yakin mau bawa motor?" Tanya Vanya memastikan.
"Sudah cepetan kuncinya, sebelum aku berubah pikiran," kata Kenzo.
Vanya pun akhirnya memberikan kunci motornya kepada Kenzo. Setelah memberikan petunjuk arah kos-kosannya, Kenzo segera berlari-lari kecil menuju motor Vanya. Sedangkan Vanya segera menuji mobil Kenzo.
Kenzo berlalu lebih dulu menuju kos-kosan Vanya. Beberapa saat kemudian, Vanya segera menyusulnya. Jarak kos-kosan dan minimarket tidak terlalu jauh, hanya sekitar dua ratus meter. Namun, jika ditempuh dengan menggunakan motor dan dalam keadaan hujan seperti ini, bisa dipastikan seluruh badan akan basah hingga dalam-dalamnya. Apalagi Kenzo tidak memakai jas hujan.
Begitu sampai di kos-kosan Vanya, Kenzo segera memarkirkan motor Vanya di garasi sebelah timur sesuai dengan petunjuk Vanya. Dia segera berjalan menyusuri tepi garasi untuk menunggu Vanya tiba. Beberapa saat kemudian Vanya terlihat memasuki halaman kos-kosan. Vanya memarkirkan mobil Kenzo di garasi tamu yang ada di samping kos-kosan.
Vanya keluar dari mobil Kenzo sambil menenteng dua kantong besar berisi hasil belanjaan tadi. Di hampirinya Kenzo yang terlihat sedang menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk menghalau rasa dingin.
"Ayo masuk dulu. Akan aku buatkan makanan untuk mengganjal perut," kata Vanya begitu sampai di depan Kenzo.
Kenzo hanya mengangguk dan berjalan mengekori Vanya menuju lantai dua kos-kosannya. Vanya membuka kunci pintu kamar kos-kosannya dan mempersilahkan Kenzo untuk masuk. Sebenarnya Vanya merasa sangat risih membawa seorang laki-laki asing ke dalam kamar kosnya. Namun, dia tidak tega melihat seluruh badan Kenzo basah kuyup.
"Maaf tempatnya sempit. Itu ada kamar mandi. Bersihkan dulu badannya. Akan aku ambilkan baju ganti seadanya" kata Vanya sambil meletakkan belanjaannya di atas sebuah meja yang berfungsi sebagai meja makan.
Kenzo menjawab dengan anggukan dan segera berjalan menuju kamar mandi. Vanya segera mencari baju ganti yang bisa di pakai oleh Kenzo. Namun, dia tidak memiliki baju laki-laki. Namun, seketika matanya tertuju pada sebuah sarung dan kaos putih milik sang ayah. Vanya segera mengambil keduanya beserta handuk baru.
Vanya segera menyiapkan bahan untuk membuat mie instan dan mulai untuk memasaknya. Vanya tidak memasak makanan yang rumit, karena akan membutuhkan banyak waktu. Beberapa saat kemudian, terdengar Kenzo memanggil untuk meminta baju ganti. Segera Vanya memberikan handuk dan baju ganti untuk Kenzo.
Meskipun Kenzo terlihat tidak nyaman memakai sarung dan kaos dari Vanya, namun dia tidak menolaknya. Segera setelah Kenzo selesai membersihkan diri, Vanya segera menyiapkan mie instan yang sudah jadi ke atas meja. Kenzo segera menyantapnya karena cacing dalam perutnya sudah mulai berontak. Sementara Vanya segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ketika sedang asyik menikmati mie instan, terdengar suara ketukan pintu. Kenzo segera beranjak dari duduknya dan berjalan untuk membuka pintu.
Ceklek.
"Apa yang kamu lakukan disini Ken, nyicil?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Part uwuw hampir mulai ya,
Mohon dukungannya jangan lupa, like, comment dan vote
Terima kasih 🤗🤗
Nama terkenal doang Kenzo dan Rey..
aslinya sih Buambangg 🤣🤣🤣
temanmu hanya sebatas untuk menyenangkan hatimu saja..
dalam hati mereka bilang 52 tahun 😁😁🫣