Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
Lalu datanglah Mori.
Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Senin pagi di SMA Garuda terasa jauh lebih berat bagi Mori. Bayangan kecupan dalam di keningnya saat di lintasan balap semalam terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Mori yang biasanya berjalan tegak dengan binar ceria di matanya, kini hanya bisa menunduk dalam-dalam. Ia meremas ujung cardigan abu-abunya dengan sangat kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Ia merasa separuh dirinya masih tertinggal di sirkuit itu, dan separuhnya lagi ketakutan menghadapi gosip sekolah hari ini.
Namun, ketenangan semu itu pecah saat ia baru saja melewati koridor dekat laboratorium.
"MORI!!!"
Sebuah teriakan melengking yang penuh kebencian merobek keheningan. Alina muncul dari balik pilar dengan wajah merah padam dan mata yang nyaris keluar. Ia berlari menerjang Mori.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Mori, membuat wajah gadis itu terlempar ke samping. Mori memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut seketika.
"Dasar jalang! Nggak tau malu ya lo?!" teriak Alina histeris. "Udah nolak di panggung, tapi malem-malem murahan banget dateng ke sirkuit cuma buat cari perhatian Lian! Lo pikir lo siapa, hah?!"
Mori masih syok, air mata mulai menggenang di kelopak matanya. Ia belum sempat membalas saat tiba-tiba tubuh Alina terdorong ke belakang hingga tersungkur di lantai koridor yang keras.
"HEI! BERANI-BERANINYA LO NYENTUH SAHABAT GUE!" Jessica muncul seperti singa betina yang marah, diikuti oleh Nadya dan Alissa.
Nadya langsung memegang bahu Mori, sementara Alissa berdiri paling depan, menghalangi Alina yang mencoba bangkit. "Jaga mulut lo, Al! Lo yang nggak tau malu, terus-terusan ngejar cowok yang bahkan nggak sudi liat muka lo!"
Di saat yang sama, dari arah berlawanan, Lian berjalan santai dikelilingi oleh gerombolan cewek kelas sepuluh yang sedang mencoba menarik perhatiannya. Lian awalnya tersenyum tipis, bersiul kecil sambil menanggapi godaan mereka. Namun, langkahnya terhenti total saat matanya menangkap kerumunan di depan lab.
Lian melihat Mori yang memegangi pipinya, melihat Jessica yang sedang beradu mulut, dan melihat Alina yang baru saja berdiri. Dalam sekejap, aura playboy yang ramah itu lenyap. Wajah Lian berubah menjadi sangat gelap dan menyeramkan.
Lian berjalan mendekat. Cewek-cewek di sekelilingnya langsung mundur teratur karena takut melihat perubahan drastis pada wajah Lian. Lian tidak melihat Alina, ia langsung berdiri di depan Mori, menarik tangan gadis itu dari pipinya untuk melihat bekas tamparan merah di sana.
Lian kemudian berbalik, menatap Alina dengan sorot mata yang sanggup membekukan darah siapa pun.
"Alina," suara Lian sangat rendah, bergetar karena amarah yang ditahan. "Gue udah pernah bilang sekali, jangan pernah sentuh dia."
"Tapi Li, dia itu—"
"DIEM!" bentak Lian hingga Alina tersentak. Lian melangkah maju, memangkas jarak hingga Alina gemetar ketakutan. "Dengerin gue baik-baik, dan ini buat kalian semua yang ada di sini juga. Mori itu punya gue. Siapa pun yang berani bikin dia nangis atau nyentuh ujung rambutnya sedikit aja, urusannya bakal langsung sama gue. Paham lo?!"
Mori terpaku. Kalimat "Mori itu punya gue" yang diucapkan dengan nada otoriter namun penuh perlindungan itu membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Seluruh koridor mendadak hening. Klaim itu resmi. Lian baru saja menandai Mori di depan umum dengan cara yang paling absolut.
Setelah kejadian itu, Mori benar-benar kehilangan arah. Ia merasa terlalu malu, terlalu bingung, dan terlalu takut pada perasaannya sendiri. Alih-alih mendekat pada Lian, Mori justru melakukan hal sebaliknya: ia menghindar.
Setiap kali melihat jaket hitam Lian dari kejauhan, Mori akan berputar arah. Setiap kali Lian mencoba mendekati bangkunya di kelas, Mori akan pura-pura sibuk bertanya pada guru atau pergi ke perpustakaan. Ia butuh waktu untuk mencerna klaim "kepemilikan" Lian yang terasa sangat menjerat itu.
Sifat red flag Lian yang terlalu mendominasi membuat Mori merasa tercekik. Dan di sinilah Vano melihat celah.
Vano menemukan Mori sedang duduk sendirian di taman belakang sekolah yang sepi, tempat ia biasanya bersembunyi dari Lian. Vano tidak datang dengan suara keras atau paksaan. Ia datang dengan sebotol air mineral dingin dan sapu tangan bersih.
"Pipi kamu masih sakit?" tanya Vano lembut sambil duduk di samping Mori, memberikan jarak yang sopan agar Mori merasa aman.
Mori mendongak, matanya yang sembab menatap Vano. "Udah mendingan, Kak."
Vano menghela napas, menatap lurus ke depan. "Mori, aku tahu kamu lagi bingung. Aku tahu cara Lian melindungi kamu mungkin terasa... heroik, tapi itu juga egois. Dia mengklaim kamu seolah-olah kamu nggak punya hak atas diri kamu sendiri."
Vano menoleh, menatap Mori dengan sorot mata green flag-nya yang menenangkan. "Aku nggak akan paksa kamu buat jadi 'milik' aku. Tapi aku mau kamu tahu, kalau kamu butuh tempat yang tenang, tempat di mana kamu nggak perlu jadi tontonan orang satu sekolah... aku di sini. Aku mau jadi orang yang menghargai pilihan kamu, bukan yang memaksakan kehendak."
Mori terdiam. Perbedaan antara Lian dan Vano terasa semakin kontras. Lian adalah badai yang menghancurkan segalanya demi melindunginya, sedangkan Vano adalah pelabuhan tenang yang menunggunya pulang.
"Makasih, Kak Vano," lirih Mori.
Tanpa Mori sadari, di balik tembok kelas, Lian berdiri di sana. Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Ia melihat kedekatan Mori dan Vano. Ia ingin menerjang dan menarik Mori pergi, namun ia teringat wajah ketakutan Mori tadi pagi. Untuk pertama kalinya, sang Raja Basket yang egois itu merasa ragu: Apakah caranya selama ini justru membuat gadis itu semakin menjauh?