Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Hening di Jalan Raya
Setelah hiruk-pikuk di Selabintana, hari-hari berikutnya di Sukabumi terasa sunyi yang tidak wajar bagi Della.
Kota ini biasanya berisik dengan suara klakson angkot ungu dan deru motor mahasiswa yang pulang-pergi kampus. Namun, setiap kali Della mengendarai Scoopy-nya, ada semacam "zona hening" yang tercipta di sekelilingnya.
Suara mesin motor lain di jalanan terdengar menjauh, seolah-olah Della sedang berkendara di bawah air.
"Del, lo ngerasa nggak sih?" Geri bertanya saat mereka berhenti di lampu merah persimpangan Degung. Geri harus sedikit berteriak agar suaranya menembus helm.
"Ngerasa apa?" Della memperbaiki posisi kacamata hitamnya.
"Jalanan ini... kok sepi banget? Padahal jam pulang kantor," Geri menunjuk ke sekeliling.
Della melihat ke depan. Jalanan memang tampak padat, tapi tidak ada suara. Tidak ada kernet angkot yang berteriak mencari penumpang, tidak ada obrolan orang di pinggir jalan. Hanya suara mesin Scoopy-nya yang berdenyut pelan, deg... deg... deg... mirip suara jantung manusia yang sedang beristirahat.
Della kemudian melirik spion kirinya.
Di dalam kaca retak itu, pemandangan justru sangat berisik.
Di dalam pantulan, jalanan Degung dipenuhi oleh sosok-sosok hitam yang berlalu-lalang dengan tergesa-gesa. Mereka tidak memiliki wajah, hanya bentuk tubuh yang terbuat dari asap. Dan yang paling mengerikan, beberapa dari sosok itu tampak mencoba "menumpang" di jok belakang motor-motor yang lewat.
Della cepat-cepat membuang muka. Ia teringat pesan Mang Asep: Jangan dengerin pakai telinga, dengerin pakai niat.
Sore Hari – Parkiran Belakang Kampus
Della sengaja membawa buku poetry dan duduk di dekat motornya, mencoba menenangkan diri. Ia memperhatikan spion kirinya dari kejauhan. Benda itu sekarang tampak lebih gelap, seolah menyerap cahaya matahari sore yang hangat.
"Lagi nunggu siapa, Del?"
Della menoleh. Itu Robby, ketua klub motor matic di kampus. Dia tipe cowok yang modis, motornya selalu mengkilap dengan aksen krom di mana-mana.
"Eh, Rob. Nggak ada, lagi nyantai aja," jawab Della.
Robby berjalan mendekati motor Della. "Gue denger dari anak-anak, Scoopy loe sekarang pake spion custom ya? Katanya barang antik?"
Sebelum Della sempat melarang, Robby sudah berdiri di depan motornya. "Wih, unik banget nih. Karatan nya dapat, retakannya juga estetik. Tapi kok posisinya miring?"
Robby mengulurkan tangannya untuk membetulkan posisi spion itu.
"Rob, jangan!" teriak Della.
Tapi tangan Robby sudah menyentuh batang besi spion itu.
ZRAAAAP!
Robby menarik tangannya dengan cepat seolah tersengat listrik tegangan tinggi. "Aduh! Gila, motor loe konslet ya, Del? Kok nyetrum nya kenceng banget?"
Della berdiri, jantungnya berdebar. Ia melihat tangan Robby. Tidak ada bekas luka, tapi Robby tampak kebingungan.
"Eh... kok... kok gelap?" Robby mengucek matanya. "Del, loe matiin lampu parkiran ya?"
Della menatap sekeliling. Matahari masih bersinar terang. Langit Sukabumi masih biru cerah. "Rob, matahari masih ada. Loe kenapa?"
Robby mulai panik. Ia meraba-raba udara di depannya. "Gelap, Del! Semuanya item! Gue nggak bisa liat apa-apa!"
Della melihat ke arah spion kirinya. Di dalam kaca, ia melihat bayangan mata Robby terperangkap di salah satu retakan. Mata itu bergerak-gerak liar di dalam kaca, sementara di dunia nyata, pupil mata Robby berubah menjadi putih pucat.
Spion itu baru saja "meminjam" penglihatan Robby.
Pukul 18.30 WIB – Ruang Tunggu Klinik
Geri dan Della menunggu di depan ruang pemeriksaan. Robby sedang diperiksa dokter karena keluhan buta mendadak.
"Ini salah gue, Ger. Gue harusnya nggak bawa motor itu ke kampus," Della menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Bukan salah loe, Del. Benda itu mulai defensif," bisik Geri. "Dia nggak mau disentuh sama siapapun kecuali loe. Dia mulai protektif, tapi caranya salah."
Della merogoh tasnya, mencari kunci motornya. Ia merasa takut pada motornya sendiri. "Gimana kalau nanti dia mengambil penglihatan lo juga? Atau Sasha?"
"Makanya kita harus cari tahu cara 'menidurkan' benda ini sementara," Geri mengambil kunci motor Della dari tangannya. "Malam ini, biarin Scoopy loe di bengkel gue. Gue bakal coba bungkus spion itu pakai plat timah. Gue denger timah bisa menahan radiasi energi... siapa tahu bisa nahan energi spion ini juga."
Della mengangguk lemah. Namun, saat Geri berjalan menuju parkiran klinik untuk mengambil motor Della, Della melihat dari kejauhan.
Lampu rem Scoopy-nya menyala merah terang, meskipun tidak ada yang menekan tuas remnya. Merah yang sangat pekat, seperti peringatan bahwa spion itu tidak suka dipisahkan dari pemiliknya.
Geri baru saja mendorong Scoopy Della masuk ke dalam area bengkelnya yang remang. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti. Nafasnya terlihat memburu di udara malam yang dingin.
"Del... gue nggak bisa naruh motor ini di dalam," bisik Geri tanpa menoleh.
"Kenapa, Ger?" Della mendekat, namun langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di depannya.
Setiap mesin motor yang ada di dalam bengkel Geri motor-motor pelanggan yang sedang diservis tiba-tiba bereaksi. Lampu-lampu indikator mereka menyala redup secara bersamaan. Suara alarm motor di sudut ruangan memekik singkat, lalu mati, seolah-olah semua mesin itu sedang "ketakutan" menyambut kedatangan si Scoopy krem.
"Motor-motor ini... mereka menolak Scoopy loe," Geri menelan ludah. Ia terpaksa memarkirkan motor Della di halaman depan, tepat di bawah pohon mangga yang daunnya rontok satu-satu.
Pukul 22.00 WIB – Kamar Della
Della berbaring telentang, menatap langit-langit kamarnya. Sunyi. Terlalu sunyi.
Di kepalanya masih terngiang teriakan panik Robby di klinik tadi.
"Maafin gue, Rob," gumamnya.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara langkah kaki yang berat di lorong rumah. Srek... srek... seperti suara kain yang diseret di atas lantai kayu. Della mematung. Ayahnya sudah tidur sejak satu jam lalu, dan langkah ayahnya tidak seberat itu.
Suara itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya.
Della memejamkan mata rapat-rapat. Tiba-tiba, suhu di dalam kamar anjlok drastis. Hembusan nafas dingin terasa di tengkuknya, membawa aroma yang sangat ia kenali: bau oli mesin lama dan dupa pemakaman.
"Cucu... pinjamkan matanya sebentar saja..."
Suara itu bukan berasal dari luar, melainkan bergaung di dalam tempurung kepalanya. Itu suara pria baju changshan Kakek Tan.
Della memberanikan diri membuka mata. Di depannya tidak ada siapa-siapa, tapi saat ia melirik ke arah jendela yang memantulkan bayangan kamar, ia melihat sosok Kakek Tan duduk di kursi belajarnya. Kakek itu sedang memegang sepasang "bola cahaya" yang bersinar redup penglihatan Robby.
"Kek, balikin mata teman saya," suara Della bergetar tapi penuh penekanan. "Dia nggak tahu apa-apa."
Sosok di dalam pantulan jendela itu menoleh. Wajahnya yang keriput tampak sedih. "Dunia ini semakin gelap, Della. Aku butuh mata yang bersih untuk melihat di mana ia mengubur 'kunci' itu. Tapi baiklah... jika itu maumu."
Kakek Tan meniup bola cahaya itu ke arah udara kosong.
Seketika, di benak Della, ia melihat sebuah penglihatan di dalam klinik: Robby yang sedang tidur di bangsal tiba-tiba terbangun, berteriak karena cahaya lampu neon langsung menusuk matanya. Penglihatannya kembali.
Della menghela nafas lega, namun sosok di jendela belum menghilang. Kakek Tan menunjuk ke arah telapak tangan Della.
"Setiap permintaan ada harganya. Malam ini aku kembalikan matanya, tapi sebagai gantinya, spion itu akan mulai memakan 'suara' motor-motor di sekitarmu. Jangan biarkan ia terlalu lama di dekat mereka yang rapuh."
Sosok itu memudar, menyisakan Della yang terduduk lemas. Ia teringat peringatan Geri di bengkel tadi. Jadi itu alasannya? Spion itu bukan sekadar hantu, ia adalah parasit yang menghisap energi mesin demi tetap "hidup".
Keesokan Pagi – Bengkel Geri
Della datang dengan terburu-buru. Ia menemukan Geri sedang berdiri di depan deretan motor pelanggan dengan wajah pucat pasi.
"Del... loe harus lihat ini," Geri menunjuk ke arah sebuah motor bebek tua milik tetangganya yang kemarin di parkir paling dekat dengan Scoopy Della.
Della terbelalak. Motor itu tampak utuh secara fisik, tapi saat Geri mencoba menyalakannya, mesinnya tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Tidak ada deru, tidak ada getaran. Busi memercik, bensin mengalir, tapi motor itu "bisu". Seolah-olah "jiwa" mesinnya sudah dihisap habis, menyisakan tumpukan besi mati.
"Ini yang dibilang Kakek semalam," bisik Della ngeri. "Dia mengambil suara motor ini buat ganti mata Robby."
Geri menjatuhkan kunci pas-nya. "Kalau begini terus, kita nggak bisa sembunyi lagi, Del. Orang-orang bakal nyadar ada yang nggak beres sama motor lo. Kita harus cari cara buat 'ngurung' benda ini sebelum dia ngerusak seluruh Sukabumi."