NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tetangga Sebelah

Cassie mendengus kesal, tidak sudi membalas kata-kata narsis pria itu. Ia memutar tubuhnya dan melangkah cepat masuk ke lobi yang temaram. Namun, baru dua langkah Cassie menjauh, suara berat Liam kembali terdengar, memantul di dinding beton yang lembap.

​"Hati-hati, Cassie," ucap Liam dengan nada yang lebih pelan, namun terasa jauh lebih dingin. "Biasanya, orang yang mati secara mengenaskan... arwahnya tidak akan tenang. Mereka suka mencari teman di tempat mereka mengembuskan napas terakhir."

​Langkah Cassie mendadak kaku. Ia secara tidak sengaja melirik ke arah pintu darurat—tempat kejadian semalam. Di bawah cahaya lampu neon yang berkedip gelisah, bayangan-bayangan di sudut apartemen itu seolah mulai bergerak dan memanjang. Raven’s Gate yang memang sudah terasa seperti apartemen horor kini tampak seribu kali lebih mencekam. Bulu kuduk Cassie berdiri tegak, imajinasinya mulai liar membayangkan sosok bersimbah darah yang berdiri di balik kegelapan lorong.

​Rasa takut akan hantu tiba-tiba mengalahkan rasa marahnya pada Liam. Cassie berbalik lagi, menatap Liam dengan wajah yang masih berusaha galak meski matanya memancarkan kegelisahan.

​"Kalau kau memang tidak mengikutiku dan tidak punya niat buruk," Cassie menjeda kalimatnya, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan, "lalu kenapa kau masih berdiri di sini seperti patung? Kenapa tidak masuk?"

​Pertanyaan itu sebenarnya adalah tameng. Cassie tidak mau mengakui kalau ia ketakutan setengah mati untuk masuk ke lift sendirian. Ia lebih memilih menghadapi "monster" nyata seperti Liam daripada harus bertemu dengan "sesuatu" yang tidak terlihat di dalam sana.

Ia memberikan kode tersirat bahwa ia butuh seseorang, bahkan pria berbahaya ini—untuk menemaninya melewati lobi yang gelap itu.

​Liam tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan Cassie, menatap matanya yang bergetar hebat. Ia tahu betul apa yang sedang dirasakan gadis itu.

​"Kau ingin aku masuk bersamamu?" tanya Liam sambil menaikkan sebelah alisnya, seringai tipis menghiasi wajahnya. "Bilang saja kalau kau takut, Cassie. Aku tidak akan menggigitmu... kecuali kalau kau memintanya."

​Liam membuang sisa rokoknya ke tanah, lalu melangkah perlahan menuju pintu lobi, melewati Cassie begitu saja sambil sengaja menyenggol bahunya pelan. "Ayo. Aku juga bosan berdiri di luar terus."

​Cassie mendengus pelan untuk menutupi rasa malunya, namun ia segera mengekor di belakang Liam dengan jarak yang sangat dekat hampir menempel pada punggung pria itu saat mereka melangkah menuju lift tua yang sudah menunggu di tengah keheningan.

Pintu lift menutup dengan suara denting yang berat, mengurung mereka dalam ruang sempit yang hanya diterangi satu bohlam redup. Cassie berdiri di sudut terjauh, memeluk kantong makanannya seolah benda itu bisa melindunginya.

​Liam bersandar pada dinding lift, melirik Cassie yang tampak gelisah. "Kau tahu," mulainya dengan nada santai yang dibuat-buat, "beberapa penghuni di sini bilang, kadang lift ini berhenti di lantai yang salah. Di lantai tempat tidak ada siapa pun... tapi sensornya mendeteksi ada yang masuk."

​"Berhenti menakutiku, Liam!" bentak Cassie, meski suaranya sedikit mencicit.

​Liam terkekeh rendah. "Aku hanya memberitahumu faktanya. Tapi tenang saja, kalau kau ketakutan, kau boleh berpegangan pada lenganku."

​Cassie langsung memalingkan wajah, merasa muak sekaligus ngeri. Pikirannya mulai berputar liar. Kalau dia bukan pembunuh yang ada di tangga semalam, berarti dia ini apa?

Cassie menatap Liam dari sudut matanya. Pria ini terlalu sering muncul, terlalu sering menggodanya dengan kalimat-kalimat ambigu.

​Jangan-jangan... dia ini pria mesum yang memang suka mengincar pelajar atau mahasiswa asing? merinding Cassie membayangkan kemungkinan itu. Seorang penguntit yang memanfaatkan wajah tampan dan aura misteriusnya untuk menjebak gadis-gadis yang butuh tempat tinggal murah. Itu menjelaskan kenapa dia tahu nama Cassie tanpa diperkenalkan.

​Tolong, ya Tuhan, doa Cassie dalam hati sambil memejamkan mata. Jangan biarkan dia tinggal di lantai yang sama denganku. Jangan biarkan dia jadi tetanggaku.

​Lift berdenting saat mencapai lantai tiga. Pintu terbuka perlahan. Cassie segera melesat keluar, tidak mau memberi kesempatan bagi Liam untuk bicara lagi. Namun, suara langkah kaki berat di belakangnya menunjukkan bahwa pria itu juga turun di lantai yang sama.

​Jantung Cassie mencelos. Ia mempercepat langkahnya menuju unit 304, jemarinya dengan gemetar merogoh kunci di saku jaket. Ia mendengar suara kunci lain berdenting tidak jauh di belakangnya.

​"Kau tinggal di 304?" suara Liam terdengar tepat saat Cassie berhasil memasukkan kunci ke pintunya.

​Cassie menoleh dengan wajah pucat pasi. Liam berdiri tepat di depan pintu unit 305—tepat di sebelah kamarnya. Pria itu memutar kunci pintunya dengan santai, lalu menoleh ke arah Cassie dengan seringai yang paling menyebalkan yang pernah Cassie lihat.

​"Tetangga yang manis," ucap Liam sambil mengerlingkan mata. "Kalau kau butuh 'teman' saat mendengar suara-suara aneh dari balik dindingmu malam ini... kau tahu pintu mana yang harus kau ketuk, Cassie."

BRAK!

Cassie membanting pintu kamar 304 dan langsung menguncinya.

Ia masih bersandar di pintu beberapa saat sebelum akhirnya mendorong tubuhnya menjauh dan berjalan pelan ke tengah kamar. Ia mencoba menenangkan pikirannya dengan rutinitas kecil.

Meletakkan tas di kursi. Melepas sepatu. Menyalakan lampu meja yang cahayanya lebih hangat daripada bohlam utama.

Kamar 304 kembali terasa seperti kapsul kecil yang terpisah dari dunia luar. Untuk beberapa menit… ia hampir percaya semuanya bisa kembali normal.

Lalu suara itu muncul.

Langkah sepatu.

Dari balik dinding sebelah.

Tok… tok… tok…

Cassie membeku di tempat. Ia menoleh perlahan ke arah dinding yang berbatasan dengan unit 305. Ia memang tahu dinding Raven’s Gate setipis biskuit murah, tapi mendengar langkah Liam dari jarak sedekat itu terasa seperti menyadari ada badai yang tidur tepat di sebelah bantalnya.

Langkah itu berhenti.

Suara pintu ditutup terdengar samar tapi jelas.

Klik.

Lalu suara benda jatuh pelan. Mungkin mantel. Mungkin kunci.

Beberapa detik kemudian, suara shower menyala. Air mengalir deras, gema percikannya merambat melalui pipa tua gedung itu, seperti hujan yang turun di dalam tulang bangunan.

Cassie mencoba mengalihkan diri. Ia membuka buku catatan kuliah, menatap halaman yang penuh tulisan tangan. Namun pikirannya terus melayang ke balik tembok tipis itu, seperti jarum kompas yang bersikeras menunjuk arah yang sama.

Air shower berhenti.

Sunyi sejenak.

Lalu…

Suara Liam terdengar lagi. Lebih rendah. Sedikit teredam, tapi tetap jelas karena jaraknya yang terlalu dekat.

Ia sedang berbicara. Mungkin di telepon.

“Tidak bisa sekarang.”

Cassie langsung menegakkan badan. Jari-jarinya mencengkeram tepi meja tanpa sadar.

“Kau selesaikan dulu yang di pelabuhan,” lanjut suara Liam, datar, tenang, tanpa nada ragu. “Aku harus menyelesaikan urusanku di sini.”

Kalimat terakhir itu menggantung di udara seperti kabut dingin yang merayap masuk lewat celah pintu.

Cassie menelan ludah.

Urusanku di sini.

Pikiran Cassie mulai berlari liar seperti kuda yang lepas dari kandang. Pelabuhan. Urusan. Nada suara Liam yang terdengar terlalu biasa untuk sesuatu yang terasa… tidak biasa.

Tanpa sadar, tubuhnya bergerak.

Ia berdiri. Melangkah pelan mendekati dinding pemisah unit mereka. Setiap langkah terasa seperti melanggar aturan tak tertulis yang ia buat sendiri.

Jangan cari masalah.

Jangan ikut campur.

Jangan dengar hal yang tidak perlu.

Namun rasa takut sering datang bersama rasa ingin tahu, dan keduanya adalah duo yang hobi mendorong manusia membuat keputusan buruk.

Cassie mendekat sampai jaraknya hanya beberapa sentimeter dari dinding. Ia menahan napas, lalu perlahan… mendekatkan telinganya ke permukaan tembok dingin itu.

Ia mencoba menangkap suara lebih jelas. Mencoba menafsirkan maksud Liam. Apakah “urusan di sini” berarti apartemen ini? Distrik ini? Atau… sesuatu yang berhubungan dengannya?

Detak jantung Cassie mulai naik, menabrak dadanya seperti drum perang kecil.

Suara di sebelah tiba-tiba berhenti.

Sunyi.

Sunyi yang terlalu cepat. Terlalu tajam.

Lalu suara Liam terdengar lagi. Kali ini lebih jelas. Lebih dekat. Dan tidak terdengar seperti ia sedang berbicara di telepon.

“Kalau kau terus menempel di dinding begitu…”

Cassie membeku total.

“…kau bisa merusak catnya.”

Cassie tersentak keras. Ia mundur hampir terpeleset karpet tipis kamarnya. Punggungnya menabrak meja kecil, membuat bingkai foto orang tuanya bergetar pelan.

Matanya melebar, napasnya tercekat.

Beberapa detik ia hanya berdiri mematung, menatap dinding itu seolah tembok tersebut baru saja membalas tatapannya.

Dari balik sana, tidak ada suara lagi. Tidak ada langkah. Hanya keheningan yang terasa seperti seseorang sedang berdiri tepat di sisi lain, mengetahui persis apa yang baru saja Cassie lakukan.

Wajah Cassie memanas, campuran panik dan malu berputar di dadanya seperti badai kecil.

“Aku… tidak…” gumamnya pelan pada ruangan kosong, seolah Liam bisa mendengar pembelaannya melalui tembok.

Ia menjauh beberapa langkah dari dinding, lalu duduk di tepi tempat tidur. Jemarinya saling meremas, mencoba mengembalikan kontrol atas tubuhnya sendiri.

1
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
Harley
aman aman 🤭
Harley
sooo deep 🙂
Ella Elli
Tembak yang bener etdah
Harley
orang Italia lokal jg bilang padaku kalo mafia2 di novel 'it's scam' katanya wkwk
Four Forme: jauh dari bayangan ya haha
total 1 replies
Harley
kerja apaan tuh 👀
Hafiz Baihaqi
wey apa nih 🤣
Four Forme: hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!