NovelToon NovelToon
Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Pendamping Sakti / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama / Fantasi Wanita
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
​Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
​Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
​Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
​Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: BURUNG BESI PENJEMPUT PANGERAN

Keheningan hutan yang telah Alurra "sembuhkan" mendadak pecah oleh suara gemuruh yang memekakkan telinga. Angin kencang yang tidak alami bertiup dari langit, menggoyang dahan-dahan pohon emas yang telah Alurra susun dengan rapi.

Alurra mendongak, matanya yang jernih menyipit tajam. "Heh! Apa-apaan ini? Dewa Matahari mengirim pasukan angin untuk menjemputku?" teriaknya kesal sambil menutupi matanya dari debu yang beterbangan.

Nael, yang berdiri di sampingnya, tidak terlihat terkejut. Ia justru tampak tegang. Matanya menatap ke arah bayangan hitam besar yang perlahan turun dari langit. Itu adalah helikopter mewah milik keluarga Ryker, lengkap dengan lambang serigala perak di bodinya.

Wuuusssshhhh!

Helikopter itu mendarat di area terbuka yang tak jauh dari pondok kayu. Alurra segera melompat ke depan Nael, tangannya sudah memancarkan cahaya ungu yang berpendar.

"Pangeranku, mundur! Ada burung besi raksasa yang mencoba memakan kita!" teriak Alurra bar-bar. Ia sudah siap meluncurkan serangan sihir untuk menghancurkan helikopter itu menjadi rongsokan.

Nael dengan cepat menahan pergelangan tangan Alurra. Ia menggeleng kuat-kuat. Dengan gerakan tenang, ia mengambil buku catatan kecilnya yang mulai lecek dan menulis dengan terburu-buru.

"ITU BUKAN MONSTER. ITU KENDARAAN SAYA. MEREKA MENJEMPUT KITA."

Alurra menurunkan tangannya, cahaya ungu itu meredup tapi matanya tetap waspada. "Kendaraan? Jadi manusia di duniamu itu naik di dalam perut burung berisik ini? Ih, seleramu buruk sekali, Nael. Kenapa tidak naik awan saja?"

Nael hanya bisa menghela napas pasrah. Ia tidak punya energi untuk menjelaskan hukum fisika pada bidadari yang baru saja melompat dari langit.

Pintu helikopter terbuka. Tiga pria berjas hitam dengan kacamata hitam turun dengan tergesa-gesa. Mereka tampak panik sekaligus lega saat melihat Nael berdiri di sana.

"Tuan Muda Nael! Anda selamat!" salah satu dari mereka berseru, lalu membungkuk hormat. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat Alurra yang berdiri protektif di depan Nael dengan gaun sutra robek-robek tapi wajahnya cantik luar biasa.

"Siapa wanita ini, Tuan?" tanya pengawal itu bingung.

Nael tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah helikopter, memberi isyarat bahwa mereka akan berangkat sekarang. Namun, Alurra justru diam di tempat. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, bibirnya mengerucut sebal.

"Aku tidak mau ikut," cetus Alurra tiba-tiba. "Burung itu baunya aneh (bensin). Aku lebih suka di sini, makan buah surgawi dan memelukmu setiap malam."

Nael terhenti. Ia tahu, jika Alurra tidak ikut, keselamatannya di kota akan terancam. Tanpa perlindungan bidadari ini, musuh-musuhnya pasti akan mengirim pembunuh bayaran yang lebih banyak.

Nael berbalik, menatap Alurra dengan tatapan memohon. Ia kembali menulis di catatannya, kali ini dengan kalimat yang sudah ia pikirkan matang-matang.

"IKUTLAH DENGAN SAYA. JIKA ANDA IKUT KE KOTA, SAYA AKAN MEMBERIKAN 'HARTA' YANG SANGAT BANYAK UNTUK ANDA."

Alurra membaca tulisan itu. Alisnya terangkat sebelah. "Harta?"

Dalam pikiran Alurra yang polos dan dipenuhi fantasi langit, kata "Harta" bagi seorang pria yang mencintai wanita hanya berarti satu hal: Cinta dan Kasih Sayang yang Melimpah.

Alurra langsung tersenyum lebar, senyum yang begitu cerah hingga para pengawal Nael sampai terpesona sesaat.

"Harta? Oh... jadi kau ingin memberiku 'harta' yang banyak ya?" Alurra mendekati Nael, lalu mencubit dagu pria itu dengan nakal. "Ternyata pangeranku ini sangat romantis. Baiklah! Demi harta itu, aku bersedia naik ke perut burung berisik itu!"

Nael sedikit bingung melihat perubahan suasana hati Alurra yang begitu cepat. Ia pikir Alurra menyukai emas atau perhiasan, padahal yang diinginkan Alurra adalah pelukan dan gombalan setiap hari.

"Tapi ada syaratnya!" Alurra mengangkat jari telunjuknya. "Selama di dalam burung itu, kau harus memegang tanganku. Dan selama di kota nanti, kita harus tidur di kamar yang sama. Aku takut gelap di dunia manusia, tahu!"

Nael mematung. Para pengawal Ryker di belakangnya saling berpandangan dengan wajah merah padam. Tuan Muda mereka yang dikenal dingin dan "suci" kini membawa pulang seorang gadis bar-bar yang meminta tidur seranjang?

Nael tidak punya pilihan. Ia mengangguk pelan sebagai tanda setuju.

Alurra bersorak girang. Ia langsung menggandeng lengan Nael dengan sangat erat, menempelkan tubuhnya pada pria itu tanpa rasa malu.

"Ayo, Pangeranku! Mari kita ambil harta itu! Aku sudah tidak sabar ingin kau 'hujani' dengan harta!" seru Alurra blak-blakan.

Nael memijat pelipisnya, merasakan sakit kepala yang mulai menyerang. Ia merasa telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam masalah yang lebih besar daripada pembunuh bayaran.

Saat mereka melangkah masuk ke dalam helikopter, Alurra terus berceloteh, mengomentari setiap tombol yang ia lihat di dalam kabin.

"Wah, apa ini? Tombol merah? Boleh kupencet tidak? Wah, kursinya empuk sekali, tidak sekeras batu di langit!"

Nael hanya bisa duduk di sampingnya, memejamkan mata, dan meremas pegangan kursi saat mesin helikopter mulai menderu kencang. Di dalam hati, ia hanya berharap mansion Ryker masih tetap berdiri tegak setelah bidadari bar-bar ini menginjakkan kaki di sana.

Helikopter itu pun perlahan terangkat, meninggalkan hutan ajaib yang mulai memudar cahayanya, menuju hutan beton yang penuh dengan intrik berdarah.

...****************...

1
umie chaby_ba
mari kita coba
Ariska Kamisa
semoga kalian bisa menikmati nya juga...
Aldah Karisa
semangat thorr... aku suka gaya bahasamu. 👍
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak sudah mampir 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
wow hebat jugaa
Aldah Karisa
termasuk cerita fiksi yang bikin kita membayangkan jauh ga sih... dengan adanya dewa matahari dewa langit... dan ini cinta dua dunia .. berharap happy ending yaaa... suka takut kalo cinta beda dunia... dan semoga Nael ini bisa sembuh dan mau bicara lagi....
aku suka namanya Nael ....
Aldah Karisa
bidadari genit parah
Aldah Karisa
kenapa nael bisa bisu
Aldah Karisa
ini bidadari nya ga pake selendang??? 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!