NovelToon NovelToon
Darah Di Atas Putih

Darah Di Atas Putih

Status: tamat
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
​Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akar Penghianatan di Tanah Karst

​Jip tua yang dikendarai Arkan terbatuk-batuk saat mendaki jalanan berbatu yang membelah tebing-tebing kapur raksasa di Pegunungan Karst. Di sini, sinyal radio hanya berupa desis statis, dan kabel listrik yang menggantung di pinggir jalan sudah lama putus dan berkarat. Desa Karst adalah tempat yang dilupakan waktu—benteng alami bagi mereka yang ingin menghilang dari radar dunia digital.

​Liana bersandar di jendela, matanya tampak sayu. Sejak mereka meninggalkan Sektor Selatan, ia lebih banyak diam. Tangannya sesekali menyentuh tengkuknya, tempat keping mikro itu menyatu dengan saraf tulang belakangnya.

​"Kita hampir sampai," bisik Arkan, mencoba memecah kesunyian. "Gideon bilang ada sebuah pondok tua milik keluargaku di balik lembah ini. Ayahku sering membawaku ke sini saat aku masih kecil."

​Liana menoleh, senyum tipis yang dipaksakan muncul di wajahnya. "Ayahmu... Baskoro Dirgantara. Dia membangun tempat ini sebagai pelarian, bukan? Karena dia tahu suatu saat Phoenix akan memakan penciptanya sendiri."

​Arkan tertegun. "Bagaimana kau tahu? Aku belum pernah menceritakan itu padamu."

​Liana menatap telapak tangannya. "Memori ibumu... Elena. Dia menyimpan fragmen masa lalu ayahmu di dalam keping itu. Arkan, ayahmu dan Hendra... mereka dulu bukan sekadar rekan kerja. Mereka adalah saudara angkat yang tumbuh di panti asuhan yang sama."

​Pondasi yang Retak

​Setelah memarkir jip di bawah rimbunnya pohon beringin tua, mereka berjalan menuju sebuah pondok kayu yang tersembunyi di balik gua kapur. Di dalamnya, debu tebal menyelimuti perabotan tua, namun di sudut ruangan, sebuah meja kerja jati masih berdiri kokoh.

​Arkan mendekati meja itu, menemukan sebuah laci rahasia yang terkunci dengan mekanisme mekanis murni—tanpa sensor, tanpa listrik. Ia menggunakan kunci perak yang diberikan Gideon sebelumnya. Di dalamnya terdapat sebuah buku harian tua dan beberapa foto usang.

​Salah satu foto menunjukkan dua pemuda berdiri di depan laboratorium universitas. Satu adalah Baskoro yang tersenyum lebar, dan di sampingnya adalah Hendra muda dengan tatapan mata yang dingin dan ambisius.

​"Lihat ini," Arkan menunjukkan foto itu pada Liana. "Di balik foto ini tertulis: 'Project Phoenix: Untuk dunia tanpa rahasia. - B & H'."

​Liana menyentuh foto itu, dan tiba-tiba pendaran biru tipis muncul kembali di matanya. Ia tersentak, napasnya memburu.

"Arkan... aku melihatnya. Malam saat ayahmu tewas. Itu bukan karena kecelakaan laboratorium."

​"Apa yang kau lihat?" Arkan mencengkeram bahu Liana.

​"Hendra... dia yang menyabotase sistem pendingin reaktor. Dia ingin mengambil alih kendali penuh atas algoritma 'Prediksi Perilaku' yang sedang dikembangkan ayahmu.

Ayahmu ingin menggunakannya untuk bantuan kemanusiaan, tapi Hendra... dia ingin menjualnya pada pasar gelap informasi."

​Liana memejamkan mata, air mata mengalir di pipinya. "Ayahmu menyadari niat busuk Hendra. Sebelum dia tewas, dia menyisipkan sebuah 'Virus Nurani' ke dalam inti Phoenix.

Sebuah kode yang hanya bisa aktif jika inangnya merasakan cinta yang tulus. Itulah sebabnya Hendra tidak bisa menggunakan kode itu selama sepuluh tahun ini. Dia tidak punya nurani."

​Tamu yang Tak Diundang

​Tiba-tiba, Liana berdiri tegak. Tubuhnya menegang, dan ia menatap ke arah pintu pondok yang tertutup.

​"Arkan... mereka di sini," bisik Liana. Suaranya kini terdengar ganda, bercampur dengan frekuensi digital yang tajam.

​"Siapa? Tidak ada sinyal di sini!" Arkan segera mencabut pistolnya.

​"Mereka tidak butuh sinyal digital. Mereka menggunakan pelacak akustik frekuensi rendah," Liana menunjuk ke luar.

"Hendra... dia mengirim Unit Scorpion murni tanpa bantuan AI. Mereka manusia, Arkan. Pembunuh bayaran yang dilatih untuk bekerja dalam kegelapan total."

​Benar saja, dari balik kabut lembah, muncul siluet sepuluh orang berpakaian seragam taktis kelabu. Mereka tidak membawa senter, hanya menggunakan kacamata penglihatan malam analog. Di tengah barisan itu, berdiri seorang pria dengan postur tegap yang sangat dikenal Arkan.

​Varo.

​Arkan terbelalak. "Varo? Bagaimana mungkin? Aku

melihatnya mati di Menara Penyiaran!"

​"Bukan Varo yang asli," suara Liana bergetar. "Itu adalah tiruan mekanis... sebuah cyborg yang dikendalikan dari jarak jauh melalui satelit frekuensi rendah. Hendra menggunakan sisa-sisa jasad Varo sebagai boneka."

​Varo (Cyborg) mengangkat tangannya, dan suara Hendra menggema dari speaker di dadanya. "Selamat malam, Arkan. Tempat persembunyian ayahmu cukup nyaman, tapi tidak ada tempat yang benar-benar gelap bagi mataku. Liana... waktunya pulang. 'Ibu' butuh istirahat di laboratorium yang layak."

​Arkan menarik Liana ke belakangnya, berlindung di balik meja jati. "Jangan harap kau bisa menyentuhnya, Hendra!"

​Pertempuran pecah di tengah kesunyian Pegunungan Karst. Arkan melepaskan tembakan, namun pelurunya hanya memantul di lapisan baja cyborg Varo. Di sisi lain, Liana mulai merasakan tekanan luar biasa di kepalanya. Phoenix di dalam dirinya mendesak untuk dilepaskan, namun ia tahu jika ia mengaktifkannya di sini, ia akan menghancurkan satu-satunya tempat kenangan ayahnya.

​"Liana, lari ke dalam gua! Aku akan menahan mereka!"

teriak Arkan.

​Namun Liana tidak lari. Ia justru melangkah maju menantang Unit Scorpion. Matanya kini bukan lagi biru, melainkan berubah menjadi warna emas yang menyilaukan—level evolusi Phoenix yang belum pernah dilihat sebelumnya.

​"Hendra... kau ingin melihat 'Virus Nurani' ayahku?" suara Liana kini bergetar dengan otoritas yang bisa meretakkan kaca. "Maka rasakanlah kemarahan dari semua jiwa yang

kau korbankan!"

1
SILVA Nur LABIBAH
Masyaallah sungguh bagus cerita novelnya kak
inna Mardiana: membuat saya makin semangat menulis💪
total 2 replies
Dian
lanjutt
SILVA Nur LABIBAH
rahasia sudah terbuka,,,ayo Arkan & liana bangun kembali srmua yg telah hilang.
SILVA Nur LABIBAH
maaf baru bisa koment, bagus kisah novelnya. bisa mengambil hikmah dendam bisa melukai diri kira sendiri
inna Mardiana: makasih banyak yah Kak udah mampir😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!