Setelah menikah, Anin banyak menemukan banyak hal yang janggal di rumah mertua nya. Anin sering mendengar ibu mertua nya menangis dan dia juga sering melihat tubuh ibu mertua nya di penuhi oleh lebam.
Hingga suatu hari Anin melihat dengan mata kepala nya sendiri ayah mertua nya sedang melakukan hubungan terlarang dengan ipar nya. Anin bertekad untuk membongkar semua kebusukan mereka di depan semua orang, dan membuat ayah mertua nya dan juga ipar nya mendapat kan hukuman atas perbuatan mereka.
Ikuti kisah kisah selengkap nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Anin berjalan ke saling kiri rumah mertua nya, dia pergi ke rumah Andri kakak kedua Dirga. Rumah mertua Anin di apit oleh kedua rumah kakak nya Dirga, Atar dan Andri.
Jika di lihat dari jalan, maka akan terlihat perbedaan yang kontras dari rumah yang berjahar 3 tersebut. Rumah Atar dan Andri tampak mewah dan megah, sedang kan rumah orang tua mereka tidak semegah rumah kedua nya.
Antara 2 kakak beradik itu ada persaingan yang hebat, kedua nya meminta di bangun kan rumah yang mewah pada kedua orang tua mereka. Sedang kan Dirga, dia tidak pernah meminta apapun pada kedua orang tua nya. Bahkan Dirga lah yang mencukupi semua kebutuhan orang tua nya, tidak jarang Atar dan Andri pun meminta pada adik bungsu mereka.
"Assalam mu'alaikum!" Anin mengetuk pintu rumah kakak kedua dari suami nya itu.
"Wa'alaikum salam!" Terdengar jawaban dari dalam rumah.
Ceklek, pintu pun terbuka tampak Weni muncul dari balik pintu.
"Anin, ayo masuk!" Weni segera mengajak adik ipar nya itu masuk ke dalam rumah nya.
"Mbak lagi apa? Apa aku mengganggu waktu istirahat nya?" Tanya Anin pada kakak ipar nya tersebut.
"Gak kok, mbak lagi nonton tv aja tadi!" Jawab Weni sambil tersenyum.
Anin mengikuti langkah kaki Weni masuk ke dalam rumah nya, masih terlihat jelas saat ini Anin sedang menyimpan sesuatu masalah.
"Ada apa Nin? Mbak perhatian kamu kusut banget?" Tanya Weni setelah mereka duduk santai di depan televisi yang sedang menyala.
"Gimana gak kusut mbak, aku lagi kesel banget hari ini mbak!" Jawab Anin sambil menghela nafas berat.
"Ada apa? Coba cerita sama mbak!" Weni tampak penasaran dengan masalah yang tengah di hadapi istri dari ipar nya tersebut.
"Gimana gak kesel mbak, aku udah capek - capek masak eh pas mau makan semua nya udah pada hilang gak tahu kemana. Bukan cuma makanan yang udah di masak aja pada hilang, semua bumbu, gula, minyak dan yang lain nya udah raib semua. Padahal baru tadi pagi aku belanja nya!" Anin lalu menceritakan apa yang terjadi di rumah mertua nya.
Weni terdiam sejenak, dia tahu Anin akan kaget dengan semua kejadian ini. Dulu awal - awal dia menikah dengan Andri dan tinggal di rumah itu pun dia mengalami hal yang sama dengan yang sedang Anin alami saat ini.
"Nin, kalau mbak boleh ngasih saran ya. Sebaik nya kamu gak usah deh belanja banyak - banyak stok barang di rumah, mending belanja secukupnya aja!" Weni pun berkata yang sama seperti yang di katakan oleh bu Ela tadi.
"Loh emang nya kenapa mbak? Aku tuh tipe orang yang paling males jika harus belanja bolak - balik tiap hari!" Jawab Anin dengan wajah cemberut nya.
"Selama kamu dan Dirga masih tinggal di rumah itu, maka semua nya pasti aka terulang lagi. Yakin lah sama mbak Nin, dulu mbak juga ngalami hal yang sama dengan yang kamu alami saat ini ketika mbak tinggal di sana!" Weni berkata pada Anin.
"Tapi mas Dirga tidak akan setuju jika aku ajak pindah dari rumah ibu, mbak!" Anin berkata dengan wajah sedih.
"Iya itu tadi solusi nya, kamu jangan belanja banyak - banyak lagi. Belanja secukupnya aja, atau kalau kamu mau kamu bisa simpan belanjaan mu di tempat khusus yang tidak di ketahui oleh orang lain!" Weni memberikan pilihan lain pada Anin.
"Maksud mbak?" Anin tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh ipar nya tersebut.
"Di dapur nya ibu kan ada sebuah kamar kosong tuh, sekarang kan di jadikan gudang. Nah kamu bisa simpan semua nya di dalam nya terus pintu nya kamu kunci biar yang lain gak bisa masuk!" Weni menjelaskan maksud nya pada Anin.
"Boleh juga tuh mbak, akan aku coba. Tapi tetap saja untuk bahan masakan dan sayur- sayuran gak bisa kalau terlalu lama berada di luar, masih harus belanja setiap hari lagi!" Anin menghembus kan nafas dengan kasar.
"Iya sih, tapi setidaknya untuk bahan kering seperti gula, minyak dan yang lain nya bisa aman!" Ujar Weni lagi.
"Sebenar nya siapa sih mbak yang suka mencuri di rumah ibu? Kan cuma ada aku, mas Dirga, ibu sama bapak aja, kok bisa semua nya pada raib gitu?" Anin masih penasaran siapa pelakunya.
"Kau akan tahu sendiri suatu saat nanti!" Jawab Weni sambil tersenyum
Anin semakin penasaran, kenapa seperti nya semua keluarga suami nya suka sekali bermain rahasia- rahasiaan segala. Tidak ibu mertua nya, Dirga, Weni dan yang lain nya.
"Ya udah deh mbak, aku pulang dulu ya!" Karena tidak mendapat kan jawaban yang memuaskan, Anin pun pamit pulang.
Weni melihat kepergian Anin dengan perasaan kasihan, tapi dia tidak ingin ikut campur masalah itu lebih jauh. Andri sudah mengingat kan nya, untuk tidak ikut campur dengan apapun masalah yang ada di rumah ibu nya.
"Semoga kau kuat Nin, semoga saja Dirga tidak terpengaruh dengan wanita jahat itu!" Guman Weni setelah Anin pergi dari rumah nya.
Anin segera masuk ke dalam kamar nya, dia sangat gelisah hari ini. Dia tidak sabar lagi menunggu suami nya pulang, dia ingin menceritakan apa yang terjadi pada ibu mertua nya hari ini.
Anin merasa ada banyak rahasia di rumah mertua nya ini yang harus dia temukan jawabannya, begitu juga dengan Tika. Istri dari kakak ipar nya seperti nya menyimpan banyak rahasia, tapi seperti nya semua orang di sini berusaha menutupi semua nya dari Anin.
Anin merasa tenggorokan nya yang kering, dia pergi ke dapur. Anin ingin sekali minum minuman dingin, dia membuka kulkas untuk mengambil air es. Tapi Anin terkejut saat dia membuka kulkas nya, semua ikan, daging, ayam, telur dan yang lain nya sudah tidak ada lagi di sana. Kulkas itu sudah kosong melompong, semua nya juga ikut raib.
"Astagfirullah hal adzim, kemana semua ini?" Anin mengusap dada nya sambil terus melafaz kan istighfar di bibir nya.
Amarah dan emosi kini mulai menguasai Anin, dia duduk di meja makan sambil meneguk minuman nya.
"Aku tidak akan mengampuni siapa pun yang sudah mencuri semua milik ku, jika hari ini dia berhasil maka selanjutnya aku pastikan dia akan mendapat kan balasan nya!" Guman Anin geram.
Anin mengepal kan tangan nya, kini dia tidak akan diam saja. Anin pastikan pelaku nya akan segera mendapat kan balasan dari nya, Anin tidak akan membiarkan nya berhasil begitu saja.