Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Fajar hari Minggu menyingsing dengan udara yang sejuk, namun suasana di dalam rumah tingkat itu masih terasa beku.
Adnan terbangun dari tidurnya di lantai samping sofa dengan tubuh yang pegal, matanya langsung tertuju pada Kinan yang sudah rapi dengan mukena, baru saja menyelesaikan salat Subuhnya.
Tidak ada kata-kata manis seperti biasanya. Hanya suara gemerisik plastik saat mereka berdua mulai memindahkan lima puluh kotak cumi hitam ke dalam mobil.
Keesokan paginya, Adnan mengajak istrinya untuk ke rumah Ustadz Yusuf.
"Sayang, ayo berangkat. Takut nanti Ustadz Yusuf sudah menunggu untuk acaranya," ajak Adnan lembut.
Kinan memakai gamis berwarna abu-abu tua dengan hijab senada yang menutup dadanya dengan sempurna.
Wajahnya dipulas bedak tipis untuk menutupi sembab di matanya.
Ia hanya mengangguk pelan, lalu melangkah masuk ke dalam mobil tanpa menunggu Adnan membukakan pintu untuknya.
Sepanjang perjalanan, radio mobil yang biasanya memutar lantunan selawat pun dimatikan.
Adnan sesekali melirik Kinan yang menatap kosong ke arah jendela, tangannya meremas tas kecil di pangkuannya.
Rasa bersalah kembali menghujam ulu hati Adnan; wanita sehebat ini sempat ia ragukan kesuciannya hanya karena fitnah sepihak.
Sesampainya di sana, istri Ustadz Yusuf menyambut kedatangan Kinan dengan senyum lebar di depan pintu rumahnya yang sudah ramai oleh sanak saudara.
"Masya Allah, ini dia sang koki kebanggaan kita!" seru istri Ustadz Yusuf sambil merangkul bahu Kinan dengan akrab.
"Satu pondok kemarin heboh gara-gara aromanya, sekarang keluarga besar saya sudah tidak sabar ingin mencicipi."
Kinan mencoba tersenyum sopan. "Semoga rasanya sesuai selera keluarga, Ustadzah."
Adnan membantu menurunkan kotak-kotak besar itu dengan bantuan beberapa pemuda di sana.
Aroma gurih cumi hitam dan nasi gurih langsung menyeruak, membuat orang-orang yang sedang menata meja prasmanan menoleh dengan tatapan lapar.
Setelah semua kotak tertata rapi, istri Ustadz Yusuf menarik tangan Kinan ke sudut ruangan yang agak sepi.
Ia mengeluarkan sebuah amplop tebal yang tampak berisi uang tunai dalam jumlah cukup banyak.
"Terima kasih dan ini uang pembayaran cumi untuk lima puluh porsi kemarin, Mbak Kinan. Tolong diterima ya. Ustadz Yusuf bilang harganya jangan dikurangi sedikit pun, karena kualitas rasa dan ketulusanmu memasak itu harganya mahal," ucap istri Ustadz Yusuf sambil menyelipkan amplop itu ke tangan Kinan.
Kinan terpaku menatap amplop itu. Ini adalah uang pertama yang ia hasilkan dari keringatnya sendiri di dapur, sebuah pengakuan atas martabatnya sebagai wanita yang terhormat. Namun, di saat yang sama, ia melirik Adnan yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan haru.
Rasa bangga menyelimuti hati Adnan, namun ia juga tahu bahwa uang ini tak akan sanggup menebus luka hati istrinya yang baru saja ia gores kemarin sore.
"Terima kasih banyak, Ustadzah. Semoga berkah untuk acara syukurannya," bisik Kinan dengan suara yang sedikit bergetar.
"Aamiin..."
Perjalanan pulang dari rumah Ustadz Yusuf diwarnai keheningan yang menyesakkan.
Meski amplop tebal berisi uang hasil jerih payahnya ada di dalam tas, wajah Kinan tetap datar.
Adnan sesekali melirik istrinya, ingin sekali menggenggam tangan itu dan mengucap maaf untuk kesekian kalinya, namun aura dingin yang dipancarkan Kinan membuatnya mengurungkan niat.
Setelah itu mereka pulang ke rumah sebentar sebelum melanjutkan ke pondok pesantren Kyai Mansyur.
Matahari sudah mulai condong ke barat, memberikan semburat jingga di langit, namun suasana di dalam rumah terasa seperti musim dingin yang tak kunjung usai.
Kinan melangkah menuju meja makan, tempat di mana kemarin sore badai itu bermula.
Ia mengeluarkan amplop dari tasnya, lalu menghitung sejumlah uang dengan teliti.
Adnan yang baru saja mengunci pintu, berdiri mematung memperhatikan gerak-gerik istrinya.
Dengan tangan yang tenang namun tegas, Kinan menaruh uang modal di dalam amplop cokelat lainnya, lalu meletakkannya di atas meja, tepat di depan Adnan.
"Ini uang yang aku pakai kemarin untuk modal. Aku hanya mengambil hakku dari jualan cumi," ucap Kinan dengan suara yang nyaris tanpa emosi.
Kalimat itu bagai tamparan keras bagi Adnan. Kinan seolah ingin menegaskan bahwa ia tidak sudi menggunakan uang suaminya yang sempat menuduhnya "kurang uang" hingga harus menjual diri.
Ia ingin menunjukkan bahwa tangannya cukup bersih dan mampu untuk menghidupi dirinya sendiri tanpa harus merendahkan martabatnya.
"Kinan, Mas tidak bermaksud menghitung-hitung uang yang Mas berikan," bisik Adnan dengan suara parau, matanya berkaca-kaca menatap amplop modal itu.
"Semua yang Mas punya adalah milikmu."
Kinan tidak menjawab. Ia bahkan tidak memandang wajah suaminya yang penuh penyesalan.
Setelah memberikan uang itu, Kinan masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya, bersiap untuk memenuhi undangan Kyai Mansyur.
Di dalam kamar, Kinan menatap pantulan dirinya di cermin. Ia memilih gamis berwarna hitam pekat dengan aksen emas minimalis dan khimar yang senada.
Warna hitam itu seolah mewakili hatinya yang sedang berduka, namun aksen emasnya menunjukkan bahwa ia akan datang ke pesantren bukan sebagai pesakitan, melainkan sebagai wanita yang telah menemukan harga dirinya kembali.
Ia memoleskan sedikit minyak wangi non-alkohol, menarik napas panjang untuk menguatkan mentalnya.
Ia tahu, di pesantren nanti, bukan hanya Kyai Mansyur yang menunggunya, tapi juga tatapan sinis warga dan kelicikan Fauziah.
Kinan membuka pintu kamar, menemukan Adnan yang masih berdiri di tempat yang sama, menatap amplop modal itu dengan bahu yang lunglai.
"Ayo, Mas. Kita tidak boleh terlambat memenuhi undangan Abah," ucap Kinan dingin, lalu melangkah mendahului Adnan menuju mobil.
Suasana pesantren malam itu begitu ramai. Lampu-lampu hias melilit pepohonan, menciptakan kesan megah namun mencekam bagi Kinan.
Sesampainya di pondok pesantren, Kinan berjalan di belakang suaminya.
Ia menundukkan kepala, mencoba mengabaikan bisik-bisik santri yang masih memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Tiba-tiba, dari arah serambi masjid, sosok yang paling ia hindari muncul dengan wajah ceria yang dibuat-buat.
Fauziah tersenyum tipis dan berlari ke arah Adnan.
"Abah sudah menunggu, Ustadz! Mari, acaranya akan segera dimulai," ucap Fauziah dengan nada manja, seolah-olah Kinan tidak ada di sana.
Adnan yang merasa bersalah pada ayahnya dan ingin segera memperbaiki keadaan di pondok, tampak terburu-buru.
Tanpa sadar, ia melangkah mengikuti tarikan lembut Fauziah di lengan bajunya.
Adnan meninggalkan Kinan sendirian di tengah kerumunan, tanpa sepatah kata pun untuk memastikan istrinya baik-baik saja.
Kinan yang sedari tadi belum makan, merasa perutnya perih bukan hanya karena lapar, tapi juga karena perlakuan dingin suaminya.
Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju ke meja prasmanan untuk mengambil nasi dan kuah rawon yang aromanya memenuhi udara malam itu.
Baru saja ia menyendok kuah hitam yang panas itu ke dalam mangkuknya, sebuah bayangan berdiri di sampingnya.
Fauziah datang dengan tersenyum sinis, matanya berkilat penuh kemenangan.
"Sebaiknya kamu itu sadar diri, pelacur. Ustadz Adnan itu hanya untuk aku, bukan untuk pelacur seperti kamu. Lihat sendiri, kan? Dia lebih memilih ikut denganku daripada menunggumu," bisik Fauziah tepat di telinga Kinan.
Kinan tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh ketenangan meski hatinya tersayat.
Ia tidak membalas, ia hanya menatap Fauziah dengan tatapan yang sulit diartikan—tatapan seorang wanita yang sudah biasa dihujat dunia.
Namun, Fauziah tidak puas dengan diamnya Kinan.
Fauziah melihat Adnan yang berjalan kembali ke arah mereka, untuk menjemput Kinan.
Dengan gerakan yang sangat cepat dan terencana, ia mengambil mangkuk rawon Kinan dan menyiram tangannya sendiri dengan kuah panas yang mengepul itu.
"PRANG!!"
Mangkuk itu pecah di lantai. "Aduh, sakit!!" teriak Fauziah histeris, sambil memegangi tangannya yang mulai memerah.
Ia jatuh terduduk di dekat kaki Kinan, menangis sejadi-jadinya seolah-olah ia adalah korban penganiayaan.
Adnan melihatnya dari kejauhan dan langsung berlari panik.
Para santri mengatakan kalau Kinan yang menyiram kuah rawon ke tangan Fauziah.
"Ya Allah, Ustadz! Tadi saya lihat sendiri Mbak Kinan sengaja menyiramkan kuahnya!" seru salah satu santriwati yang merupakan kaki tangan Fauziah.
Adnan menatap Kinan dengan tatapan tidak percaya yang kembali muncul.
"Kinan! Apa yang kamu lakukan?!" bentaknya tanpa meminta penjelasan lebih dulu.
Melihat tangan Fauziah yang memerah, rasa panik mengalahkan logikanya.
Tanpa mendengarkan pembelaan Kinan yang hanya bisa mematung karena syok, Adnan langsung membawa Fauziah ke rumah sakit tanpa memperdulikan Kinan yang dipermalukan seperti itu di depan ratusan pasang mata warga dan santri.
Kinan berdiri mematung di samping pecahan piring dan tumpahan rawon yang mengotori gamis hitamnya yang indah.
Air matanya tidak jatuh lagi; rasanya sudah kering.
Di bawah lampu pesantren yang benderang, ia menyadari satu hal pahit: sekeras apa pun ia berusaha menjadi bertaubat, di mata suaminya, ia tetaplah tersangka utama setiap kali ada kesalahan yang terjadi.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅