"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Bima Kehilangan Arah
...GAMON...
...Bab 18: Bima Kehilangan Arah...
...POV Bima...
---
Tiga Minggu Sejak Keana Pindah ke Surabaya
Dua Minggu Sejak Konflik dengan Rina
Seminggu Rasa Hampa Itu Mulai Menetap
Bima nggak tahu persis kapan semuanya mulai terasa aneh.
Mungkin pas dia bangun suatu pagi dan nggak ngerasa apa-apa. Bukan sedih. Bukan marah. Bukan capek. Tapi kosong. Kayak semua warna dalam hidupnya tiba-tiba pudar, ninggalin abu-abu yang nggak ada ujungnya.
Atau mungkin pas dia duduk di meja kerja, ngerjain laporan, dan tiba-tiba nanya ke diri sendiri: "Gue ngapain?"
Atau pas Rina bilang "aku sayang kamu" dan dia cuma bisa jawab "aku juga" tanpa ngerasa apa-apa di dada.
Dia nggak tahu.
Yang dia tahu: ada yang salah. Dan dia nggak tahu cara ngebenerinnya.
---
Sabtu Pagi – Kost Bima
Matahari udah tinggi. Jam menunjukkan 09.47. Bima masih di kasur. Mata terbuka, tapi badan nggak gerak.
Ditatapnya langit-langit. Retak di pojok—sama kayak langit-langit kost Keana dulu. Ironis.
Ponsel di samping. Udah bunyi puluhan kali sejak jam 7.
Rina (07.12): "Sayang, udah bangun? Sarapan yuk. Gue masak bubur ayam."
Rina (07.43): "Bim?"
Rina (08.15): "Lo di kost? Gue khawatir."
Rina (08.47): "Gue telepon ya."
Missed Call (3)
Rina (09.00): "Bim, gue ke kost sekarang."
Rina (09.23): "Lo di dalam? Gue di depan."
Baca pesan itu, Bima tahu Rina udah di luar. Tapi badannya nggak gerak. Kayak ada rantai invisible yang nahan.
Dia denger ketukan. Pelan, lalu makin keras.
"Bim! Buka pintu!"
Suara Rina. Campur khawatir dan kesal.
Bima tutup mata. Tarik napas. Paksa diri bangun.
Langkah berat ke pintu. Dibuka.
Rina di luar. Wajahnya pucat. Mata sembab. Bawa tas belanjaan—mungkin bubur ayam yang dia masak tadi pagi. Begitu lihat Bima, dia berhenti. Napasnya lega, tapi juga ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang nggak bisa dia sembunyikan.
"Lo... lo kenapa, Bim?"
Suaranya bergetar.
Bima diem. Nggak bisa jawab.
Rina masuk tanpa nunggu dipersilakan. Begitu lihat kost, matanya membelalak.
Kost berantakan. Baju kotor numpuk di pojok. Piring-piring kering di meja—udah berhari-hari. Sampah plastik berserakan. Udara pengap, jendela nggak pernah dibuka.
"Bim..." Rina letakin tas. "Ini udah berapa lama?"
Bima duduk di kasur. Nunduk.
"Seminggu. Mungkin lebih."
Rina diem. Dia jalan ke jendela, buka lebar-lebar. Udara masuk. Terus dia ambil sampah, kumpulin. Mulai beresin.
Bima lihat dari kasur. Nggak gerak.
"Rin, nggak usah."
"Diem." Rina nggak berhenti. "Lo boleh hancur. Tapi nggak usah tinggal di sampah."
Bima diem. Dadanya panas. Tapi nggak tahu harus ngomong apa.
---
Setelah setengah jam, kost lumayan rapi. Rina duduk di lantai, sandar ke dinding. Bima di kasur. Mereka berhadapan.
Rina mulai. Suaranya lelah, tapi sabar.
"Cerita, Bim. Dari awal."
Bima tatap lantai. Susah.
"Gue... gue nggak tahu harus mulai dari mana."
"Dari mana aja. Gue dengerin."
Diam lama.
"Gue nggak ngerasa apa-apa, Rin."
Rina mengerutkan dahi. "Maksud lo?"
"Kosong. Kayak... semuanya nggak berarti. Gue bangun, gue kerja, gue pulang, gue tidur. Ulang lagi. Nggak ada yang salah. Tapi nggak ada juga yang bikin gue... hidup."
Rina diem. Matanya nyari-nyari.
"Ini udah berapa lama?"
"Seminggu? Dua minggu? Gue nggak tahu."
"Kenapa nggak cerita dari kemarin?"
Bima angkat muka. Matanya merah.
"Gue kira... bakal ilang sendiri."
Rina tarik napas. Panjang. Tangannya garuk-garuk lantai, kayak nyari pegangan.
"Bim, lo tahu nggak gue takut?"
Bima tatap dia.
"Gue takut lo kayak gini. Gue takut lo nggak cerita. Gue takut lo ngganggep gue nggak bisa bantu."
"Bukan gitu—"
"Terus gimana?" Suara Rina naik dikit. Bukan marah, tapi sesak. "Lo bilang sayang, tapi lo tutup-tutupin. Lo bilang percaya, tapi lo diem aja. Lo liat gue panik, lo cuekin. Gue di luar, lo di dalem. Gue... gue ngerasa nggak berguna, Bim."
Bima kaget. Dia nggak pernah lihat Rina kayak gini. Rina yang selalu tenang. Yang selalu dewasa. Yang selalu bisa ngontrol emosi.
Sekarang, dia lihat retak. Dan retak itu gara-gara dia.
"Rin... maaf."
Rina geleng. Cepet.
"Gue nggak butuh maaf. Gue butuh lo cerita. Gue butuh lo jujur. Gue butuh lo ngasih gue akses ke dalam kepala lo yang kacau itu."
Bima diem. Kata-kata itu nusuk.
"Gue... gue nggak tahu harus ngomong apa."
"Coba." Rina tatap dia. Matanya basah. "Coba. Gue di sini. Gue nggak kemana-mana."
---
Bima tutup mata. Ingat semuanya.
Ingat Keana. Ingat angkringan. Ingat kata-kata "kamu nggak akan pernah bisa". Ingat hancur. Ingat bangkit. Ingat Rina. Ingat cinta baru. Ingat sukses.
Tapi kenapa setelah semua, dia masih hampa?
"Gue takut, Rin."
Rina menunggu.
"Gue takut... semua ini nggak cukup."
"Semua ini apa?"
"Kerjaan. Kesuksesan. Lo."
Rina kaget. Tapi dia tahan.
"Gue takut... suatu hari lo sadar lo salah milih. Lo sadar lo bisa dapet yang lebih baik dari gue. Dan lo pergi."
Rina geleng pelan.
"Bim, gue nggak akan—"
"Lo bilang gitu sekarang. Tapi nanti? Dua tahun lagi? Lima tahun lagi? Pas lo nemu orang yang lebih sukses, lebih mapan, lebih stabil secara mental—lo masih akan bilang gitu?"
Rina diem. Matanya berkaca-kaca.
"Lo pikir gue kayak Keana?"
Bima kaget. Nggak nyangka Rina bakal nanya itu.
"Gue—"
"Jawab."
Bima diem lama.
"Gue... gue nggak tahu."
Rina senyum pahit.
"Itu jawabannya, Bim. Lo nggak tahu. Karena lo masih luka. Karena lo masih takut. Karena lo masih ngeliat semua orang lewat kacamata Keana."
Bima nggak bisa jawab.
Rina berdiri. Jalan ke jendela. Lihat ke luar.
"Gue tahu lo luka. Gue tahu lo trauma. Tapi gue nggak akan terus-terusan ngebuktiin kalau gue beda."
Dia balik. Tatap Bima.
"Gue sayang lo. Tapi gue juga manusia. Gue juga capek."
Bima berdiri. Jalan mendekat.
"Rin, gue minta maaf."
"Maafnya buat apa?"
"Buat... buat semua."
Rina tatap dia. Lama.
"Bim, lo tahu nggak... gue nggak minta lo sempurna. Gue cuma minta lo jujur. Gue cuma minta lo nggak nutupin perasaan lo. Gue cuma minta... lo nggak sendirian."
Bima nunduk. Air mata jatuh.
"Gue takut, Rin."
"Takut apa?"
"Takut kalau gue jujur, lo pergi. Takut kalau gue nunjukin lemah, lo tinggal."
Rina maju. Ambil tangannya.
"Bim, yang bikin orang pergi itu bukan kelemahan. Yang bikin orang pergi itu kebohongan. Jarak. Dinding yang lo bangun sendiri."
Dia genggam tangan Bima. Erat.
"Gue di sini. Bukan karena lo kuat. Tapi karena lo nyata."
Bima nggak bisa nahan. Dia tarik Rina ke pelukan. Erat. Kayak orang tenggelam yang nemu pelampung.
Rina balas peluk. Tangannya usap-usap punggung Bima.
Di situ, di kost berantakan yang udah dirapihin, Bima nangis. Nangis kayak anak kecil. Nangis kayak dulu—pas pertama kali hancur karena Keana.
Tapi kali ini beda.
Kali ini, dia nangis di pelukan orang yang tepat.
---
Setelah Tangis Reda
Mereka duduk di lantai. Punggung sandar ke kasur. Makanan Rina dibuka—bubur ayam udah dingin, tapi tetap dimakan.
"Enak," kata Bima.
Rina senyum tipis. "Bohong. Udah dingin."
"Tapi tetep enak."
Mereka makan diam-diam. Suara sendok dan piring.
Rina buka suara.
"Bim, lo harus cari lagi."
Bima angkat muka. "Cari apa?"
"Alasan. Bukan target. Bukan bukti. Tapi alasan buat bangun pagi. Alasan buat hidup."
Bima diem.
"Lo selama ini ngejar sesuatu—pengakuan, kesuksesan, pembuktian. Lo dapet. Tapi sekarang lo bingung karena lo nggak tahu: udah dapet, terus apa?"
Bima mikir.
"Lo harus cari lagi, Bim. Bukan yang di luar. Tapi yang di dalam."
---
Malam – Bima Sendirian Lagi
Rina pulang. Bima di kost. Tapi kali ini kostnya rapi. Jendela terbuka. Udara segar masuk.
Dia duduk di meja. Buka buku catatan lama. Baca ulang coretan-coretan dari awal putus sampai sekarang.
Dia lihat perubahan. Dari hancur, ke bangkit, ke sombong, ke hampa lagi.
Ini lingkaran setan.
Dia ambil pulpen. Tulis di halaman baru:
---
Hal-hal yang Baru Aku Sadar:
Aku berubah karena Keana. Tapi aku bertahan karena Rina.
Kesuksesan nggak selalu bikin bahagia. Kadang dia cuma bikin kita lupa kalau kita sebenarnya kosong.
Rina bukan penyembuh. Dia cuma teman jalan. Yang nyembuhin harus aku sendiri.
Gue nggak tahu apa yang gue cari. Tapi gue tahu: gue harus nyari.
---
Dia tutup buku. Matikan lampu.
Di luar, hujan mulai turun. Tapi kali ini, dia nggak takut. Dia cuma... nggak tahu.
Tapi mungkin, nggak tahu itu nggak apa-apa. Asal dia terus nyari.
---
Bersambung ke Bab 19: Keana di Tempat Baru
---
...📝 Preview Bab 19:...
Di Surabaya, Keana mulai menjalani rutinitas baru. Pekerjaan di rumah sakit, teman-teman baru, lingkungan yang asing.
Perlahan, dia mulai merasa... hidup lagi. Bukan bahagia. Tapi hidup.
Tapi di sela-sela itu, dia masih kepikiran. Bukan buat balik. Tapi buat tahu: apa Bima baik-baik aja?
Bab 19: Keana di Tempat Baru—segera!!
---