NovelToon NovelToon
Menjadi Cantik

Menjadi Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.

Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.

Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.

Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?

Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pujian.

Jam pelajaran seni budaya hari itu terasa lebih sunyi dari biasanya, bukan karena kelas benar-benar tenang, melainkan karena Hana merasa setiap bisikan terdengar dua kali lebih jelas di telinganya.

Sejak pagi ia sudah berusaha bersikap normal, duduk seperti biasa, mencatat seperti biasa, sesekali mengangkat wajah agar tidak terlihat terlalu menutup diri, tetapi perasaan diawasi itu tidak juga hilang. Seolah ada yang menunggu sesuatu terjadi, sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu.

Di meja guru, tumpukan kertas gambar sudah tersusun rapi. Suara gesekan kertas ketika guru mengambil beberapa lembar terdengar lebih keras dari biasanya di telinga Hana. Ia menahan napas tanpa sadar.

“Baik,” ujar guru seni budaya sambil berdiri di depan kelas, suaranya cukup tenang tapi langsung menarik perhatian. “Kemarin kalian sudah mengumpulkan tugas ilustrasi ‘Ekspresi Diri’. Ibu sudah lihat satu per satu.”

Beberapa murid langsung saling pandang. Ada yang terlihat santai, ada yang mulai gelisah. Kursi sedikit bergeser, suara bisik-bisik kecil mulai terdengar.

“Deg-degan nggak sih?” bisik seseorang di belakang.

“Mampus, mana gambar gue asal banget,” sahut yang lain pelan.

Hana tetap menatap bukunya, berusaha tidak terlalu menunjukkan reaksi. Ia tidak berharap apa-apa. Baginya, kemarin sudah cukup—ia bisa menyelesaikan tugas itu tanpa merasa menjadi beban, dan itu saja sudah lebih dari cukup.

“Ada beberapa yang menarik,” lanjut guru sambil membalik satu per satu kertas di tangannya. “Konsepnya matang, komposisinya dipikirkan, bukan sekadar asal gambar.”

Nada suaranya berubah sedikit lebih serius. Kelas mulai lebih hening.

Hana menelan ludah.

“Itu sudah bagus,” lanjut guru, lalu berhenti sejenak sebelum mengangkat satu kertas lebih tinggi. “Tapi yang ini… sangat kuat.”

Beberapa murid langsung menoleh. Rasa penasaran menyebar cepat di seluruh kelas.

“Yang mana tuh?” bisik seseorang.

“Kayaknya punya si Eliza deh, dia kan bisa gambar juga."

Guru mengangkat kertas itu agar semua bisa melihat. Langit setengah terang, setengah mendung. Siluet kecil berdiri di bawahnya, tidak terlalu jelas, namun cukup memberi kesan luas sekaligus sepi. Kontrasnya halus, tidak saling menelan, seperti dua perasaan yang berdampingan tanpa saling mengalahkan.

Hana langsung mengenalinya. Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Itu…” gumam Nisa pelan dari sampingnya. “Itu gambar kamu, kan?”

Hana tidak langsung menjawab. Tangannya terasa sedikit dingin.

“Siapa yang membuat ini?” tanya guru sambil tetap memegang kertas itu.

Beberapa pasang mata langsung bergerak mencari. Arga mengangkat tangan lebih dulu

“Saya, Bu. Berdua." Katanya singkat.

“Dengan?” tanya guru.

Arga menoleh sedikit ke samping. Hana merasa seolah seluruh kelas menunggu reaksinya. Ia menarik napas pendek, lalu mengangkat tangan perlahan.

“Dengan saya, Bu.” Ujar Hana pelan.

“Hmm…” Beberapa suara kecil langsung terdengar.

“Oh… pantes.”

“Gue kira siapa…”

Guru tersenyum tipis, lalu bertanya lagi, “Konsepnya dari siapa?"

Hana dan Arga saling menoleh sebentar. Tidak ada diskusi panjang, tidak ada kode khusus, tapi keduanya seolah tahu harus menjawab apa.

“Bersama,” jawab Arga.

Hana mengangguk kecil, pertanda setuju dengan perkataannya.

Guru terlihat puas. “Yang menarik dari gambar ini bukan cuma tekniknya, tapi pemilihan simbolnya. Langit tidak pernah benar-benar satu warna, dan kalian berhasil menangkap itu dengan baik. Siluet kecil di bawahnya memberi rasa luas sekaligus kesepian, tapi tidak terasa kosong.”

Beberapa murid mulai berbisik lagi.

“Dalam juga ya…”

“Padahal cuma gambar langit.”

“Kontras terang dan gelapnya juga seimbang,” lanjut guru. “Tidak ada yang terlalu dominan, dan itu sulit kalau tidak benar-benar dibicarakan sebelumnya. Jadi ini bukan kerja asal, jelas ada proses di baliknya.” Jelas guru itu lagi

“Alay ah, padahal gambar segitu doang." celetuk seseorang dari belakang, diiringi oleh tawa kecil.

Hana merasakan pipinya memanas. Ia menunduk sedikit, mencoba tetap fokus, tapi suara itu tetap tertinggal di kepalanya.

Guru tampaknya mendengar, namun memilih melanjutkan. “Ibu harap kelompok lain bisa belajar. Ekspresi diri bukan hanya tentang menggambar wajah sedih atau marah, tapi bagaimana kalian menerjemahkan perasaan ke dalam visual.”

Ia kemudian berjalan ke depan papan pajangan dan menempelkan gambar itu tepat di tengah.

“Bagus sekali.”

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup membuat sesuatu di dada Hana terasa lebih ringan. Ia menunduk lagi, menyembunyikan senyum kecil yang hampir muncul.

Di seberangnya, Arga kembali duduk dengan santai. Ia membuka bukunya seperti biasa, seolah tidak ada yang istimewa barusan. Namun, sebelum benar-benar fokus, ia berbisik pelan.

“Udah bilang kan.” Ujar Arga sembari menoleh ke Hana

Hana menoleh. “Apa?”

“Kamu bisa carry.”

Hana menahan senyum. “Kan tadi jawabnya ‘bersama’.”

Arga mengangkat bahu kecil. “Biar adil.”

Hana menggeleng pelan, tapi kali ini ekspresinya lebih ringan.

Di belakang mereka, suara pelan kembali terdengar.

“Bangga banget gitu doang mah."

“Nggak tau deh…”

“Paling juga dari pinterest."

Kalimat itu tidak selesai, tapi cukup jelas maksudnya. Hana menarik napas pelan. Ia tahu, semua ini belum benar-benar selesai. Satu pujian tidak akan langsung menghapus semua bisik-bisik yang sudah terlanjur menyebar.

Di sisi lain kelas, Eliza duduk diam. Tidak ada komentar, tidak ada tawa kecil. Tatapannya tertuju ke papan pajangan, lalu perlahan bergeser ke arah Hana. Tatapan itu tidak lagi sekadar penasaran—ada sesuatu yang lebih tajam, lebih dalam, dan sulit ditebak. Rahangnya mengeras tipis sebelum ia kembali melihat ke depan.

Nisa melirik ke arah Hana, lalu ke papan. “Bagus banget,”

bisiknya.

“Iya,” jawab Hana singkat.

Namun, di dalam dirinya, perasaannya bercampur. Bangga karena hasilnya dihargai, malu karena perhatian yang tiba-tiba datang, dan sedikit takut karena ia tahu perhatian itu tidak selalu berarti hal baik.

Guru kembali melanjutkan pelajaran. Penjelasan tentang teknik warna dan komposisi mulai memenuhi papan tulis. Sebagian murid mulai mencatat, sebagian lain masih sesekali melirik ke arah gambar di depan.

Beberapa menit berlalu cukup tenang. Hingga akhirnya, dari barisan belakang, terdengar suara pelan namun cukup jelas.

“Pinter gambar, dibilang cantik, dipuji guru, deket ketos… lengkap ya.” Tawa kecil menyusul.

Hana menatap bukunya. Tangannya mengepal kecil di bawah meja. Ia berusaha mengabaikan, tapi kata-kata itu terasa seperti menempel, sulit dilepaskan begitu saja.

Sebelum ia sempat tenggelam lebih jauh dalam pikirannya, Arga berbicara.

Tanpa menoleh ke belakang. Tanpa menaikkan suara. “Kalau iri, ngomong aja langsung.”

Kelas langsung hening. Beberapa murid berhenti menulis. Beberapa menoleh ke arah belakang. Suasana berubah dalam sekejap.

“Iya, siapa yang ngomong tadi?” tanya seseorang “Diam aja sekarang…”

Suara dari belakang itu langsung terdiam. Tidak ada balasan, tidak ada tawa lanjutan. Hana menoleh ke Arga. Ia tetap menatap bukunya, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Ngapain…” bisik Hana pelan.

Arga tidak langsung menjawab. Ia menulis satu baris di bukunya, lalu berkata singkat, “Ganggu.”

Hana terdiam sejenak. Ada sesuatu dalam kalimat sederhana itu yang terasa… berbeda. Pelajaran kembali berjalan, meski suasananya tidak sepenuhnya kembali seperti sebelumnya. Beberapa murid masih terlihat canggung, sebagian lagi pura-pura fokus.

Tak lama kemudian, bel pelajaran berbuny

i. Guru menutup buku dan berkata, “Baik, kita lanjut minggu depan. Jangan lupa latihan lagi di rumah.”

“Iya, Bu,” jawab beberapa murid bersamaan.

Guru keluar kelas, dan suasana langsung berubah menjadi riuh. Kursi bergeser, suara percakapan kembali memenuhi ruangan.

“Eh, gambarmu keren sih,” kata seseorang ke arah Arga saat lewat.

“Lumayan,” jawabnya santai.

Nisa menoleh ke Hana. “Kamu harus bangga sih. Itu beneran bagus, bukan cuma kata Bu guru.”

Hana tersenyum kecil. “Makasih.”

“Serius, gue aja nggak kepikiran bikin konsep kayak gitu.”

“Ya… kebetulan aja kepikiran,” jawab Hana pelan.

“Bukan kebetulan itu,” sahut Nisa. “Itu kepikiran.”

Hana tidak membalas, tapi senyumnya sedikit lebih jelas.

Di belakang, masih ada beberapa tatapan yang terasa, beberapa bisikan yang belum sepenuhnya hilang. Tetapi kali ini, semuanya tidak terasa seberat sebelumnya.

Arga berdiri, merapikan bukunya. “Istirahat ke kantin?”

Nisa langsung mengangguk. “Gas.”

Hana sempat ragu, lalu ikut berdiri. “Aku ikut.”

Mereka berjalan keluar kelas bersama. Saat melewati papan pajangan, Hana sempat melirik sekilas ke arah gambar itu.

Langit setengah terang, setengah mendung. Siluet kecil di bawahnya tetap berdiri. Tetapi kali ini, ia tidak terlihat sekecil sebelumnya. Hana menarik napas pelan, lalu melangkah keluar kelas tanpa menoleh lagi.

1
Night Watcher
coba mampir
Ran
sepertinya menairk
Ran
keren Thor, udah buat cerita baru aja nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!