NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:47.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Predator di Dasar Neraka Putih

Rasa sakit adalah jangkar pertama yang menarik kesadaran Genevieve kembali dari lautan kehampaan. Bukan sekadar rasa ngilu yang bersemayam di permukaan kulit, melainkan penderitaan absolut yang meledak dari pusat kerangkanya setiap kali ia mencoba menarik napas. Kesunyian di dasar Jurang Hitam begitu pekat, begitu hampa, hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar seperti dentuman godam yang menghantam gendang telinganya berulang kali.

Perlahan, kelopak matanya bergetar terbuka. Tidak ada cahaya bulan yang menyambutnya di sini. Tebing raksasa yang mengapit lembah ini menelan seluruh sisa cahaya dari langit malam, menciptakan kegelapan yang nyaris bisa diraba. Hawa dingin tidak lagi terasa seperti suhu udara, melainkan ribuan pisau bedah mikroskopis yang mengiris lapisan demi lapisan kulit pucatnya, berusaha membekukan darah yang mengalir lamban di dalam pembuluh nadinya.

Genevieve terbaring telentang di atas tumpukan salju abadi. Mulutnya sedikit terbuka, mengeluarkan uap tipis yang langsung mengkristal di udara. Ia mencoba menggerakkan jari-jari tangan kanannya. Satu kedutan kecil, dan sensasi terbakar seketika menjalar hingga ke pangkal bahu. Ia menggertakkan giginya sekuat tenaga, menahan jeritan yang meronta di pangkal kerongkongan. Membiarkan suara keputusasaan lolos dari bibirnya di tempat yang dipenuhi predator adalah kebodohan fatal yang tidak akan ia lakukan.

Sebuah pendar cahaya biru yang lemah, satu-satunya sumber penerangan di dasar jurang yang gelap gulita itu, berkedip di sudut pandangannya. Panel Sistem perlahan memadat di udara.

**[Sistem Bertahan Hidup: Reboot Kritis Selesai.]**

**[Memindai Integritas Fisik Tuan Rumah...]**

**[Hasil Pemindaian: Tiga tulang rusuk di sisi kiri mengalami keretakan (Fisura). Kontusio jaringan otot parah di punggung dan bahu kanan. Keseleo tingkat dua pada pergelangan kaki kiri. Suhu inti tubuh menurun drastis. Hipotermia stadium awal terdeteksi.]**

**[Peringatan: Tuan Rumah tidak dapat melakukan gerakan fisik ekstrem. Estimasi waktu sebelum organ vital berhenti akibat kedinginan: 45 Menit.]**

Empat puluh lima menit. Itulah sisa waktu yang diberikan takdir padanya sebelum tubuh rapuh Lady Genevieve benar-benar menjadi patung es abadi di dasar Jurang Hitam.

Alih-alih menangis atau meratapi nasibnya yang kejam, pikiran Genevieve justru menajam, mengasah dirinya menjadi sebilah pedang yang ditempa oleh tekanan absolut. Kepanikan adalah emosi bagi mereka yang menerima kematian. Dan Genevieve menolak untuk mati di tempat kotor ini.

Dengan gerakan yang sangat perlahan dan terukur, ia meraba sisi tubuhnya. Ia membutuhkan inventarisasi aset yang tersisa. Gaun linen tipisnya telah robek parah di berbagai tempat, tak lagi mampu menahan angin yang berhembus. Tangannya merogoh saku dalam gaunnya yang secara ajaib masih utuh. Jemarinya yang kaku dan sedingin es menyentuh permukaan kaca yang familiar. Botol kaca gelap berisi konsentrat murni racun Silvershade itu selamat dari benturan. Lapisan salju setebal empat meter dan hancurnya peti mati kayu pinus telah bertindak sebagai bantal peredam kejut yang sempurna.

Ia memegang botol itu erat-erat. Ini bukan sekadar racun; di dasar jurang ini, cairan itu adalah satu-satunya senjata mematikan yang ia miliki.

Genevieve memaksa dirinya untuk berguling ke sisi kanannya, menumpukan berat badannya pada lengan yang tidak terluka parah. Rasa sakit yang tajam dan membutakan dari tulang rusuknya yang retak seketika merobek kesadarannya, membuat pandangannya memutih sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya begitu keras hingga rasa amis darah segar memenuhi mulutnya. Ia tidak berhenti. Dengan tekad yang jauh melampaui batas biologis tubuhnya, ia mendorong tubuhnya hingga ia berada dalam posisi merangkak.

Kini, ia bisa melihat sekelilingnya dengan lebih jelas setelah matanya sepenuhnya beradaptasi dengan keremangan.

Latar belakang tempat ini bukanlah sekadar jurang; ini adalah perut monster purba yang membeku. Dinding-dinding tebing yang menjulang tinggi di sisi kiri dan kanannya terbuat dari batu hitam pekat yang dilapisi oleh es tebal, bergerigi tajam layaknya taring-taring raksasa. Di sepanjang dasar lembah, tumbuh pepohonan yang memancarkan aura kematian: Pohon Pinus Besi. Batang mereka berwarna abu-abu pucat, meliuk-liuk dengan bentuk yang tidak wajar, dan dahan-dahan mereka yang tak berdaun menjulur ke segala arah menyerupai kerangka tangan manusia yang memohon ke langit. Akar-akar raksasa dari pohon-pohon ini mencuat dari dalam salju, membentuk rongga-rongga gelap yang menjanjikan perlindungan sekaligus ancaman.

Di sekitarnya, berserakan kepingan-kepingan kayu pinus dari peti mati murahan yang disiapkan Gideon. Beberapa paku besi berkarat mencuat dari serpihan papan yang patah.

"Sistem," bisik Genevieve parau, suaranya bergetar hebat karena hawa dingin yang mulai menyerang saraf pusatnya. "Apakah ada sumber panas pasif di radius sepuluh meter?"

**[Pemindaian Termal Aktif... Negatif. Tidak ada sumber panas pasif yang terdeteksi.]**

Genevieve menatap rongga gelap di bawah akar raksasa Pohon Pinus Besi terdekat yang berjarak sekitar lima meter dari posisinya. Ia tidak bisa membuat api. Ia tidak memiliki batu api, dan menggunakan kayu basah bersalju hanya akan membuang tenaganya yang tersisa. Ia harus menggunakan insulasi alami. Ia harus membuat gua salju kecil di bawah akar pohon itu, menutupi celahnya dengan sisa papan peti matinya untuk memblokir angin secara langsung.

Satu inci demi satu inci, Genevieve mulai menyeret tubuhnya di atas salju. Setiap pergerakan adalah negosiasi dengan rasa sakit. Ia menggeser lutut kanannya, menarik napas pendek-pendek melalui gigi yang terkatup, lalu menarik lengannya. Ia menyeret serpihan terbesar dari papan peti mati itu bersamanya. Jejak tubuhnya membentuk lekukan panjang di atas salju yang murni, sesekali diwarnai oleh tetesan darah kemerahan dari luka gores di bahunya.

Lima meter terasa seperti jarak membentang antar benua.

Ketika ia akhirnya berhasil merayap masuk ke bawah perlindungan akar raksasa itu, napasnya terdengar seperti embusan angin yang rusak. Tempat ini sempit, berbau tanah beku dan akar tua, namun setidaknya dinding akar kayu yang tebal ini memblokir angin utara yang mematikan. Genevieve segera menarik tiga keping papan peti mati yang berhasil ia kumpulkan, memosisikannya berdiri untuk menutupi celah tempat ia masuk, menciptakan sebuah kepompong kayu dan salju darurat.

Ia meringkuk di sudut terdalam, memeluk kedua lututnya rapat-rapat ke dada untuk mempertahankan sisa panas tubuhnya.

Namun, rasa lega itu hanya bertahan selama beberapa detik.

Dari kejauhan, menembus deru angin yang melolong, terdengar suara lain. Suara yang membuat darah di sekujur tubuh Genevieve seketika berhenti mengalir.

Itu adalah lolongan panjang yang serak, dalam, dan dipenuhi oleh kehausan akan darah yang absolut. Suara itu menggema di dinding-dinding batu Jurang Hitam, memantul berulang kali hingga seolah-olah berasal dari segala arah. Lolongan pertama segera disahut oleh lolongan kedua, lalu ketiga.

Serigala Salju Aethelgard.

Ini bukanlah serigala biasa. Dari kepingan ingatan tubuh ini, Genevieve tahu bahwa monster-monster ini memiliki ukuran setinggi dada manusia dewasa, dengan bulu putih sekeras kawat dan rahang yang mampu meremukkan tulang paha kuda dalam satu gigitan. Bau darah manusia, betapapun sedikitnya, adalah undangan makan malam bagi predator puncak lembah ini. Dan jejak darah dari bahu Genevieve, betapapun tipisnya, baru saja ia lukis dengan jelas di atas hamparan salju putih di luar tempat persembunyiannya.

Gideon tidak asal bicara ketika ia mengatakan bahwa tidak akan ada sepotong daging pun yang tersisa dari tubuhnya sebelum pagi tiba.

1
Memyr 67
𝗃𝗂𝗄𝖺 𝗎𝗌𝗄𝗎𝗉 𝖺𝗀𝗎𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖻𝗂𝖼𝖺𝗋𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋𝖺𝗇, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗍𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝖺𝗇𝖺. 𝗄𝖾𝗍𝗂𝗄𝖺 𝗄𝖾𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖽𝖺𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖾𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺𝖺𝗇, 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎, 𝗍𝗎𝗆𝖻𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖾𝗎𝗌𝗄𝗎𝗉𝖺𝗇, 𝗁𝗂𝗅𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖾𝗒𝖺𝗄𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗈𝗅𝗎𝗍.
Endang Sulistia
keren
Memyr 67
𝗈𝗐 𝗍𝖺𝗆𝖺𝗍. 𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗇𝗈𝗏𝖾𝗅𝗇𝗒𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝗎𝖺𝗋 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝗂𝗇𝗂
Yue Li MZy
Manarik juga~
Putri Amalia
kak author ini serius kan gak Hiatus? please smpe end
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍. 𝖺𝗊 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎
Memyr 67
𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗎𝗉 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍
Memyr 67
𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝗎𝖻𝗎𝗁 𝗒𝗀 𝗉𝖾𝗇𝗎𝗁 𝗋𝖺𝖼𝗎𝗇 𝖺𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋?
Memyr 67
𝖺𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋 𝗍𝖾𝗅𝖺𝗁 𝗆𝖾𝗆𝖻𝖾𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗎𝗉. 𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗎𝗉 𝖻𝖾𝗋𝗂𝗄𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗉𝖺𝖽𝖺 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁 𝗍𝗎 𝗍𝗎𝗅𝖺𝗇𝗀. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗒𝖺? 𝗍𝗎𝗅𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍. 𝖺𝗄𝗎 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎
Memyr 67
𝗆𝖺𝗐𝖺𝗋 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗈𝗆𝖺 𝖻𝗎𝗌𝗎𝗄. 𝗆𝖺𝗐𝖺𝗋 𝖻𝖺𝗇𝗀𝗄𝖾 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗂𝗇𝗍𝖾𝗋 𝖻𝖺𝗇𝗀𝖾𝖽 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖾𝗌𝗄𝗋𝗂𝗉𝗌𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝗇𝗀𝖾𝗋𝗂𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖺𝗅𝖺𝗆𝗂 𝗌𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗎𝗄𝖾 𝖺𝗋𝗈𝗀𝖺𝗇 𝖺𝗅𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁. 𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗄𝖾𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗎𝗉 𝗉𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗄𝖾𝖻𝖺𝗒𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖾𝗇𝖽𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝖺𝗇 𝗂𝗍𝗎 𝖽𝗎𝗄𝖾 𝖺𝗋𝗈𝗀𝖺𝗇 𝖺𝗅𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋
Endang Sulistia
nahan nafas bacanya ...
Memyr 67
𝖽𝖾𝗇𝖽𝖺𝗆 𝗌𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖾𝗇𝗀𝗎𝖺𝗌𝖺 𝗄𝖾𝗀𝖾𝗅𝖺𝗉𝖺𝗇 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗃𝗎𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗁𝗂𝗍𝖺𝗆 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗆𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗅𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!