Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Calon Istri
Pagi itu, lobi Zollern Group yang biasanya tenang dan formal mendadak geger. Seorang wanita cantik dengan blazer biru navy yang pas di tubuh, rambut hitam panjang yang terurai indah, dan wajah yang sedang menahan amarah luar biasa, berdiri di depan meja resepsionis. Di tangannya, ia menggenggam satu tangkai mawar putih yang kelopak bawahnya sudah agak remuk karena ia remas terlalu kuat.
"Saya ingin bertemu dengan Edward Zollern," ucap Eleanor. Suaranya tegas, membuat resepsionis muda itu sedikit gemetar.
"Maaf, Nona. Apakah sudah ada janji sebelumnya? Jadwal Tuan Zollern sangat padat hari ini, beliau sedang memimpin rapat dewan direksi," tanya resepsionis itu dengan sopan namun ragu.
Eleanor menghela napas panjang. Ia melirik jam tangannya, lalu menatap tumpukan seribu mawar yang memenuhi kantornya pagi tadi. Rasa jengkelnya sudah sampai ke ubun-ubun.
"Katakan padanya..." Eleanor menjeda kalimatnya, memutar bola matanya karena merasa sangat malas dan jijik harus mengatakan ini. "...katakan bahwa calon istrinya datang untuk menagih hutang kewarasan."
Resepsionis itu terbelalak. Matanya hampir keluar dari kelopak. "C-calon istri, Nona?"
"Iya! Persetan dengan istilah itu, tapi sampaikan saja begitu kalau Anda ingin dia segera turun atau mengizinkan saya naik!" seru Eleanor, wajahnya merah padam karena malu sekaligus kesal.
Di Ruang Rapat Lantai 50. Suasana di dalam ruang rapat sangat tegang. Edward sedang mendengarkan laporan kerugian salah satu anak perusahaan dengan wajah datar yang mematikan. Para direktur berkeringat dingin, menunggu instruksi atau makian elegan dari sang CEO.
Tiba-tiba, Rey masuk dengan langkah terburu-buru. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Edward yang membuat Edward menghentikan gerakan penanya seketika.
"Ada apa, Rey?" Tanya Edward dingin. "Kau tahu aku tidak suka interupsi di tengah rapat."
Rey berdeham, mencoba mengatur napasnya yang tersentak kaget. "Maaf, Sir. Tapi... di bawah, Nona Eleanor datang. Dia memaksa ingin bertemu."
Alis Edward terangkat. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di sudut bibirnya. "Oh ya? Dia mengatakan ingin bertemu denganku?"
"Lebih dari itu, Sir," bisik Rey lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tinggi karena saking kagetnya. "Dia mengatakan kepada resepsionis bahwa dia adalah calon istri Anda."
Seluruh ruangan rapat mendadak sunyi senyap. Para direktur yang tadinya ketakutan kini saling pandang dengan mata melotot. Edward Zollern? Punya calon istri? Dan wanita itu datang melabrak ke kantor?
Edward justru tertawa rendah, sebuah suara yang sangat jarang terdengar di ruangan itu. "Calon istri, ya? Menarik sekali."
Edward berdiri, merapikan jasnya. "Rapat selesai. Kita lanjutkan besok. Aku punya 'urusan keluarga' yang tidak bisa ditunda."
Di Ruang Kerja Edward. Pintu besar ruangan Edward terbuka dengan dentuman keras. Eleanor masuk dengan langkah lebar, langsung melemparkan satu tangkai mawar putih itu ke atas meja kerja Edward yang bersih.
"Tuan Zollern! Berhenti mengirimi saya hutan mawar ke kantor saya! Staf saya sampai mengira saya sedang membuka toko bunga!" Teriak Eleanor tanpa mempedulikan ada Rey yang masih berdiri di dekat pintu.
Edward berjalan perlahan mendekati mejanya, mengambil mawar yang sudah agak layu itu. "Tapi kau datang ke sini, Eleanor. Itu artinya bunga-bungaku berhasil menjalankan tugasnya."
"Berhasil membuat saya gila, maksud Anda?!" Eleanor berkacak pinggang. "Dan apa-apaan dengan wajah resepsionis Anda di bawah tadi? Mereka menatap saya seolah-olah saya adalah mahluk ajaib!"
"Mungkin karena kau memproklamirkan diri sebagai calon istriku di depan umum," sahut Edward santai, menyandarkan pinggulnya di tepi meja sambil melipat tangan di dada. "Aku tidak tahu kau sudah tidak sabar ingin meresmikan hubungan kita, Nona Lichtenzell."
"Itu karena staf Anda yang kaku itu tidak mau mengizinkan saya masuk kalau saya tidak bicara begitu!" Eleanor mendesis, wajahnya semakin merah. "Jangan besar kepala. Saya mengatakan itu hanya untuk akses masuk!"
"Tapi kata-kata sudah diucapkan, Eleanor. Dan di gedung ini, setiap perkataan yang keluar dari mulut seorang calon istri CEO adalah hukum," Edward melangkah mendekat, mempersempit jarak hingga Eleanor bisa mencium aroma parfum sandalwood pria itu. "Lagipula, kau datang karena kau merindukanku, kan?"
"Dalam mimpi Anda, Tuan Zollern!" Eleanor mundur selangkah, menunjuk dada Edward dengan jarinya. "Saya ke sini untuk memperingatkan Anda. Satu tangkai bunga lagi masuk ke kantor saya, saya akan mengirimkan sepuluh ton pupuk kandang ke lobi gedung ini! Saya tidak main-main!"
Edward justru terkekeh. "Pupuk kandang? Kau benar-benar punya selera humor yang unik. Baiklah, aku akan berhenti mengirim bunga."
"Bagus," Eleanor berbalik ingin pergi.
"Tapi sebagai gantinya," lanjut Edward, membuat langkah Eleanor terhenti. "Aku akan menjemputmu untuk makan malam setiap hari. Bagaimana? Lebih efisien, bukan?"
Eleanor berbalik lagi, menatap Edward dengan tatapan ingin memakan pria itu hidup-hidup. "Anda ini benar-benar... psikopat yang gigih! Tidak ada makan malam! Tidak ada bunga! Tidak ada Edward Zollern dalam hidup saya!"
"Terlambat, calon istriku," ucap Edward dengan suara rendah yang sangat menyebalkan namun terdengar seksi. "Kau sudah mendaftarkan namamu di gedung ini. Sekarang, seluruh London akan tahu siapa calon pengantin wanita perusahaan Zollern Group."
Eleanor hanya bisa mengerang frustrasi, menghentakkan kakinya ke lantai, dan keluar dari ruangan itu sambil terus mengumpat. Sementara itu, Edward hanya berdiri di sana, menatap pintu yang tertutup dengan senyum kemenangan. Baginya, melihat Eleanor marah jauh lebih indah daripada melihat seribu mawar putih yang ia kirimkan.