NovelToon NovelToon
“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anita Banto

Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Amara menatap buket lili biru itu dengan tatapan sedingin es. Alih-alih merasa tersanjung, ia justru merasa mual. Bagi orang lain, bunga itu mungkin simbol kemewahan, tetapi bagi Amara, itu adalah sebuah penghinaan yang dibungkus dengan kelopak bunga.

​Tobias Larsen benar-benar pria yang menyedihkan. Bertahun-tahun ia mengabaikan Amara, membiarkannya layu dalam kesepian pernikahan mereka yang hambar. Dan sekarang, setelah mengabaikannya begitu lama, dia pikir beberapa tangkai bunga bisa menebus waktu yang terbuang?

​Terlebih lagi, Amara membenci lili biru. Warna itu membangkitkan memori masa muda yang ingin ia kubur dalam-dalam. Ia hanya pernah berpura-pura menyukainya karena Tobias pernah memujinya. Dan sekarang, "suap" ini justru menjadi bukti betapa pria itu sama sekali tidak mengenal wanita yang pernah menjadi istrinya.

​"Bunga ini tidak dikirim untuk meminta maaf," batin Amara sinis. Ia teringat pesan dingin Tobias semalam—tuntutan agar ia berkolaborasi dengan Synergy demi Celestine. Amara sudah membalasnya dengan satu kata tegas: Tidak. Lalu ia memblokir pria itu.

​"Duncan," panggil Amara saat asistennya masuk membawa kopi.

​"Ya, Nona?"

​"Singkirkan sampah ini dari mejaku. Buang segera," perintahnya tanpa emosi. "Dan beri tahu keamanan, siapa pun yang mengirim ini dilarang menginjakkan kaki di gedung ini lagi."

​Setelah Duncan pergi, ponselnya bergetar. Sebuah nama muncul: Melanie.

​"Aku punya jadwal Jason," suara Melanie terdengar tajam di seberang sana. "Malam ini, Jumat. Dia akan ke Giovanni. Seperti biasa, dia akan mabuk, bermain wanita, lalu pulang untuk menyiksa istrinya yang malang."

​"Sempurna," desis Amara. "Itulah saatnya aku beraksi."

​"Amara, kau yakin?" Nada khawatir Melanie tidak bisa disembunyikan. "Hacker-ku sudah menyiapkan virusnya. Sekali colok, ponselnya akan bersih total—foto, video, hingga akun media sosialnya akan musnah. Tapi ini berbahaya."

​"Berhenti mengkhawatirkanku seperti ibuku, Mel," Amara terkekeh pahit. "Aku harus mengakhiri ini sekarang."

​Malam itu, aura Giovanni terasa pekat dengan aroma alkohol dan dosa. Amara duduk di mobilnya, menatap gerbang masuk dengan mata elang. Ketika sosok Jason muncul dengan gaya pongahnya yang memuakkan, Amara menarik napas panjang.

​Ia melepas jaketnya, memperlihatkan gaun merah ketat yang memeluk lekuk tubuhnya dengan provokatif. Ia memulas lipstik merah menyala, menggerai rambutnya, lalu melangkah masuk.

​Ia menemukan Jason di bar, sedang memindai mangsa. Amara mendekat, memaksakan senyum yang paling menggoda.

​"Wah, kejutan apa ini?" Jason menyeringai, matanya yang penuh nafsu memindai Amara tanpa tahu malu.

​"Hanya mencari minuman," sahut Amara lembut, menekan rasa muak yang melonjak di perutnya.

​"Beri dia Chardonnay terbaik!" perintah Jason pada bartender. Pria itu bergeser mendekat, bau alkohol murahan menyengat dari tubuhnya. "Siapa namamu, manis?"

​"Penelope," bohong Amara, membiarkan jemari kasar Jason membelai lengannya. Kulitnya merinding karena jijik, namun ia tetap mempertahankan topengnya.

​"Penelope, ya? Bagaimana kalau kita pindah ke tempat yang lebih privat?"

​"Boleh juga," jawab Amara sambil menyesap minumannya. Namun, tatapan lapar Jason membuatnya waspada. Dengan gerakan yang sengaja dibuat ceroboh, Amara menjatuhkan gelasnya. Cairan kuning itu tumpah tepat di selangkangan celana Jason.

​"Sial!" umpat Jason.

​"Aduh, cerobohnya aku! Cepat bersihkan di kamar mandi!" Amara berpura-pura panik.

​Begitu Jason menghilang, Amara bergerak secepat kilat. Ia menyambar ponsel Jason, mencolokkan flash drive, dan menahan napas. Layar berkedip—hijau, biru—dan selesai! Ia segera menyembunyikannya kembali ke dalam tas.

​Namun, saat ia berbalik untuk pergi, sebuah bayangan tinggi menghalanginya. Jason sudah kembali.

​"Mau ke mana, Penelope? Permainan baru saja dimulai."

​"Setelah dipikir-pikir," Amara menatapnya dengan pandangan menghina yang tajam, "pria berambut pirang ternyata bukan tipeku. Anggap tawaranmu hangus."

​Jason menggeram, mencoba mencengkeram lengannya. "Aku akan memastikan kau menebus kesalahanmu malam ini, manis."

​Amara menyentakkan tangannya dengan kasar. "Jauhkan tangan kotorim dariku! Kau memuakkan!"

​Ia berbalik untuk lari, namun tiba-tiba... dunianya berputar. Lantai di bawah kakinya seolah menghilang. Kepalanya berdenyut hebat, dan pandangannya mengabur menjadi bayang-bayang yang kacau.

​"Aku tahu kau tipe yang merepotkan," suara Jason merambat di telinganya, dingin dan berbahaya. Pria itu menahan tubuh Amara yang limbung, membiarkannya bersandar di dadanya yang menjijikkan. "Jadi, aku sudah meminta bartender 'mengurus' minumanmu."

​Obat. Amara tersentak, namun seluruh ototnya terasa seperti jeli.

​"Mari kita lanjutkan rencana kita di tempat lain," bisik Jason, menyeret tubuh Amara yang tak berdaya menuju tempat parkir.

​Rasa takut yang murni membakar sisa-sisa kesadaran Amara. Saat Jason mencoba mendorongnya ke dalam mobil, dengan sisa tenaga terakhirnya, Amara membenamkan giginya sekuat tenaga ke lengan pria itu.

​"ARGH!" Jason berteriak, melepaskan cengkeramannya.

​Amara memacu kakinya, berlari buta di antara barisan mobil. Napasnya tersengal, pandangannya kian gelap. Dalam kondisi setengah sadar dan dipenuhi kabut obat, ia terus berlari hingga ia menabrak sebuah dada bidang yang keras.

​Sepasang lengan yang kuat menangkapnya. Amara mendongak dengan mata yang sayu, berusaha memfokuskan pandangan. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia mengenali rahang tegas dan tatapan tajam yang sangat familiar.

​Pria itu adalah orang terakhir di dunia yang ingin ia lihat dalam kondisi sehancur ini.

​"Amara?" Suara bariton itu terdengar seperti guntur di telinganya.

1
S
bodoh.jk.mau di lindungi seolah bs mengatasi segalanya tp begitu bahaya.mrngancam baru panik
S
aku yaki tawa dan dansamu hanya utk menghibur diri tak mungkin rasamu hilang tiba tiba mara.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!