Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 Suasana Menegangkan
"Aku tadi tidak sengaja bertemu Alea di lift, dia mengatakan kepadaku baru saja menemui kamu dan membawakan makanan untuk kamu, karena tadi temannya membatalkan janji secara tiba-tiba," jelas Dharma.
"Ya, aku tadi berpapasan dengan Alea dan menawarkan makanan untukku," Raidan menanggapi pembicaraan itu dengan jawaban yang sama seperti Alea.
"Ya daripada makanannya mubazir, memang lebih baik kamu yang memakannya," sahut Dharma tersenyum penuh arti.
"Hmmmm, langsung saja aku datang ke ruangan kamu untuk membahas proyek di Bali. Sayang kamu duduk di sini temani aku bekerja," ucap Dharma mempersilahkan istrinya itu duduk di sofa.
Alea lebih baik menurut daripada terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan. Dharma juga menyusul duduk di sebelah Alea.
Raidan menarik nafas dan lebih baik meladeni Dharma yang memang tumben-tumbennya datang ke ruangannya bersama dengan Alea. Raidan juga tidak ingin ada kecurigaan dari Dharma.
"Baiklah, kalau begitu bisa kita bisa mulai," sahut Raidan dengan santai.
Raidan bahkan sudah membuka dokumen yang ingin diperiksa oleh Dharma. Raidan terlihat tidak nyaman dengan pandangannya sejak tadi bagaimana Dharma memegang tangan Alea dan meletakkannya di pahanya. Dharma tidak pernah seromantis itu dengan Alea.
Wajah Raidan juga tidak bisa bohong, kecemburuan terlihat jelas di wajah tampan itu. Alea sesekali melihat ke arah Raidan, seperti banyak sekali yang ingin dia sampaikan, ada sebuah penjelasan yang ingin diutarakan tetapi tidak bisa diungkapkan karena mendapat tekanan.
"Baiklah aku setuju dengan kontrak yang sudah kamu buat," ucap Dharma menutup kontrak tersebut ketika sudah membaca sekilas.
Dharma tiba-tiba saja merangkul bahu Alea.
"Sayang, aku akan semakin sibuk belakangan ini, tetapi kamu jangan khawatir, aku akan terus memiliki waktu untuk kamu dan bila perlu kemakan menemaniku bekerja seperti ini," ucap Dharma semakin romantis dan bahkan mengecup bibir Alea.
Raidan mengalihkan pandangannya melihat hal itu. Dharma ternyata bukan hanya sekedar mengecup, entah apa maksudnya tiba-tiba melumat bibir istrinya itu.
"Mas cukup!" Alea mendorong dada Dharma.
"Mas, jangan melakukan hal itu di depan orang lain. Kamu ini apa-apaan sih!" tegur Alea.
Dia merasa Dharma benar-benar keterlaluan, sama saja hal itu merendahkan dirinya.
"Maaf sayang, aku Raidan sudah sering melihat kemesraan kita dan bukan hal yang tabu lagi. Apalagi Raidan juga sudah aku anggap sebagai saudara sendiri," ucap Dharma.
"Tetap saja aku tidak nyaman," jawab Alea.
"Baiklah kalau begitu kita lanjutkan di rumah saja, aku ingin melepas kerinduan kepada kamu dan aku juga ingin mengunjungi bayi kita," ucap Dharma dengan kata-kata vulgar itu diucapkan tepat di depan Raidan.
Alea benar-benar tidak bisa menghadapi suaminya itu dan sementara Raidan berusaha senang mungkin, mau marah juga tidak mungkin tetapi orang seperti Dharma perlu diberi pelajaran.
"Raidan terima kasih atas waktunya untuk pembicaraan kontrak ini, nanti kita akan lanjutkan untuk. Aku harus pulang dulu. Soalnya aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan istriku," ucap Dharma tersenyum lebar.
"Ayo sayang kita pulang," ajak Dharma membawa Alea keluar dari ruangan tersebut. Raidan memperhatikan bagaimana pasangan itu keluar dari ruangannya.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa perasaanku tidak enak?" ucap Raidan merasa ada sesuatu terjadi hal yang besar tetapi tidak mungkin dia tanyakan langsung kepada Alea, karena situasinya memang tidak memungkinkan.
*******
Alea dan Dharma saat ini berada di dalam mobil dengan Dharma yang menyetir dan sementara area duduk di sebelahnya, wajahnya sejak tadi tampak tidak suka berada di sebelah suaminya itu. Ada amarah yang hanya bisa terpendam namun tidak bisa dilupakan.
"Ada apa sayang?"
"Kenapa wajah kamu seperti itu? Apa ada sesuatu yang membuat kamu kesal hari ini? Apa aku melakukan kesalahan yang besar kepada kamu?" tanya Dharma sembari melihat sebentar ke arah Alea.
"Aku tidak mengerti, mengapa Mas harus bersikap seperti itu di depan Raidan. Apa ada sebenarnya? Apa yang ingin Mas tunjukkan kepadanya?" tanya Alea.
"Jadi Raidan yang membuat kamu memperlihatkan ekspresi cuek seperti itu kepadaku?" tanya Dharma.
"Apa yang Mas lakukan, seolah-olah hanya mempermalukan diriku!" tegas Alea.
"Aku pikir kamu takut Raidan cemburu dan makanya kamu langsung marah," ucap Dharma.
"Mas cukup! Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Kamu yang membuat kami memiliki hubungan dan kami juga mengakhiri hubungan itu karena kamu yang memintanya. Jika kamu memiliki kesalahan jangan kamu putar balikkan fakta seakan-akan aku yang bersalah!" tegas Alea.
Dharma mendengus kasar mendengar pernyataan Alea.
"Huhhhhh, sudahlah tidak ada gunanya juga kita bertengkar karena hal itu. Kembali pada awal, tidak akan ada pertemuan lagi antara kamu dan juga Raidan lagi. Aku sebagai suami harus waspada karena terkadang ketempatan yang diberikan justru menimbulkan sesuatu hal yang buruk," ucap Dharma.
Lagi dan lagi kata-katanya menyimpan arti membuat Alea geleng-geleng kepala dengan kelakuan suaminya itu.
"Kenapa Daniel belum menjawab pesanku untuk bertemu. Banyak sekali yang memang harus di bahas," ucap Dharma dengan tersenyum miring.
Dharma terlihat menakutkan. Alea kembali gelisah karena laporan dari Daniel akan membawa petaka kembali untuknya.
******
Alea terlihat begitu panik berada di dalam kamar. Bagaimana tidak, tadi siang dia tidak sengaja bertemu dengan suaminya. Dharma bahkan seperti orang yang mengetahui bahwa dia sembunyi-sembunyi bertemu dengan Raidan, Dharma secara tidak langsung juga memberi peringatan kepadanya.
Dharma saat ini juga bahkan akan menanyakan Daniel tentang aktivitas istrinya selama dia tidak ada. Alea jelas takut jika ada ini yang jujur.
Dratt-dratt-dratt
Alea dikagetkan dengan ponselnya bergetar dan langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hallo Daniel!" ucap Alea.
Sepertinya telepon itu yang sejak tadi dia tunggu-tunggu.
"Saya baru saja mengantarkan tuan Dharma rapat penting. Jika Nona ingin menemui saya maka saya berada di parkiran," ucap Daniel.
"Baiklah kamu tunggu di sana, saya akan. menemui kamu," ucap Alea dengan cepat mematikan telepon tersebut.
Alea tidak menunggu lama langsung keluar dari kamar dan juga keluar dari apartemennya. Alea terlihat buru-buru memasuki lift dan sampai akhirnya berada di parkiran bawah tanah.
Alea di sekelilingnya dan akhirnya melihat mobil Daniel membuat Alea langsung memasuki mobil tersebut dengan duduk di kursi depan di sebelah Daniel.
"Kamu memberikan semua kepada Dharma tentang apa yang terjadi selama ini?" tanya Alea to the point
"Tidak Nona, saya hanya memberikan hal sewajarnya saja dan tidak berkaitan dengan apa yang Nona khawatirkan," jawab Daniel.
"Ahhhhhh, syukurlah," Alea menghela nafas panjang.
Dia saat ini benar-benar lega karena Daniel tidak menceritakan apapun tentang pertemuannya Raidan.
"Nona maaf jika saya lancang, untuk ke depannya Nona harus lebih hati-hati lagi. Secara diam-diam. Tuan Dharma juga mengikuti saya dan mencoba untuk mencari tahu tentang saya, terlihat dari ekspresi wajahnya bahwa tidak sepenuhnya dia percaya kepada saya," ucap Daniel.
"Maafkan saya. Kamu harus terlibat karena urusan pribadi saya, kamu berdarah ini akan menjadi pelajaran yang berharga untuk saya dan lain kali dan pasti akan lebih hati-hati lagi," ucap Alea merasa bersalah.
"Saya berharap semuanya baik-baik saja ke depannya," sahut Daniel membuat Alea menganggukkan kepala.
Bersambung....