Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fokus Yang Terpecah
Udara di pemakaman tua pinggiran Kota Gede itu terasa begitu statis, seolah waktu sengaja berhenti untuk menyaksikan akhir dari sebuah pengkhianatan. Kabut tipis sisa hujan semalam masih merayap di sela-sela nisan batu yang berlumut, menciptakan gradasi abu-abu yang suram. Arlan merosot di balik sebuah kamboja besar, napasnya tersengal, dadanya terasa panas akibat uap kimia yang tadi ia hirup. Di sampingnya, Maya memegangi lengan Arlan dengan tangan yang masih gemetar hebat.
"Lan... kita harus pergi. Sekarang," bisik Maya, suaranya nyaris hilang ditelan sunyi.
Arlan melirik kamera analognya yang kini menghitam dan retak. Lensa depannya pecah, memantulkan cahaya matahari pagi yang pucat seperti mata yang buta. "Bentar, May... kaki gue... lemes banget."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa menghantam konblok pemakaman. Bukan satu orang, tapi beberapa. Namun, satu suara teriakan yang melengking penuh amarah membuat Arlan tersentak tegak.
"ARLAAAN! KELUAR LO, PENGKHIANAT!"
Itu Tito. Suaranya tidak lagi memiliki nada manusiawi; itu adalah lengkingan keputusasaan seorang pria yang baru saja melihat satu-satunya harapan untuk memulihkan kehormatan keluarganya hangus menjadi abu.
Tito muncul dari balik pintu besi makam yang berkarat. Penampilannya mengerikan. Wajahnya terkena jelaga ledakan taman bawah tanah, jaket windbreaker-nya sobek di bagian bahu, dan matanya merah menyala oleh dendam. Di tangannya, ia masih menggenggam pistol kecil itu dengan buku jari yang memutih. Di belakangnya, si Kurator tampak tertatih, memegangi lengannya yang terluka, wajahnya pucat pasi karena kehilangan aset berharganya.
Arlan berdiri perlahan, menarik Maya untuk tetap berada di belakang punggungnya. Ia tidak lagi mencoba bersembunyi. Jaket denim hijaunya yang kini compang-camping tampak seperti zirah yang sudah kalah perang, namun tatapan mata Arlan tetap tajam—sebuah fokus yang tak tergoyahkan.
"Semuanya udah abis, To!" teriak Arlan, suaranya bergema di antara nisan-nisan bisu. "Filmnya udah jadi abu! Nggak ada lagi daftar nama, nggak ada lagi harta kakek gue! Semuanya selesai!"
"BELUM SELESAI!" Tito mengarahkan pistolnya tepat ke dada Arlan. Jarak mereka hanya sepuluh meter. "Lo nggak tahu rasanya jadi gue, Lan! Puluhan tahun keluarga gue dianggap sampah karena satu foto kakek lo! Gue butuh bukti itu buat bersihin nama bokap gue! Dan lo... lo malah ngebakarnya seolah itu cuma sampah mading!"
"Bokap lo nggak butuh bukti itu buat jadi orang baik, To!" Arlan melangkah maju satu tindak, mengabaikan moncong senjata yang mengincarnya. "Kebenaran yang lo cari itu berdarah. Daftar nama itu isinya monster. Kalau lo pake itu buat balas dendam, lo cuma bakal jadi monster yang baru. Lo mau kakek lo bangga liat lo jadi pembunuh di atas tanah kuburan?!"
Tito gemetar. Tangannya yang memegang pistol naik turun, mengikuti ritme napasnya yang tidak beraturan. "Lo selalu ngerasa paling bener karena lo punya kamera. Lo ngerasa bisa ngatur fokus hidup orang lain. Tapi hari ini, Lan... gue yang bakal nentuin kapan shutter hidup lo tertutup."
Si Kurator berteriak dari belakang, "Tembak dia, Tito! Dia masih punya potongan film di sakunya! Saya lihat dia menyimpannya!"
Arlan meraba saku rahasianya. Potongan foto kakeknya yang sedang tersenyum. Itu bukan dokumen politik, tapi bagi si Kurator yang sudah buta, setiap mili film adalah uang.
"Ambil ini kalau lo mau!" Arlan mengeluarkan potongan film itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Tapi ini cuma foto seorang kakek yang sayang sama cucunya. Nggak ada emas, nggak ada rahasia negara! Lo semua cuma ngejar bayangan!"
Tiba-tiba, sebuah titik merah kecil muncul di dahi Tito. Sebuah sinar laser dari arah pohon beringin raksasa di ujung pemakaman.
"Tito, tiarap!" Arlan berteriak refleks.
DOR!
Bukan pistol Tito yang menyalak. Sebuah tembakan senapan runduk (sniper) meletus dari kejauhan. Peluru itu menghantam pistol di tangan Tito hingga terpental jauh, membuat jari-jari Tito berdarah. Tito tersungkur ke tanah, mengerang kesakitan.
Dari balik kabut dan bayangan pohon beringin, muncul pria bertopi pet itu—Bara. Kali ini ia tidak sendirian. Di belakangnya ada dua orang pria berpakaian taktis hitam tanpa atribut. Bara memegang senapan laras panjang dengan tenang.
"Sudah cukup dramanya," suara Bara yang parau memecah ketegangan. Ia melangkah mendekat, sepatu boots-nya menginjak daun-daun kering dengan bunyi gemerisik yang dingin.
Si Kurator mencoba melarikan diri, namun salah satu rekan Bara dengan cepat melumpuhkannya dengan tendangan kaki yang presisi. Kurator itu tersungkur di samping nisan, meringkuk ketakutan.
Bara berdiri di depan Arlan. Ia melihat kamera Arlan yang rusak, lalu beralih ke wajah Arlan yang penuh peluh. "Kamu punya nyali yang besar untuk ukuran fotografer mading, Arlan. Membakar data itu adalah keputusan paling cerdas... sekaligus paling berbahaya yang pernah dilakukan keluarga Rayyan."
Arlan mengatur napasnya. "Lo siapa sebenarnya? Kenapa lo selalu ada di sekitar gue?"
Bara menurunkan senjatanya. Ia membuka topi pet-nya, memperlihatkan luka parut di pipi kirinya yang tampak lebih jelas di bawah sinar matahari. "Saya adalah bayangan yang gagal melindungi kakekmu dulu. Dan saya tidak akan membiarkan cucunya mati konyol karena ambisi orang-orang bodoh ini."
Bara menoleh ke arah Tito yang masih terduduk di tanah sambil memegangi tangannya yang terluka. "Tito... kakekmu bukan pengkhianat. Dia adalah martir. Dia sengaja membiarkan dirinya difoto dalam posisi itu agar musuh percaya dia dipihak mereka, supaya dia bisa menyelamatkan ratusan nyawa pengungsi. Kakek Arlan tahu itu, tapi dia harus merahasiakannya agar operasi itu tetap berjalan. Kakekmu adalah pahlawan yang paling sunyi."
Tito tertegun. Matanya membelalak, menatap Bara dengan tidak percaya. "Lo... lo bohong..."
"Tanya pada nuranimu sendiri," ucap Bara dingin. "Kenapa kakekmu memberikan kamera itu pada kakek Arlan sebelum dia dieksekusi? Itu bukan untuk disimpan sebagai dendam, tapi sebagai titipan persaudaraan."
Dunia seolah runtuh bagi Tito. Segala kebencian yang ia pupuk selama belasan tahun ternyata berakar pada kesalahpahaman yang tragis. Ia merosot, menunduk dalam-dalam di atas tanah makam, air matanya jatuh menyatu dengan debu.
Maya mendekati Arlan, menggenggam tangannya erat. Arlan menatap Bara. "Terus sekarang gimana? Semuanya udah hancur."
"Belum," Bara memberikan sebuah amplop cokelat kecil kepada Arlan. "Si Kurator ini hanya kaki tangan kecil. Orang-orang di daftar yang kamu bakar itu masih ada. Mereka akan tetap mencarimu karena mereka pikir kamu masih tahu sesuatu. Kamu harus kembali ke Jakarta. Sembunyi dalam keramaian. Tapi ingat satu hal..."
Bara menatap kamera Arlan yang rusak. "Lensa boleh pecah, tapi mata harus tetap terbuka. Perang ini baru saja memasuki babak yang lebih kotor. Sinyalmu akan terus diganggu, tapi kebenaran akan selalu menemukan frekuensinya sendiri."
Bara dan timnya membawa si Kurator pergi, meninggalkan Arlan, Maya, dan Tito yang hancur di tengah pemakaman. Arlan melihat ke arah Tito. Ada rasa marah yang masih tersisa, namun melihat sahabatnya itu hancur dalam penyesalan, amarah itu perlahan mendingin.
"To..." Arlan mendekat, namun Tito hanya menggeleng tanpa melihatnya.
"Pergi, Lan... bawa Maya pergi," suara Tito parau. "Gue butuh waktu buat liat... apa yang selama ini gue butakan."
Arlan menarik napas panjang. Ia membantu Maya berdiri. Mereka berjalan meninggalkan pemakaman tua itu. Di gerbang makam, Arlan menoleh sekali lagi ke arah nisan-nisan yang berjajar. Ia menyadari bahwa perjalanannya ke Yogyakarta bukan hanya untuk mencari fokus cinta, tapi untuk mencuci seluruh sejarahnya yang kotor.
Sinyal di ponsel Arlan tiba-tiba bergetar. Satu bar muncul. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk:
"Selamat atas keberanianmu di Kota Gede. Tapi ingat, Arlan... foto yang paling berbahaya adalah foto yang belum sempat kamu ambil. Sampai jumpa di Jakarta."
Arlan meremas ponselnya. Ia menatap Maya, lalu menatap jalanan aspal yang terbentang menuju stasiun. Fokusnya kini terpecah menjadi seribu keping, namun ia tahu, ia tidak boleh lagi menutup lensanya.