Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Abram yang tadinya hanya berdiri terpaku, segera mendekat. Saat ia menunduk dan melihat lebih jelas, sesuatu yang membuat ia terkejut dan penasaran.
Asap merah yang tadi ada kepala pria itu, kini perlahan-lahan berubah warna. Dari merah, ia berubah menjadi asap hitam tipis yang persis sama dengan yang ia lihat pada jenazah di kamar mayat tadi.
"Permisi, biar saya periksa sebentar," kata Abram, entah dari mana datangnya keberanian itu.
Tangannya terulur secara otomatis untuk memeriksa pria tersebut. Saat sentuhannya mengenai pergelangan tangan pria itu, sebuah sensasi aneh menjalar.
Bukan, bukan seperti sentuhan biasa. Ada sebuah pengetahuan yang masuk ke dalam kepala Abram, seolah ia baru saja telah mempelajari pengetahuan tersebut.
Tiba-tiba saja, ia mendapatkan ilmu pengetahuan untuk mengecek kondisi pasien. Sebuah pengetahuan menjadi seorang tabib di dalam otaknya.
Ia memeriksa denyut jantung pria itu, mencoba merasakan aliran nadi, namun yang ia temukan tidak ada terasa apa-apa. Tidak ada lagi aliran darah yang terpompa, tidak ada denyutan kehidupan.
"Jangan bilang orang ini sudah meninggal?" tanya Abram, alisnya berkerut.
Suaranya nyaris seperti bisikan, namun berisi campuran antara keterkejutan dan penasaran apakah apa yang dia periksa itu benar.
Ia mencoba menghalau asap hitam itu dengan tangannya, seperti mengusir serangga, namun asap itu tetap ada, di atas tubuh tak bergerak itu. Ia berpikir keras, jangan-jangan asap hitam ini, adalah tanda kematian.
"Jadi... ini adalah tanda orangnya sudah meninggal ya?" tanya Abram, suaranya lebih seperti konfirmasi pada dirinya sendiri, meskipun ia menatap anak laki-laki di sampingnya.
"Apa? Meninggal? Papa aku sudah meninggal?" tanya anak itu terkejut, matanya membelalak tak percaya, air mata mulai menggenang.
Abram mengangguk pelan. Sekarang ia paham, jika asap hitam itu tanda orang yang sudah meninggal, orang yang memiliki asap merah, adalah orang yang sudah sekarat, Tanda-tanda orang yang akan meninggal, dan yang hijau tandanya adalah orang yang masih hidup dan sehat.
"Nggak mungkin papa ku meninggal, tadi papa baik-baik saja!" Teriakannya tak percaya.
Anak laki-laki itu, mengerutkan dahi sambil menggenggam bahu pria yang terbaring tidak sadarkan diri. Matanya merah karena menahan air mata, tapi tatapannya penuh dengan ketidakpercayaan.
Mereka tadi hanya berencana untuk datang ke rumah sakit untuk memeriksa tensi saja, tidak lebih dari itu. Tapi saat mereka hendak memasuki gerbang rumah sakit, Bapak Jaya tiba-tiba terjatuh dan tidak bisa bergerak lagi.
Tanpa berpikir panjang, Raihan langsung menggendong tubuh ayahnya yang lebih besar darinya dengan kekuatan yang luar biasa untuk usianya.
Ia berlari melewati lorong depan rumah sakit menuju Unit Gawat Darurat (UGD), kaki kirinya bahkan terkilir sedikit karena terpeleset di lantai yang licin, tapi ia tidak peduli.
"Dokter! Dokter! Tolong ayah saya!"
Suaranya pecah di koridor UGD yang sedang ramai. Petugas perawat langsung mendekatinya dan membantu membawa Bapak Jaya ke ranjang darurat.
Sambil menunggu dokter datang, Raihan menggenggam tangan ayahnya yang dingin, berbisik berulang-ulang bahwa ayahnya tidak boleh pergi darinya, mereka baru saja merencanakan untuk pergi berlibur ke Pantai Cermin saat liburan kerja tiba.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya