NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: SERBUAN DARI LANGIT

Kawat berduri yang menggores telapak tangan Saga tidak lagi terasa perih. Rasa sakit itu telah mati, tergantikan oleh adrenalin yang menderu layaknya mesin jet di dalam pembuluh darahnya. Di bawah rintik hujan yang mulai membasahi Bumi Tangerang, Saga dan Sakti melompat turun ke area sterilisasi Lapas Wanita. Di sini, kegelapan adalah sekutu mereka, namun sorot lampu menara pengawas yang menyapu tanah setiap sepuluh detik adalah maut yang mengintai.

"Nona, blok isolasi ada di sayap timur," Sakti berbisik, napasnya tersengal namun matanya tetap tajam. Ia memegang sebuah kartu akses curian yang didapatkan dari kontak lama di kepolisian. "Kita punya waktu kurang dari lima menit sebelum patroli internal menyadari sensor di pagar belakang terputus."

Saga mencengkeram tas medis pemberian Dokter Gunawan. Di dalamnya terdapat serum penghapus Protokol Garuda—kunci untuk mengakhiri kutukan yang mengalir di nadinya. Mereka berlari menunduk, melewati bayang-bayang gudang logistik, hingga sampai di sebuah pintu besi berat dengan papan nama kecil: BLOK KHUSUS - ISOLASI.

Klik.

Kartu akses bekerja. Pintu terbuka dengan suara desisan hidrolik yang pelan. Aroma di dalam sini berbeda dengan selokan Jakarta; di sini baunya adalah campuran pemutih lantai, besi karat, dan keputusasaan yang dingin.

Saga melangkah menyusuri lorong panjang dengan sel-sel yang tertutup rapat. Di ujung lorong, di sel nomor 001, sesosok wanita duduk di lantai beton, membelakangi pintu jeruji. Rambutnya yang dulu tertata rapi kini kusam dan berantakan, namun bahunya tetap tegak dengan keangkuhan yang tidak bisa dihancurkan oleh jeruji besi.

"Aku tahu kamu akan datang, Sasmita," suara itu terdengar serak, namun tetap memiliki nada manipulatif yang khas.

Saga berdiri di depan jeruji. "Berhenti memanggilku dengan nama itu, Agatha. Namaku Saga. Dan aku ke sini bukan untuk menjengukmu."

Agatha Waskita berbalik perlahan. Wajahnya yang dulu cantik kini tampak tirus, matanya cekung namun berkilat dengan kegilaan yang cerdas. Ia tersenyum, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Saga berdiri.

"Saga... Sang Pemberani. Kamu terlihat persis seperti Ratna saat dia menyadari bahwa suaminya bukan lagi miliknya," Agatha bangkit berdiri, mendekat ke jeruji hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Saga. "Kamu datang untuk 'Pintu Belakang Garuda', bukan? Gunawan pasti memberitahumu bahwa kamu adalah kuncinya."

"Berikan kodenya, Agatha. Akhiri permainan gila ini," desis Saga. "Viktor ada di luar sana. Dia akan meratakan tempat ini hanya untuk mengambil darahku. Kamu tidak akan punya tempat untuk bersembunyi jika dia masuk."

Agatha tertawa, sebuah tawa kering yang menggema di lorong sunyi. "Viktor... pria Rusia itu selalu berpikir dia bisa memiliki segalanya. Tapi dia bodoh. Dia tidak tahu bahwa Ratna tidak pernah mencintainya. Ratna melarikan diri darinya bukan karena takut pada sindikat, tapi karena dia muak dengan monster yang ada di dalam darah Sokolov."

Saga menegang. "Apa maksudmu?"

"Ratna tidak mati karena serangan jantung di RSJ, Saga," Agatha mendekatkan bibirnya ke telinga Saga melalui celah besi. "Aku yang mematikannya. Tapi bukan karena aku benci padanya. Aku melakukannya karena dia memintanya. Dia tidak ingin Viktor menemukanmu. Dia ingin rahasia Protokol Garuda terkubur bersamanya. Tapi Wirya... pria malang itu terlalu mencintaimu sehingga dia malah menanamkan kutukan itu ke dalam darahmu agar kamu punya 'nilai' di mata dunia."

Dunia Saga seolah runtuh. Ibunya memilih mati agar dia bebas, namun ayah angkatnya—dalam upaya menyelamatkannya—malah menjadikannya target seumur hidup.

Tiba-tiba, suara dentuman keras mengguncang seluruh gedung penjara. Plafon sel mulai rontok, dan alarm kebakaran meraung memecah kesunyian malam. Dari kejauhan, terdengar suara tembakan otomatis yang membantai para penjaga lapas tanpa ampun.

"Dia di sini," bisik Agatha, matanya membelalak ketakutan sekaligus senang. "Viktor sudah datang untuk mengambil kuncinya."

Layar monitor di lorong penjara mendadak menyala, menampilkan wajah Viktor Sokolov yang dingin. Ia mengenakan pelindung tubuh taktis lengkap. Di belakangnya, helikopter tempur tanpa lambang negara tampak menggantung di atas area Lapas, melepaskan tembakan ke menara pengawas.

"Saga, putriku... jangan biarkan wanita ular itu meracuni pikiranmu," suara Viktor bergema melalui pengeras suara Lapas yang telah diretas. "Keluar sekarang, dan berikan darahmu secara sukarela. Jika tidak, aku akan menjadikan penjara ini kuburan massal bagi semua orang di dalamnya."

"Nona! Kita harus pergi!" Sakti menarik lengan Saga. "Tim taktis Sokolov sudah menjebol gerbang depan!"

"Tidak sebelum aku mendapatkan kodenya!" Saga berbalik ke arah Agatha. "CEPAT, AGATHA! BERIKAN KODENYA ATAU KITA SEMUA MATI DI SINI!"

Agatha tampak ragu, namun saat sebuah ledakan meruntuhkan dinding di ujung lorong, ia menyadari bahwa waktunya sudah habis. Ia meraih tangan Saga, mencengkeramnya kuat.

"Kodenya adalah 'RATNA0909'. Itu adalah tanggal lahir ibumu," Agatha berbisik cepat. "Masukkan kode itu ke dalam enkripsi di nadimu melalui serum Gunawan. Itu akan memicu reaksi berantai yang menghapus seluruh server cadangan di Moskow dan Zurich. Lakukan sekarang, Saga! Biarkan kekaisaran mereka runtuh bersama darahmu!"

Saga segera mengeluarkan jarum suntik dari tas medis. Tangannya gemetar hebat. Ia menatap Sakti, lalu menatap jeruji besi.

"Sakti, jaga pintu!" teriak Saga.

Saga menusukkan jarum itu ke pembuluh darah di lengannya. Ia merasakan cairan dingin mulai merambat masuk, beradu dengan kode genetik yang ditanamkan Wirya bertahun-tahun lalu. Di layar kecil yang terhubung dengan alat medis Gunawan di pergelangan tangannya, barisan angka mulai berputar liar.

ENTER CODE: _ _ _ _ _ _ _ _ _

Saga mengetikkan: R A T N A 0 9 0 9

PROCESING... DATA DELETION INITIATED. 10%... 20%...

Tiba-tiba, pintu sel isolasi diledakkan dari luar. Asap putih memenuhi ruangan. Sesosok pria tinggi dengan senapan serbu masuk—itu adalah Dmitri Volkov. Ia tidak bersama Viktor; ia datang sendirian dengan tim kecilnya sendiri.

"Maaf, Saga. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu menghapus aset masa depanku," Dmitri mengarahkan senjatanya ke arah Saga. "Cabut jarum itu sekarang, atau aku akan memotong tanganmu."

Sakti mencoba menyerang Dmitri, namun pengawal Dmitri memukul kepala Sakti dengan gagang senjata hingga pria tua itu jatuh pingsan.

"SAKTI!" teriak Saga.

"Dia masih hidup, untuk sekarang," Dmitri melangkah mendekat, matanya berkilat penuh keserakahan. "Berikan padaku alat itu, Saga. Dengan Protokol Garuda di tanganku, aku tidak butuh restu Viktor untuk menguasai Sindikat. Aku akan menjadi raja baru, dan kamu... kamu akan tetap menjadi permaisuriku, meski dalam rantai."

Saga menatap layar di pergelangan tangannya. 75%... 80%...

"Sudah terlambat, Dmitri," Saga tersenyum melalui rasa sakit yang mulai menyerang sarafnya. Tubuhnya mulai bereaksi terhadap proses penghapusan. Suhu tubuhnya naik drastis, dan ia mulai batuk darah. "Sistemnya sudah tidak bisa dihentikan. Uang itu akan hilang selamanya."

"TIDAK!" Dmitri menerjang maju, mencoba merebut jarum suntik itu.

Namun, di saat yang sama, dinding belakang sel meledak hebat. Viktor Sokolov masuk dengan amarah yang meledak-ledak. Ia melihat Dmitri mencoba merebut alat itu, dan tanpa ragu, Viktor melepaskan tembakan ke arah Dmitri.

Duar! Duar!

Dmitri terkena di bagian perut, ia terjatuh sambil mengerang kesakitan.

"Anak nakal," desis Viktor, ia melangkah melewati tubuh Dmitri yang bersimbah darah. "Berani-beraninya kamu mencoba mencuri milikku di depan mataku sendiri."

Viktor berdiri di depan Saga. Ia melihat proses penghapusan yang sudah mencapai 95%. Wajahnya yang kaku mendadak tampak hancur. Ia menyadari bahwa harta karun yang ia kejar selama puluhan tahun sedang lenyap di depan matanya, dibawa pergi oleh darah dagingnya sendiri.

"Kenapa, Saga? Kenapa kamu menghancurkan warisanmu sendiri?" tanya Viktor, suaranya terdengar seperti bisikan kematian.

"Karena ini bukan warisan, Ayah," Saga terengah-engah, matanya mulai mengabur. "Ini adalah racun. Dan aku memilih untuk hidup sebagai manusia tanpa harga, daripada mati sebagai kunci emas di dalam brankasmu."

100%. DELETION COMPLETE. SYSTEM SHUTDOWN.

Suara denging panjang terdengar dari alat medis itu. Di seluruh dunia—di Zurich, Moskow, Singapura, dan Jakarta—layar-layar monitor di bank-bank rahasia Sindikat Sokolov berubah menjadi hitam. Triliunan rupiah, ribuan dokumen rahasia, dan jalur kekuasaan gelap lenyap dalam sekejap mata.

Saga terkulai lemas di lantai. Ia merasa jiwanya kosong, namun ia merasa sangat ringan. Seolah beban ribuan ton yang selama ini ia pikul telah diangkat.

Viktor menatap Saga dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia mengangkat senjatanya, mengarahkannya ke kepala Saga. Para pengawalnya menunggu perintah untuk menembak.

"Kamu telah merampas segalanya dariku, Saga," ujar Viktor pelan.

"Aku memberimu satu hal yang tidak pernah kamu miliki, Ayah," Saga menatap Viktor dengan sisa tenaganya. "Kebebasan dari dosa-dosa masa lalumu. Sekarang, kamu hanyalah pria tua tanpa tentara bayaran yang mau bekerja tanpa bayaran. Lihatlah sekelilingmu."

Viktor menoleh. Para pengawalnya mulai menurunkan senjata. Mereka tahu, dengan hilangnya dana di server pusat, kontrak mereka telah berakhir. Tidak ada lagi gaji, tidak ada lagi asuransi. Mereka adalah tentara bayaran, dan tanpa uang, kesetiaan mereka menguap seperti embun.

"Ayo pergi!" teriak pemimpin pengawal Viktor. "Tempat ini akan segera dikepung polisi nasional! Kita tidak punya perlindungan politik lagi!"

Viktor berdiri terpaku. Ia melihat kekaisarannya runtuh bukan oleh tentara musuh, tapi oleh seorang wanita muda yang ia sebut putri.

Di tengah kekacauan itu, Sakti mulai siuman. Ia merangkak menuju Saga, memeluknya erat. "Nona... Anda berhasil... Anda benar-benar bebas."

Agatha Waskita, yang masih berada di dalam selnya, tertawa histeris. Ia melihat kehancuran semua orang yang pernah ia manipulasi. "Dunia yang indah... dunia yang hancur... kita semua adalah debu, Sasmita! Debu!"

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!