Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ledakan Kekuatan
Angin malam berputar semakin kencang di tengah hutan Arclight yang porak poranda. Tanah retak di bawah kaki Ren, dan kabut energi gelap yang mengalir dari tubuhnya membuat udara terasa berat seperti sebelum badai besar datang. Mata Ren bersinar dengan cahaya gelap yang tidak stabil, seolah ada kekuatan besar yang baru saja bangun dari tidur panjang.
Kael berdiri beberapa meter di depannya dengan senyum puas. Matanya yang merah menatap Ren seperti seorang peneliti yang akhirnya menemukan benda langka yang selama ini ia cari.
“Ya… ini dia,” gumam Kael pelan. “Kekuatan itu benar-benar ada di dalam dirimu.”
Ren tidak menjawab. Napasnya terdengar lebih berat dari sebelumnya, dan energi yang mengalir dalam tubuhnya terasa semakin liar. Rasanya seperti api yang mencoba keluar dari setiap pembuluh darahnya.
Di belakang Ren, Mira, Lilia, Nyra, dan Selene menyaksikan perubahan itu dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Mira terlihat khawatir.
“Ren tidak terlihat seperti dirinya sendiri…”
Lilia mengangguk sedikit.
“Energinya tidak stabil.”
Nyra justru menyeringai kecil.
“Ini malah lebih menarik.”
Sementara Selene hanya berdiri dengan tenang, matanya tidak pernah lepas dari Ren.
“Dia mulai bangun,” katanya pelan.
Di tengah area terbuka itu, Kael akhirnya mengangkat tangannya.
“Baiklah… mari kita lihat seberapa jauh kekuatan itu sudah berkembang.”
Lingkaran sihir hitam besar muncul di udara di atasnya.
“Shadow Cataclysm.”
Energi gelap berkumpul di langit seperti badai hitam. Bola-bola energi kecil mulai terbentuk dan melayang di udara sebelum tiba-tiba melesat ke arah Ren seperti hujan meteor.
Tanah di sekitar Ren meledak satu per satu ketika serangan itu menghantam.
BOOM. BOOM. BOOM.
Debu dan tanah beterbangan ke segala arah.
Mira langsung berteriak.
“REN!”
Namun sebelum debu itu sempat menghilang, sebuah gelombang energi hitam tiba-tiba meledak keluar dari pusat ledakan.
BOOOOOOM.
Seluruh debu tersapu bersih.
Ren masih berdiri di tempat yang sama.
Kabut energi gelap mengelilingi tubuhnya seperti badai kecil yang terus berputar.
Kael tertawa pelan.
“Bagus… sangat bagus.”
Ren mengangkat kepalanya perlahan.
“Apa kamu sudah selesai?”
Suara Ren terdengar lebih dalam dari biasanya.
Kael menyipitkan mata.
“Kau mulai kehilangan kendali.”
Ren tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju satu langkah.
Tanah langsung retak lebih jauh di bawah kakinya.
Energi hitam berkumpul di tangannya.
Kemudian dalam satu gerakan cepat, Ren mengayunkan tangannya ke depan.
“Void Strike.”
Gelombang energi hitam besar melesat menuju Kael seperti badai.
Kael langsung mengangkat tangan.
“Dark Barrier.”
Perisai energi gelap muncul di depannya.
BOOOOOM.
Benturan dua energi itu menciptakan ledakan besar yang mengguncang hutan. Pepohonan yang sudah rusak semakin roboh akibat gelombang kejut.
Kael mundur dua langkah.
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, senyum di wajahnya sedikit memudar.
“Menarik.”
Ren tidak berhenti.
Ia langsung bergerak maju dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Dalam sekejap ia sudah berada tepat di depan Kael.
Kael sempat terlihat terkejut.
“Cepat sekali—”
Ren mengayunkan tinjunya.
BOOM.
Kael terlempar beberapa meter ke belakang dan menghantam batang pohon besar hingga pohon itu patah.
Mira membuka mulutnya kaget.
“Dia… benar-benar memukulnya.”
Nyra tertawa kecil.
“Aku mulai menyukai pertarungan ini.”
Kael berdiri kembali sambil menyeka darah tipis dari sudut bibirnya.
Namun bukannya marah, ia justru terlihat semakin senang.
“Luar biasa.”
Ia menatap Ren dengan mata berbinar.
“Kekuatan itu bahkan lebih kuat dari yang aku ingat.”
Ren berdiri dengan napas berat.
Energi di sekelilingnya semakin liar.
Suara aneh seperti bisikan samar mulai terdengar di kepalanya.
Bayangan-bayangan aneh mulai muncul di pikirannya.
Api.
Jeritan.
Sebuah rumah yang terbakar.
Seorang pria dan wanita berdiri di depannya.
Seseorang berteriak…
“Ren… lari!”
Ren memegang kepalanya sebentar.
Kael melihat itu dan tersenyum lebar.
“Ah… ingatanmu mulai kembali.”
Ren menatapnya dengan marah.
“Kamu… ada di sana.”
Kael tidak menyangkalnya.
“Ya.”
Senyumnya semakin lebar.
“Aku ada di sana malam itu.”
Energi di sekitar Ren langsung melonjak lebih kuat.
Tanah bergetar lagi.
Mira langsung menyadari sesuatu.
“Ren mulai kehilangan kendali!”
Lilia mengangguk.
“Jika energinya terus naik seperti ini, dia bisa melukai dirinya sendiri.”
Selene masih memperhatikan Ren dengan tenang.
Namun matanya sedikit menyipit.
“Dia harus menahannya… atau semuanya akan hancur.”
Di tengah area terbuka itu, Kael mengangkat kedua tangannya.
Energi hitam besar mulai berkumpul di langit lagi.
“Baiklah… aku akan mengakhiri ini.”
Lingkaran sihir raksasa muncul di udara.
“Dark Oblivion.”
Langit malam tiba-tiba berubah gelap seperti tertelan bayangan.
Bola energi hitam raksasa terbentuk di atas mereka.
Tekanan sihirnya begitu besar hingga tanah di sekitar mulai retak lebih jauh.
Mira langsung berkata panik.
“Serangan itu terlalu besar!”
Namun Ren berdiri diam.
Ia menatap bola energi raksasa itu dengan mata gelapnya.
Kemudian ia perlahan mengangkat tangannya.
Energi yang bahkan lebih besar mulai muncul dari tubuhnya.
Kabut hitam di sekelilingnya berubah menjadi pusaran badai.
Angin kencang berputar di seluruh area.
Nyra terlihat benar-benar terkesan.
“Dia akan melawannya secara langsung?”
Selene akhirnya sedikit tersenyum.
“Ya.”
Ren membuka telapak tangannya.
Energi hitam pekat berkumpul di sana seperti lubang hitam kecil.
Suara Ren terdengar dingin.
“Void Collapse.”
Ren mengayunkan tangannya ke langit.
Gelombang energi raksasa melesat ke atas.
BOOOOOOOOOOM.
Benturan dua kekuatan itu menciptakan ledakan terbesar malam itu.
Langit hutan Arclight menyala seperti siang hari selama beberapa detik.
Gelombang kejut menyapu pepohonan dalam radius puluhan meter.
Semua orang terpaksa melindungi diri mereka dari tekanan energi itu.
Ketika cahaya akhirnya menghilang…
Bola energi Kael telah hancur sepenuhnya.
Namun Ren juga jatuh berlutut di tanah.
Energinya mulai menghilang perlahan.
Kael berdiri di kejauhan dengan napas sedikit berat, tetapi masih tersenyum.
“Kekuatan yang luar biasa…”
Ia menatap Ren yang berlutut.
“Tapi tubuhmu belum siap menahannya.”
Ren mencoba berdiri lagi, tetapi kakinya goyah.
Kael mulai berjalan mendekat perlahan.
“Tidak apa-apa.”
Suaranya terdengar tenang.
“Aku tidak perlu membunuhmu malam ini.”
Ia berhenti beberapa langkah dari Ren.
“Aku hanya perlu memastikan satu hal.”
Matanya bersinar merah.
“Kekuatan itu benar-benar ada.”
Kael kemudian tertawa kecil.
“Dan sekarang aku tahu jawabannya.”
Tiba-tiba ia melompat mundur.
Kabut hitam muncul di sekeliling tubuhnya.
“Sampai jumpa lagi, Ren Valen.”
Kabut itu menelan tubuhnya.
Dalam sekejap…
Kael menghilang.
Keheningan kembali menyelimuti hutan.
Ren masih berlutut di tanah, napasnya berat.
Mira langsung berlari mendekatinya.
“REN!”
Ia membantu Ren berdiri.
“Apakah kamu baik-baik saja?”
Ren mengangguk pelan.
“Ya… hanya lelah.”
Lilia memperhatikan area hutan yang hancur di sekitar mereka.
“Pertarungan tadi hampir menghancurkan setengah hutan.”
Nyra menyeringai kecil.
“Dan itu baru pemanasan.”
Selene berjalan mendekat terakhir.
Ia berhenti tepat di depan Ren.
Matanya menatap Ren dengan serius.
“Sekarang kamu mengerti.”
Ren menatapnya kembali.
“Mengerti apa?”
Selene berkata pelan.
“Kekuatanmu… adalah sesuatu yang banyak orang akan coba rebut.”
Angin malam kembali berhembus lembut melalui pepohonan yang patah.
Ren menatap tangannya sendiri lagi.
Energi gelap itu masih ada di dalam dirinya.
Dan sekarang ia tahu satu hal dengan pasti.