Empat tahun lalu, Flaire Nathasha menghilang setelah melahirkan secara rahasia, meninggalkan Jaydane Shelby dengan luka pengkhianatan dan seorang putra balita bernama Jorden. Jaydane, sang penguasa bisnis sekaligus mafia, membesarkan Jorden dengan kebencian mendalam, mengira Flaire membuang anak mereka demi kebebasan dan karier.
Kini, Flaire kembali ke Jerman sebagai CEO Fernandez yang memukau dengan julukan "Queen of Lens". Kecantikannya yang tak tertandingi membuat Aurora, tunangan Jaydane, merasa terancam dan mulai menggali identitas ibu kandung Jorden yang misterius.
Jaydane yang dibutakan dendam mulai menghancurkan bisnis Flaire untuk memaksanya berlutut. Namun, di balik lensa kontak yang selalu menutupi warna mata aslinya, Flaire menyimpan luka trauma masa lalu difakta bahwa ia adalah korban pengasingan paksa keluarganya dan sama sekali tidak tahu bahwa bayinya masih hidup di tangan pria yang kini mencoba menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon caxhaaesthetic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TATAPAN YANG TAK TERLUPAKAN
Sore itu, taman pusat kota Berlin tampak tenang. Flaire duduk di bangku taman yang sedikit tersembunyi di balik pohon maple yang mulai memerah. Ia baru saja menyelesaikan pertemuan bisnis yang melelahkan dengan investor yang sengaja dipersulit oleh jaringan perusahaan Jaydane.
Flaire menghela napas panjang, meraba dadanya yang terasa sesak. Setiap kali ia melihat anak kecil berlari di taman, hatinya perih. Seandainya bayiku selamat, dia mungkin sudah sebesar mereka, batinnya pahit.
Tiba-tiba, suara tawa kecil terdengar dari arah air mancur. Seorang balita laki-laki berusia sekitar 4 tahun sedang asyik mengejar seekor anak anjing golden retriever yang berlari kencang.
"Tunggu! Jangan lari!" teriak bocah itu dengan suara cempreng yang menggemaskan.
Anak anjing itu melompat ke arah Flaire, membuat bocah itu ikut berlari kearahnya.
Namun, malang tak dapat ditolak, anak anjing itu menabrak genangan air tepat di depan Flaire, mencipratkan air cukup keras ke arah wajah Flaire.
"Ah!" Flaire memekik pelan. Air itu mengenai matanya.
Perih yang menyengat membuat Flaire refleks mengucek matanya. Sialnya, softlens berwarna cokelat hazel yang ia kenakan bergeser dan jatuh ke telapak tangannya. Flaire panik. Ia segera menutup mata kirinya dengan tangan, sementara mata kanannya yang masih terpejam berusaha menahan perih.
"Tante... maaf. Tante tidak apa-apa?"
Suara lembut itu membuat Flaire membuka sedikit matanya. Di depannya, berdiri seorang balita tampan dengan rambut blonde yang rapi. Jantung Flaire tiba-tiba berdegup kencang secara tidak normal. Wajah bocah ini... sangat mirip dengan Jaydane.
"Tante sakit?" Bocah itu mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran yang tulus.
Flaire dengan cepat merogoh tasnya, mengambil cermin kecil dan cairan kanta lekap cadangan. Dengan gerakan tangan yang gemetar namun sangat cepat hasil latihan bertahun-tahun sebagai Queen of Lens ia memasangkan kembali kanta lekapnya sebelum ada orang dewasa lain yang melihat.
Setelah kanta lekapnya kembali terpasang sempurna, Flaire menarik napas lega. Ia berlutut di depan bocah itu, menyamakan tinggi mereka.
"Tante tidak apa-apa, Sayang. Hanya terkena air sedikit," ucap Flaire lembut. Tangannya tanpa sadar terulur mengusap pipi gembul bocah itu. Kulitnya begitu halus, seolah ada ikatan tak kasat mata yang menyetrum ujung jari Flaire.
"Nama kamu siapa?" tanya Flaire, matanya menatap dalam ke arah mata bocah itu.
Dan saat itulah napas Flaire seolah terhenti. Ia melihat warna mata bocah itu. Crush Green. Hijau yang sangat unik, berkilau seperti batu zamrud yang paling mahal di dunia. Warna mata yang hanya dimiliki oleh dirinya... dan ibunya.
"Nama aku Jorden," jawab bocah itu dengan bangga.
Flaire terpaku. Jorden. Nama yang sama dengan anak yang disebut Aurora di pesta kemarin. Ini adalah putra Jaydane. Putra dari pria yang paling membencinya, dan dari wanita antah berantah yang menggantikan posisinya.
"Mata kamu... sangat indah, Jorden," bisik Flaire, suaranya tercekat di tenggorokan. Air mata hampir jatuh, namun ia menahannya. Ia merasa iri pada wanita yang melahirkan Jorden. Mengapa Jaydane diberikan berkat seindah ini, sementara bayinya sendiri harus mati di tanah asing?
"JORDEN!"
Suara bariton yang berat dan dingin membelah udara. Jaydane muncul dari balik pepohonan dengan langkah lebar, wajahnya tampak murka melihat siapa yang sedang menyentuh putranya.
Jaydane segera menarik Jorden ke belakang tubuh kekarnya, menjauhkan bocah itu dari Flaire seolah Flaire adalah wabah penyakit.
"Sudah kukatakan, jangan berani mendekati putraku!" desis Jaydane tajam.
"Jay, aku tidak sengaja.."
"Pergi dari sini, Flaire! Sebelum aku melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal telah kembali ke negara ini," potong Jaydane tanpa ampun. Ia menggendong Jorden dan pergi tanpa menoleh lagi.