NovelToon NovelToon
Frosen King OF Calestial

Frosen King OF Calestial

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Raja Ilusi

Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8:Sungai Yang Berbahaya Dan Kekuatan Yang Baru

Matahari pagi bersinar lembut di antara dedaunan pohon yang lebat, menciptakan pola-pola cahaya yang menari-nari di tanah hutan. Lira dan Kaelen bangun pagi-pagi sekali, siap untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju Gunung Hitam. Setelah sarapan sederhana dengan roti kering dan air yang mereka bawa, mereka mengemasi barang-barang mereka dan segera berangkat.

Mereka mengikuti peta yang diberikan oleh wanita peramal itu dengan cermat. Peta itu menunjukkan bahwa untuk mencapai Gunung Hitam, mereka harus melewati sebuah sungai besar yang bernama Sungai Kegelapan. Sungai itu terkenal karena arusnya yang sangat deras dan berbahaya, dan juga karena banyaknya monster air yang hidup di dalamnya. Namun, itu adalah satu-satunya jalan yang bisa mereka tempuh untuk sampai ke tujuan mereka dalam waktu yang singkat.

Setelah berjalan selama beberapa jam, mereka akhirnya mendengar suara gemuruh air yang keras dari kejauhan. Suara itu semakin keras seiring mereka berjalan maju, dan akhirnya, mereka sampai di tepi Sungai Kegelapan.

Lira tertegun melihat pemandangan di depannya. Sungai itu sangat lebar, dan airnya berwarna hitam pekat, seolah-olah tidak ada cahaya yang bisa menembusnya. Arusnya sangat deras, dan airnya berputar-putar dengan ganas, menciptakan ombak-ombak besar yang menabrak bebatuan di tepi sungai. Di atas sungai, tidak ada jembatan yang bisa digunakan untuk menyeberang. Tampaknya, menyeberangi sungai ini adalah tugas yang hampir mustahil.

"Ini adalah Sungai Kegelapan," kata Kaelen, suaranya serius sambil menatap air sungai yang ganas itu. "Seperti yang dikatakan oleh wanita peramal itu, sungai ini sangat berbahaya. Arusnya terlalu deras untuk diarungi dengan perahu, dan airnya terlalu dalam untuk dijalani dengan berjalan kaki."

Lira merasa cemas. "Lalu bagaimana kita bisa menyeberanginya, Yang Mulia? Apakah ada jalan lain?"

Kaelen menggeleng. "Menurut peta ini, tidak ada jalan lain. Kita harus menyeberangi sungai ini jika kita ingin sampai ke Gunung Hitam. Tapi jangan khawatir, kita akan menemukan cara. Kita memiliki kekuatan es, dan kita bisa menggunakannya untuk menyeberangi sungai ini."

Lira menatap Kaelen dengan heran. "Bagaimana caranya, Yang Mulia?"

"Kita bisa membekukan air sungai ini," jawab Kaelen. "Kita bisa menciptakan sebuah jembatan es yang menghubungkan kedua tepi sungai. Tapi itu tidak akan mudah. Arus sungai ini sangat kuat, dan akan sulit untuk membekukannya. Kita harus bekerja sama, dan kita harus fokus sepenuhnya."

Lira mengangguk dengan tegas. "Baiklah, Yang Mulia. Saya siap membantu Anda. Kita akan melakukannya bersama-sama."

Mereka berdua berdiri di tepi sungai, menghadap air yang ganas itu. Kaelen mengangkat tangannya, dan cahaya biru mulai bersinar dari telapak tangannya. Lira juga mengangkat tangannya, dan cahaya biru yang sama mulai bersinar dari telapak tangannya. Mereka saling menatap, dan dengan satu gerakan serentak, mereka mengarahkan kekuatan mereka ke arah air sungai.

Saat kekuatan es mereka menyentuh air sungai, permukaan air itu mulai membeku. Namun, arus sungai yang sangat kuat segera mencoba untuk memecahkan es itu. Es itu retak di beberapa tempat, dan air sungai kembali mengalir keluar.

"Jangan berhenti!" teriak Kaelen. "Kita harus lebih kuat! Fokus, Lira! Fokus!"

Lira mengerahkan semua kekuatannya. Dia memikirkan tentang orang-orang yang sedang menderita, tentang dunia yang perlu diselamatkan, dan tentang Kaelen yang ada di sisinya. Semakin dia berpikir tentang hal-hal itu, semakin kuat kekuatan es yang keluar dari tubuhnya. Cahaya biru di telapak tangannya semakin terang, dan es yang terbentuk di permukaan sungai semakin tebal dan kuat.

Kaelen juga mengerahkan semua kekuatannya. Dia menggabungkan kekuatannya dengan kekuatan Lira, dan bersama-sama, mereka menciptakan sebuah lapisan es yang tebal dan kuat yang menutupi seluruh permukaan sungai. Arus sungai yang ganas mencoba untuk memecahkan es itu, tapi kali ini, es itu cukup kuat untuk menahannya.

Akhirnya, setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, sebuah jembatan es yang lebar dan kuat terbentuk di atas Sungai Kegelapan, menghubungkan kedua tepi sungai.

Kaelen dan Lira menurunkan tangan mereka, napas mereka terengah-engah dan tubuh mereka lelah. Tapi mereka tersenyum bahagia. Mereka berhasil. Mereka berhasil menciptakan jembatan es itu.

"Kamu melakukannya dengan sangat baik, Lira," kata Kaelen, tersenyum bangga. "Kamu memiliki kekuatan yang sangat besar. Saya bangga padamu."

Lira tersenyum, wajahnya memerah karena pujian Kaelen. "Terima kasih, Yang Mulia. Itu semua karena kita bekerja sama. Tanpa Anda, saya tidak akan bisa melakukannya."

Mereka beristirahat sejenak di tepi sungai untuk memulihkan tenaga mereka. Setelah merasa cukup kuat, mereka mulai menyeberangi jembatan es itu. Jembatan itu terasa licin, tapi cukup kuat untuk menahan berat badan mereka. Mereka berjalan dengan hati-hati, memegang satu sama lain untuk menjaga keseimbangan.

Namun, saat mereka berada di tengah sungai, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Tiba-tiba, permukaan es di bawah kaki mereka retak. Dari celah-celah retakan itu, muncul makhluk-makhluk aneh yang menyeramkan. Makhluk-makhluk itu memiliki tubuh yang panjang dan licin, dengan kulit yang berwarna hitam pekat dan mata yang merah menyala. Mereka memiliki gigi-gigi yang tajam dan cakar-cakar yang kuat. Itu adalah monster air yang tinggal di Sungai Kegelapan.

"Awasi dirimu!" teriak Kaelen, mengeluarkan pedang esnya. "Monster air ini tidak suka ada orang yang menyeberangi sungai mereka."

Lira juga mengeluarkan pedang esnya, siap untuk bertarung. Monster-monster itu melompat keluar dari air dan menyerang mereka dengan ganas. Kaelen dan Lira bertarung dengan sekuat tenaga. Kaelen menggunakan kekuatannya untuk membekukan monster-monster itu, sementara Lira menggunakan pedangnya untuk memotong mereka.

Namun, jumlah monster itu sangat banyak. Mereka terus datang tanpa henti, seolah-olah tidak ada habisnya. Kaelen dan Lira mulai terdesak. Mereka lelah, dan kekuatan mereka mulai menipis.

Salah satu monster itu melompat ke arah Lira, siap untuk menggigitnya. Lira tidak sempat menghindar. Dia menutup matanya, siap untuk menerima serangan itu. Tapi tiba-tiba, dia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Sebuah kekuatan yang besar dan hangat tiba-tiba meledak keluar dari tubuhnya.

Lira membuka matanya, dan dia terkejut melihat bahwa cahaya biru yang keluar dari tubuhnya sekarang bercampur dengan cahaya emas yang hangat. Cahaya itu sangat terang, dan monster-monster di sekitarnya menjerit kesakitan dan mundur, seolah-olah mereka tidak tahan dengan cahaya itu.

Kaelen juga terkejut melihat apa yang terjadi. "Lira! Apa yang terjadi? Kekuatanmu berubah!"

Lira tidak tahu apa yang terjadi. Dia hanya merasakan kekuatan yang besar mengalir melalui tubuhnya, kekuatan yang membuatnya merasa sekuat baja. Dia mengangkat tangannya, dan sebuah gelombang es yang bercampur dengan cahaya emas meluncur keluar dari telapak tangannya, menghantam monster-monster itu. Monster-monster itu membeku seketika, dan kemudian hancur menjadi potongan-potongan kecil.

Monster-monster lainnya melihat itu, dan mereka merasa takut. Mereka berteriak ketakutan dan melompat kembali ke dalam sungai, menghilang di dalam air hitam pekat itu.

Kaelen dan Lira berdiri diam di tengah jembatan es itu, napas mereka terengah-engah. Mereka terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.

"Lira," kata Kaelen, berjalan mendekati Lira dan menatap matanya dengan heran dan kagum. "Apa yang baru saja terjadi? Kekuatanmu... itu berbeda. Itu lebih kuat dari sebelumnya. Dan ada cahaya emas di dalamnya."

Lira menggeleng, masih bingung. "Saya tidak tahu, Yang Mulia. Saya hanya merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya saat monster itu akan menyerang saya. Sebuah kekuatan yang besar tiba-tiba keluar dari tubuh saya. Saya tidak tahu dari mana asalnya."

Kaelen terdiam sejenak, memikirkan tentang apa yang terjadi. "Mungkin itu adalah kekuatan tersembunyi yang ada di dalam dirimu, Lira. Mungkin karena kamu adalah keturunan dari Raja Arion, kamu memiliki kekuatan yang lebih besar dari yang kita pikirkan. Dan mungkin, cahaya emas itu adalah tanda dari kekuatan suci yang ada di dalam darah Kerajaan Celestial—kekuatan yang bisa melawan kegelapan."

Lira menatap tangannya, yang masih bersinar lembut dengan cahaya biru dan emas. "Apakah itu baik, Yang Mulia?"

"Tentu saja itu baik," kata Kaelen, tersenyum. "Itu berarti kamu memiliki kekuatan yang besar, kekuatan yang bisa membantu kita melawan Malakar dan kekuatan gelapnya. Kamu bukan hanya seorang penyihir es biasa, Lira. Kamu adalah seseorang yang istimewa."

Lira tersenyum, merasa bangga dan berterima kasih. Dia tidak tahu bahwa dia memiliki kekuatan sebesar itu. Tapi dia tahu bahwa kekuatan itu akan sangat berguna bagi mereka dalam perjalanan mereka selanjutnya.

Mereka melanjutkan perjalanan mereka menyeberangi jembatan es itu. Kali ini, tidak ada monster yang berani menyerang mereka. Mereka sampai di tepi sungai yang lain dengan selamat. Saat mereka melangkah turun dari jembatan es itu, mereka melihat bahwa es itu mulai mencair perlahan-lahan, kembali menjadi air sungai yang ganas. Jembatan itu hilang, seolah-olah tidak pernah ada.

Kaelen dan Lira saling menatap dan tersenyum. Mereka berhasil menyeberangi Sungai Kegelapan. Mereka melewati satu lagi rintangan besar dalam perjalanan mereka.

Mereka beristirahat sejenak di tepi sungai, memulihkan tenaga mereka dan memikirkan tentang apa yang terjadi. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang dan penuh dengan bahaya, tapi mereka juga tahu bahwa mereka semakin kuat. Mereka memiliki kekuatan yang besar di dalam diri mereka, dan mereka memiliki satu sama lain.

"Kita harus terus maju," kata Kaelen, berdiri dan menatap ke arah hutan yang ada di depan mereka. "Gunung Hitam tidak jauh dari sini. Kita harus segera sampai di sana sebelum Malakar melancarkan serangannya."

Lira mengangguk, berdiri di samping Kaelen. "Ya, Yang Mulia. Mari kita pergi."

Mereka melanjutkan perjalanan mereka, memasuki hutan yang ada di seberang sungai. Hutan ini berbeda dengan hutan yang mereka lewati sebelumnya. Pohon-pohon di sini lebih tinggi dan lebih besar, dan udaranya terasa lebih berat dan lebih gelap. Tapi mereka tidak takut.

Angin berhembus di antara pohon-pohon, membawa suara alam yang aneh, tapi di dalam hati mereka, ada ketenangan dan keyakinan yang kuat.

1
Ridwani
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!