Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Satu bulan telah berlalu, namun bagi Regas, waktu seolah berhenti di lantai apartemen yang dingin itu. Penampilannya tak lagi rapi; kemeja mahalnya seringkali kusut, dan sorot matanya yang dulu tajam kini meredup oleh kantung mata yang menghitam.
Regas duduk di meja kerjanya yang luas di kantor pusat Adhitama Group, namun pikirannya berada ratusan kilometer jauhnya. Di hadapannya, setumpuk dokumen audit dan proyek pembangunan pelabuhan baru hanya menjadi pajangan. Ia terus-menerus memutar rekaman CCTV dari area apartemen yang berhasil didapatkan Abimana—melihat siluet Lia masuk ke dalam taksi yang tidak memiliki nomor lambung yang jelas.
"Dia sengaja, Bi. Dia tahu aku akan mencarinya lewat jalur udara," gumam Regas parau saat Abimana masuk ke ruangannya.
Abimana meletakkan segelas kopi hitam di meja. "Gas, kamu harus pulang. Elena meneleponku lima kali tadi pagi. Dia bilang tekanan darahnya naik dan dia butuh kamu di sana untuk pemeriksaan kehamilan."
Regas tertawa getir, tawa yang terdengar sangat kering. "Pulang? Ke rumah yang terasa seperti kuburan itu? Ke wanita yang sudah menghancurkan satu-satunya hal berharga dalam hidupku?"
"Tapi bayi itu, Gas..."
"Aku tahu! Aku tahu soal bayi itu!" bentak Regas, emosinya meledak seketika hingga ia menyapu semua berkas di mejanya ke lantai. "Aku akan memberikan hartaku, namaku, bahkan nyawaku untuk bayi itu. Tapi jangan paksa aku memberikan hatiku yang sudah dibawa pergi oleh Lia!"
Regas berdiri, berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap gedung-gedung Jakarta. "Aku merasa seperti pengecut, Bi. Aku punya segalanya—teknologi, uang, kekuasaan—tapi aku tidak bisa menemukan satu orang wanita yang membawa satu koper kecil. Bagaimana bisa dia menghilang seolah-olah dia memang hanya sebuah puisi yang pernah kubaca lalu kututup bukunya?"
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Nyonya Adhitama masuk dengan langkah angkuh, mengabaikan tatapan tajam putranya.
"Hentikan kegilaan ini, Regas. Berhenti mencari wanita itu. Dia sudah pergi karena dia sadar dia tidak punya tempat di sini," ujar ibunya tanpa rasa bersalah. "Fokuslah pada Elena. Bulan depan adalah acara tujuh bulanan, dan kita harus mengadakan pesta besar untuk menunjukkan pada publik bahwa keluarga kita baik-baik saja."
Regas berbalik, menatap ibunya dengan kebencian yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi. "Pesta? Anda ingin merayakan penderitaan saya? Silakan adakan pesta itu sendiri, Nyonya Besar. Karena mulai detik ini, saya tidak akan menginjakkan kaki di rumah itu lagi sampai bayi itu lahir."
Regas menyambar kunci mobilnya, meninggalkan ibunya yang berteriak memanggil namanya. Ia tidak tahu harus ke mana, namun kakinya membawa ia kembali ke rumah tua di pinggiran kota—satu-satunya tempat di mana aroma Lia seolah masih tertinggal di debu-debu sofa.
Ia tidak sadar, bahwa di dalam tas kerja yang ia tinggalkan di kantor, terdapat sebuah surat kaleng yang dikirimkan seseorang dari Bali, berisi sebuah foto pameran sastra anak pesisir yang menampilkan tulisan tangan yang sangat ia kenal.
Ratusan kilometer dari hiruk-pikuk Jakarta, aroma polusi berganti dengan wangi garam laut yang segar. Di sebuah desa pesisir di Bali Utara, Azzalia melangkah keluar dari gubuk bambu kecilnya yang menghadap langsung ke Samudra Hindia.
Ia tidak lagi mengenakan blazer kaku atau sepatu hak tinggi. Kini, Lia lebih sering memakai kain sarung khas Bali dan kaos santai, dengan rambut yang dibiarkan tergerai tertiup angin laut. Di sini, ia bukan lagi "Azzalia si sarjana sastra terbaik" yang menjadi sasaran kemarahan keluarga konglomerat. Di sini, ia hanya "Ibu Lia", seorang guru sukarelawan bagi anak-anak nelayan.
"Ibu Lia! Lihat, aku sudah menyelesaikan sajak tentang lumba-lumba!" seru seorang anak lelaki kecil bernama Putu, berlari ke arahnya sambil membawa selembar kertas kusam.
Lia berlutut di atas pasir putih, membaca barisan kata sederhana yang ditulis Putu dengan penuh semangat. Senyum tulus—yang sempat hilang selama berbulan-bulan—akhirnya terbit di wajahnya.
"Bagus sekali, Putu. Kata-katamu mengalir seperti ombak," puji Lia lembut.
Setiap sore, Lia membuka "Rumah Sastra Pesisir"—sebuah sekolah kecil yang ia bangun dari sisa tabungannya. Ia mengajar anak-anak itu membaca, menulis, dan berani bermimpi melampaui garis cakrawala. Sastra telah menyelamatkannya dari kegelapan di London, dan kini ia ingin sastra melakukan hal yang sama untuk anak-anak ini.
Namun, di saat malam tiba dan suara ombak menjadi satu-satunya teman, pikiran Lia tetap tak bisa sepenuhnya lepas dari Jakarta. Ia sering berdiri di pinggir pantai, menatap bulan yang sama dengan yang dilihat Regas.
Apa Ghea merindukanku? Apa bayi itu sudah lahir?
Lia menarik napas panjang, mengusir rasa sesak yang mencoba merayap kembali. Ia sengaja tidak membeli televisi dan membuang semua akses media sosialnya. Ia ingin benar-benar menghilang, menjadi butiran pasir yang tak terlacak oleh radar keluarga Adhitama.
Suatu sore, saat Lia sedang membantu anak-anak menempelkan karya mereka di papan pengumuman desa, seorang turis asing memotret kegiatan mereka. Lia hanya tersenyum tipis, tak menyadari bahwa foto itu—yang memperlihatkan profil samping wajahnya dan tulisan tangannya yang khas di latar belakang—akan menjadi awal dari berakhirnya ketenangannya.
"Ibu Lia, ada tamu di kedai depan. Katanya mencari guru yang mengajar sajak," ujar Pak Wayan, kepala desa setempat.
Jantung Lia berdegup kencang. Ia tahu, rasa aman ini mungkin hanya pinjaman dari semesta.