NovelToon NovelToon
Garis Khatulistiwa

Garis Khatulistiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Kisah cinta masa kecil
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Saputra 0416

Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.

Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.

Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.

Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.

novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10. Malu untuk mengakui

Happy Reading

Waktu berjalan dengan cepat, mentari masih malu-malu untuk menampakkan diri dan memperlihatkan cahayanya yang indah. Atau sepertinya, tidak akan ada matahari untuk hari ini.

Langit pagi yang harusnya penuh dengan kehangatan, kali ini sangat dingin dan gelap. Namun, itu tak menyurutkan semangat Aily untuk pergi ke sekolah.

Seperti biasanya, Aily dengan santai sedang menunggu kedatangan bus sekolah di depan rumahnya.

Tiba-tiba saja, sosok pria yang selalu datang tak diundang muncul dihadapannya.

Dia membawa motor besar bewarna merah lengkap dengan seragam sekolahnya yang diselimuti oleh jaket hitamnya.

"Erza. Ada apa?" Tanya Aily bingung.

Alderza membuka helm, lalu menatap Aily dengan tatapan tajam. Tapi, sepertinya Aily tidak takut dengan tatapan itu kali ini. Dia malah tersenyum kecil pada cowok itu.

"What? Lo panggil gue apa tadi?" Tanya Alderza berusaha memastikan.

"Erza!" Aily mengulanginya lagi.

"Lo pikir gue ini cewek apa!"

"Oke. Oke. Alderza, mau ngapain pagi-pagi gini?" Aily mengulangi dengan tegas.

Alderza tidak mengucapkan apa pun. Dia langsung memberikan helmnya kepada Aily.

"Gue ngerasa gak enak sama lo soal semalem, sama soal dulu-dulu juga." Aily masih terdiam mendengar ucapan Alderza.

"Woy!"

Alderza membentak Aily saat cewek itu terdiam seribu bahasa. Bukannya diam, Aily saat ini hanya menunggu Alderza mengajaknya, bukan basa-basi seperti itu.

"Jadi?"

"Eh, gue mau tanggung jawab. Buruan, tangan gue pegel nih!"

Aily tersenyum kecil seraya menggelengkan kepalanya. Sepertinya, Alderza memang tidak berbakat untuk menunjukkan caranya memohon, mengajak, dan meminta tolong pada seseorang.

"Iya. Iya. Aku mau kok dianterin sama kamu!" Aily menerima helm tersebut.

"Eh, siapa juga yang mau nganterin lo. Gue cuman kasian liat lo diem dipinggir jalan!"

"Oke, makasih udah mau nganterin aku."

Aily memakai helm tersebut, sementara Alderza terdiam dengan sumpah serapah di dalam hatinya. Beberapa detik kemudian, Alderza menjalankan motornya menuju sekolah sebelum hujan lebat.

Di dalam perjalanan, hanya ada keheningan. Baik Aily maupun Alderza tidak ada satupun diantara mereka yang mau memulai pembicaraan terlebih dahulu.

Aily merunduk. Dia perlahan membuka jaket ungu nya, lalu menutup helm sehingga menutupi wajahnya yang cantik.

Bukan, Aily berniat menutup wajahnya bukan karena ingin terlindung dari angin kencang. Tapi Aily tidak ingin ada yang melihat Alderza tengah bersamanya.

Sepertinya dia tahu diri, siapa Aily dan siapa Alderza. Jika ada seseorang yang melihat mereka, pasti akan membuat satu sekolah heboh.

"Lo kenapa buka jaket? Dingin tau."

Ana hanya diam tak menjawab. Karena, jika dia memakai jaket ungu, semua orang akan tahu bahwa Alderza sedang bersamanya.

"Gak papa kok."

Alderza menatap Aily melalui kaca spion. Dia menyadari kegelisahan cewek itu. Ada apa dengannya?

"Emm... Alderza, mendingan aku turun di sini aja deh."

"Lo kenapa sih?" Tanya Alderza heran.

"Gak papa kok."

Alderza menghela napas kesal. Dia benar-benar frustrasi menghadapi cewe yang ada di belakangnya ini, yang tida mau mengakui apa yang dia rasakan dan apa yang sedang mengganjal di hatinya saat ini. Menyebalkan.

"Stop!" Teriak Aily sambil menepuk bahu Alderza sampai membuatnya kaget.

"Heh, lo kenapa? Bilang sama gue!"

Aily menggeleng, lalu mengembalikan helm yang dia pakai kepada Alderza. Perlahan, Aily turun dari motor dengan susah payah.

"Mendingan kamu diem di sini. Tunggu sampe aku pergi jauh."

"Lo merintah gue?" Tanya Alderza kesal.

Tidak Alderza sangka ternyata mood cewek ini sangat mudah berubah. Terkadang dia baik, selalu tersenyum. Terkadang dia marah dan terkesan seperti sedang menutupi sesuatu.

Tanpa menghiraukan kata-kata Alderza, Aily langsung lari secepat mungkin.

Napasnya tersengal-sengal sampai membuatnya berhenti tepat di depan gerbang. Aily beristirahat sejenak di salah tempat duduk yang tak jauh dari gerbang.

Aily bahkan sampai tidak memedulikan kakinya yang bengkak. Meskipun sakit, tetap harus dia tahan.

"Nanti juga sembuh."

Saat dia membuka tasnya untuk mencari seteguk air. Aily menyadari bahwa dirinya lupa membawa air minum. Aily mendengus kesal seraya menutup tasnya dengan cepat.

Saat itu juga, satu botol minuman diberikan untuknya. Bukan. Bukan dari Alderza, siapa lagi kalau bukan dari Wulan.

"Capek, ya?" Tanya Wulan.

Aily mengangguk, lalu tersenyum dan kemudian meneguk air yang diberikan oleh Wulan.

"Makasih."

Wulan mengangguk, lalu menarik Aily dengan tergesa-gesa menuju kelas.

"Ada apa? Kok tarik-tarik aku kayak gini?"

"Em, gini. Aku boleh minta tolong gak?" Tanya Wulan setengah berbisik dengan nada memohon.

"Kenapa? Bilang aja."

"Kamu sahabat aku, kan. Pasti kalau sesama Sahabat mau saling tolong, kan?" Tanya Wulan.

Aily mengerutkan keningnya bingung.

"Tolong buka iketan rambut kamu dong, tangan aku udah gatel pengen rapihin."

Aily tersenyum, dia pikir Wulan mau melihat tugasnya atau apa, ternyata ingin merapikan penampilannya lagi.

"Plisss.... " Rengek Wulan.

"Tapi-"

"Gak usah takut. Ada gue yang bakal lindungin lo."

Aily menelan salivanya dengan ragu.

"Oke."

Dengan semangat, Wulan merapikan rambut Aily seperti kemarin, sampai membuatnya terlihat begitu berbeda di mata orang lain.

Setelah 30 menit berlalu, waktu belajar pun dimulai. Bel berbunyi bersamaan dengan masuknya genk Alderza ke dalam kelas.

Aily mengalihkan pandangannya dari Alderza, seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Seperti Aily yang selalu takut pada Alderza yang membully nya.

Untunglah Bu Asih masuk kelas tepat waktu, sehingga tak ada waktu bagi genk Alderza untuk mengganggu Aily.

"Oke, sebelum pelajaran ibu dimulai, ibu-" Ucapan bu Asih terhenti saat melihat Alderza yang tiba-tiba saja maju ke depan.

Tanpa ragu dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Alderza maju dengan tangan kosong. Tidak ada buku sama sekali atau sontekan rumus di tangannya.

Alderxa langsung menuliskan soal. Dia bahkan menyelesaikan soal matematika tersebut dengan mudah.

"Gini kan bu? Benerkan?"

Bu Asih mengedipkan matanya beberapa kali sembari menatap ke arah Alderza tidak percaya. Kerasukan apa cowok itu sampai-sampai bisa mengerjakan sampai bisa mengerjakan soal yang sulit?

"Coba kerjakan nomor dua sampa nomor lima." Pinta Bu Asih.

Tak butuh waktu lama, Alderza berhasil mengerjakan soal tersebut dengan tuntas dan tanpa kesalahan sedikit pun.

Bu Asih tersenyum puas, bukan karena Alderza berhasil atau tidak mengerjakan soal, melainkan kemauan siswanya itu untuk berubah lah yang dia hargai.

"Siapa yang udah ngajarin kamu sampa lancar kayak gini?" Tanya bu Asih.

Alderza menatap Aily dengan lekat. Namun sepersekian detik kemudian, dia langsung mengalihkan pandangannya.

"Emm, ya belajar sendiri lah bu lewat YouTube. Saya kan gak mau di hukum terus menerus."

Alderza sama sekali tidak berani menatap Aily. Dia malah tersenyum puas sambil menatap teman-temannya di bangku belakang yang mengacungkan jempol kepadanya.

"Oke, kita coba lagi minggu depan, ya?"

***

Setelah jam pelajaran selesai, Wulan langsung dijemput oleh papanya di kelas. Tapi Wulan ragu, dia ingin d sini untuk melindungi Aily sampai melihatnya pulang dengan aman.

Tapi, Aily tersenyum dan kemudian dengan lembut ia berkata.

"Pulang aja, gak usah khawatir kayak gitu. Kasihan loh Papa kamu nungguin."

Wulan menatap kesal pada Aily. Sahabatnya itu selalu berhasil membaca kekhawatirannya.

"Pulang. Aku gak papa."

"Kamu langsung pulang ya. Kalau mereka ada macem-macem, langsung telepon aku."

"Iya."

Dengan berat hati, Wulan meninggalkan Aily sembari menatap sinis genk Alderza yang sedang tertawa di bangku belakang.

"Heh bocah kampung! Buruan beresin nih kelas. Malah bengong!" Bentak Sinta saat melihat Wulan sudah pergi.

Aily mengepalkan tangannya. Dia harus berani melawan, harus! Tiba-tiba saja, Sinta datang lalu mendorong Aily sampai punggungnya membentur tembok.

"Lo budek apa gimana?" Hal itu membuat Aily meringis kesakitan.

"Woi Sinta! Lo kenapa sih sama si Aily? Sensi banget bawaannya. Apalagi sampe main kasar kek gini, gue gak suka ya!" Bintang menatap Sinta kesal sembari menghampiri Aily.

Entahlah, saat melihat penampilannya diubah oleh Wulan, Bintang melihat Aily dengan tatapan yang berbeda. Cantik, hanya itu yang ada dipikirannya.

"Lo ngapain sih belain dia mulu, Tang?" Balas Riska sembari menggandeng tangan Bintang dengan kesal.

Riska tidak terima. Meskipun Bintang mata keranjang, tetapi Riska tahu bahwa Bintang sangat menyukainya sampai apa pun yang dia katakan selalu dituruti Bintang.

"Gue juga bisa kasarin kalian kalo perlu!"

"Oh, jadi gara-gara didandanin sama si Wulan, lo jadi milih dia dibandingkan gue?" Tanya Riska yang membuat Bintang menyerah.

"Aily." Panggil Bintang sambil menatapnya pilu.

Tatapan Bintang itu seolah meminta Aily agar bisa melawan mereka. Tapi, seperti biasanya, Aily hanya tersenyum manis.

"Aku gak papa Bintang."

"Apaan sih lo! Caper banget! Bintang ayo!" Ucap Riska.

"Aily, gue gak mau lo diem terus!" Tuntut Bintang.

"Pergi aja, aku gak papa. Makasih Bintang."

"Udah ah Bintang, ayo keluar!" Riska menyeret Bintang sampai keluar kelas.

Di kelas, hanya tersisa Rafa, Sinta, dan juga Alderza. Sinta tersenyum penuh kemenangan. Kemudian, dia mengeluarkan botol air ari dalam tas, lalu menyiramkannya tepat di muka Aily.

"Lo bakalan lebih cantik kalau basah kuyup gini!" Ucap Sinta.

Rafa tertawa melihat itu semua. Tidak ada kebahagian di sekolah ini jika tidak membully Aily sehabis jam pelajaran.

"Nah, kalau kayak gini kan bagus!"

"Pulang yuk!" Ajak Rafa kepada Sinta.

"Jangan lupa beresin kelasnya! Beresin kacang-kacangnya, jangan sampai enggak!" Lanjut Sinta sembari keluar kelas bersama Rafa dan Alderxa.

Aily menatap Alderza dalam diam. Memang benar dugaannya, Alderza memang malu mengakui kalau dia sudah meminta maaf kepadanya. Alderza malu mengakui kalau dia sudah meminta bantuan kepadanya.

Tindakannya untuk turun dari motor Alderza terlebih dahulu lebih baik daripada Alderza yang memintanya turun. Mungkin rasanya akan lebih menyakitkan bila dibandingkan dengan yang dia alami sekarang.

Mata Aily memerah. Ia tidak menangis, hanya saja matanya terasa perih seperti ada yang tertahan dan ingin keluar.

Begitu menyesakkan dada, sampai tarikan napasnya terasa berat.

"Iya, kalian pulang aja. Biar aku yang beresin kelas." Ucap Aily sembari menyeka air yang membasahi wajahnya.

Alderza menatap Aily dari belakang, tetapi Aily sama sekali tidak menatapnya. Kali ini, kesabaran Aily sudah habis. Dia hanya fokus mengangkat bangku dan membersihkan kelas.

Alderza benar-benar merasa tidak enak pada Aily. Entah apa yang membuat perasaannya sedikit ragu.

Jika dipikir baik-baik, apa yang Aily lakukan kepadanya sampai dia bisa membenci Aily sejauh ini? Tidak ada kan.

Aily bahkan selalu tersenyum di saat semua orang membencinya, menyakitinya, menghinanya, mengoyak perasaannya. Bahkan dia selalu berkata 'aku nggak apa-apa' meskipun Alderza tahu hatinya tergores sangat dalam.

Alderza sangat sulit mengakuinya, tetapi cewek itu benar-benar baik dan tulus.

"Alderza, kami mau ke bar malam ini. Lo ikut ya! Mereka baru aja sewa penyanyi bar yang bagus."

"Emm... Liat nanti deh."

"Lo ngapain sih, nengok belakang mulu?" Tanya Sinta lagi.

Sinta kemudian melingkarkan tangannya pada Alderza. Sinta menggandengnya seolah Alderza hanya miliknya seorang.

"Gue cuman mau mastiin cewek itu beneran beresin kelas."

"Udah, santai aja. Lagian tiap hari dia piket."

Dari balik jendela, Aily dapa melihat itu dan tidak tersenyum sama sekali. Hal ini begitu berbeda dari sebelumnya, Aily memutar bola matanya dengan lancang sampai membuat Alderza begitu tidak percaya.

Dengan kakinya yang pincang, Aily berusaha dengan baik membersihkan kelas. Hal itu terus mengganggu pikiran Alserza.

Terutama saat sorot matanya memerah. Ada perasaan hancur dalam hati kecilnya yang menyadari bahwa dirinya sudah benar-benar jahat.

"Apa Aily marah ya sama gue?" Tanya Alderza dalam hati.

Thank you yang udah baca. Tolong dikoreksi ya kalo ada kesalahan kata, typo, atau kata yang kurang tepat. Love you guys.

1
ros 🍂
semangat thor💪 ijin mampir
Kamado Tanjirou: makasih
total 1 replies
Nhi Nguyễn
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!