Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. peringatan Leonel
Leonel masih terpaku pada layar ponselnya. Rahangnya mengeras begitu hebat hingga otot-otot di sekitar wajahnya menonjol, menciptakan bunyi gemeretak yang mengerikan di tengah kesunyian ruang OSIS yang kini mendadak terasa mencekam. Unggahan itu, foto yang diambil dari sudut ambigu agar terlihat mesra, benar-benar menjadi pemantik api yang membakar habis sisa-sisa kesabarannya.
Ia mengangkat wajah. Tatapan Leonel tidak lagi sekadar dingin, ada kebencian murni yang terpancar dari netranya yang menggelap.
"Ini perbuatanmu?" Suara Leonel rendah, nyaris berbisik, namun getarannya sanggup membuat nyali siapa pun menciut.
Cleo tersentak, mencoba memasang wajah tak berdosa yang terlihat goyah. "El, aku tidak tahu—"
"Jangan bohong!!" bentak Leonel tiba-tiba. Suaranya menggelegar, menghantam dinding-dinding ruangan hingga Cleo terjengit mundur karena terkejut. Leonel melangkah maju, mempersempit jarak hingga Cleo terpojok, lalu menyodorkan layar ponsel tepat di depan mata gadis itu.
"Kau tahu aku tidak pernah suka ada orang yang menyebarkan foto pribadiku, apalagi foto dengan orang lain yang memicu kesalahpahaman satu sekolah! Dan ini?" Leonel mendesak dengan aura yang begitu mengintimidasi hingga Cleo tertahan napasnya karena takut. "Kenapa sampai ada rumor seolah-olah kita jadian? Kau pasti tahu sesuatu, kan?!"
"Aku sudah bilang aku tidak tahu apa-apa, El! Sungguh! Aku tidak tahu siapa yang mengambil foto itu, siapa yang menyebarkannya, bahkan siapa yang menulis takarir sampah seperti itu! Aku sama sekali tidak tahu!" jawab Cleo dengan suara gemetar, menahan tangis yang mulai pecah.
"Shit!!!" umpat Leonel sembari membuang muka, mencoba meredam amarah yang nyaris tak terbendung. "Lantas siapa, Cleo?! Siapa?!"
"Aku tidak tahu, Leonel!! Aku ke sini tadi cuma mau berterima kasih karena kemarin kamu sudah bersedia mengantarku, hanya itu!"
Brakkk!
Leonel menendang meja di dekatnya dengan kasar hingga benda itu bergeser memekakkan telinga. Ia berbalik secepat kilat, mencengkeram dagu Cleo dengan kuat, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang menyala.
"Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan cari tahu sendiri siapa yang menyebarkan semua ini. Dan kalau sampai aku tahu kau ikut campur di dalamnya..." Leonel menggantung kalimatnya dengan nada mengancam yang amat dalam. "Aku tidak akan peduli siapa kamu, Cleo! Aku tidak akan segan-segan padamu!"
Leonel melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar. "Sekarang, keluar!!"
Setelah Cleo keluar dari ruangan, Leonel kembali menjatuhkan dirinya ke kursi. Raut wajahnya masih gelap, sisa-sisa amarah yang baru saja ia tumpahkan masih bergejolak hebat di dadanya. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar ke arah belakang, napasnya memburu. Baru kali ini, setelah sekian lama menjadi sosok air yang tenang, Leonel benar-benar berubah menjadi api yang siap membakar apa pun yang menghalangi.
Ia berusaha menetralkan napasnya yang tidak beraturan, berusaha meredam detak jantung yang masih berpacu karena murka. Saat tangannya meraih ponsel untuk mencari informasi, sebuah pesan baru masuk begitu saja di layar yang menyala.
"Mataku ada di mana-mana di sekolah itu, dan hari ini kau telah membuatnya menangis, Leonel..."
Leonel menatap layar itu dengan rahang yang mengeras. Namun, kali ini ia memilih untuk mengabaikannya. Ia tidak punya waktu untuk meladeni peringatan tersebut. Prioritasnya saat ini bukan lagi soal pesan itu, melainkan membuktikan bahwa seluruh rumor yang beredar adalah omong kosong yang memuakkan.
Satu-satunya cara untuk meyakinkan Aira dan membungkam seisi sekolah adalah dengan tindakan nyata. Leonel harus menemukan dalang di balik semua ini, siapa yang memotret, siapa yang menyebarkannya, dan memastikannya lenyap dari media sosial.
.
.
.
Aira duduk di kursinya dengan sisa amarah yang masih menguap. Di depannya, Nathaniel dan Denada sudah memutar kursi ke belakang, menatap Aira dengan raut serius yang dipaksakan.
"Ayolah, Aira. Kamu tidak cocok marah-marah begitu, jelek tahu!" goda Nathaniel dengan nada bercanda. Namun, tawa itu langsung sirna saat Aira menatapnya tajam, sebuah tatapan yang menghunus seperti belati, siap menusuk siapa pun yang berani mengusik. Nathaniel refleks menelan ludah kasar.
"Ada saatnya aku serius, Nathan. Sumpah, aku tidak bercanda kali ini!" desis Aira geram. Ingatan tentang bagaimana Leonel menggendongnya ke ruang OSIS tadi justru terasa memuakkan sekarang. Sikap dominan pria itu benar-benar mengusik harga dirinya. "Apa dia pikir dia punya hak mengatur aku hanya karena aku mengejarnya?"
"Seharusnya iya," sahut Anya pelan dari kursi di samping Aira, membuat gadis itu menoleh cepat dengan mata menyipit.
"Tidak lagi, Anya. Mulai hari ini, aku berhenti mengejar cowok itu. Masih banyak cowok lain yang lebih tampan dan lebih baik di luar sana. Aku tidak mau jadi perusak hubungan orang," tegas Aira dengan nada yang terdengar final.
"Alhamdulillah..." seru ketiga temannya kompak dengan nada yang begitu santai, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundak mereka.
Aira mendengus keras. "Kalian ini kenapa? Empati sedikit kenapa!"
"Ya, kami hanya bersyukur kamu akhirnya mengambil keputusan bijak," jawab Anya kalem. "Menghancurkan hubungan orang lain itu perbuatan buruk, dan keputusan kamu untuk mundur adalah hal paling waras yang pernah kamu lakukan."
Aira terdiam sejenak. Namun, sedetik kemudian, sebuah senyum miring, yang justru terlihat berbahaya terbit di sudut bibirnya. Tatapan matanya berubah, tidak lagi penuh kekecewaan, tapi penuh kelicikan.
"Sudahlah, aku berubah pikiran," gumamnya pelan. "Aku tidak jadi berhenti. Enak saja aku sakit hati sendirian sementara mereka bahagia? Tidak akan."
Ketiga temannya membelalak. "Apa maksudmu?"
"Kira-kira, apa yang harus aku lakukan agar mereka tidak bisa bersama ya?" Aira mengetuk-ngetuk dagunya, lalu menatap teman-temannya dengan polos yang dibuat-buat. "Bagaimana kalau aku buat Leonel hamil saja?"
"ASTAGHFIRULLAH!!" seru ketiga temannya serempak, membuat beberapa pasang mata di kelas menoleh ke arah mereka.
"Terus aku harus bagaimana dong? Kalian ada saran lain, tidak?" tanya Aira, kali ini suaranya tidak lagi meledak-ledak, melainkan terdengar frustrasi.
Mereka semua terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing sebelum Denada berdeham pelan. "Tapi, aku benar-benar tidak yakin postingan yang beredar itu nyata. Menurutku, tidak mungkin Leonel suka sama Cleo," ujar gadis itu dengan nada tegas.
Nathaniel, Anya, dan Aira serentak menatap Denada dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa tidak yakin? Kamu lihat sendiri dia memakaikan Cleo helm, mereka pulang bareng, Cleo memeluknya di atas motor! Kalau bukan pacaran, apa namanya?" tanya Anya panjang lebar, sebelum suaranya perlahan melemah di akhir kalimat. "Perasaan selama ini Leonel bahkan tidak pernah terlihat begitu dekat dengan siapa pun, kecuali... saat Aira membuat onar yang malu-maluin sih." Anya menggigit bibir bawahnya, menatap Aira dengan senyum kikuk yang dipaksakan.
Aira membalasnya dengan tatapan setajam silet, membuat Anya langsung membuang muka.
"Hm, tapi bisa jadi dia punya alasan kenapa bisa mengantar Cleo pulang," balas Denada lagi, kali ini dengan kilatan keyakinan di matanya. "Aku sangat yakin akan hal itu. Dan setelah kupikir-pikir, sepertinya aku malah berpikir Leonel menyukai Aira."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...