Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.
Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.
Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Ritual
Ruang itu tidak memiliki arah.
Aula dimensi gelap itu tidak memiliki arah. Tidak ada atas atau bawah—hanya ruang yang terbentang luas , terasa menekan seperti berada di dasar samudra. Lingkaran simbol merah gelap di lantai memantulkan cahaya seperti darah yang hidup.
Beberapa sosok berjubah hitam berdiri mengelilinginya. Dengan aura gelap yang mengitari mereka masing-masing seperti asap kabut.
Mereka tampak seperti manusia—, postur tegak, wajah tanpa ekspresi. Namun mata mereka kosong. Tidak ada denyut kehidupan manusia disana. Hanya kehendak dingin yang terasah oleh waktu panjang.
Suara pertama memecah keheningan.
“Sisa waktu kalian dua puluh hari lagi. ”
Tidak perlu penjelasan. Semua yang hadir disana sudah paham hitungan itu.
“Di malam bulan purnama ,” lanjutnya, nada datar namun sarat tekanan, “ritual ini harus berlangsung sempurna. Tidak ada penundaan.”
Salah satu sosok menyilangkan tangan.
“Sejauh ini sudah berjalan sampai dimana?”
“Tujuh puluh persen terpenuhi. Sisanya dalam proses.”
“Keterlambatan tidak bisa ditoleransi.”
“Tidak akan ada keterlambatan.”
Keheningan kembali turun. Namun kali ini terasa lebih tegang.
Seseorang yang berdiri agak terpisah akhirnya berbicara.
“…Ada variabel yang mengganggu sebelumnya.”
Semua kepala menoleh.
“Gangguan?” tanya satu suara dengan nada jengkel.
“Belum bisa dipastikan.”
“Jelaskan.”
Sosok itu mengangkat wajah perlahan. Matanya berkilat redup.
“Mata pengintai melaporkan kehadiran sosok manusia dengan resonansi spiritual tidak normal.”
Beberapa tertawa kecil.
“Manusia memang selalu menarik.”
“Tidak seperti manusia biasa,” potongnya. “Aura nya… stabil. Tertahan. Seperti sesuatu yang sengaja ditekan.”
Tawa berhenti.
Lingkaran aura memancarkan cahaya lebih pekat.
“Sebutkan Identitas nya! ” tanya suara paling dalam di ruangan.
“…Douma.”
Hening.
Nama itu menggantung seperti bayangan tajam.
“Namanya tidak terdengar hebat hahaha,” kata salah satu dengan nada meremehkan.
“Jika dia ancaman,” balas yang lain, “singkirkan.”
Sosok pemberi laporan menggeleng pelan.
“Pendekatan langsung mungkin berisiko. Mata pengintai menolak mendekat. Hal ini belum pernah terjadi.”
Tatapan mereka berubah.
Sekarang bukan lagi meremehkan—melainkan memperhitungkan.
Sosok yang duduk di sebuah kursi singgasana . Sosok yang memimpin lingkaran akhirnya berbicara.
“Kita tidak akan menyentuhnya langsung.”
Aura ruangan mengencang.
“Amati. Pelajari. Temukan titik lemahnya.”
“Teman?” tanya salah satu.
“Lingkungan,” tambah yang lain.
“Keluarga,” sambung suara ketiga.
Pemimpin mengangguk tipis.
“Gunakan pendekatan tidak langsung. Jika dia manusia biasa… dia tidak akan menyadari apa pun. Jika benar... Mungkin sebaliknya”
Kalimat itu dibiarkan menggantung.
Simbol berdenyut keras.
“Tetap utamakan proses ritual. Jangan biarkan variabel kecil merusak rencana ratusan tahun.”
Sosok yang pertama memberi peringatan masih terlihat tegang.
“…Aku menyarankan kehati-hatian penuh.”
“Dicatat,” jawab salah satu dari mereka.
Lalu suaranya turun menjadi dingin seperti baja.
“Kirimkan Mata Pengintai iblis. Tandai semua yang dekat dengannya.”
Perhimpunan kali ini selesai.
Namun satu kalimat terakhir bergema—
"Pastikan untuk menariknya secara hidup-hidup"
Dan ruang itu pun padam.
Di dunia manusia, malam terasa biasa.
Lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di trotoar yang basah. Angin malam membawa aroma aspal dan hujan lama. Kota tampak tenang… terlalu tenang.
Douma berjalan sendirian.
Langkahnya ringan, wajahnya datar seperti biasa. Tidak ada yang mencolok darinya—hanya seorang siswa yang pulang terlambat karena berkeliaran di Toko buku. Si kutu buku yang tampan ini selalu menyibukkan dirinya menjadi siswa yang teladan. Namun udara di sekitarnya terasa sedikit… berbeda.
Ia berhenti.
Alisnya bergerak tipis.
Merasakan seperti ada sesuatu atau mungkin seseorang yang mengamati.
Perasaan itu tidak datang dari mata… melainkan dari insting. Seperti bayangan yang berdiri terlalu dekat.
Douma menghela napas pelan.
“Mungkin hanya Angin, atau... Penggemar rahasia?? ” gumamnya.
Namun jauh di atas lampu jalan, sesuatu bergerak.
Makhluk kecil—dua bola mata mengambang dengan kaki halus seperti serangga—bertengger tanpa suara. Ia tidak terlihat. Tidak terdengar.
Ia hanya… mengamati.
Dan gemetar.
Insting makhluk itu berteriak untuk menjauh.
Aura manusia yang di intai di bawah sana terasa seperti jurang yang diam. Tidak agresif. Seperti aura mengancam. Dan terlalu dalam untuk disentuh.
Makhluk itu mundur perlahan… lalu menghilang.
Di tempat lain, jaringan iblis mulai bergerak.
Sekolah tampak seperti biasa di pagi hari. Siswa bercengkerama. Guru berjalan membawa berkas. Tidak ada yang aneh… bagi manusia.
Namun di balik senyum ramah dan percakapan ringan, jaring halus sedang dirajut.
Guru wali kelas I-A berdiri di depan kelas. Senyumnya lembut. Suaranya tenang.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik matanya… Sama sekali tidak ada refleksi jiwa manusia.
Ia mengamati dengan senyum manis nya yang menipu.
Target-target ditandai dalam pikirannya. Potensi. Kerentanan. Nilai. Semua tercatat dengan baik.
Semuanya sudah menjadi bagian dari perhitungan.
Di luar sekolah, jaringan lain bergerak.
Mereka adalah Arsitek. Konsultan keuangan. Pengacara. Pengelola properti. Yah Profesi atau Pejabat menengah. Didominasi sejak lama..
Iblis tingkat IV.
Mereka tidak mencolok. Tidak berkuasa. Namun mereka menghubungkan jalur—mengatur dokumen, memindahkan aset, menciptakan tekanan sosial.
Di atas mereka, iblis tingkat III memegang kendali.
Diantaranya adalah para Investor. Pengusaha besar. Tokoh politik. Pemilik perusahaan industri besar.
Mereka tidak bekerja secara langsung. Mereka lah yang mengarahkan bagaimana jalannya.
Dan di atas semuanya…
Para perancang. Mereka ..
Iblis tingkat II.
Jarang terlihat. Tidak perlu turun tangan. Mereka hanya menyusun strategi—menggeser bidak tanpa pernah menyentuh papan.
Puncaknya… Rantai kekuasaan tertinggi
Sang Raja Iblis.
Makhluk yang tidak hadir di dunia manusia. Tidak menjadi simbol atau tokoh apapun. Ia abadi dalam singgasananya.
Ia hanya menunggu ritual.
Menunggu darah manusia.
Menunggu perjanjian dipenuhi.
Douma duduk di kelas, menatap jendela.
Ada rasa… tidak nyaman.
Bukan perasaan takut.
Hanya kesadaran bahwa sesuatu sedang bergerak di balik layar.
Ia memejamkan mata sejenak.
Getaran halus di udara terasa seperti riak di permukaan air.
“Ada yang aneh…” gumamnya.
Namun ia memilih diam. Menyipitkan matanya..
Mengamati.
Belum saatnya bertindak.
Di sudut ruangan, Mata Pengintai iblis bersembunyi.
Mengamati.
Menilai.
Dan sekali lagi…
Makhluk itu bergidik.
Aura Douma terasa seperti dinding tak terlihat.
Ia tidak menyerang.
Namun keberadaannya sendiri cukup untuk membuat makhluk itu ingin melarikan diri.
Dan ia pun melakukannya. Melarikan diri..
Di dimensi ritual, laporan diterima.
“Mata pengintai selalu gagal mendekat.”
Keheningan.
“…Dia bukan manusia biasa,” kata suara yang sama seperti sebelumnya.
Pemimpin lingkaran tidak menjawab.
Namun simbol di lantai berdenyut… lebih keras dari sebelumnya.
Perburuan telah dimulai.