Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Sesuatu yang akan sangat Disesali
Di ruangan bayi itu, Ben yang sudah menyabotasee kamera pengawas segera menukar bayi yang dimaksud oleh Ratih. Setelah memastikan semua pekerjaannya berjalan dengan baik. Dia kembali ke ruangan Ratih.
"Aku sudah kerjakan seperti yang kamu katakan! istirahatlah!"
"Ben, terima kasih!"
Langkah pria itu terhenti. Dia berbalik dan melihat wanita yang tampaknya sangat tidak tenang itu.
"Aku kira kamu sudah tidak mau bertemu denganku lagi. Yang terakhir kali adalah salah paham, Ratih. Aku tidak pernah mengajak suamimu pergi ke klub malam. Malam itu seseorang menghubungiku, mengatakan suamimu mabukk dan membuat keributan, aku kesana karena ingin membawanya pulang...!"
"Maafkan aku!" sela Ratih dengan mata berkaca-kaca.
Ratih kini menyadari semuanya. Sebenarnya Ben sama sekali tidak pernah berbuat salah padanya dan Fandi. Semua itu akal-akalan Fandi.
Ben menghela nafas kasar.
"Lupakan! jika kamu masih ingin aku mundur dari perusahaan, aku akan lakukan!"
"Tidak! aku tidak ingin kamu resign. Maafkan aku, aku salah. Tidak seharusnya aku yang mengenalmu lebih dari 7 tahun meragukan mu dan lebih percaya pada Fandi. Maukah kamu memaafkan aku?" tanya Ratih pada Ben.
"Aku tidak akan bisa marah padamu! aku akan pergi. Kapanpun kamu membutuhkan aku. Telepon saja!"
Ben beranjak pergi dari sana. Tapi tidak benar-benar pergi. Ben berdiri di dekat pintu. Pria itu berdiri dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Tapi, dia sepertinya sangat perduli pada Ratih.
**
Pagi menjelang, bibi Erma sudah datang sangat pagi. Dia sudah membawa sarapan dari rumah. Dia memasak sendiri sayuran yang sangat bergizi.
"Nyonya, bibi masak makanan yang sangat sehat. Kata dokter ini bisa memperlancar asi!"
Ratih terkekeh dalam hatinya. Wanita tua yang tidak tahu diri. Tapi Ratih sungguh merasa kesal sebenarnya. Dulu, dia memberikan asi terbaik, semua yang terbaik untuk anak yang bahkan bukan darah dagingnya. Dia malah membiarkan anaknya entah bisa minum susu atau tidak di luar sana.
Tangan Ratih terkepal. Tapi dia berusaha menahannya. Dia sudah menyiapkan semuanya. Dia tidak mau membiarkannya jadi sia-sia.
Racun yang menyakitinya itu. Bukankah Fandi, bibi Erma dan Sarah juga harus merasakannya? Keinginan mereka menjadikan anak kandung Ratih sebagai pengemis. Ratih juga harus membuat anak mereka, yang merasakan semua itu. Dia harus membuat hati orang-orang jahat itu hancur menghadapi kenyataan jika anak kesayangan mereka yang jadi pengemis. Seperti apa yang Ratih rasakan dulu, ketika dia mendengar anaknya dijadikan pengemis. Bahkan tangan dan kakinya dipatahkann. Dia masih harus menahan diri, supaya semuanya setimpal.
"Bibi, terima kasih!" kata Ratih berpura-pura tidak tahu apa yang telah bibi Erma dan orang-orang jahat itu lakukan.
"Jangan bilang begitu nyonya. Ini sudah tugas bibi!" katanya yang menyiapkan semuanya di atas meja kecil yang sudah disiapkan memang di atas tempat tidur.
Setelah sarapan, bibi Erma sangat bersemangat mengambil bayi Rafa dari kamar bayi.
"Nyonya, tuan muda sudah di mandikan. Dia benar-benar tampan!" kata bibi Erma.
Wajah bayi, kebanyakan memang hampir mirip. Kecuali jika ada fisik yang mencolok. Seperti warna kulit, bentuk hidung atau lesung pipi dan semacamnya.
Karena memang kemarin bibi Erma juga cepat-cepat menukar cucu kandungnya dengan anak Ratih. Maka dia juga tidak terlalu memperhatikan. Dia hanya fokus pada keranjang bayi saja. Dia pikir setelah satu kali menukar bayi yang ada di keranjang bayi. Maka perawat tidak mungkin melakukan kesalahan. Lagipula keranjang bayinya juga berbeda. Ratih yang berada di ruangan VIP, keranjang bayinya jauh lebih bagus dari Sarah yang ada di ruangan biasa. Meski berada di satu ruangan bayi yang sama.
Ratih menggendong bayi itu. Ada perasaan hangat di dadanya. Dia yakin itu adalah anaknya.
"Rafa..." lirihnya dengan mata yang hampir berkaca-kaca juga.
"Nyonya, di kasih asi dulu. Tuan Rafa pasti lapar" kata bibi Erma.
Ratih mengangguk, dan menoleh ke arah pelayannya yang sangat licik itu.
"Bibi, aku butuh tissue basah. Tolong belikan ya!"
Bibi Erma melihat ke atas meja.
"Itu ada nyonya, bibi ambilkan ya..."
Ratih menggelengkan kepalanya.
"Itu kurang halus. Beli yang lebih mahal. Kulit Rafa sangat sensitif, nanti kalau lecet bagaimana?" tanya Ratih.
Bibi Erma yang mengira kalau Rafa adalah cucunya. Tentu saja sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi. Dia tidak mau kulit cucunya menjadi lecet.
"Baik, baik. Bibi akan beli tissue basah yang paling bagus, yang paling lembut. Sebentar ya nyonya!" kata bibi Erma yang langsung keluar dari kamar itu.
Ratih membuka kain bedong Rafa. Memastikan kalau tidak ada tanda di bawah ketiak kirinya.
Dan ternyata memang tidak ada. Ratih segera memeluk anak itu dan menangis.
"Maafkan mama ya nak, sebelumnya kamu bahkan harus mengalami hal yang begitu berat. Maafkan mama sayang, mama akan menjagamu dengan baik, mama tidak akan biarkan hal buruk terjadi padamu. Rafa, maafkan mama!"
**
Sementara itu di tempat berbeda, di kamar yang lebih sederhana. Sarah juga sedang makan disuapi oleh Fandi.
"Sudah mas, aku sudah kenyang. Jadi, kapan aku bisa melihat anak kita?" tanya Sarah.
Fandi yang mengenakan kacamata dan masker. Meletakkan semua yang dia pegang dan mendekati Sarah.
"Tidak bisa sekarang! anak itu terus berada di ruangan Ratih. Sabar dulu saja, satu bulan lagi kan ibumu sudah punya rencana membawamu sebagai pengasuh Rafa..."
"Kenapa namanya jadi Rafa sih, mas? kan kita sudah sepakat, namanya Naufal. Aku mau nama anakku Naufal mas!"
"Iya Sarah, ibumu juga sudah mengatakan itu pada Ratih. Tapi dia punya pemikiran sendiri"
"Kenapa dia seperti itu sih? biasanya dia menuruti sekali pada ibu?" gerutu Sarah.
"Hanya nama saja tidak masalah. Yang penting, anak kita tetap akan jadi pewaris keluarga Sanjaya itu kan. Jangan mempermasalahkan hal kecil seperti ini!" bujuk Fandi.
"Lalu apa rencanamu untuk anaknya si Ratih itu? Anak haramm itu, aku tidak mau membawanya pulang ke rumah!"
"Kenapa harus di bawa pulang. Aku sudah hubungi seseorang yang memang punya usaha jual beli hal semacam itu. Dia mau membeli bayi itu 5 juta, lumayan kan! kita kasih ke dia saja, mau diapakan anaknya si Ratih itu. Terserah orang itu!"
"Ha ha ha"
Terdengar tawa yang begitu puas di ruangan itu. Seolah apa yang sedang mereka bicarakan itu bukan tentang memperjualbelikan sesuatu yang hidup dan merasakan rasa sakit jika terluka.
Sayangnya, kali ini mereka sungguh akan menyesali perbuatan mereka itu. Karena yang akan mereka jual, bukan anak yang mereka sebut anak haramm Ratih. Tapi anak kandung mereka sendiri. Anak yang sudah di tukar kembali oleh Ben, atas perintah Ratih.
***
Bersambung...
Khawatir jika kelamaan di rumah itu, keburu bau bangkai..
Dan Fandi pun sudah di cerai..
Kini kehidupan mereka sudah tercerai berai..
Kira² apa selanjutnya yg terjadi..?
Yuk ahh.. Bab berikutnya kita baca lagi.. 🏃♀️🏃♀️😁
Ternyata Ratih sudah mengetahui semuanya..
Dan apa yang terjadi..? Terkejut dong pastinya.. 🤭
Apa lagi Bi Erma, sudah tak mampu lagi berkata untuk menolak fakta..
Karena Ratih punya CCTV yg tersembunyi, dan tak di ketahui oleh mereka bertiga..
Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya..?
Yuk.. Mari kita baca bab selanjutnya.. 🏃♀️🏃♀️🏃♀️
Harta melimpah..
Ternyata hasil korupsi..
Kasih nafkah anak istri pake uang haram, parah dahh.. 🤦🏻♀️
Kau kira kebusukan bisa kau tutupi selamanya..?
Kau kira kebenaran tak akan menemukan jalannya..?
Mungkin saja kau terbebas saat ini, tapi lihat saja nanti, tunggu saja waktu nya tiba..
Kau akan berada di tempat mu yg seharusnya, yaitu penjara.. 😏