NovelToon NovelToon
Pelakor Berkedok Sahabat

Pelakor Berkedok Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Gusmon

Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.


Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.


Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Jebakan Sepatu Baru

Sore itu, suasana rumah terasa begitu tenang, namun sebenarnya itu adalah ketenangan sebelum badai besar melanda. Erian sedang duduk santai di sofa ruang tengah, mencoba mengalihkan pikirannya dari tekanan pekerjaan yang belakangan ini terasa aneh di kantor. Di lantai atas, Nadya sedang asyik merapikan beberapa berkas butiknya di kamar.

Tiba-tiba, Stefani muncul dari arah kamarnya. Ia tidak mengenakan pakaian rumah yang biasa. Kali ini, ia mengenakan bodycon strapless mini yang sangat ketat dan tipis, hingga setiap lekuk tubuhnya tercetak jelas. Ia berjalan dengan gaya yang sengaja dibuat kaku di atas sepasang high heels baru dengan hak yang sangat tinggi dan runcing.

"Mas Erian, lihat deh... bagus nggak mas high heels baruku?" tanya Stefani dengan nada manja sambil berputar-putar di depan Erian yang sedang duduk.

Erian mendongak, merasa sedikit risih dengan pakaian Stefani yang terlalu terbuka, namun ia mencoba bersikap sopan sebagai tuan rumah. "Iya, bagus Stef. Tapi apa nggak terlalu tinggi? Hati-hati jalannya."

Seolah-olah sudah direncanakan dengan presisi waktu yang tepat, saat Stefani mendengar suara langkah kaki Nadya di lantai atas yang hendak turun, ia sengaja memiringkan tumpuan kakinya.

"Eh! Aduuuh!" pekik Stefani.

Tubuhnya limbung ke belakang. Erian, yang memang memiliki insting pelindung dan berada tepat di posisi belakang Stefani, secara refleks langsung bangkit dan menjulurkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh Stefani agar tidak menghantam lantai marmer yang keras.

Namun, karena gerakan itu begitu cepat dan posisi Stefani yang terjatuh ke belakang, tangan Erian tidak sengaja mendarat dan menggenggam erat kedua gumpalan bulat di dada Stefani yang hanya terbalut kain tipis bodycon itu. Tubuh Stefani bersandar sepenuhnya pada dada Erian, seolah-olah mereka sedang berpelukan sangat mesra dari belakang.

TAP... TAP... TAP...

"Mas Erian, kamu lihat gunting kuk—"

Kalimat Nadya terputus di udara. Ia mematung di anak tangga terakhir. Matanya membelalak lebar melihat pemandangan di depannya: suaminya sendiri sedang memeluk asistennya dari belakang, dengan kedua tangan yang mencengkeram erat bagian paling pribadi dari tubuh Stefani.

"Ka.... ka.... kalian sedang..... apa.......?" tanya Nadya dengan suara yang bergetar hebat. Bibirnya tergagap, dan dalam hitungan detik, matanya yang indah sudah berkaca-kaca, siap menumpahkan air mata kekecewaan.

Erian tersentak kaget. Ia baru menyadari di mana tangannya mendarat. Dengan panik, ia segera melepaskan genggamannya seolah-olah baru saja menyentuh bara api yang panas.

"Nad..... tunggu Nad.... ini salah paham..... ini salah paham Nad........" ucap Erian dengan wajah pucat pasi. Ia melangkah mendekati istrinya dengan tangan gemetar.

Stefani justru menunduk, menutupi dadanya dengan tangan sambil terisak pelan—sebuah tangisan palsu yang sangat meyakinkan. "Mbak Nadya... maaf... Mas Erian tadi cuma... tadi aku mau jatuh..."

Nadya menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya kini luruh membasahi pipinya yang baby face. Pemandangan tadi terlalu nyata, terlalu menyakitkan untuk dianggap sebagai sekadar kecelakaan. Mantra yang ditanamkan Stefani dan Marlon mulai bekerja; benih kecurigaan itu kini telah mekar menjadi luka yang menganga.

Ketegangan di ruang tamu itu memuncak seketika. Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi medan pertempuran emosional yang menghancurkan hati Nadya. Erian benar-benar panik, jantungnya berdegup kencang melihat sorot mata istrinya yang penuh luka dan kekecewaan.

Erian melangkah terburu-buru mendekati Nadya yang masih mematung di ujung tangga. Ia mencoba meraih tangan istrinya, namun Nadya justru mundur selangkah, seolah-olah sentuhan Erian adalah sesuatu yang menjijikkan saat ini.

"Sayang.... sayang.... tolong dengerin aku sayang......" rengek Erian dengan suara yang parau dan memohon. Matanya menatap tajam ke arah Nadya, mencoba meyakinkan wanita itu bahwa apa yang ia lihat tadi hanyalah kecelakaan murni. "Aku bersumpah, Nad! Dia tadi mau jatuh, aku cuma refleks menangkapnya. Aku nggak bermaksud memegang... memegang itu, Nad!"

Nadya tidak menjawab. Ia hanya menutup mulutnya dengan tangan, isaknya pecah tertahan. Bayangan tangan Erian yang menggenggam erat dada Stefani masih berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Baginya, posisi itu terlalu intim untuk sebuah "kecelakaan".

Erian yang melihat Nadya tidak bergeming, tiba-tiba memutar tubuhnya. Amarahnya meledak saat melihat Stefani masih bersimpuh di lantai sambil menunduk, bahunya berguncang seolah-olah sedang menangis tersedu-sedu karena dilecehkan.

"Hei ular berbisa! Awas kau nanti!" bentak Erian dengan suara menggelegar. Jari telunjuknya menunjuk tepat ke wajah Stefani yang tersembunyi di balik rambutnya. "Jangan kira aku nggak tahu apa yang kamu lakukan! Kamu sengaja, kan?! Kamu sengaja menjatuhkan diri supaya ini terjadi!"

Stefani justru semakin melebih-lebihkan aktingnya. Ia mengeluarkan suara tangisan yang lebih kencang, menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya. "Mas Erian... kenapa Mas malah menyalahkan aku? Tadi aku benar-benar terpeleset... hiks... Mbak Nadya, maafkan aku... aku nggak tahu kalau Mas Erian akan memegangku seperti itu..."

Mendengar ucapan Stefani yang seolah-olah menempatkan dirinya sebagai korban pelecehan, hati Nadya semakin hancur. Ia menatap Erian dengan tatapan yang belum pernah Erian lihat sebelumnya—tatapan penuh ketakutan dan ketidakpercayaan.

"Cukup, Mas... cukup," bisik Nadya lirih di sela tangisnya. "Kamu membentaknya setelah kamu menyentuhnya? Kamu ingin menutupinya dengan kemarahan?"

"Nad, nggak gitu! Dia bohong! Dia ular, Nad!" Erian berusaha keras menjelaskan, namun suaranya justru terdengar seperti pria yang sedang terpojok.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Nadya berbalik dan berlari kembali ke lantai atas, mengunci diri di kamar. Suara pintu yang dibanting keras seolah-olah menjadi palu hakim yang memvonis Erian bersalah.

Erian berdiri mematung di tengah ruangan, napasnya memburu. Ia kembali menatap Stefani yang kini perlahan mendongak. Di balik sisa "tangisnya", Stefani sempat memberikan senyum tipis yang sangat kilat—sebuah senyum kemenangan yang hanya bisa dilihat oleh Erian.

"Kau... kau benar-benar iblis, Stefani," desis Erian dengan gigi terkatup.

Suara bantingan pintu kamar di lantai atas masih terngiang-ngiang di telinga Erian bagai guntur. Ia berdiri mematung di tengah ruang tamu, menatap anak tangga dengan tatapan kosong dan hancur. Di sudut ruangan, Stefani sudah menghilang masuk ke kamarnya, meninggalkan aroma parfum yang masih tertinggal dan kekacauan yang ia ciptakan.

Erian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tahu, jika ia memaksakan diri mendobrak pintu atau terus berteriak menjelaskan di depan pintu kamar, pertengkaran ini akan meledak menjadi lebih hebat. Nadya yang lembut tidak bisa dihadapi dengan emosi yang meluap-luap.

"Tenang, Erian... tenang. Biarkan dia cooling down dulu," bisiknya pada diri sendiri, meski dadanya sesak luar biasa.

Dengan langkah gontai, Erian berjalan menuju lemari kecil di sudut ruang keluarga. Ia mengambil sebuah selimut tipis dan bantal. Malam ini, sofa ruang tamu yang mewah itu terasa seperti tempat pengasingan baginya. Ia merebahkan tubuhnya yang lelah, menatap langit-langit rumah yang tinggi.

"Sayang, aku bersumpah demi apa pun... itu tadi kecelakaan," gumamnya lirih ke arah kegelapan, berharap suaranya bisa menembus dinding kamar di atas sana.

Sementara itu, di lantai atas, Nadya duduk meringkuk di balik pintu kamar yang terkunci. Ia mendengar suara langkah kaki Erian yang menjauh, lalu keheningan yang mencekam. Hatinya hancur berkeping-keping. Bayangan suaminya menggenggam erat tubuh Stefani terus menghantui pikirannya.

Di saat yang sama, ponsel Nadya yang tergeletak di atas ranjang bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor Marlon.

“Mbak Nadya, maaf mengganggu malam-malam. Tadi di kantor Mas Erian sepertinya sangat gelisah dan kurang fokus. Apa terjadi sesuatu di rumah? Kalau Mbak butuh teman bicara atau ada yang bisa saya bantu, saya selalu ada. Mas Erian rekan kerja saya, tapi Mbak Nadya adalah prioritas saya sebagai sahabat.”

Nadya menatap layar ponsel itu dengan mata sembab. Di saat suaminya justru "menyerah" dan memilih tidur di sofa tanpa berjuang lebih keras untuk menjelaskan, Marlon—pria yang baru saja menolongnya dari jambret—justru menunjukkan perhatian yang begitu dalam.

Nadya tidak membalas pesan itu, tapi ia menyimpannya di dalam hati. Benih-benih manipulasi yang ditanamkan Marlon dan Stefani malam sebelumnya di hotel, kini mulai tumbuh subur di atas luka hati Nadya.

Erian di bawah mencoba memejamkan mata, tidak menyadari bahwa di atas sana, istrinya sedang mulai membuka pintu hatinya untuk "pahlawan" palsu yang sedang menunggu waktu untuk menerkam.

1
katty
up
Ovha Selvia
Nadya bodohnya minta ampun wkwkwkwkw
Lee Mba Young
Kbanyakan istri sah ki mesti baik nya kbanyakan bodoh mudah di tipu. masukin wanita lain ke rumah pdhl itu TDK bnar menurut agama.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭
katty
lanjut
katty
/Shy/
katty
lanjut
Indi_Dedy77
nadya oon, suaminya CEO tp oon juga, jd ada lubang si ular bs masuk se enaknya. kan bs pake ancaman utk stefani biar keluar dr rumahnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!