NovelToon NovelToon
Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Selingkuh / Balas Dendam / Pelakor / Hari Kiamat / Ruang Ajaib
Popularitas:20.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"

Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".

Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.

Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.

"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."

Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: PERSEKUTUAN DUA IBLIS

BAB 28: PERSEKUTUAN DUA IBLIS

Suasana di kamar ICU yang tadinya mencekam karena asap kuning gas saraf, kini berubah menjadi kesunyian yang mengerikan. Alana berdiri di balik kaca pembatas, menatap tubuh Raka yang tergeletak kaku di lantai. Petugas medis berpakaian hazmat mulai masuk untuk mengevakuasi ruangan. Di dalam hati Alana, ada rasa lega yang bercampur dengan kekosongan. Namun, ia tidak tahu bahwa ia baru saja masuk ke dalam lubang tipu daya yang digali oleh seorang sosiopat.

Di sudut ruangan yang gelap, di balik tirai medis yang tersingkap, sebuah tangan bergerak. Raka Ardiansyah tidak mati. Tabung gas yang ia pecahkan tadi hanyalah asap teaterikal yang dicampur dengan dosis kecil obat bius hirup yang sudah ia antisipasi dengan menyuntikkan adrenalin ke tubuhnya sendiri sebelum Alana datang.

Begitu petugas medis mendekat, Raka bergerak secepat kilat. Ia menghujamkan pisau bedah ke leher petugas tersebut, mengambil masker gasnya, dan menyelinap keluar melalui jalur pembuangan limbah medis yang sudah ia sabotase sebelumnya.

Satu Jam Kemudian – Sebuah Rumah Tua di Pinggiran Jakarta.

Siska duduk di kursi goyang yang berderit, memegang segelas anggur murah dengan tangan yang gemetar. Wajahnya yang dulu cantik kini dihiasi bekas tamparan Raka yang membiru, namun matanya memancarkan dendam yang membara. Ia mendengar suara pintu depan didobrak.

Siska segera berdiri, memegang pisau dapur. Namun, ia menurunkan senjatanya saat melihat sosok pria yang masuk dengan tubuh penuh noda darah dan bau antiseptik yang menyengat.

"Raka?" Siska terengah. "Kau... kau seharusnya sudah mati di tangan orang-orang Adiwangsa!"

Raka tertawa, suara tawa yang terdengar seperti setan yang merangkak dari liang lahat. Ia mendekati Siska, mencengkeram wajah wanita itu dengan tangan yang kasar, memaksa Siska menatap matanya yang memerah penuh kegilaan.

"Kau pikir aku selemah itu, Siska?" Raka berbisik, suaranya parau. "Alana dan Kenzo... mereka pikir mereka sudah menang. Mereka pikir mereka bisa menguburku hidup-hidup. Tapi mereka lupa, bahwa aku adalah orang yang paling tahu kelemahan Alana."

Siska meludahi wajah Raka. "Kau pecundang! Kau membiarkan aku tertangkap semalam! Kau membiarkan orang-orang Bima menyiksaku!"

Raka tidak marah. Ia justru menjilat darah di sudut bibirnya sendiri dan tersenyum licik. "Aku membiarkanmu tertangkap agar kau bisa menanamkan keraguan di hati Alana. Kau sudah memberikan video rekaman ayah Kenzo padanya, kan?"

Siska tertegun. "Jadi... itu memang rencanamu? Membuat Alana membenci keluarga Kenzo?"

"Tentu saja," Raka melepaskan cengkeramannya dan menuangkan anggur ke gelas Siska. "Jika mereka bersatu, kita tidak akan punya celah. Tapi jika Alana mulai meragukan Kenzo, mereka akan hancur dari dalam. Dan saat itulah, kita akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita. Darah Alana, harta Dirgantara, dan nyawa mereka berdua."

Siska mulai tersenyum sinis. Keserakahan dan kebenciannya kembali membara. "Lalu apa rencana kita sekarang? Polisi mencarimu, Alana mencariku."

"Kita akan melakukan sesuatu yang tidak akan pernah mereka duga," Raka mengeluarkan sebuah peta rumah sakit pusat Dirgantara. "Kenzo masih di sana. Dia sedang dalam kondisi paling lemah. Kita tidak akan membunuhnya dengan senjata, Siska. Kita akan membunuhnya dengan kenyataan."

Di Rumah Sakit – Pukul 04:00 Pagi.

Alana duduk di samping tempat tidur Kenzo, pikirannya berkecamuk. Ucapan Siska di gudang tadi terus terngiang-ngiang. Ayah Kenzo adalah monster. Ia menatap Kenzo yang masih terlelap, wajah pria itu tampak begitu tulus, namun bayang-bayang pengkhianatan dari keluarga Dirgantara mulai meracuni pikirannya.

Tiba-tiba, ponsel Kenzo di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Karena didorong rasa penasaran dan kecurigaan, Alana membuka pesan itu.

Isinya adalah sebuah rekaman suara. Alana menekan tombol play dengan tangan gemetar.

"Lakukan tugasmu, Raka. Pastikan Alana tidak pernah kembali ke Adiwangsa. Jika kau harus menghancurkan mentalnya agar dia tetap bersamamu, lakukanlah. Aku butuh dia tetap dalam jangkauan kita. Dirgantara butuh subjek seperti dia untuk eksperimen jangka panjang."

Itu suara Tuan Besar Dirgantara, ayah Kenzo. Namun, yang membuat jantung Alana berhenti berdetak adalah suara balasan di rekaman itu.

"Baik, Tuan. Saya akan pastikan Alana menderita di samping saya, sehingga dia tidak punya pilihan selain tunduk pada kita."

Dan suara kedua itu adalah suara Kenzo Dirgantara muda, sepuluh tahun yang lalu.

Alana menjatuhkan ponsel itu ke lantai. Seluruh dunianya runtuh seketika. "Tidak... Kenzo... kau tidak mungkin terlibat..."

"Alana?" Kenzo perlahan membuka matanya, melihat Alana yang menangis histeris. "Ada apa? Kenapa kau..."

Alana mundur menjauh dari tempat tidur, menatap Kenzo dengan pandangan penuh horor dan kebencian. "Selama ini... kau tahu? Kau tahu tentang rencana ayahmu untuk menjadikanku subjek eksperimen?! Kau mendekatiku sepuluh tahun lalu hanya untuk menyerahkanku pada ayahmu?!"

Kenzo tertegun, wajahnya pucat pasi. "Apa yang kau bicarakan, Alana? Aku tidak pernah—"

"BOHONG!" jerit Alana. Suaranya menggema di seluruh lorong rumah sakit. "Aku baru saja mendengar suaramu di rekaman itu! Kau bekerja sama dengan Raka! Kalian berdua adalah iblis yang sama!"

Di balik pintu kamar yang tertutup sedikit, Raka dan Siska berdiri dalam bayangan, mengenakan seragam petugas kebersihan. Raka memegang pemancar sinyal kecil—dia baru saja mengirimkan rekaman suara hasil manipulasi teknologi AI yang ia dapatkan dari Wilhelm untuk memecah belah mereka.

Siska menyenggol lengan Raka, berbisik dengan penuh kepuasan, "Lihat itu... mereka sedang menghancurkan satu sama lain. Kau benar-benar jenius, Raka."

"Ini baru permulaan, Siska," balas Raka dengan mata yang berkilat senang. "Setelah Alana meninggalkan rumah sakit ini dengan hati yang hancur, kita akan menjemputnya di tempat parkir. Dia akan menjadi milik kita sepenuhnya."

Alana tidak mau mendengar penjelasan Kenzo. Rasa sakit dikhianati oleh pria yang ia cintai jauh lebih hebat daripada siksaan Raka selama tiga tahun. Ia berlari keluar dari kamar, mengabaikan teriakan Kenzo yang mencoba mencabut selang infusnya untuk mengejar.

"Alana! Tunggu! Itu jebakan!" teriak Kenzo, namun tubuhnya terlalu lemah. Ia jatuh tersungkur dari tempat tidur, mengerang kesakitan karena jahitan di bahunya terbuka kembali.

Alana terus berlari menuju lift, air mata membutakan pandangannya. Di dalam lift, ia bertemu dengan seorang petugas kebersihan yang mengenakan masker. Alana tidak curiga, ia hanya menunduk sambil terisak.

"Kau terlihat sangat sedih, Alana," suara itu begitu familiar.

Alana mendongak. Di depannya, petugas itu membuka maskernya. Itu Siska. Wanita itu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih namun mengerikan.

"Hai, Sayang. Merindukanku?" ucap Siska.

Sebelum Alana sempat berteriak, sebuah saputangan bermulut kloroform membungkam wajahnya dari belakang. Raka muncul dari balik pintu lift yang tertutup. Alana mencoba meronta, namun kesadarannya perlahan menghilang saat ia melihat wajah Raka yang tertawa tepat di depan matanya.

"Selamat tidur, Putri Adiwangsa," bisik Raka. "Kali ini, tidak akan ada pahlawan yang datang menyelamatkanmu."

Lift pun turun menuju ruang bawah tanah, di mana sebuah mobil sudah menunggu untuk membawa Alana kembali ke neraka yang sudah disiapkan oleh persekutuan Raka dan Siska.

1
Tata Hayuningtyas
lanjut thor👍
~♥~L(*OεV*)E~♥~
lanjut up
~♥~L(*OεV*)E~♥~
lanjut
Dania
semangat tor
Yuyu
👍
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya, aku suka🤗🤗😘😘😍
falea sezi
ngapain ngemis ma kenzo kayak janda gk laku aja masih banyak. laki laki Alana hadeh g usa merendahkan harga diri klo lu di buang ma kenzo ywda
merry
cinta mrkk sdg di uji sm dengan masa lalu dua klurga,, ternyta raka dam klurga semua nya penjahat pengen raka tu menyesel Dan bucin sm Alana tp gk bs milikin lgg,, sebgai pria gk pyn hati us bpk y pembunuh mm culik alna skrg raka selingkh Dan mau Alana hncur
Sari Supriyanti
Up..up...uuuup.thooor....😍👍💪💪💪
Ariany Sudjana
wah seru ini novelnya 🙏
Marsya
waduh siapa lagi nhe,bnyak x identitasnya🤔🤔🤔
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!