Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34. Labirin kebohongan bawah tanah
Langkah kaki mereka bergema di tangga batu yang lembap. Udara di sini berbeda; ia tidak hanya dingin, tapi terasa berat, seolah-olah oksigen di sini telah digantikan oleh rasa takut yang memadat.
Baron Krow berjalan tepat di belakang Aira, tangan kanannya tak pernah jauh dari gagang jarum peraknya.
"Anda membawa saya ke tempat eksekusi, Nyonya?" Krow berbisik, suaranya memantul di dinding sempit.
"Atau ini hanya cara elegan untuk melenyapkan saksi mata Kekaisaran?"
Aira tidak menoleh.
"Seorang saksi hanya berguna jika dia melihat kebenaran, Baron.
Saya hanya ingin memastikan Anda melihat apa yang seharusnya Anda lihat."
Mereka sampai di depan sebuah pintu besi berat dengan ukiran mawar yang melilit tengkorak—lambang kuno keluarga Velvet.
Julian sudah berdiri di sana, memegang obor yang apinya menari-nari liar ditiup angin entah dari mana. Wajah Julian datar, namun matanya memberikan isyarat kecil pada Aira: Semua sudah siap.
Pintu terbuka dengan suara dentuman berat.
Di dalam ruangan itu, Pangeran Valerius duduk di kursi kayu besar di tengah ruangan yang remang-remang.
Tubuhnya tegak, namun kepalanya tertunduk. Di sekelilingnya, lilin-lilin hitam menyala dalam pola lingkaran yang ganjil.
"Pangeran?" Krow melangkah maju, suaranya mengandung nada urgensi yang jarang ia tunjukkan.
"Jangan mendekat, Baron," potong Aira tajam.
"Beliau sedang dalam masa... pemulihan. Cahaya ungu yang Anda lihat semalam? Itu bukan sihir manipulasi. Itu adalah upaya kami untuk menahan sesuatu yang keluar dari jiwanya setelah serangan di hutan."
Aira perlahan mengeluarkan Soul-Severing Mirror dari korsetnya. Ia tidak menghadapkannya pada Krow, melainkan menggenggamnya sedemikian rupa sehingga permukaannya memantulkan cahaya obor ke arah Valerius.
"Apa maksud Anda?" Krow menyipitkan mata, tangannya kini benar-benar memegang senjata. "Jangan bermain teka-teki dengan saya."
"Pangeran Valerius tidak menghilang, Baron. Beliau hanya... retak," Aira melangkah mendekati Valerius yang masih tak bergerak.
"Kekaisaran mengirimnya ke sini untuk perlindungan, tapi mereka tidak memberitahu kami bahwa ada entitas lain yang menempel pada bayangannya. Jika Anda ingin melakukan Tes Garah pada saya, silakan. Tapi setelah itu, Anda harus bertanggung jawab jika hal di dalam Pangeran ini bangun karena kehadiran orang asing."
Aira memutar cermin itu sedikit. Sudut permukaannya yang tajam mulai menangkap bayangan Krow.
Isabella di dalam kepala Aira tertawa getir.
"Bagus, Aira. Tunjukkan padanya kegelapan yang lebih besar dari kecurigaannya. Biarkan dia melihat dirinya sendiri di dalam cermin itu, dan dia akan lupa cara bernapas."
Krow tertegun. Ia melihat pantulan dirinya di permukaan Soul-Severing Mirror yang dipegang Aira.
Namun, di dalam cermin itu, wajah Krow tidak terlihat seperti manusia. Matanya bolong, dan di belakang bahunya, sosok hitam dengan ribuan tangan tampak sedang mencekiknya.
Itu adalah visualisasi dari dosa-dosa Krow sebagai interogator.
"Apa... apa ini?" suara Krow bergetar untuk pertama kalinya. Jarum perak di tangannya terjatuh ke lantai batu dengan denting yang menyedihkan.
Keheningan yang mengikuti jatuhnya jarum perak itu terasa lebih berat daripada suara ledakan. Jarum itu, simbol otoritas mutlak Kekaisaran dan alat eksekusi yang telah mengirim ratusan orang ke tiang gantungan, kini tergeletak tak berdaya di atas lantai batu yang lembap.
Bunyi klanting yang dihasilkan saat logam itu membentur permukaan keras terdengar menyedihkan—sebuah gema dari harga diri Baron Krow yang ikut retak di bawah kaki Aira.
Aira tidak bergerak. Ia membiarkan keheningan itu memangsa keberanian Krow.
Asap tipis seolah keluar dari permukaan Soul-Severing Mirror yang masih ia genggam, meski secara logika ruangan bawah tanah itu tidak memiliki api yang menyala.
Rasa dingin dari cermin itu kini telah merambat naik ke lengan Aira, mematirasakan saraf-sarafnya, namun ia menolak untuk goyah.
Di dalam kepalanya, suara Isabella asli tertawa—sebuah tawa yang kering, tajam, dan penuh kemenangan yang haus darah.
"Lihatlah dia, Aira," bisik Isabella di sudut gelap kesadarannya. "Sang interogator agung kini hanya seekor tikus yang terjebak di sudut gelap. Tusuk dia dengan kata-katamu. Biarkan dia tahu bahwa di rumah ini, dialah yang sedang diinterogasi."
Aira menarik napas panjang, menghirup aroma debu dan sisa-sisa sihir halusinasi Julian yang menggantung di udara. Ia melangkah maju, satu langkah yang sengaja dibuat tanpa suara, hingga ia berdiri tepat di samping telinga Baron Krow.
Ia bisa mencium bau keringat dingin dan ketakutan yang memancar dari pria itu—bau yang sangat kontras dengan parfum mahal yang biasanya dipakai para bangsawan Ibukota.
"Ini adalah kebenaran yang Anda cari, Baron," bisik Aira. Suaranya rendah, halus, namun memiliki ketajaman pisau bedah.
"Anda datang mencari noda di darah saya. Anda datang dengan kesombongan seorang pria yang merasa memegang kunci surga dan neraka bagi orang lain."
Aira memutar sedikit pergelangan tangannya, membuat permukaan cermin itu kembali menangkap cahaya obor yang berkedip di dinding. Krow tersentak, menutup matanya dengan tangan yang gemetar, seolah-olah cahaya itu adalah api yang akan membakar jiwanya.
"Darah saya mungkin tidak mendidih di atas perak Anda," lanjut Aira, matanya berkilat dengan kegelapan yang tak alami.
"Tapi lihatlah diri Anda. Jiwa Anda... jiwa Anda sudah lama hangus, Baron.
Setiap jeritan yang Anda abaikan, setiap tetes darah yang Anda tumpahkan di ruang bawah tanah istana, mereka semua ada di sini, di dalam cermin ini. Mereka sedang menunggu Anda."
Krow mencoba bicara, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menatap Valerius yang duduk membelakanginya.
Di bawah pengaruh sihir Julian, sosok Pangeran itu tampak seperti entitas kuno yang sedang tertidur—sebuah bom waktu sihir yang bisa meledak kapan saja jika Krow berani mengusik lebih jauh.
Udara di sekitar Valerius tampak meliuk-liuk, menciptakan distorsi visual yang membuat ruangan itu seolah-olah sedang mencair.
Julian, yang berdiri di sudut ruangan, terus memutar-mutar sebuah koin perak di antara jari-jarinya—sebuah gerakan mekanis yang sebenarnya adalah cara dia menyalurkan energi sihir halusinasinya ke seluruh ruangan. Setiap kali koin itu berdenting, denyut ketakutan di dalam dada Krow meningkat satu tingkat.
"Apakah Anda masih ingin melanjutkan tes darah itu?" tanya Aira lagi. Kali ini ia memberikan tekanan pada setiap kata.
"Atau Anda ingin pergi dari sini, kembali ke pelukan hangat Ibukota, dan melaporkan kepada Yang Mulia Permaisuri bahwa Pangeran Valerius berada dalam keadaan aman—meskipun sedikit 'berubah'—di bawah pengawasan ketat Nyonya Isabella?"
Krow mundur selangkah, lalu dua langkah. Sepatu botnya terseret di atas lantai yang kasar. Napasnya memburu, menciptakan uap kecil di udara dingin.
Pria yang biasanya tidak mengenal takut ini kini tampak seperti anak kecil yang tersesat di tengah hutan terkutuk. Ia menatap Aira, bukan sebagai seorang wanita atau bangsawan, melainkan sebagai dewi kematian yang baru saja turun dari takhta kegelapan.
"Saya..." Krow menelan ludah dengan susah payah. Suara tegukannya terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu. "Saya telah melihat cukup."
Ia mencoba memalingkan wajahnya dari cermin di tangan Aira, namun sisa-sisa penglihatan tadi—bayangan mayat-mayat korbannya yang merayap keluar dari permukaan perak—masih melekat kuat di balik kelopak matanya.
"Mansion ini... The Velvet Manor... memang terkutuk. Dan Anda, Nyonya... Anda bukan lagi Isabella yang saya kenal."
"Isabella yang Anda kenal sudah mati oleh ekspektasi Anda sendiri, Baron," jawab Aira dingin.
"Yang tersisa hanyalah apa yang Anda lihat sekarang. Pilih jawaban Anda dengan bijak, karena cermin ini tidak suka ditinggalkan tanpa tumbal."
Krow tidak menunggu lebih lama. Ia berbalik dengan gerakan yang hampir menyerupai pelarian. Ia mengabaikan jarum peraknya yang patah di lantai—benda yang selama puluhan tahun menjadi kebanggaannya, kini hanya seonggok sampah yang ia takuti.
"Kita pergi!" perintah Krow kepada para pengawalnya yang berdiri kaku di ambang pintu. Suaranya serak dan pecah, kehilangan wibawa yang biasanya memerintah dengan besi.
Para pengawal itu, yang juga telah terpengaruh oleh atmosfer mencekam dan bayangan raksasa Dante yang tampak hidup di dinding, tidak butuh perintah kedua kali. Mereka segera mundur, tombak-tombak mereka beradu satu sama lain dalam kepanikan yang tersembunyi.
Aira berdiri tegak di tengah ruangan, mematung seperti patung marmer sampai suara langkah kaki rombongan itu menghilang di kejauhan lorong bawah tanah. Keheningan kembali turun, namun kali ini terasa hampa.
Begitu ia yakin Krow sudah cukup jauh, Aira membiarkan tangannya yang memegang cermin terjatuh ke samping tubuhnya.
Seluruh kekuatannya seolah-olah ditarik keluar melalui pori-porinya. Kakinya lemas, dan ia akan jatuh ke lantai jika Dante tidak segera bergerak maju dan menangkap bahunya dengan cekatan.
"Aira," bisik Dante, suaranya kembali menjadi pria yang ia kenal—khawatir dan penuh perlindungan.
"Kau melakukannya. Dia pergi."
Aira hanya bisa mengangguk lemah. Ia melihat ke arah Julian yang kini berhenti memutar koinnya. Julian tampak sangat kelelahan; keringat bercucuran di dahinya yang pucat. Sihir manipulasi tingkat tinggi seperti tadi menguras energi hidupnya secara besar-besaran.
"Dia pergi," ulang Aira dengan suara yang hampir menghilang. "Tapi dia tidak bodoh. Dia akan melaporkan apa yang dia lihat sebagai 'kegilaan sihir'. Kita hanya punya waktu sedikit sebelum Kaisar mengirimkan pasukan yang lebih besar, bukan sekadar seorang interogator."
Di luar The Velvet Manor, kabut pagi mulai sedikit terangkat, namun atmosfer di sekitar gerbang tetap terasa berat. Krow naik ke atas kudanya dengan tangan yang masih gemetar. Ia tidak menoleh ke belakang, tidak berani melihat menara barat yang menurut kabar burung memancarkan cahaya ungu itu.
Namun, sebelum ia memacu kudanya menjauh, Krow memberi isyarat kepada salah satu pengawal yang paling ia percayai—seorang pria tanpa nama dengan lencana rahasia di balik jubahnya.
"Tetap di sini," perintah Krow, matanya kini kembali tajam meskipun sisa ketakutan masih membekas.
"Jangan biarkan mereka tahu kau ada. Awasi setiap burung yang keluar dari mansion ini. Jika 'Isabella' itu bahkan hanya bersin, aku ingin tahu warnanya."
Krow tahu ia telah dikalahkan secara psikologis, namun logika interogatornya mulai bekerja kembali begitu ia menghirup udara segar di luar mansion.
Sesuatu yang ia lihat di cermin tadi... itu terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan. Itu adalah teror yang dirancang khusus untuknya. Dan itu artinya, sang 'Isabella' ini tahu persis siapa dia dan apa dosa-dosanya.
"Kau menang hari ini, 'Isabella'," gumam Krow sambil memacu kudanya meninggalkan gerbang besi manor.
"Tapi ingat, cermin hanya memantulkan apa yang ada di depannya. Jika kau terus menatap kegelapan untuk menakutiku, kau akan menjadi bagian darinya. Kita lihat, siapa yang akan hancur lebih dulu."
Di dalam mansion, Aira menatap ke jendela, seolah bisa merasakan mata-mata yang ditinggalkan Krow. Ia meraba dadanya, di mana Soul-Severing Mirror kini terasa hangat—seperti jantung kedua yang mulai berdetak selaras dengan miliknya.
"Permainan baru saja dimulai," bisik Isabella di dalam kepalanya, dan kali ini, Aira tidak lagi merasa keberatan dengan suara itu.
Lanjuutt