NovelToon NovelToon
Terjebak Satu Malam Dengan Mafia Kejam

Terjebak Satu Malam Dengan Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Mafia
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dini Andreina

Lyra Aldebaran hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan pertunangannya. Namun satu malam di klub hotel mewah mempertemukannya dengan pria yang tidak seharusnya ia kenal.

Darius Baskara, Pria dingin dan berbahaya yang menguasai dunia gelap kota. Sebuah kejadian membuat mereka terjebak bersama sepanjang malam. Lyra mengira semuanya akan berakhir saat pagi datang. Ia salah,Karena bagi seorang mafia seperti Darius Baskara, sekali ia menginginkan sesuatu, ia tidak akan pernah melepaskannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Andreina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlalu Dekat

Kamar itu hanya diterangi cahaya lampu redup di samping tempat tidur. Suasana menjadi tenang setelah Lyra meminum obatnya. Darius masih duduk di kursi dekat tempat tidur, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Beberapa detik mereka hanya saling memandang.

Akhirnya Darius berkata pelan, "Lyra…"

Lyra mengangkat alis "Masih terasa sakit?"

Ia menggeleng kecil "Tidak." Kemudian tersenyum sedikit nakal "Hanya sedikit nyeri."

Darius memperhatikannya lebih tajam "Kenapa?"

Lyra memiringkan kepala, Matanya berkilat lembut.

"Merindukanku?"

Pertanyaan itu membuat udara di antara mereka berubah, Lyra bangkit dari tempat tidur perlahan. Ia berjalan mendekati Darius, Langkahnya pelan, hampir tanpa suara, Kemudian tanpa peringatan Lyra duduk di pangkuannya. Darius langsung menegang sedikit.

Wajah mereka sekarang sangat dekat, Hanya beberapa inci, Lyra menatap matanya, Dalam, Seolah ingin memastikan sesuatu, Kemudian ia menutup jarak itu. Bibirnya menyentuh bibir Darius, Awalnya pelan. Namun ciuman itu semakin dalam.

Semakin lama, Darius langsung membalasnya.

Tangannya naik ke pinggang Lyra, menahannya dengan hati-hati.

Seolah takut melukainya, Ciuman mereka terputus hanya untuk sesaat, Darius menatapnya dengan napas sedikit lebih berat, Namun kemudian bibirnya bergerak turun, Mencium sudut rahang Lyra, Lehernya, Sangat lembut. Lyra menarik napas pelan ketika bibirnya menyentuh kulitnya, Darius berhenti sejenak. Suaranya rendah di dekat telinganya.

"Jika terasa sakit…"

Tangannya masih menahan tubuh Lyra dengan hati-hati.

"...katakan padaku."

Lyra hanya mengeluarkan suara pelan "Hmmm…"

Tangannya kembali memegang wajah Darius.

Menariknya lebih dekat lagi. Seolah beberapa minggu terpisah itu terlalu lama

Di luar kamar mansion tetap tenang. Namun di gerbang Rendra masih berdiri. Menatap rumah itu dengan ekspresi yang tidak mudah ditebak.

Karena malam ini bukan hanya kenangan yang kembali, Tetapi juga masalah yang belum selesai.

Keesokan paginya, mansion terasa jauh lebih hidup.

Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela besar ruang makan. Di meja panjang yang biasanya terasa terlalu besar untuk dua orang, sarapan sudah tersaji rapi. Lyra duduk di kursinya sambil memegang cangkir teh hangat, Darius duduk di seberangnya.

Tatapannya sesekali terarah ke Lyra, seolah masih memastikan bahwa wanita itu benar-benar sudah pulih.

Beberapa detik mereka makan dalam keheningan yang nyaman, Akhirnya Lyra berkata pelan,

"Darius."

Pria itu mengangkat pandangannya "Ya."

"Kau menemui ibuku?"

Darius meletakkan garpunya dengan tenang. "Iya."

"Ketika kamu koma."

Lyra berhenti makan,.Ekspresinya berubah sedikit lembut.."Apakah dia sehat?"

Darius mengangguk, "Iya."

Lyra tersenyum kecil."Aku merindukannya."

Beberapa detik ia terlihat berpikir, Kemudian ia berkata,"kau ingin menemuinya?"

Darius langsung menjawab, "Aku bisa menemanimu."

Namun Lyra menggeleng pelan "Aku ingin bertemu dengannya sendiri." Ia menatap Darius dengan lembut. "Setelah itu aku ingin keluar dengan Rani sebentar."

Darius menyipitkan mata sedikit.

"Kemana?"Lyra mengangkat bahu ringan "Hanya jalan-jalan."

"Mungkin belanja sedikit."

Darius menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk, "Baiklah." Namun nadanya berubah sedikit lebih tegas "Tapi tetap ada pengawalan."

Lyra langsung tersenyum kecil "Aku paham."

Ia menyandarkan dagunya di tangannya.

"Pengawalan, kan?"

Darius tidak menyangkal, Lyra hanya tertawa kecil, Darius kemudian mengambil ponselnya, Beberapa detik ia mengetik sesuatu. Lyra memperhatikannya dengan curiga, Kemudian ponselnya sendiri berbunyi.

Ia melihat layar. Matanya langsung melebar.

"Darius."

Pria itu tidak terlihat bersalah sedikit pun.

"Aku sudah transfer."

Lyra menatapnya tidak percaya, "Hah? Transfer?"

"Untuk apa?" Ia meletakkan ponselnya di meja.

"Aku punya uang, Darius."

Darius menatapnya tenang "Gunakan saja."

Lyra menghela napas kecil, Namun ia tahu berdebat dengan pria ini sering kali tidak ada gunanya. Darius kemudian berkata lagi dengan nada lebih serius.

"Ambil waktumu." Tangannya kembali mengambil cangkir kopi.."Lalu hubungi aku kalau ada apa-apa."

Tatapannya menjadi lebih tajam."Ingat."

"Jangan sampai ada hal aneh."

Lyra menatapnya beberapa detik, Kemudian tersenyum kecil.

"Baiklah."

Namun jauh di dalam pikirannya hari itu mungkin tidak akan sesederhana yang mereka bayangkan.

-----+

Mobil yang membawa Lyra berhenti di depan rumah sederhana yang sangat ia kenal, Rumah itu tidak besar, Namun hangat. Tempat di mana ia pernah menemukan kembali arti keluarga, Pengawal Darius berdiri tidak jauh, menjaga jarak dengan sopan.

Lyra menarik napas pelan sebelum turun dari mobil.

Di tangannya ada tas berisi buah dan beberapa kotak makanan.

Ia mengetuk pintu.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka, Seorang wanita paruh baya berdiri di sana, Matanya langsung melebar.

"Lyra…?"

Lyra tersenyum hangat."Bu…"

Elena Aldebaran langsung menariknya ke dalam pelukan."Sayang… kau sudah pulih?"

Suara wanita itu bergetar, Lyra membalas pelukan itu erat.

"Sudah, Bu."

"Aku merindukanmu."

Elena mengusap rambutnya pelan seperti dulu.

"Astaga… kau membuatku sangat khawatir."

Lyra mengangkat tas yang ia bawa.

"Aku membawakan buah dan makanan kesukaanmu."

Elena tertawa kecil.

"Kau masih ingat?"

"Tentu saja."

Mereka berjalan masuk sambil tertawa pelan.

Di kejauhan seorang pengawal mengirim pesan singkat. Beberapa detik kemudian Darius membaca laporan itu dari ponselnya di kantornya, Lyra sudah bertemu Elena Aldebaran, Situasi aman. Darius menatap layar itu beberapa detik, Ekspresinya sedikit melunak.

" Kau bahagia bersamanya?" ucap ibu

" menurutmu??...

" aku rasa kamu cukup bahagia bersamanya ..

" bu dia tau nama lamaku...

" tidak apa ... dia memang seharusnya tau..

" hmm baiklah.. aku merindukanmu buuu...." menenggelamkan kepalanya di dada ibu...

*****

Lalu Beberapa jam kemudian setelah selesai mengunjungi ibu, Lyra duduk di sebuah kafe kecil bersama Rani.

Rani menatapnya dengan mata berkaca-kaca "Aku benar-benar takut kehilanganmu."

Lyra tersenyum lembut "Aku juga hampir berpikir begitu."

Ia kemudian menceritakan semuanya, Tentang penembakan, Rumah sakit, Dan beberapa hal yang ia ingat samar-samar, Rani mendengarkan dengan serius. Perlahan ia mulai mengerti, Setelah Lyra selesai, Rani menghela napas panjang.

"Anak-anak terus menanyakanmu."

Lyra tersenyum hangat "Iya?"

"Mereka bahkan menggambar kamu."

Lyra tertawa kecil "Besok aku akan datang ke TK."

Rani langsung terlihat senang "Mereka pasti sangat bahagia."

Lyra mengangguk.

Namun beberapa menit kemudian ia berdiri.

" Lyra, siapapun Daius aku tau dia mencintaimu lebih dari Rendra...

_____

" Rani Aku ingin melakukan sesuatu dulu."

"Apa?"

Lyra hanya tersenyum misterius, Satu jam kemudian.

Lyra keluar dari sebuah salon kecil, Angin sore menyapu wajahnya, Penampilannya berubah, Rambut panjangnya yang dulu jatuh sampai punggung sekarang dipotong pendek model bob. Ujung rambutnya berhenti tepat di bawah rahang.

Potongan itu membingkai wajahnya dengan sempurna.

Garis rahangnya terlihat lebih tegas, Lehernya tampak lebih jenjang. Poni tipis menyentuh alisnya, memberi kesan lembut namun berani, Penampilan itu membuat Lyra terlihat lebih dewasa, Lebih elegan.

Dan entah kenapa lebih berbahaya. Rani yang berdiri di sampingnya sampai melongo.

"Lyra…"

Lyra menoleh ,"Ya?"

Rani menggeleng kagum, "Kau terlihat seperti orang yang berbeda."

Lyra tersenyum kecil Menyentuh ujung rambut barunya."Mungkin aku memang begitu sekarang."

Di tempat lain Darius menerima foto dari pengawalnya, Ia membuka gambar itu. Dan untuk pertama kalinya hari itu, pria itu benar-benar terdiam.

Karena wanita di foto itu terlihat terlalu memikat untuk diabaikan.

Lyra akhirnya kembali memasuki halaman mansion.

Lampu-lampu taman mulai menyala.nPohon-pohon tinggi bergoyang pelan tertiup angin, Lyra turun dari mobil. Rani masih berdiri di dekat pintu mobil sambil menatapnya kagum.

"Aku masih tidak percaya kau benar-benar memotong rambutmu."

Lyra tertawa kecil sambil menyentuh rambut bob pendeknya. Potongan itu membuat wajahnya terlihat lebih tajam dan elegan, Lehernya terlihat lebih panjang. Matanya tampak lebih tegas, lohIa tidak lagi terlihat seperti wanita yang baru saja hampir mati beberapa minggu lalu.

Ia terlihat seperti seseorang yang bangkit kembali.

"Kadang seseorang butuh perubahan," kata Lyra ringan.

Rani mengangguk.

"Baiklah, aku harus kembali. Besok jangan lupa datang ke TK."

Lyra tersenyum "Tentu."

Mereka berpelukan sebentar sebelum Rani pergi.

Namun Lyra tidak tahu di seberang jalan, sebuah mobil gelap sudah lama berhenti di sana.

Seorang pria duduk di dalamnya. Matanya tidak pernah lepas dari Lyra, Rendra. Tangannya mengepal pelan di setir. Ia hampir keluar dari mobil tadi,

Namun pengawal Darius terlalu banyak.

"Apa kau benar-benar bahagia sekarang, Lyra…?"

Bisiknya pelan.

Namun itu bukan satu-satunya mata yang memperhatikan hari itu.

Di tempat lain di sebuah ruangan besar yang dipenuhi layar monitor, seorang pria duduk santai di kursinya.

Di salah satu layar terlihat rekaman kamera jalan.

Menampilkan Lyra keluar dari salon tadi, Pria itu tersenyum tipis, Viktor.

"Jadi kau masih hidup." Ia menyandarkan tubuhnya. "Menarik."

Salah satu anak buahnya berkata pelan,

"Tuan… kita lanjutkan rencana?"

Viktor menatap layar yang menampilkan wajah Lyra.

Matanya dingin "Sekarang belum."Senyumnya semakin tipis nn loh"Biarkan Darius merasa tenang dulu."

Ia mengetuk meja dengan jarinya.

"Lalu kita ambil sesuatu yang lebih menyakitkan."

Sementara itu di dalam mansion, Darius baru saja turun dari tangga ketika pintu utama terbuka.

Lyra masuk Darius berhenti berjalan, Tatapannya langsung terpaku, Lyra menatapnya balik.

"Kenapa melihatku seperti itu?"

Namun Darius tidak menjawab, Ia berjalan mendekat perlahan.

Tatapannya masih terkunci pada wajah Lyra.

Atau lebih tepatnya rambutnya. Lyra mengangkat alis.

"Kau tidak suka?"

Darius berdiri tepat di depannya sekarang. Tangannya perlahan menyentuh ujung rambut bob itu.

Jarinya menyelip di antara helai rambut pendek itu.

Tatapannya semakin dalam.

"Kau terlihat… berbeda."

Lyra tersenyum kecil.."Buruk?" Darius menggeleng pelan."Terlalu cantik."

Jawaban itu membuat Lyra tertawa kecil. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa Darius tiba-tiba menariknya lebih dekat. Tangannya memegang pinggang Lyra. Tatapannya turun ke bibirnya, Nada suaranya rendah.

"Aku tidak suka banyak orang melihatmu seperti ini."

Lyra menatapnya dengan senyum menggoda.

"Cemburu?"

Darius tidak menyangkal, Sebaliknya ia mencium kening Lyra pelan, Lalu berbisik di dekat telinganya.

"Mungkin."

Namun di balik ketenangan malam itu tiga orang berbeda sedang memikirkan wanita yang sama.

Darius.

Rendra.

Viktor.

Dan cepat atau lambat, ketiganya akan bertabrakan.

1
Dini Andreina
sabar ya ka hari ini langsung banyak
Tanece Alu Bunga
update lama.kali thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!