Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.
Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Setelah mengantar Briana, Adrian tidak langsung pulang. Ia memacu mobilnya menuju apartemen Elena, berharap sisa-sisa cinta selama bertahun-tahun masih bisa menyelamatkan keadaan dengan sebuah penjelasan logis.
Namun, yang ia temukan di sana bukanlah kekasih yang mau mendengarkan, melainkan badai kebencian yang tak terkendali.
"Elena, tolong dengarkan aku satu kali saja!" seru Adrian saat ia berhasil masuk ke dalam apartemen.
"Wanita itu hanya orang asing. Aku salah mengira dia adalah kamu karena gaunnya. Itu murni kesalahpahaman!"
Elena berbalik, wajahnya yang cantik kini tampak mengerikan karena amarah. Ia tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat asing di telinga Adrian.
"kesalahpahaman? Atau selera barumu, Adrian?" teriak Elena dengan suara melengking. "Apa kamu sudah bosan dengan aku dan mulai mencari sensasi dengan wanita bertutup kepala itu? Apa dia terlihat lebih suci di matamu?"
Adrian menggeleng, mencoba meraih tangan Elena. "Bukan begitu, Elena. Dia bahkan tidak mengenalku—"
"Oh, jangan berlagak naif!" Elena menepis tangan Adrian dengan kasar. Matanya menyipit penuh kebencian. "Apa kamu puas dengan wanita berjilbab itu? Apa dia sudah sering memuaskanmu di balik kain-kainnya yang berlapis itu? Katakan padaku, Adrian... apakah jari-jarimu yang indah itu sudah pernah menerobos masuk ke sana? Apakah dia mendesah lebih nikmat karena merasa sedang melakukan dosa?"
Adrian terkesiap. Jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar kata-kata vulgar dan rasis yang keluar dari mulut wanita yang selama ini ia puja.
"Jaga bicaramu, Elena! Itu keterlaluan!"
"Keterlaluan? Yang keterlaluan adalah kamu!" Elena terus meracau, suaranya semakin meledak-ledak hingga mengguncang ruangan.
"Apa dia memberikan sensasi terlarang yang tidak bisa kuberikan? Apa kamu menikmati setiap jengkal kulitnya yang tersembunyi itu sementara kamu berpura-pura melamarnya?"
PLAK!
Suara tamparan keras itu memecah kegilaan Elena. Tangan Adrian gemetar, panas, dan perih. Elena terhuyung, memegang pipinya yang mulai memerah, matanya menatap Adrian dengan tidak percaya.
"Cukup," desis Adrian dengan suara rendah yang bergetar karena emosi yang meluap. "Kamu boleh menghinaku, Elena. Kamu boleh marah padaku. Tapi jangan pernah, sedikit pun, kamu merendahkan wanita itu atau agamanya."
Napas Adrian memburu. "Kamu lupa siapa ibuku? Ibuku adalah seorang wanita berhijab yang sangat taat. Ayahku mencintainya melampaui segala perbedaan agama di antara mereka. Aku tumbuh besar melihat kemuliaan di balik hijab itu, dan malam ini kamu menghinanya dengan kata-kata kotor seperti wanita jalanan."
Elena terpaku. Ia baru tersadar bahwa ia telah menyentuh titik paling sensitif dalam hidup Adrian. Namun, rasa egoisnya terlalu besar untuk meminta maaf.
"Selama ini aku mencintaimu karena aku pikir kamu adalah gadis yatim piatu yang memiliki hati yang lembut," lanjut Adrian dengan nada dingin yang menyayat hati. "Tapi malam ini, pesonamu hilang sama sekali. Kamu bukan hanya menghina Briana, kamu menghina ibuku. Kamu menghina darah yang mengalir di tubuhku."
Suasana apartemen itu mendadak mencekam. Elena, yang pipinya masih terasa panas akibat tamparan Adrian, justru tertawa histeris seperti orang yang kehilangan kewarasan. Bukannya berhenti, ia malah semakin menjadi-jadi, melontarkan kalimat-kalimat yang lebih kotor dan liar.
"Kenapa Adrian?! Apakah tamparan itu cara kamu membela pelacur suci itu?" teriak Elena dengan mata melotot. "Katakan padaku, apa kamu sudah puas menjadi sampah yang mendesah di atas tubuhnya?! Apa dia sudah hamil sekarang karena pelepasan mu yang berkali-kali kamu hujamkan ke rahimnya?! Apa itu yang kamu lakukan saat kamu bilang kamu sedang lembur?!"
Adrian yang tadinya sudah akan melangkah keluar dibalik pintu tiba-tiba berhenti. Tubuhnya menegang. Amarah yang membuncah di dadanya kini mencapai titik didih. Ia berbalik perlahan, menatap Elena dengan tatapan paling dingin dan mematikan yang pernah ia miliki.
"Ya!" bentak Adrian, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Kamu benar, Elena. Aku menghamili Briana! Setiap malam aku mendesah di atas namanya, dan setiap inci tubuhnya jauh lebih berarti bagiku daripada dirimu!"
Elena tersentak, wajahnya pucat pasi mendengar pengakuan itu.
"Oh... jadi itu alasannya? Itu alasan kenapa selama ini kamu selalu menolak untuk tidur bersamaku, Adrian? Kamu selalu bicara soal menghormati ku dan menunggu pernikahan, tapi ternyata kamu malah memberikannya pada wanita berjilbab itu?!"
Adrian tersenyum sinis, sebuah senyum penuh luka dan keputusasaan. Ia tahu ini adalah dusta besar, tapi ia ingin menghancurkan harga diri Elena sehancur-hancurnya karena telah menghina ibunya dan Briana.
"Ya, itu alasannya. Aku merasa jijik jika harus menyentuh wanita sepertimu. Setiap kali aku melihatmu, aku hanya ingin kembali pada Briana. Aku mencintai Briana, Elena. Sangat mencintainya hingga aku tidak butuh wanita lain lagi dalam hidupku!"
Kata-kata "Aku mencintai Briana" itu meluncur begitu saja dari bibir Adrian. Sebuah dusta yang sengaja ia buat untuk mengakhiri segalanya dengan ledakan.
Adrian melangkah mundur, menatap Elena seolah melihat orang asing yang mengerikan. "Jangan pernah hubungi aku lagi. Kita benar-benar selesai."
Adrian membanting pintu apartemen Elena dengan sangat keras hingga guncangannya terasa ke dinding. Ia akan menuju lift, napasnya memburu, air mata kemarahan hampir jatuh di pipinya. Ia merasa kotor karena telah berbohong, namun ia merasa puas telah membela kehormatan yang Elena injak-injak.
Tanpa tujuan, Adrian memacu mobilnya kembali ke arah Brooklyn, entah kenapa hatinya menuntunnya ke gedung apartemen tempat ia menurunkan Briana tadi.
Di saat yang bersamaan, sebuah taksi berhenti di depan gedung tersebut. Briana turun dengan langkah gontai, matanya sembab karena tangis yang pecah di sepanjang jalan setelah melihat pengkhianatan Clark.
Saat Adrian keluar dari mobilnya, ia melihat Briana berdiri di sana, di bawah lampu jalan yang remang-remang, tampak sangat rapuh dengan hijabnya yang sedikit berantakan.
"Briana?" panggil Adrian lirih.
Briana menoleh, terkejut melihat pria yang tadi melamarnya secara salah kini berdiri di depan apartemennya dengan wajah yang sama hancurnya. "Adrian? Kenapa... kenapa Anda di sini?"
Adrian mendekat, ia melihat sisa air mata di wajah Briana. Di saat itulah, Adrian merasa rasa bersalahnya semakin dalam. Tanpa sadar, ia telah menyeret nama wanita suci ini ke dalam lumpur kebohongannya demi membalas dendam pada Elena.
"Briana, aku..." Adrian tercekat. Bagaimana mungkin ia menjelaskan pada wanita asing ini bahwa beberapa menit yang lalu, ia baru saja mengklaim bahwa ia telah menghamilinya dan sangat mencintainya?
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰😍🥰
tetep sehat
selalu semangat
karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku