Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penderitaan Keluarga Maya
Setibanya di depan rumah, Maya, Vello dan juga ayahnya mendapatkan serangan dari orang-orang yang tinggal di lingkungannya.
"Untuk apa kalian kembali ke lingkungan kami?? Kalian benar-benar gadis yang tidak tahu malu.
Yang satu pemakai obat-obatan dan juga wanita tidak baik, yang satunya lagi malah memaksa orang-orang untuk menuduhkan kejahatan pada orang yang tidak bersalah!"teriak seorang perempuan.
"Keluarga macam apa kalian? Terutama kau Maya, gadis macam apa kau? Adikmu yang berbuat asusila dan pemakai obat-obatan, tapi orang lain yang menolak cintanya yang kau tuduh sebagai pelaku pel3cehan!"teriak perempuan lainnya.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini. Sebelum kami menyeret kalian dengan paksa!"
Kata-kata hinaan, umpatan dan cacian terus di lontarkan pada keluarga Maya. Ingin rasanya Maya berteriak dan menyerang mereka semua saat ini. Tapi Maya tahu, apapun yang dia lakukan saat ini tidak akan mengubah keadaan.
Keluarga buruk dan bukan gadis baik-baik, sudah tersemat dalam nama Vello dan keluarganya saat ini.
*
Maya membawa adiknya masuk tanpa menanggapi apapun yang di ucapkan tetangganya.
"Maafkan aku kak! Karena ku kau dan juga ayah menderita!"lirih Vello.
"Ini semua bukan kesalahanmu, tapi karena kesalahan para keparat itu! Sebaiknya, kau beristirahat jangan memikirkan apapun. Ayo biar kakak bantu!" ucap Maya, lalu mendorong kursi roda Vello kedalam kamar, dan membantunya berbaring.
Setelahnya Maya masuk kedalam kamarnya, lalu berbaring tanpa mau memperdulikan teriakan-teriakan manusia tak punya hati diluaran sana.
*
Sementara itu didalam kamar Vello. Setelah Maya kembali kedalam kamarnya, Vello bangkit dari posisinya saat ini.
Mata yang sejak tadi menahan tangis karena tak ingin membuat kakaknya merasa bersalah, kini tampak memerah dan menumpahkan tangisnya tanpa bersuara.
Ingin rasanya Vello menjerit dengan kencang dan menumpahkan rasa sakitnya yang amat sangat, karena kehancuran hidupnya yang timbul karena terlalu percaya pada orang yang di anggapnya teman.
Hampir setengah jam Vello menangis, Vello melepaskan cengkraman tangannya pada sprei dan pandangan matanya mulai kosong.
Bibir Vello menampakan senyum tipis penuh rasa putus asa, lalu mengangguk perlahan.
"Maafkan aku Kak, maafkan aku... Aku sudah membuat kakak dan Ayah malu. Maafkan aku."
*
Jauh dari kondisi kediaman Fernand yang tampak mengenaskan dengan penuh caci maki dan duka, di lain tempat, tepatnya di kamar Bryan Lewis justru gelak tawa terdengar memenuhi ruangan.
Empat orang pria sedang berpesta, merayakan kemenangannya lolos dari jeratan hukum yang di arahkan pada mereka.
"Hahahaha, kau benar-benar luar biasa Bryan. Dalam waktu kurang dari satu hari, semua yang berniat melawanmu malah berbalik mendukungmu!"ujam Joe.
"Sudah aku katakan, mereka hanya tikus kecil yang tidak akan pernah mampu untukelawan seorang Bryan Lewis!"
"Bagaimana caranya kau bisa membuat mereka berada di pihakmu, Bryan?" tanya Rishi.
"Tentu saja dengan uang dan cara yang licik!" Kembali gelak tawa terdengar, memenuhi ruangan tersebut.
Lalu tak lama, dua orang pria dan wanita masuk kedalam kamar.
"Oh, hai mom, dad. Kalian mau bergabung?" tawar Bryan.
"Tidak. Mommy dan daddy hanya mau melihat tawa kalian saat ini. Di persidangan tadi kau luar biasa, Mommy bangga padamu Bryan! Kau bisa menendang tikus itu sendiri, tanpa bantuan Mommy!"
"Tentu saja Mom. Sudah aku katakan, mereka bukan hal yang sulit asal Max di singkirkan terlebih dahulu!" Bryan kembali terkekeh, membayangkan apa saja yang sudah dia lakukan.
"Oke Mommy percaya. Kalian lanjutkanlah berpesta, mommy dan daddy pergi dulu!"
Setelah kedua orang tua Bryan meninggalkan kamar, Rishi kembali bertanya pada Bryan.
"Setelah ini, apa rencanamu Bryan? Apa tidak sebaiknya kita singkirkan orang-orang yang tadi sempat datang ke pengadilan? Aku rasa, mereka bisa menjadi ancaman jika di biarkan!"
Senyum tipis mulai terbit di bibir Bryan. Senyuman yang jelas tersirat kelicikan yang tidak bisa lagi di sembunyikan.
"Aku jelas tidak suka sesuatu yang setengah-setengah, Kawan. Aku tahu, tikus-tikus seperti mereka jelas akan menggigitku, saat nanti Mereka kehabisan bahan makanan. Maka dari itu, mereka aku bereskan lebih dulu, begitu sidang kita selesai!" Bryan terkekeh dan teman-temannya hanya memandang tak percaya.
"Kau menyingkirkan mereka dengan cara apa? Kenapa kami tidak tahu?" sekarang giliran Lucas yang bertanya.
"Aku hanya memberikan sedikit oleh-oleh pada setiap mobil mereka, dan Booooom!" Bryan mengatakan itu dengan memainkan mobil kecil dan di jatuhkan dari atas.
Sontak itu menimbulkan decakan dan gelak tawa dari teman-temannya.
"Kau benar-benar licik Bryan. Hahah!" Lucas tergelak.
"No! No! No! Aku bukan licik, tapi cerdas! Sekarang saatnya kita bersulang, untuk merayakan kemenangan kita!"
Semuanya kembali tergelak dan mulai bersulang.
"Lalu setelah ini, gadis mana lagi yang bisa kita 'ajak' bersenang-senang?" kekeh Joe.
Bryan tidak langsung menjawab, namun seriangain licik kembali terbit dibibirnya saat ia membayangkan tubuh seseorang yang mungkin akan menjadi 'sasaran berikutnya dari kelicikan mereka.'
"Gadis yang pastinya kalian kenal."
"Apa? Siapa yang kau maksud?" tanya Lucas.
Bryan kembali terdiam, namun bibirnya bergerak dengan sensual seolah mulai terbayang bagaimana liarnya dia mempermainkan gadis incarannya. Bryan mengulurkan tangan mengambil gelas minumannya, menenggaknya hingga tandas sebelum akhirnya ia menjawab disertai dengan licik.
"Gadis itu, dia adalah... Maya!"
Sontak perkataan Bryan, membuat temannya terdiam.
"Kenapa kalian diam?? Bukankah seru jika kita juga bisa menikmati Maya??"
"Bryan, kau jangan gila. Kenapa masih berpikir untuk menjadikan Maya bagian berikutnya?"
"Memangnya kenapa, hmm? Adiknya saja yang tidak begitu cantik, tubuhnya bahkan sedikit kurus saja bisa membuat kita melayang bahkan mabuk kepayang sampai sulit berhenti, apalagi kakaknya yang jauh lebih cantik? Maya bahkan jauh lebih sempurna dibandingkan adiknya."
"Aaaah iya, aku ingat. Kau sudah berkali-kali ditolak Maya, bukan? Kau sama sekali tidak suka kalau ada yang menolak perasaanmu. Dan sekarang... Kau mau melampiaskan semuanya agar Maya tahu, kalau kau bisa mendapatkannya tanpa harus dibalas?"
Seketika Lucas terkekeh, bahkan berakhir dengan tergelak saat tahu betapa gila dan bajingannya sosok Bryan.
"Hahaha, kau benar-benar bajingan Bryan, tapi aku suka! Suka dengan kegilaan seorang Bryan Lewis, yang dibalik ketampanannya ini justru mampu mengobrak-abrik segalanya. Tapi, aku suka itu. Maya memang cantik, rasanya aku ingin juga merasakan bagaimana tubuh May," sahut Joe yang juga ikut tergelak dan menyetujui rencana Bryan.
"Aku memang bajingan, tapi bajingan tampan yang memikat. Hahahaha, kalian bersiaplah. Malam ini kita beraksi!" ucap Bryan. "Cheers untuk kenikmatan yang akan kembali kita gapai malam ini!" lanjutnya dengan mengangkat gelas, mengajak teman-temannya bersulang.
"Cheers!!"
**