NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16 - Say Yes

Aku masih terpaku dalam pelukan Henry. Tubuhnya hangat, sementara pikiranku kacau balau.

“Jangan pergi, Lili. Tetaplah di sini.” ucapnya lirih.

“Kak…” suaraku nyaris tak terdengar.

“Aku pengen kamu di sini. Nemenin aku.”

Nada suaranya bergetar, membuat dadaku sesak.

“Kak, jangan begini…” air mataku mulai menggenang. “Aku akan jadi adik iparmu nanti.”

“Aku nggak mau kamu jadi adik iparku. Aku maunya kamu yang nikah sama aku.”

Ucapan itu menusuk jantungku. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga. Aku pun menginginkan hal yang sama, tapi… dunia seakan berpihak pada Ana. Orang tua kami menginginkan Henry untuknya, bukan untukku.

Aku menarik napas gemetar. Ada sesuatu yang sudah terlalu lama kupendam—sesuatu yang ingin sekali kusampaikan sebelum keberanian kecil di dalam diriku hilang. Perasaanku padanya tak lagi bisa kusimpan sendirian.

Lalu aku melepaskan tangannya, membalikkan badan dan memeluknya erat.

“Aku juga, Kak…” suaraku bergetar di antara isak.

Henry terdiam, lalu perlahan melepaskan pelukanku. Tatapannya mencari wajahku, penuh kebingungan.

“Apa maksudmu, Lili?”

Aku menunduk, lalu menatap matanya dalam-dalam.

“Aku… aku suka sama Kakak.”

“Apa?” Henry nyaris berbisik. “Coba ulangi.”

Aku menarik napas panjang. “Aku suka Kakak. Kak Henry… 사랑해. (Aku mencintaimu.)”

Untuk sesaat, waktu berhenti. Henry menatapku lama, seolah memastikan ia tak salah dengar. Lalu, tanpa kata, jemarinya menyentuh daguku, mengangkatnya perlahan, dan sebelum sempat kupahami, bibirnya telah menyentuh bibirku.

Aku membeku. Bubur yang kupegang jatuh ke lantai.

Aku tidak menyangka Henry akan menciumku—lembut, hangat, dan dalam. Ada sesuatu yang selama ini dia tahan, kini tumpah melalui ciumannya. Aku pun merasakan hal yang sama.

Air mataku mengalir makin deras, tapi kali ini bukan karena sedih. Aku membalas ciumannya, melingkarkan tangan di lehernya. Semua luka yang lama kupendam, seolah luruh bersama sentuhan itu.

Itu… ciuman pertamaku.

Ciuman pertama kami.

Sepanjang hidup, hanya Henry yang kuinginkan. Aku tak pernah tertarik pada siapa pun selain dirinya.

Ketika ciuman itu berakhir, Henry menatapku dengan mata berembun.

“Lili, ulangi lagi yang kamu bilang tadi. Aku pengen denger sekali lagi.”

“사랑해… (aku mencintaimu…)” bisikku.

“Sekali lagi.” katanya.

“사랑해… (aku mencintaimu…)” ucapku lebih pelan.

“Lebih keras.”

“사랑해! (aku mencintaimu!)” seruku akhirnya.

Henry tersenyum, memelukku erat.

“Lili, terima kasih. Akhirnya kamu membalas perasaanku juga.”

Aku tersenyum di dadanya. “Sebenarnya aku udah suka sama Kakak sejak dulu.”

Henry melepaskan pelukannya sedikit, menatapku tak percaya.

“Dari dulu? Maksudmu… sejak kapan?”

Aku menghela napas, menatapnya penuh kenangan.

“Entah sejak kapan tepatnya. Mungkin sejak kecil. Papa selalu lebih memerhatikan Kak Ana, dan aku selalu merasa cuma bayangannya. Tapi Kakak selalu ada buat aku—ngedengerin keluhanku, nyemangatin aku waktu aku gagal. Awalnya aku pikir itu cuma rasa sayang sebagai adik… tapi lama-lama, perasaanku berubah. Aku suka sama Kakak, bukan sebagai kakak, tapi sebagai pria yang selalu ada buatku.”

Henry terdiam lama, seolah mencoba mencerna tiap katanya.

“Lili… aku nggak nyangka kamu punya perasaan sedalam itu.”

Aku tersenyum sambil menghapus air mataku. “Makasih ya, Kak, udah selalu ada buat aku.”

“Mulai sekarang pun aku akan tetap ada buat kamu.” katanya tulus.

Aku tertawa kecil. “Kak Henry, jadi… sekarang kita ini apa?”

Henry mengangkat alisnya. “Sepasang kekasih? Kita pacaran mulai hari ini?”

Aku menunduk malu. “Terserah Kakak aja…”

Henry tersenyum nakal. “Baiklah. Lilia Putri Wiratama, mulai sekarang saya perintahkan kamu jadi pacar saya.”

Apa-apaan ini?

Dia sedang mode bos?

Baiklah… aku akan mengikutinya.

“Kalau gitu…” aku menatapnya menggoda. “Pak Henry Pratama yang terhormat, kalau saya jadi pacar Bapak, saya dapat apa?”

“Hati saya.” jawabnya cepat.

Aku tersenyum lebar. “Kalau bukan cuma hati, tapi seluruh tubuh Bapak juga, boleh?”

Henry menatapku lekat-lekat, lalu tersenyum. “Boleh.”

Kami tertawa kecil bersama. Untuk sesaat, dunia seolah hanya milik kami berdua.

“Oh iya…” aku tiba-tiba ingat sesuatu. “Buburnya!”

Aku buru-buru mengambil plastik bubur yang jatuh.

“Untung nggak tumpah.” ucapku lega.

Henry ikut menatap plastik itu. “Biar aku yang makan.”

“Eh? Bukannya Kakak udah makan bubur siang tadi?” tanyaku.

“Kan itu tadi siang. Bubur dari kamu bisa buat makan malam.”

Aku tersenyum sambil menyerahkan plastik itu. “Ya sudah, ini.”

Henry menatapku lembut. “Kamu mau pulang?”

Aku mengangguk pelan. “Iya. Udah sore, aku nggak bawa baju. Besok juga masih kerja.”

Henry menunduk, ekspresinya kecewa. “Baiklah…”

“Aku pulang dulu, Kak.”

Henry hanya mengangguk, menatapku sampai aku keluar dari pintu apartemennya.

Begitu pintu tertutup, aku bersandar di dinding koridor, memejamkan mata.

Hatiku berdebar kencang—antara bahagia dan takut.

Ciuman pertama kami terasa seperti mimpi… mimpi yang terlalu indah untuk jadi kenyataan.

Baru beberapa meter menjauh dari apartemen Henry, kata-katanya tiba-tiba terngiang di kepalaku.

“Jangan pergi, Lili. Tetaplah di sini. Aku pengin kamu nemenin aku di sini.”

Tanpa pikir panjang, aku membalikkan motor dan melajukannya ke toko pakaian terdekat.

Aku memilih satu set pakaian kerja untuk besok, lalu kembali ke apartemen Henry dengan jantung berdebar tanpa bisa kutahan.

Ding dong!

“Siapa?” suara Henry terdengar dari dalam.

“Lia, Kak.” jawabku cepat.

Pintu terbuka. Wajah Henry muncul dengan ekspresi terkejut bercampur bingung.

“Lili? Kenapa kamu balik lagi?”

Aku mengangkat paper bag di tanganku. “Aku tadi… sekalian beli baju buat kerja besok. Terus… aku mau nemenin Kakak malam ini.”

Henry menatapku beberapa detik, lalu senyumnya muncul perlahan—hangat dan lembut.

“Masuklah.” katanya sambil membuka pintu lebih lebar.

Aku melangkah masuk.

Klik.

Pintu apartemen tertutup di belakangku.

“Jadi kamu bukannya pulang, tapi malah belanja baju?” Henry bertanya setengah tertawa.

Aku mengangguk malu. “Biar besok aku nggak perlu pulang. Aku mau langsung berangkat dari sini.”

Henry terkekeh kecil. “Lili… kamu sampai mikirin sejauh itu.”

“Aku cuma pengin nemenin Kakak. Waktu aku sakit, Kakak juga jagain aku.” ucapku pelan.

Henry menaikkan salah satu alisnya. “Jadi ini balas budi?”

Aku tersenyum tipis sambil menatapnya. “Bukan. Ini cinta.”

Henry mendekat dan mengecup bibirku sekilas—ringan, tapi membuat lututku lemas.

“Ini juga cinta.” bisiknya.

Panas menjalar ke pipiku. Aku menunduk, nahan malu.

“Sekarang kamu mandilah,” ucapnya. “Pakai bajuku aja, kayak waktu itu.”

“Ya.” sahutku pelan, lalu masuk ke kamarnya.

Aku meletakkan tas dan paper bag di tempat tidur, mengambil salah satu baju Henry yang beraroma lembut sabun. Ada sesuatu yang menenangkan dari aroma itu.

Kemudian aku masuk ke kamar mandi, dan setelah lima belas menit, aku keluar dengan rambut masih setengah basah.

Henry duduk di sofa ruang tamu, menonton film superhero di TV.

“Kakak nggak istirahat?” tanyaku.

“Nggak. Seharian ini aku udah cukup tidur.” jawabnya santai.

Aku hanya mengangguk dan duduk di sebelahnya.

“Kenapa sih Kakak suka nonton film superhero kayak gini?” tanyaku heran.

“Bagus, seru.” jawab Henry singkat.

“Seru dari mananya? Menurutku biasa aja.” protesku.

Henry menatapku sejenak lalu terkekeh. “Kamu kebanyakan nonton drama Korea, jadi nggak tahu di mana letak serunya.”

Aku ikut tertawa. “Mungkin. Tapi tetap aja, menurutku drama Korea paling seru. Apa pun genrenya.”

Henry tersenyum geli. “Apa yang kamu suka dari drama Korea?”

“Ceritanya, akting aktornya, sinematografinya. Semua.” jawabku semangat.

“Kirain karena pemeran utamanya ganteng-ganteng.” godanya.

“Itu juga,” kataku sambil tertawa. “Tapi bukan cuma itu. Dari drama, aku belajar banyak hal. Tentang kehidupan, profesi, perjuangan, bahkan bahasa.”

Henry menatapku kagum. “Jadi kamu nggak asal nonton, ya?”

“Iya dong. Awalnya cuma buat hiburan, tapi lama-lama aku sadar, banyak banget yang bisa dipelajari. Kadang tanpa sadar ada aja kata baru yang nyangkut di otak. Dari situlah aku mulai belajar bahasa Korea.”

“Hebat.” ucap Henry sambil bertepuk tangan kecil.

Aku tersenyum bangga.

“Kalau gitu, ajari aku juga bahasa Korea.” katanya tiba-tiba.

Aku menatapnya heran. “Hah? Kakak mau belajar?”

“Iya,” jawabnya mantap. “Aku bilang satu kalimat, kamu terjemahin.”

“Oke,” sahutku. “Coba.”

Henry menatapku dengan senyum misterius. “I miss you.”

“보고싶어. (Bogosipo)” jawabku.

“I like you.”

“좋아해. (Joahae)”

Henry menatapku semakin dalam. “I will always be with you.”

Aku berpikir sejenak, lalu mengucap perlahan, “나는 항상 너와 함께할 거야. (Naneun hangsang neowa hamkke halgeoya)”

Henry mengerutkan dahi. “Apa? Ulangi.”

Aku tersenyum sabar. “나는… (Naneun...)”

Henry mengikuti pelan, “나는…”

“항상… (Hangsang...)”

“항상…”

“너와… (Neowa...)”

“너와…”

“함께할 거야. (Hamkke halgeoya.)”

“함께할 거야,” ulangnya. Lalu dengan percaya diri ia mengucapkan seluruh kalimatnya, “나는… 항상… 너와… 함께할 거야.”

“Benar,” kataku sambil tersenyum puas. “Ada lagi?”

Henry tidak menjawab. Ia hanya menatapku lama, lalu menggenggam kedua tanganku.

“Lili…” ucapnya lembut.

“Ya?” balasku.

Henry menatapku dalam-dalam. “나는 항상 너와 함께할 거야.”

Aku tersenyum kecil. “Iya, benar Kak, kayak gitu.”

Henry menggeleng pelan. “Aku nggak lagi mengulang pelajaran. Aku lagi bilang itu buat kamu.”

Aku tertegun. “Hah? Buat aku?”

Henry mengangguk. “Aku serius, Lili. Aku akan selalu bersamamu.”

Aku memandangnya lama, hatiku bergetar. Lalu perlahan aku melepaskan tanganku dari genggamannya dan memeluknya erat.

“나도. (Aku juga)” bisikku.

Henry menunduk, menatap wajahku. “Apa?”

Aku tersenyum, menatap matanya dengan lembut.

“Aku juga. Aku juga akan selalu bersama Kakak.”

Henry balas memelukku, kali ini lebih erat, lebih hangat. Tak ada kata lagi di antara kami—hanya detak jantung yang berpadu di ruang sunyi itu.

Di luar, langit senja menurunkan hujan rintik-rintik yang memantul di jendela apartemen. Tapi di dalam ruangan itu, semuanya terasa hangat.

Cinta yang selama ini kami sembunyikan akhirnya menemukan rumahnya.

Dan sore itu… untuk pertama kalinya, aku merasa tenang—seolah dunia di luar berhenti, menyisakan hanya kami berdua di dalam waktu yang tak ingin berhenti berputar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!