Yah, ganteng sih... tapppiiii pekerjaan pacar kamu kan Office Boy. Memangnya kamu ngga bisa cari yang lebih baik?
Disaat yang sama Boss Besar mengirimkan rangkaian bunga dan kalung berlian sebagai apresiasi pekerjaannya sebagai sekretaris.
Jadi, siapa yang harus dipilihnya?
Si Tampan Office Boy, atau si Milyuner Big Boss?
Gals, Yuhuuu..
Novel ini secara teknis sebenarnya sudah tamat di Bab 47, tapiiiiiii karena kesalahan teknis yangvtidak bisa dihapus, tampilannya jadi berantakan. Jdi diriku usahakan membuat cerita extra sampai Bab 65 yaaaa.
Terimakasih Yang Sudah Vote!!
Cup Cup Muahh deh, semoga semua yang Vote dan memberi diriku tips (hehe) hidupnya makin sukses dan selalu bahagia.
Aamiin...
hihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
relationship
Sekitar setengah jam kemudian Lucas masuk ke mobil sambil menatapku dengan pandangan menuntut penjelasan.
"So... what's going on out there?" tanya Lucas. "Is there something i need to know or...Something i doesn't need?!...." ia melambaikan tangannya.
Lalu menatapku menuntut penjelasan.
Aku hanya meliriknya sambil berusaha menenangkan jantungku yang rasanya mau mencelot keluar.
Wangi parfumnya membuatku ingin selalu mendekat.
Merek apa sih...
Kok rasanya sangat memikat...
"Atau perlu dicium lagi biar ngomong?!"
Ia mulai tak sabar.
Pingin rasanya bilang iya.
Aku tersenyum samar.
"Ya udah, sini..." ia menyelipkan tangannya yang besar di belakang tengkukku untuk menarikku.
"Iih....!" Aku menghindar. "Iya iya! Aku ngomong..." sahutku.
Lalu aku menghela napas yang nyatanya sudah menjelaskan banyak hal dari helaannya.
"Mereka yang ngegosipin Kamu?!" tanya Lucas akhirnya. Aku mengangguk.
"Kenapa Aku?" tanya pria itu.
"Kenapa enggak?"
"Yah..." dia mengangkat bahu.
Kok reaksinya begitu sih... Bukannya seneng. Aku tuh sampe diajakin makan siang berkali-kali sama kaum women addict di lantai 10 loh, Aku malah pilih dia, seharusnya seneng dong...
Jangan-jangan...
"Kamu... Segitu ga sukanya ama Aku yah...?!" tanyaku.
"Ha?" alisnya terangkat.
"Atau...Kamu suka orang lain tapi harus terpaksa sama Aku karena Kamu orangnya ngga enakan?!" begitu analisaku.
"Ya ampun..." dia menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. Lalu dia menoleh ke luar jendela sambil mesem-mesem.
"Atau..." Aku melanjutkan argumenku. "Jangan-jangan Kamu...penyuka sesama jenis...?" Aku tak yakin sih yang ini.
Ia berbalik menatapku sambil melotot kesal, "Serius Kamu nyangka Aku begitu?!"
"Yaaa... Habis tingkah Kamu begitu... Ya pikiranku jadi macam-macam." Aku menengadahkan tanganku.
Dia menggelengkan kepala.
"Kok jadi kesel ya..." katanya.
Eh, dia ngambek yah...
Lucu deh...
Dia menghela napas.
"Kita udah ngga bisa mundur loh. Gosip bakalan cepet banget ngerambatnya. Udah pasti besok Pak Leon bakal denger. Dan Big Boss..." ia mengangkat bahunya.
"Aku lebih baik digosipin sama Kamu daripada sama para direksi." sahutku.
"Karena Aku yang paling aman buat m0iengalihkan perhatian, gitu?!" nadanya terdengar menyindir.
"Pengalih perhatian?!" Aku jadi sakit hati. Aku serendah itu yah dimatanya.
"Dari apa?" tuntutku meminta penjelasan.
"Yah mungkin ada yang Kamu tutup-tutupin terus Kamu jadi pake Aku agar jadi oengalih perhatian dari kenyataan sebenarnya, dan lagi ngga bakal ada lagi yang ngajak Kamu kencan kalo Kamu ketahuan punya pacar..."
Aku menahan geram.
"Memangnya siapa menurut Kamu yang berusaha Aku tutup-tutupin, hah?!"
"...yaa...mungkin Big Boss."
Aku beneran pingin nampar nih cowok.
Untung dia Lucas.
"Aku bahkan ngga tau tampang itu orang kayak apa."
"Atau...Kamu masih punya hubungan sama Leon."
Aku diam.
Kesal...sebal...Aku harus jawab apa.
"Can you just drive me home..." sahutku akhirnya, ngga ingin berbuat keributan.
"Oke." jawabnya.
Aku menatapnya, dengan mata yang berkaca-kaca.
Yep! Aku menangis.
Kali ini Lucas keterlaluan.
Entah bagaimana kalau yang lain nyinyir Aku tidak terlalu sakit hati karena sudah kebal.
Tapi saat Lucas yang bicara... Kayak ada godam dihantam ke kepalaku.
Sakit.
Aku tahu dia hanya berusaha jujur atas semua perkataannya padaku
Atau mungkin Aku yang terlalu sensitif hari ini.
Tampaknya diapun menyadari kesalahannya.
Dia hanya menghela napas dan menstarter mobilku. Lalu ia mengantarku pulang.
*****
Sepanjang perjalanan pikiran Lucas campur aduk.
Pertama, perbincangan mereka di loteng tadi siang, mematahkan semua teori yang telah ia susun. Analisanya langsung rontok dalam 5 menit. Dari cerita Bianca, terdengar kalau wanita itu bukanlah wanita yang ia cari. Tapi ia masih harus memastikan kalau wanita itu tidak berbohong.
Lalu dia mendapati tingkah Bianca yang aneh saat dia baru kembali tadi. Bagaimana mungkin dia benar-benar mencium Bianca di depan semua orang...
Lalu saat bebersih di lantai 10, dia melihat karangan bunga yang ia kirimkan untuk Bianca malah dipajang di meja tamu.
Dan sekarang... ia malah membuat Bianca menangis. Karena dia tiba-tiba kesal teringat cerita Bianca tadi siang sewaktu wanita ini bilang kalau Leon yang mengambil keperawanannya.
Astaga...
Apa dia beneran cemburu?!
Jangan sampai dia terjebak ke dalam perangkap.
Saat tiba di rumah Bianca, setelah memarkir mobil wanita itu di garasi, Lucas menghentikan wanita yang sedang kesal itu, lalu memeluknya.
"Maaf ya...Aku udah bikin kesal Kamu yah..."
"Kamu itu..." tangis Bianca pecah lagi. "Baru kali ini ada cowok yang nolak Aku terang-terangan! Aku tuh percaya sama Kamu, Kamu malah bawaannya curiga terus sama Aku!"
"Ya ampun..." keluh Lucas. Ia menggeret Bianca masuk ke rumah, ngga enak bisa diliatin tetangga.
Si Bibi asisten rumah tangga terkejut mendapati nonanya pulang sambil nangis dan digandeng cowok ganteng banget.
"A... anu...non..." gagapnya.
Lucas menunduk hormat, "Bik, Saya bawa Bianca ke kamar sebentar yah, bisa minta tolong siapin teh anget?" sahut Lucas.
Si Bibi cuma bisa mengangguk.
Lucas menutup pintu kamar Bianca.
"Bianca..." panggil Lucas. Pria itu mengangkat dagunya. "Udah dong selesai nangisnya..."
"Aku tuh salah ya suka sama Kamu..."
"Hah?!"
"Aku beneran ngga pede sekarang! Segitu jeleknya yah Aku...padahal para playboy lantai 10 aja Aku tolak-tolakin ajakkannya... Pantes aja Aku diputusin Leon kalo Aku segitu jel..."
"Kamu tuh ngga jelek duh... Kamu nih..." keluh Lucas sambil sibuk menghapus air mata Bianca.
"Terus kenapa perjalanan cintaku ngga mulus...!"
Lucas menghela napas dan kembali memeluk Bianca.
"Aku...Aku cuma ngga yakin kalo Kamu serius."
"Kamu tuh kan tau kapan Aku serius kapan Aku becanda."
"Ya tapi mana mungkin cewek sepintar Kamu bisa suka sama Aku, yang cuma..."
"Emang Aku permasalahin kerjaan Kamu apa?! Mau OB, mau Tukang nasi goreng, kan sama-sama halal! Kecuali Kamu mafia! Ato lagi nyamar!"
Lucas langsung deg-degan.
Ya dia memang lagi dalam undercover, tapi juga bukan mafia.
Mereka terdiam.
Sama-sama tenggelam di pikiran masing-masing.
Lalu terdengar ketukan di pintu, si Bibi datang membawa dua gelas teh manis anget.
"Minum dulu deh..." Lucas memberikan gelas tehnya.
Sambil terisak Bianca menyeruput tehnya. Ia merasa lebih tenang kali ini.
"Aku...minta Kamu benar-benar memikirkan tindakan Kamu. Bukannya Aku ngga suka..." desis Lucas. "Aku takutnya Kamu menyesal." Pria itu menghela napas.
"Oke lah Aku tadi ngga berpikir panjang maen cium-cium Kamu di depan orang, tapi kalo itu bisa membantu Kamu untuk menyingkirkan penganggu ya Aku ikhlas aja. Bukannya Aku ngga suka sama Kamu. Kamu masih bisa cari yang lebih baik dari Aku.."
"Kamu suka ngga sama Aku?" tanya Bianca.
"Yah..." Lucas tampak berpikir keras.
"Kamu suka Aku apa enggak?! Jawab aja deh ribet amat!"
"Ya, Aku suka sama Kamu juga." Kata Lucas akhirnya, menyerah.
"Kamu ngomongnya kayak dalam tekanan, ngga usah terpaksa gitu dong!"
"Iya..."
"Iya apa?!"
Lucas tiba-tiba terkekeh. Bianca memelototinya.
"Duh... Galak banget sih Kamu, lagi ketiban apa sih..." kekehnya.
Bianca membuang muka.
"Heh, cantik... Mana ada orang mau nyatain cinta tuh dipaksa?! Kamu kayak preman lagi malakin pedagang kaki lima, deh..."
"Biarin aja..."
"Apa?" Lucas menggenggam tangan Bianca dan menangkupnya.
"Biarin aja besok kalo Pak Andre ngajakin makan siang, Aku ikut, Pak Aria ngajakin party, Aku ikut, Pak Bima ngajakin indehoi di hotel, Aku..."
"Eh, ngomong tuh dipikir dulu. Kok ngancemnya gitu sih..." protes pria itu. "Dimata mereka tuh kita udah jadi pacar, tau ga. Terus Kamu malah jalan sama mereka mau ditaruh di mana mukaku?!"
"Ya udah! Jadi gimana?!"
Lucas terkekeh lagi.
"Kamu tuh ketawa mulu deh!"
"Muka Kamu kalo ngambek lucu, ngga ada yang nyangka Number Six bisa kayak gini..."
"Bodo ah! Sana pulang!"
"Iya Sayang, bini gue galak banget, dah!" sahut Lucas kembali terkikik sambil beranjak.
Bianca menghela napasnya.
Wanita itu menatap sosok Lucas yang menjauh dengan muram.
Tak berapa lama, pria itu tiba-tiba berbalik ke arahnya.
"Lupa."
Dan mencium bibir Bianca.
Sekilas
Sebentar
Tapi benar-benar bikin Bianca tertegun.
"Jangan ngga bisa tidur mikirin Aku yah, besok jadwalnya Pak Bara dateng!" sahut Lucas itu sambil menyeringai.
Bianca diam saja sambil menatap pria itu.
Butuh waktu beberapa saat sampai ia bisa terbebas dari pesona...
Lucas Si Office Boy.
-------
kalo stag gak nemu novel baliknya kesini lagi kesimu lagi..
kayak kisah Jihan pacarnya baratadhika , ada di dunia nyata habis diperawanin pacar digilir temen²nya bedanya di dunia nyata sampai meninggal si cewe. sekarang juga lagi viral fantasi cinta sed4rah seperti di novel nya bang Sena. atau seperti kisah Kayla nya Zaki.
aku sabar madam menanti update nya novel ongoing... mungkin madam lagi cari inspirasi, sukses dan sehat selalu madam Septira ♥️
balek lagi ke Andre....
grusah grusuh Andre kiii😔 bawa Dimas yg pinter siasat kek , apa Alex atau pak Sebastian yg kolega nya banyak , apa minta bantuan nenek nya Gerald bagaswirya yg punya bolosewu . pasti dah gengster tanpa disentuh pun mati.