NovelToon NovelToon
Bangkit Setelah Dihancurkan

Bangkit Setelah Dihancurkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Trauma masa lalu / CEO / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:893
Nilai: 5
Nama Author: Kumi Kimut

Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.

Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Tangisan Nana

Dimas tak tahu harus ke mana setelah meninggalkan pusat rehabilitasi itu. Jalanan terasa semakin sunyi, udara malam semakin dingin, sementara tubuhnya mulai terasa lelah. Langkahnya akhirnya berhenti di depan pos jaga yang tak jauh dari gerbang utama. Lampu kecil menggantung di sudut pos, menerangi wajah seorang satpam paruh baya yang sedang duduk sambil menyeruput kopi.

“Mas… mau ke mana?” tanya pak satpam ketika melihat Dimas berdiri ragu di depan pos.

Dimas menghela napas, bahunya turun perlahan. “Saya… nggak punya tempat buat pulang malam ini, Pak,” jawabnya jujur. Suaranya terdengar lelah, tapi matanya masih menyimpan api tekad.

Pak satpam mengamatinya beberapa detik. Awalnya ia menggeleng pelan. “Nggak bisa, Mas. Pos jaga bukan tempat nginep.”

Dimas mengangguk, paham. Ia sudah bersiap melangkah pergi ketika pak satpam menghela napas panjang, wajahnya melunak. “Tapi… kamu tadi yang mau jenguk pasien, ya?”

“Iya, Pak. Dia pacar saya,” jawab Dimas cepat.

Pak satpam terdiam sejenak, lalu menunjuk bangku panjang di sudut pos. “Ya sudah. kamu boleh tidur di sini tapi untuk malam ini saja."

Dimas menatapnya tak percaya. “Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak,” ucapnya tulus.

Ia merebahkan tubuh di bangku kayu yang dingin, menjadikan jaketnya sebagai alas kepala. Matanya menatap langit-langit pos yang kusam. Meski tubuhnya lelah, pikirannya tak bisa berhenti memikirkan Nana. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidur begitu dekat dengan Nana—hanya terpisah tembok dan jarak yang kejam.

Di kamar Nana, suasana sunyi. Lampu tidur menyala redup, menyisakan bayangan lembut di dinding. Nana terbangun perlahan, tenggorokannya terasa kering. Ia menelan ludah, lalu menekan bel kecil di samping tempat tidur.

Tak lama kemudian, seorang suster masuk membawa segelas air. “Haus, Mbak Nana?”

Nana mengangguk, menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Setelah meneguk beberapa kali, ia menghela napas lega. Namun ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. “Suster… tadi ada yang datang?”

Suster itu terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Iya. Namanya Dimas. Tapi sayang, jam besuk sudah habis.”

Jantung Nana seolah berhenti berdetak sesaat. “Dimas…” bisiknya pelan. Dadanya terasa sesak. Perasaan yang ia kira sudah terkubur rapi, mendadak bangkit dengan kasar. Ia masih cinta pada Dimas—terlalu cinta. Tapi ia juga tahu, bertahan bersamanya bisa menghancurkan masa depan Dimas.

“Dia… dia sudah pergi?” tanya Nana lirih.

Suster menggeleng. “Belum. Tadi saya lihat dia masih di pos satpam.”

Mata Nana membesar. Tanpa berpikir panjang, ia turun dari ranjang, berjalan tertatih ke arah jendela. Tirai ia geser sedikit, cukup untuk mengintip keluar. Dari kejauhan, ia melihat sosok Dimas terbaring di bangku pos jaga, tubuhnya meringkuk menahan dingin.

Air mata Nana langsung tumpah. Tangisnya pecah, tertahan tapi menyakitkan. Tangannya menutup mulut, bahunya bergetar hebat. “Dimas… kenapa kamu sekeras ini…” gumamnya di sela isak.

Di saat yang sama, pintu kamar terbuka pelan. Seorang pria berjas putih masuk, wajahnya tenang namun sorot matanya tajam. “Nana,” sapa dokter Jordan lembut. “Kamu kenapa?”

Nana buru-buru mengusap air matanya, membalikkan badan. Namun dadanya masih naik turun, tak mampu menyembunyikan luka yang menganga. Dokter Jordan menatap ke arah jendela yang tirainya setengah terbuka, seolah mulai memahami.

“Aku gak papa kok dok." Muka Nana tampak pucat dan ...

Bruak!

"Nana... Kamu kenapa! Nana!"

***

Bersambung...

1
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!