"Menikah denganku."
Risya Wicaksono, berusia 27 tahun.
Atau lebih di kenal dengan panggilan Icha, melotot terkejut, saat kalimat itu terlontar dari mulut lelaki yang sangat tidak ia sangka.
Arnold Adiguna.
Lelaki berusia 33 tahun. Yang juga masih merupakan salah satu kakak sepupunya.
Lelaki itu mengajaknya menikah. Semudah lelaki itu mengajak para sepupunya makan malam.
Icha tidak menyangka, jika lelaki itu akan nekat mendatanginya. Meminta menikah dengannya. Hanya karena permintaan omanya yang sudah berusia senja.
Dan yang lebih gilanya. Ia tidak diberikan kesempatan untuk menolak.
Bagaimanakah Icha menjalani pernikahan mereka yang sama sekali tidak terduga itu?
Mampukah ia bertahan hidup sebagai istri sang Adiguna? Lelaki yang dikenal sebagai CEO sekaligus Billionaire dingin nan kejam itu.
Mampukah mereka mengarungi pernikahan tanpa saling cinta?...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Hasibuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akad nikah mendadak
"Saya terima nikah dan kawinnya Risya Wicaksono binti Rayhan Wicaksono. Dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Suara tegas Arnold melontarkan Ijab kabul terdengar di di ruang rawat inap tersebut.
Ia berjabat tangan langsung dengan Rayhan Wicaksono, yang menyerahkan Icha kepada Arnold.
" Bagaimana saksi? Sah?"
Penghulu menoleh pada mereka semua yang ada di ruangan itu.
"SAH!"
Secara kompak terdengar jawaban bersamaan.
Usai membacakan beberapa doa setelah akad nikah selesai dilaksanakan. Kedua pengantin menandatangi buku nikah. Juga beberapa berkas yang di serahkan pada keduanya.
Icha di unjuk untuk menghadap Arnold. Menyalim tangannya sebagai sentuhan pertama dan tanda hormat untuk suaminya.
Icha melakukan semua itu dengan di bantu oleh mertuanya, Queen Laksmana.
Dengan make up sederhana, dan pakaian yang ia kenakan, Icha mendekati Arnold. Beruntung para sepupunya membantu ia bersiap dengan cepat. Mereka juga mendandani Icha dengan lebih cantik.
Tertegun oleh sikap Icha yang menyalim tangannya. Arnold terpaku dan terdiam untuk beberapa saat.
Pernikahan mereka memang terkesan dilaksanakan secara mendadak. Bahkan ia dan juga Icha, tidak saling mencintai. Dan hanya ingin memberikan semangat kepada oma Jasmine untuk sembuh.
Namun siapa sangka jika hatinya bergetar hangat begitu akad nikah selesai dilaksanakan. Dengan Icha yang melakukan tugas pertamanya sebagai seorang istri.
Arnold mendekat dan mencium kening Icha. Sebagai tanda resminya ia dan Icha sebagai suami istri.
'Tes!'
Air matanya yang jatuh tanpa Icha sadari. Tidak pernah terbayangkan olehnya sedikitpun. Jika ia akan menikah secara tiba-tiba seperti ini.
Terlebih akad nikah antara ia dan Arnold, dilaksanakan di ruang rawat di rumah sakit seperti sekarang.
Queen mendekati Icha dan memeluk menantunya itu dengan erat.
"Mama tahu jika keadaan kita saat ini begitu sangat membingungkan. Tapi mama berharap kehidupan pernikahan kalian akan selalu bahagia dan harmonis selamanya." Ia tersenyum dan mencium pipi Icha, bergantian kepada anak tunggalnya Arnold.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Arum.
Selesai dengan kedua wanita paruh baya itu. Arnold beserta Icha mendekati Alex dan juga Rayhan.
Kedua lelaki paruh baya itu memberikan harapan dan doa yang sama untuk Arnold dan Icha.
Usai meminta restu dari kedua orang tua mereka. Giliran Arnold dan Icha berbalik menghadap ke arah brankar. Di mana keberadaan Oma Jasmin yang berbaring dan menoleh ke arah mereka.
Dengan ditemani oleh opa Rama yang saling menggenggam. Keduanya tersenyum penuh haru melihat Arnold yang telah resmi menikah dengan Icha.
Meraih jemari Icha, wanita sekaligus sepupu yang baru saja resmi ia nikahi. Arnold menunduk kecil dan mencium pipi Omanya.
" Selamat atas pernikahannya." Suara lirih yang sangat perlahan terdengar dari Oma Jasmine.
" Terima kasih Oma. Dan aku berharap agar oma bersemangat untuk sembuh semakin cepat." Arnold memberikan semangat untuk omanya yang hanya mengangguk perlahan.
Perhatian Icha dan Arnold teralihkan kepada Opa Rama dengan kedua tangan yang terentang. Lelaki berusia senja itu memeluk kedua cucunya dengan erat.
"Kalian berusaha memberikan yang terbaik. Dan Opa sangat bersyukur karena kalian bisa memberikan kebahagiaan untuk istri Opa." Ucapan dari Rama membuat keduanya mengangguk dan memeluk lelaki itu dengan sayang.
Namun baru saja selesai memeluk Opa Rama. Bunyi layar monitor yang begitu nyaring menyentak perhatian mereka semua.
Icha segera berdiri dan memperhatikan layar monitor itu dengan mata nanar. Sedangkan Rafael langsung bergerak ke arah brankar memeriksa.
Oma Jasmine bahkan sudah memejamkan mata dengan wajah yang begitu pucat.
Icha ikut membantu Rafael memeriksa kondisi Oma Jasmine. Mengabaikan jika saat ini baru saja pernikahannya berlangsung.
Ia sedikit menunduk memeriksa denyut jantung. Sedangkan Rafael memeriksa beberapa titik lain untuk memperjelas kondisi wanita berusia senja itu.
Melihat Rafael yang memejamkan mata, Icha hanya bisa menunduk dengan mencengkeram pinggir brankar.
"Bagaimana keadaan istri Opa?" Rama bertanya dengan suara yang bergetar ketakutan. Wajahnya berusaha terlihat begitu tenang.
"Oma masih ada bersama kita Opa." Rafael menjelaskan dengan nada suara serak dan wajah yang begitu lelah.
"Apa maksudnya?" Rama memperhatikan istrinya yang terlihat tidak sadarkan diri.
"Tapi kenapa kondisi istri Opa sepucat itu?" Ia menunjuk Jasmine.
"Sepertinya keadaan oma memburuk dan membuat Oma tidak sadarkan diri. Sekarang oma sedang koma."
Kondisi Oma Jasmine yang baru saja disampaikan oleh Rafael, membuat mereka semua yang ada di ruangan itu terdiam dalam keadaan yang sangat hening. Tidak ada yang bergerak dari dalam ruangan tersebut, kecuali para penghulu yang telah diantar oleh Fardhan keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaan Mama?" Baru saja fardhan memasuki ruangan, ia tersentak melihat keadaan semua orang yang tidak bersemangat.
"Mama koma." Fiya segera mendekati suaminya dan memberitahu kondisi mertuanya.
Ucapan itu membuat Fardhan memejamkan mata.
Mereka semua tidak menyangka jika kondisi Oma Jasmine akan memburuk secara tiba-tiba. Namun satu hal yang pasti, keinginan terakhirnya untuk melihat Arnold menikah akhirnya tersampaikan.
"Tidak masalah." Rama bersuara dan memandangi anak, menantu, serta para cucunya.
Ia memperhatikan semua wajah sedih mereka. Dan itu membuatnya merasa semakin sedih. Namun Rama berusaha tegar di hadapan semua penerusnya ini.
"Kita semua sudah memberikan keinginan terakhir yang diimpikan oleh istriku." Ia melirik sang istri dan menggenggam jemarinya secara perlahan.
"Dan aku yakin, ia sedang berjuang untuk melawan sakitnya. Karena ingin kembali ke antara kita semua." Mencoba bersikap tegar. Rama berharap perkataannya memberikan semangat pada semua anak cucunya itu.
"Arnold dan juga Icha." Suara Rama membuat kedua orang yang baru saja melangsungkan akad nikah itu menoleh secara bersamaan.
"Kalian berdua baru saja menjalani kehidupan pernikahan ini." Rama berkata dengan lebih serius.
" Jangan jadikan pernikahan ini sebagai permainan, karena kalian berdua memiliki tanggung jawab yang sama besar di dalam pernikahan ini." Ia menasehati kedua cucunya tersebut.
"Dan opa sangat yakin, dengan pernikahan kalian, akan membuat oma Jasmine bersemangat untuk sembuh dan kembali berkumpul dengan kita."
Seulas senyuman di wajah tua opa mereka membuat Arnold mengangguk perlahan. Ia meraih jemari Icha dan menggenggamnya dengan lembut. Menenangkan wanita yang berusia jauh lebih mudah darinya tersebut.
" Opa berkata dengan benar." Ia melihat tatapan Icha yang masih memperhatikan Oma Jasmine.
" Oma adalah wanita yang kuat sejak dulu. Dan aku yakin ia akan kembali berkumpul bersama kita."
Ucapan Arnold membuat setiap orang yang ada di ruangan itu mengangguk dan mengaminkan. Besar harapan mereka jika Oma Jasmine masih akan ikut berkumpul bersama mereka seperti biasa.
"Kalian berdua pulanglah. Tidak ada lagi yang bisa kalian lakukan di ruangan ini." Rama kembali bersuara.
" El sudah ada di sini untuk memeriksa kondisi Oma. Kami semua juga ada di sini untuk menjaga Oma. Kalian pulang untuk malam ini. Karena kalian berdua memerlukan istirahat dari semua kelelahan yang baru saja terjadi."
Ucapan Rama membuat Arnold dan Icha tersadar, jika hubungan mereka sekarang adalah sepasang suami istri.
Queen mendekati Icha bersama dengan Arum.
"Benar apa yang dikatakan oleh Opa sayang. Kalian berdua baru saja menikah. Dan sudah sepantasnya kalian pulang untuk tinggal di tempat kalian sendiri." Queen meyakinkan Icha.
"Tapi-" Icha mencoba bersuara.
Ia masih merasa tidak tenang jika meninggalkan ruangan tersebut.
" Baiklah Mama. Aku akan membawa Icha pulang." Arnold langsung menjawab dan memangkas ucapan Icha.
Ia menggenggam jemari Icha dan meyakinkan wanita itu untuk ikut bersama dengannya.
Sungguh malam ini mereka benar-benar memerlukan istirahat yang lebih leluasa. Karena semua anggota keluarga mereka ada di sana untuk menjaga oma Jasmine.
Tidak bisa membantah lagi, Icha memilih mengangguk. Sepertinya semua orang sependapat jika ia harus pulang bersama dengan Arnold.
Icha akhirnya ia mengikuti langkah Arnold dan meninggalkan ruangan itu setelah pamit pada semua orang.
.....................
apa yg kamu lakukan ituu .... jahat buat babang Ar...
Sejauh ini ceritanya menarik