Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Bertemu Om baik hati
Matahari bersinar cerah pagi itu, menghapus sisa-sisa hujan yang seharian kemarin mengguyur bumi. Darrel, dengan senyum penuh semangat, menyiapkan dagangannya. Termos air panas dan termos es telah terisi penuh, lalu dibawanya ke luar dan ditata rapi di dalam gerobak. Kopi sachet aneka merek, dan minuman instan lainnya berjejer tergantung rapi pada besi di sisi kanan kiri gerobaknya.
Tiba-tiba, Bu Murni datang mengagetkan Darrel yang sedang sibuk menata dagangannya.
"Assalamu'alaikum, Mas Darrel," sapanya sambil tersenyum ramah.
"Eh, wa'alaikumsalam, Bu," jawab Darrel sambil tersenyum dan mengangguk hormat.
"Begini, Mas. Saya berniat menitipkan dagangan saya sama Mas Darrel. Dari saya lima ribu empat, nanti masnya bisa jual lima ribu tiga," kata Bu Murni.
Darrel tertegun sejenak sambil menatap kotak kecil berisi gorengan. Dia merasa bingung—ingin menolak, tetapi sungkan. Kalau diterima, bagaimana jika tidak habis?
Rupanya, Bu Murni bisa membaca keraguan Darrel. "Mas Darrel tidak usah merasa takut kalau nanti dagangan saya tidak habis. Ini hanya awal sebagai percobaan saja."
Darrel tersenyum. "Baiklah, Bu. Saya akan berusaha menawarkannya pada pelanggan," kata Darrel.
"Terima kasih ya, Mas. Semoga dagangannya laris manis hari ini," kata Bu Murni. "Kalau begitu saya permisi. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," sahut Darrel, kemudian menaruh kotak berisi gorengan itu ke dalam gerobak.
"Papa," panggil Zoey, gadis kecil itu berdiri di depan pintu. Di sampingnya, Zayn tampak menguap, mungkin masih mengantuk.
"Eh, kalian sudah bangun?" sambut Darrel seraya berjalan mendekat. Dia membungkukkan badannya lalu mengelus pucuk kepala mereka sambil tersenyum. "Pinternya anak papa, bangun sendiri."
"Ayo, mandi," ajaknya pada sang anak. "Setelah itu, kita sarapan dan siap berjualan."
"Hari ini kita jualan, Pa?" tanya Zayn dengan suaranya yang masih serak khas bangun tidur.
"Iya, dong. Kan, kemarin kita sudah libur sehari. Jadi, hari ini kita berjualan lagi," jawab Darrel.
"Horeee... Kita jualan lagi!" seru Zoey sambil bertepuk tangan.
Keduanya pun mandi bergantian tanpa banyak drama. Setelah berganti pakaian, Zoey dan Zayn duduk di meja makan dan mulai menyantap sarapan mereka. Meski hanya tahu dan tempe goreng, serta telur orak-arik, mereka tetap menikmatinya dengan lahap.
"Enak, Pa," puji Zayn sambil mengacungkan jempolnya.
"Iya, masakan Papa enak," timpal Zoey sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
Darrel tersenyum mendengar pujian dari kedua anaknya. Dia merasa sedikit terhibur.
"Makan yang banyak, ya," ucapnya seraya mengusap pucuk kepala mereka dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Selesai sarapan, Darrel segera membereskannya lalu siap berangkat berjualan. Zoey duduk di depan bersama sang ayah, sementara Zayn dengan riang berdiri di belakang sendirian.
"Bismillah, hari ini laris manis." Darrel berdoa dalam hati, lalu menyalakan motornya dan melaju meninggalkan rumahnya.
Sesampainya di taman, Darrel memarkirkan motor roda tiganya di bawah pohon rindang. Sebelum turun dari motornya dia menurunkan Zoey terlebih dahulu lalu bergeser ke belakang dan menurunkan Zayn dari gerobak.
Tak lama kemudian, pelanggan pertama datang. Seorang bapak paruh baya yang sering mampir untuk minum kopi.
"Selamat pagi, Mas," sapa bapak itu sambil tersenyum. "Wah rajin sekali ya, pagi-pagi sudah sampai di sini."
"Iya, Pak. Mumpung cuaca cerah," jawab Darrel sambil menyiapkan kopi pesanan bapak itu. "Seperti biasa, kopi hitam tanpa gula?"
"Betul sekali, Mas. Jangan lupa gorengannya, ya," kata bapak itu sambil menunjuk kotak gorengan yang ada di gerobak.
"Siap, Pak!" sahut Darrel. Dengan sigap dia kemudian membuatkan kopi dan mengambilkan beberapa gorengan untuk pelanggannya.
"Ini, Pak. Silakan," kata Darrel sambil menyerahkan kopi dan gorengan.
"Terima kasih, Mas," kata bapak itu sambil menikmati kopi dan gorengannya.
Darrel tersenyum lega, dia merasa senang dagangannya mulai laku dan berharap, hari ini akan menjadi hari yang baik.
"Papa, gorengannya harganya berapa? Boleh nggak, Zoey bantu jual gorengannya?" tanya Zoey tiba-tiba.
Darrel terkejut. "Zoey mau menjual gorengan?" tanyanya ragu.
"Kan, sama Zayn, Papa," sahut Zayn cepat.
"Iya, Pa. Nanti kita bisa pegang berdua," Zoey berusaha meyakinkan.
Darrel tersenyum. "Baiklah. Harga gorengannya lima ribu tiga."
"Tapi, kalian harus hati-hati dan sopan saat menawarkannya, ya," pesannya.
Zoey dan Zayn mengangguk. Sambil memegang kotak berisi gorengan Bu Murni, mereka berjalan mendekati beberapa orang yang berkumpul di taman tersebut.
"Permisi, Bapak, Ibu. Kami jual gorengan, masih hangat," tawar Zoey dengan tanpa rasa malu.
Beberapa orang menoleh dan tersenyum melihat Zoey dan Zayn. Ada yang tertarik untuk membeli, ada juga yang hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Wah, pintar sekali kamu, Nak. Gorengannya berapaan?" tanya seorang ibu.
"Lima ribu tiga, Bu," jawab Zayn dengan sopan.
"Boleh deh, buat camilan," kata ibu itu sambil memberikan uang.
Zayn menerima uang itu dan Zoey memberikan gorengan kepada ibu itu. Mereka merasa senang karena berhasil menjual gorengan.
"Makasih, Bu," ucap Zoey dan Zayn dengan riang.
Selanjutnya mereka kembali berkeliling sambil menawarkan gorengan pada orang-orang yang berlalu lalang. Seorang pemuda tampan turun dari mobil mewah lalu menghampiri si kembar.
"Gorengannya berapa, Dek? Boleh nggak, om borong semua?" tanya pemuda tampan itu sambil berjongkok dan tersenyum manis kepada si kembar.
Kedua bocah itu tampak bengong sambil mengerjapkan matanya lucu. Mereka menatap pemuda tampan itu dengan pandangan bingung.
"Maksudnya, om akan membeli semua gorengannya. Boleh, kan?" ulang pemuda tampan itu lagi.
"Memangnya, Om akan makan gorengan sebanyak ini?" Zoey balik bertanya.
Si pemuda tampan itu pun kembali tersenyum sambil tangannya terulur mengusap kepala Zoey dan Zayn. Dia merasa gemas.
"Ya enggak juga. Tapi kan, nanti om bisa makan bareng yang lain, teman-teman mungkin," jawab pemuda tampan itu.
"Oke," sahut Zayn lalu mengambil bungkus kertas dan plastik lalu menyerahkan pada sang pemuda.
Dengan cekatan pemuda tampan itu memindahkan semua gorengan ke dalam bungkus kertas. Semua menjadi tiga bungkus lalu memasukkan ke dalam kantong plastik.
"Nah, ini uangnya. Diterima, ya," kata pemuda tampan itu sambil menyerahkan uang merah masing-masing lima lembar ke tangan Zayn dan Zoey.
Kedua anak itu kembali terbengong dan saling berpandangan. Mereka bingung menerima uang sebanyak itu.
"Ini banyak sekali, Om," ujar Zayn heran. Kata Papa gorengannya, lima ribu tiga. Tapi kenapa uangnya banyak?" tanya Zayn.
"Nggak pa-pa. Itu bonus buat kalian karena sudah menjadi anak yang baik dan membantu Papa." Si pemuda tampan itu berusaha meyakinkan. Dia semakin gemas lalu mencium pucuk kepala Zayn dan Zoey dengan lembut. Matanya sedikit berembun, ada perasaan -- entahlah, dia pun sulit menjabarkannya.
"Bye..." Pemuda tampan itu berdiri dan lekas berbalik menuju mobil mewahnya terparkir.
Di dalam mobil, dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi sambil memejamkan mata. Setetes airmata lolos dari kedua sudut matanya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian dia menyeka airmatanya lantas mengambil ponsel dan menghubungi seseorang, lalu menutup kembali panggilannya. Sebelum melajukan kendaraannya, sekali lagi dia menatap Darrel bersama Zayn dan Zoey dari kejauhan.
Sementara itu, Zayn dan Zoey langsung berlari menghampiri Darrel dan melaporkan apa yang baru saja mereka alami.
"Papa... Papa! Gorengannya sudah habis! Om baik hati yang memborong gorengannya!" teriak mereka sembari memperlihatkan kotak gorengan yang sudah kosong.
"Iya, Pa! Kita bertemu Om baik hati. Om itu kasih kita uang banyak," Zayn menunjukkan lima lembar uang merah pada Darrel. Demikian halnya dengan Zoey.
Darrel mengernyit heran, lantas mengedarkan pandangannya. Dia menangkap seseorang dari dalam mobil melambaikan tangan padanya dan tersenyum penuh arti lalu melaju meninggalkan tempat itu.
.
Kira-kira siapa pemuda tampan itu, ya?