NovelToon NovelToon
What We Were Never Given

What We Were Never Given

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: Oryelle

Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.

Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?

Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Ayo bercerai!

Sesuai janji Kala, Nareya akan bekerja dengan dia. Lebih tepatnya di salah satu bisnis nya bersama adiknya Kirana. Yup, akhirnya Nareya bekerja di bidang fashion. Butik mereka yang tadinya hanya menyediakan gaun pengantin, sekarang juga menyediakan pakaian kasual. Berkat kerja sama mereka, bisnis itu sekarang menjadi lebih luas menjamah konsumen.

“Besok anniversary pernikahan, ada rencana liburan kemana mbak?” tanya Karina

“Nggak mungkin ada liburan sih, ini kalo gue curhat lo cepuin gak?”Nareya balik bertanya.

Mereka sedang merancang koleksi yang akan dipamerkan saat promosi fashion show. Itu fashion show pertama jadi mereka sangat bersemangat mempersiapkan semua yang akan dilakukan dalam beberapa bulan lagi. Satu-satunya bisnis Atmasena yang tidak ada campur tangan dari para tetua sebagai pendiri melejit.

“Aku itu cucu perempuan satu-satunya mbak, jadi lumayan berjarak termasuk sama mas Kala yang terlalu sibuk. Jadi tenang aja gak akan aku cepuin.”

“Gue kepikiran minta cerai. Lagian ini tuh menurut gue bukan pernikahan, cuma kesepakatan. Apa yang ada di kesepakatan dulu kan sekarang udah gak relevan lagi.“ ceplos Nareya

“Hah?! Maksudnya gimana?” tanya Kirana. Menatap Nareya dengan mulut terbuka dan mata membulat sempurna.

“Ya pernikahan kita itu bukan atas dasar cinta atau kemauan bersama. Tapi karena gue harus bayar hutang ke dia. Dia memanfaatkan gue buat jadi istrinya supaya dia bisa dapat status kan.”

“Mbak… wait. Ini beneran mas Kala lakuin itu ke mbak?”

“Ya, ini beneran. Kalau Kala sampai tau gue bicara ini ke lo juga gue gak takut sih. Cuma gue masih butuh beberapa waktu untuk gue siap ngajuin cerai.”

“Mbak… gue beneran shocked”

Kirana mendengarkan Nareya yang akhirnya bercerita awal mula pernikahan masnya. Kirana hanya memikirkan satu hal, kenapa semua setuju membantu masnya waktu itu. Ada rasa bersalah dengan mbak nya ini. Kirana sangat memahami masnya, meskipun semenjak dewasa jarak itu terbentuk. Tapi sedari dulu, masnya itu selalu menjadi pelindungnya. Bahkan dari masa kelamnya juga.

“Mbak apapun yang mas Kala lakukan aku minta maaf ya itu pasti sangat mengacaukan hidup mbak.” ucap Kirana.

“Sejujurnya itu keputusan yang tepat ternyata. Setidaknya hidupku jauh lebih tertata sekarang, terutama keluarga ku. Tabunganku hampir cukup lah untuk rencana gue hidup setelah cerai,” jelas Nareya.

“Mbak aku cuma bisa menempatkan diri sebagai pendengar. Karena hidup sebagai Atmasena itu berat dan aku gak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi sampai mas Kala lakukan seperti itu.” ucap Kirana.

“Yah dan ironinya kalian tidak pernah kekurangan soal uang tapi Kala bisa menekan gue soal hutang.”ucap Nareya.

“Itu keterlaluan memang.” ucap Kirana lirih.

Perencanaan Nareya cukup matang, setelah project besar ini rampung, dia akan mengajukan cerai. Dia tidak peduli dengan hal janggal di keluarga Atmasena. Dia sudah cukup dengan bisa memiliki tabungan untuk masa depannya. Meskipun dia tau bisa saja dia mendapatkan keuntungan lebih. Tapi dia tidak memilihnya. Lebih lama disini hanya akan membuat kehilangan kendali atas hidupnya.

***

“Kirana, gue demam jadi gak ke butik dulu hari ini” ucap Nareya dengan handphone menempel di telinganya.

“Kamu pilek ya mbak, suaranya sampai sengau begitu. Minum jeruk anget mbak! minta mas Kala buatkan.” suara Kirana terdengar samar.

Kepala Nareya sudah berdengung. Akhir-akhir ini memang Nareya sangat sibuk sekali hampir tidak ada jeda. Dia hanya tidur satu atau dua jam saja

“Iya, lo jaga kesehatan ya. Istirahat kalau udah capek.”

Nareya tidak berusaha menjelaskan apapun yang terjadi di apartemen selama setahun ini kepada siapapun. Kalau dia bahkan jarang sekali berpapasan dengan Kala. Entah apakah orang itu tidur di apartemen atau dimana dia pun tidak tahu. Bahkan pernah mengobrol saja tidak. Karena itu sudah bagian dari kesepakatan untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Tapi semua orang mungkin menganggap pernikahan mereka berjalan normal. Kirana juga seperti itu, padahal dia sudah tahu alasan pernikahan mereka.

***

Entah sudah berapa jam Nareya tidur dan akhirnya terbangun karena perutnya sudah bergemuruh minta diisi makanan. Akhirnya dengan terpaksa keluar dari kamar dengan tubuh masih lemas. Sekilas melihat jam di dinding menunjukan pukul sembilan malam, astaga dua belas jam sudah dia tertidur. Kepalanya sudah lebih ringan tapi badan masih menggigil, sehingga tanganya refleks merapatkan jaket rajut yang dikenakan. Rambut acak baju yang dia gelung, baju piyama dan jaket rajut khas nenek-nenek, membuat sepasang mata di sana akhirnya mengernyit.

Kala baru saja masuk dan melepas sepatunya. Seseorang di dapur menarik perhatianya. Wanita itu lebih terlihat seperti nenek-nenek dibanding istrinya. Tubuhnya sedikit bergetar. Apakah dia sakit?

“Sedang masak apa?”tanya Kala

Nareya seketika berjengit, “Argh lo bikin gue kaget!”

“Sakit kamu?Saya bantu sini, mau makan apa?” tanya Kala mengambil alih pan yang sudah berisi sedikit minyak panas.

Nareya mengernyit, ‘apa-apaan tiba-tiba sok akrab begitu?’

“Telor ceplok aja biar cepet,” jawab Nareya

Kala membuatkan telor mata sapi dua, beberapa sisis, dan menumis brokoli juga, piring Nareya tampak lengkap dengan nasi. Keduanya duduk di meja makan. Tapi belum ada satupun yang mau membuka suara. Kala kembali berdiri membuat jeruk hangat.

“Minum ini,”ujar Kala.

Nareya sejenak terdiam “Lo, Kirana yang bilang kekamu untuk buatkan ini?” tanya Nareya.

“Tidak. Suara kamu sengau begitu, pilek kan? Akan lebih lega kalau minum jeruk atau jahe hangat. Tapi saya jarang stock jahe di kulkas, adanya jeruk.”

“Oke.”

Hening beberapa saat. Nareya menikmati makananya, sedangkan Kala hanya menatap Nareya.

“Lo…”

“Kamu…”

“Lo duluan aja” ucap Nareya mempersilahkan.

“Kamu sudah akrab dengan Kirana?”

“Ya iya lah, lo pikir kita kerja bareng setahun bakal diem–dieman?”

“Baguslah,”ucap Kala, mengabaikan nada sinis Nareya.

“Kamu tadi mau bilang apa?”

“Lo selama ini tiap hari tidur di sebelah? Gue baru sekali ini lihat lo.”

“Iya, saya tinggal di sini selama ini. Tidak pernah lihat karena saya berangkat kerja jam enam lalu pulang jam sembilan malam.”

“Pantesan, jam enam gue belum bangun, jam sembilan gue biasanya udah fokus gambar.” ucap Nareya sambil mengunyah.

“Persiapan untuk fashion show lancar? Itu langkah pertama kita jadi saya harapkan kamu benar-benar sungguh-sungguh!” ujar Kala serius.

Nareya berhenti mengunyah dan menatap Kala, ‘Apa dia bilang? Sungguh–sungguh?’

“Iya harusnya hari ini gue bantu Kirana mengkonsep tempat dan lainya, tapi jadi mundur karena gue gak ke butik.”

“Nah itu kamu, harusnya….”

“Kesepakatan kita udah gak relevan lagi sekarang. Lo udah dapat posisi dan hutang gue sudah lunas. Ayo kita cerai!” potong Nareya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!