Rose baru sadar, ternyata selama ini dia hanya dijadikan Aurora sebagai alat untuk menghancurkan kehidupan keluarga Marcus.
Dan Sophia, anak yang selama ini dia rawat dengan cinta ternyata bukan anak kandungnya, melainkan anak kakak iparnya, wanita itu sengaja menukar anak mereka agar anaknya mendapatkan warisan keluarga Vale karena Aurora sendiri tidak memiliki hak di keluarga Vale. Sementara anak kandungnya Noah, di buang di panti asuhan oleh wanita itu, dan sialnya dia suka menyiksa anak itu karena anaknya yang diadopsi oleh keluarga kakak kandungnya.
Di ambang kematiannya dia baru tahu semua kebenaran itu, dia berdoa kepada Tuhan, meminta kesempatan kedua agar dia bisa memperbaiki semua kesalahan yang dia lakukan dan juga mencari Noah anak kandungnya dan dia berjanji untuk meninggalkan Marcus dan merawat anaknya sendiri.
Apakah Rose berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi Rose
"Marcus, besok kita liburan ya mumpung Sophia sudah libur." seorang wanita membuntuti langkah kaki suaminya yang baru saja pulang dari kerja.
Marcus, Suami dari Rose , terlihat tidak mood, dia enggan menanggapi ocehan wanita itu.
"Berhenti meminta hal-hal yang tidak penting itu padaku, sudah kubilang aku tidak sudi memberikan waktuku untuk mu dan juga anak mu."
Deg....
Langkah wanita itu terhenti, Rose terdiam, dia menatap kepergian suaminya dengan wajah penuh kecewa, seharusnya sejak awal dia tidak terlalu berharap banyak pada pria itu.
Pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih sepuluh tahun, tapi dia masih gagal mendapatkan hati pria itu.
"Nyonya ada tamu." ucap seorang pelayan tiba-tiba datang menghampiri Rose yang masih diam ditempatnya.
"Siapa bi?" tanya Rose yang heran karena ada yang datang bertamu sore-sore begini. Tapi pelayan itu menggelengkan kepalanya.
karena penasaran, dia bergegas pergi menuju pintu depan.
klek....
"Ck lama sekali." gerutu seorang pria yang langsung nyelonong masuk sambil menyeret kopernya. diikuti oleh seorang wanita yang merupakan kekasih dari pria itu.
"Mana kak Marcus?" tanya Jesper yang merupakan adik dari suaminya, pria itu dengan lancang duduk di sofa lalu mengangkat kakinya di atas meja tamu seolah ini rumahnya sendiri.
Tidak sopan sekali.
"Mau apa kau kesini?" Rose menatap sinis adik iparnya itu, tingkahnya selalu kurang ajar.
Jesper tersenyum miring. "Aku di suruh ibu untuk tinggal disini, iya kan sayang." ucapnya santai sambil melirik ke arah kekasihnya, Emma.
"Kenapa?" tanya Rose tidak senang.
"Ini rumah kakakku, ya suka-suka kami lah." jawab pria itu nyolot.
Malas berdebat, Rose memilih meninggalkan dua orang itu didepan, dia harus pergi ke kamar suaminya, menanyakan tentang hal ini pada pria itu.
Ah iya, dari awal mereka menikah, baik Marcus dan Rose sepakat tidur terpisah. Walaupun begitu, Rose tetap senang karena bisa serumah dengan pria yang paling dia cintai.
Tok... Tok....
Rose mengetuk pintu kamar suaminya dengan pelan. dan tidak lama..
klek....
Pintu terbuka, Marcus berdiri dengan tatapan tajam yang terarah pada istrinya. Dia baru selesai mandi dan belum sempat memakai bajunya.
"Apa?"
Rose diam-diam menelan ludahnya, matanya terfokuskan pada tubuh kekar pria itu, Marcus belum memakai bajunya dan hanya memakai handuk kecil yang melekat di pinggang.
"Ada apa?" Marcus mengulangi pertanyaannya, yang membuat Rose langsung tersadar. "Ehm, ada adikmu dibawah."
Marcus mengangguk, tanpa bicara apapun dia kembali menutup pintu kamarnya, membuat Rose tersentak kaget.
Biasa.
Rose sekarang beralih pergi ke kamar anaknya.
Klek....
"Mama."
Grep....
Dengan girang, Sophia langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat.
"Sudah mandi belum?" Rose bertanya sambil menuntun tubuh anaknya duduk ke sofa yang ada kamar mereka.
Anak itu mengangguk. "Sudah mama, dan sekarang aku lapar." jawab Sophia sambil mengelus perut ratanya. Lucu sekali.
"Ayo turun, sudah waktunya makan." Rose langsung menggandeng tangan anak itu dan membawanya turun ke ruang makan.
.....
Ruang makan.
"Mama mau itu, jangan sayur!" pekik Sophia yang protes saat mamanya mengambilkan nya satu sendok sayur dan meletakkannya di atas piring. Dia tidak suka sayur.
"Ck berisik, apa kau tidak diajari tata krama di meja makan." kesal Jesper yang merasa terganggu dengan ocehan anak itu.
Mata Rose menajam, "Jika kau tidak suka, pergi dari sini." usirnya.
Marcus meletakkan sendoknya dengan keras diatas piringnya. "Kau tidak memiliki hak untuk mengusir adikku."
Jesper merasa menang saat kakaknya memilih membelanya di bandingkan istrinya.
Rose bungkam, hatinya terasa nyeri, suaminya memang seperti itu, seharusnya dia sudah biasa, tapi melihat wajah kecewa anaknya membuat hatinya hancur.
"Kenapa papa selalu memarahi mama?, yang salah itu om Jesper pa." protes Sophia yang membuat mata Jesper melotot.
Anak itu benar-benar.
"Kau diam, aku tidak suka ada suara berisik saat makan." Marcus menujuk wajah Sophia yang matanya sudah berkaca-kaca. Rose langsung memeluk anaknya.
"Kau membela adikmu dibandingkan anakmu sendiri?, papa macam apa kau!" Rose tidak terima jika anaknya di marahi pria itu, dia yang melahirkan Sophia tidak pernah mengeluarkan nada tinggi pada anak itu.
"Jika kau tidak senang, pergi saja dari sini, pintu keluar terbuka lebar untuk mu." sahut Marcus enteng.
Rose merasa tidak ada gunanya berdebat dengan suaminya, sejak awal pria itu memang tidak menyukainya. Dia jadi menyesal karena sudah memaksa kehendaknya hingga menjebak pria itu. Tapi rasa cintanya pada Marcus sangat besar.
"Mama aku mau tidur." cicit Sophia yang tidak mau jika mamanya kembali di marahi sang papa.
Jadi dengan cepat Rose membawa anaknya kembali ke kamar mereka.
Dalam diam, Emma menatap puas kepergian wanita itu.
.....
Semua ini berawal dari obsesi Rose pada Marcus, dulu mereka teman sekelas saat kuliah, entah awalnya bagaimana, tapi Rose sedih saat Marcus membawa seorang wanita cantik yang bernama Mia, dan memperkenalkan wanita itu sebagai tunangannya.
Jelas saja, Rose merasa hancur, pikirannya kacau dan dia tidak bisa berpikir jernih. sampai dirinya tidak masuk kuliah selama dua Minggu. Orangtuanya sudah tahu apa masalah yang sedang dialami sang anak, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena Marcus sendiri adalah anak dari teman bisnis mereka.
Di usianya yang baru dua puluh tahun, Rose berencana menjebak Marcus di hari perayaan ulangtahun pria itu.
"Aku akan mendapatkan mu Marcus, bagaimanapun caranya." dan sedikit nekat dia membeli obat per4ngsang yang akan dia masukkan ke dalam minuman pria itu.
Hingga akhirnya hari itu datang juga.
Seperti biasa, dia berjalan dengan keluarganya, ikut mengobrol dengan beberapa temannya yang hadir, dia melirik sinis Mia yang bergelayut manja pada Marcus. Si4lan dia ingin mematahkan tangan wanita itu.
Marcus hanya miliknya dan tidak seorangpun bisa mendapatkannya.
Semakin malam, pesta ulang tahun itu semakin seru, saat Marcus mulai lengah, dia langsung memasukkan obat per4ngsang yang dia beli sebelumnya ke dalam minuman pria itu dan Marcus langsung meminumnya tanpa curiga.
Dan entah bagaimana caranya, Rose berhasil membawa Marcus ke dalam sebuah kamar, sesuai rencananya,p pria itu menidurinya hingga keluar berkali-kali didalam tubuhnya.
Sayangnya belum sampai pagi, kamar itu didobrak keras dan semua orang termasuk orangtuanya terkejut saat melihat keadaan dirinya dan juga Marcus yang saat itu masih telanjang bulat, untung saja kegiatan mereka sudah selesai.
"MARCUS KAU HARUS TANGGUNG JAWAB." teriak Daniel ayah dari Rose, yang tidak terima anaknya di tiduri oleh Marcus.
Rose tersenyum miring, dia menatap puas Mia yang menangis keras karena tunangannya yang sudah tidur dengan wanita lain.
Tidak ada penyesalan di wajah Rose, yang ada senyum puas karena dia sudah berhasil merebut Marcus dari Mia.
.....
Jangan lupa like....