hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Benih Penyesalan
Setelah membersihkan sisa darah dan air hujan dari tubuhnya, perut Safira mulai terasa lapar. Ia memutuskan untuk turun ke bawah, masa bodoh dengan tatapan tajam atau sindiran yang mungkin menantinya. Saat kakinya menginjak anak tangga terakhir, suara gelak tawa dari ruang makan terdengar begitu kontras dengan keheningan di kamarnya.
Keluarga Maheswara sedang berkumpul lengkap di meja makan panjang itu. Di tengah meja, terdapat brosur-brosur mewah tentang dekorasi bertema White Diamond.
“Papa sudah pesankan ballroom di hotel bintang lima, Maya. Semuanya harus sempurna untuk ulang tahunmu yang ke-17,” ucap Raga dengan nada bangga yang tak pernah ia berikan pada Safira.
“Terima kasih, Pa! Aku mau undang semua teman sekolah, biar mereka tahu kalau aku putri Papa yang paling beruntung,” balas Maya sambil melirik sinis ke arah Safira yang baru saja muncul di ambang pintu.
Safira berjalan tenang menuju dapur, melewati mereka seolah mereka hanyalah pajangan dinding. Ia mengambil piring dan menyendok nasi serta lauk yang tersisa dengan gerakan yang sangat anggun. Tidak ada lagi Safira yang canggung; setiap gerakannya kini memancarkan aura kelas atas yang alami.
Raka, sang kakak tertua, menghentikan suapannya. Matanya terpaku pada punggung Safira. Ada sesuatu yang sangat mengganggunya. Sejak Safira kembali dari sekolah dengan luka dan pakaian kotor sore tadi, firasat Raka terus berteriak bahwa ada yang salah. Safira tidak lagi terlihat seperti "anak sial" yang butuh dikasihani. Ia terlihat seperti predator yang sedang beristirahat.
“Safira,” panggil Raka, suaranya berat dan penuh selidik.
Safira berbalik pelan, menatap Raka dengan piring di tangannya. “Ya?”
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan di luar sana sampai pulang dengan keadaan seperti itu?” tanya Raka. “Jangan bilang kamu ikut geng motor atau tawuran. Nama besar Maheswara bisa hancur kalau kamu tertangkap polisi.”
Safira tersenyum tipis—senyuman yang membuat Raka merasa sangat tidak nyaman. “Nama besar yang mana, Kak Raka? Nama yang hanya kalian berikan pada Maya dan Vian? Tenang saja, aku tidak tertarik merusakharta kalian.”
“Jaga bicaramu!” bentak Raga, ayahnya. “Raka hanya bertanya karena dia masih peduli padamu sebagai kakak!”
“Peduli?” Safira terkekeh pelan, nada suaranya begitu dingin hingga membuat Ratih merinding.
“Jika peduli artinya hanya bertanya saat kalian merasa terancam, maka simpan saja kepedulian itu. Aku sedang lapar, jangan ganggu makan malamku.”
Safira duduk di ujung meja yang paling jauh, membelakangi mereka semua, dan mulai makan dengan tenang. Ketegangan di meja makan itu mendadak menjadi sangat kental. Raka meremas garpunya, perasaannya semakin tidak enak. Ia merasa Safira bukan lagi bagian dari rumah ini. Gadis itu seperti tamu asing yang sangat kuat, yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan fondasi keluarga mereka tanpa kedipan mata.
Di sisi lain kota, di sebuah istana modern yang dikelilingi penjagaan ketat, Abimanyu Razka Byakta masih teringat jelas pada gadis yang menyelamatkannya di gang sempit tadi. Ia duduk di ruang kerja pribadinya, menghadap putra tunggalnya, Abian Alvarezka Byakta.
Abian baru saja kembali dari luar negeri. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas tampak sangat dingin, seolah tak tersentuh oleh emosi apa pun.
“Abian, dengarkan Papa kali ini,” Abimanyu meletakkan secangkir kopi dengan mengingat kejadian sore tadi.
“Gadis itu bukan sekadar anak SMA biasa. Dia melumpuhkan empat orang profesional dengan gerakan yang bahkan pengawalmu pun mungkin akan kesulitan melakukannya. Dia punya keberanian yang murni.”
Abian hanya bersandar di kursi, melipat tangannya di dada dengan bosan. “Papa ingin aku menikahi seorang gadis hanya karena dia bisa berkelahi? Papa, aku bukan sedang mencari bodyguard tambahan. Aku butuh orang yang bisa memimpin perusahaan di sampingku nanti.”
“Dia memiliki itu, Abian! Papa bisa melihatnya dari matanya. Ada kecerdasan dan ketenangan yang luar biasa di sana,” desak Abimanyu. “Papa ingin menjodohkanmu dengannya. Safira Kirana Maheswara. Dia anak kandung Raga Maheswara, tapi dia seperti mutiara yang dibuang di lumpur oleh keluarganya sendiri.”
Abian mendengus kasar. Mendengar nama "Maheswara" saja sudah membuatnya malas. Di matanya, keluarga Maheswara hanyalah kumpulan orang haus harta yang suka pamer, terutama putri tirinya, Maya, yang sering berpura pura lemah di acara-acara bisnis.
“Aku tidak tertarik, Pa. Berhentilah mencoba mengatur hidupku dengan dongeng pahlawan kesiangan itu,” Abian berdiri, suaranya datar dan tegas.
“ Abian , lihat dulu gambarnya! Papa sudah meminta orang mencari tahu tentangnya,” Abimanyu menyodorkan sebuah amplop cokelat berisi profil dan foto-foto Safira.
Namun, Abian bahkan tidak melirik amplop itu. Ia justru membalikkan badan dan melangkah menuju pintu. “Simpan saja foto itu, Pa. Siapa pun dia, dia tetaplah seorang Maheswara. Dan aku tidak punya waktu untuk berurusan dengan keluarga itu.”
Brak.
Pintu tertutup rapat saat Abian keluar tanpa sedikit pun rasa ingin tahu. Abimanyu hanya bisa menghela napas panjang, menatap amplop cokelat di atas meja yang berisi foto Safira dengan rambut short bob barunya yang sangat memikat.
“Kamu akan menyesal telah menolaknya, Abian,” gumam Abimanyu pelan. “Gadis itu adalah badai yang sedang tenang. Dan saat dia bergerak, tidak ada yang bisa menghentikannya.”
Kembali ke rumah Safira, makan malam telah usai. Maya dan Ratih sudah naik ke atas untuk memesan gaun dari desainer ternama, sementara Vian sibuk dengan gim videonya. Raga masih di ruang kerja, meninggalkan Raka sendirian di ruang tengah.
Raka melihat Safira keluar dari dapur setelah mencuci piringnya sendiri. Sesuatu yang jarang dilakukan anak majikan di rumah ini.
“Safira,” panggil Raka lagi. Kali ini suaranya lebih lembut, hampir seperti memohon.
Safira berhenti, menatap Raka dengan ekspresi datar. “Masih ada yang ingin ditanyakan, Kak?”
“Bukan bertanya... aku hanya ingin tahu, kenapa kamu berubah sehebat ini? Kenapa kamu tidak lagi mengejar Nathan? Kenapa kamu tidak lagi menangis saat Papa memarahimu?” Raka mendekat, mencoba mencari secercah emosi di mata adiknya.
Safira menatap kakaknya cukup lama, hingga Raka merasa telanjang di bawah tatapan itu. “Karena aku sudah mati sekali, Kak Raka. Dan orang mati tidak punya alasan untuk berharap pada orang-orang yang membunuhnya.”
Raka membeku. “Mati? Apa maksudmu?”
Safira hanya tersenyum dingin, senyuman yang tidak mencapai matanya. “Suatu saat nanti kamu akan mengerti. Tapi saat itu terjadi, pastikan kamu tidak menyesal karena sudah terlambat untuk sekadar meminta maaf.”
Safira berbalik dan berjalan menaiki tangga dengan langkah anggun namun mantap. Raka terpaku di tempatnya berdiri. Bulu kuduknya berdiri. Kalimat Safira barusan terasa seperti kutukan sekaligus ramalan.
Di kamarnya, Safira mengeluarkan leptop kerja nya untuk melihat perkembangan usahanya. sambil memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya untuk memajukan semua usaha yang telah ia lakukan.
Malam itu, di bawah atap yang sama, dua orang sedang merenung. Raka yang mulai dihantui rasa bersalah yang tak ia mengerti, dan Safira yang sedang membangun rencana untuk meruntuhkan tembok-tembok yang selama ini mengurungnya.
Kesempatan kedua ini bukan untuk memaafkan. Tapi untuk memastikan bahwa sejarah tidak akan pernah terulang kembali.
...****************...
Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas