Di masa depan, ketika perang telah membakar Bumi hingga tak tersisa lagi kehidupan, Rudy adalah seorang jenderal perang, pemegang kendali tertinggi kecerdasan buatan dan armada pemusnah umat manusia. Ia menang dalam perang terakhir, namun kehilangan segalanya.
Sebuah insiden ruang-waktu menyeret Rudy ribuan tahun ke masa lalu, ke era ketika dunia belum mengenal teknologi dan keadilan, ia membawa kekuatan yang cukup untuk menaklukkan segalanya, namun ia memilih jalan lain.
Tanpa merebut tahta, Rudy menantang tirani, melindungi yang lemah, dan membentuk dunia agar tak mengulangi kehancuran yang pernah ia lihat. Di tengah konflik dan kekuasaan, ia menemukan cinta, hidup sebagai manusia, lalu menghilang bersama waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adam Erlangga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Di luar kapal Atlas, Rudy dan Rachel memasak makanan disana.
"Apa kau tidak punya peralatan masak.? kenapa kita harus masak seperti ini.?" tanya Rachel
"Sebenarnya, semua makanan yang aku punya sudah matang. Namanya makanan kaleng, tinggal di hangatkan saja lalu di makan."
"Makanan kaleng.?"
"Ya intinya makanan sudah matang dan di simpan di dalam besi ini."
"Ah, tempat makan ya.?"
"Ehm, ya seperti itulah."
Rudy pun meletakkan beberapa kaleng itu di atas bara api.
"kenapa kau mengijinkan aku masuk ke dalam tempat tinggal mu.? bukankah kau melarang diapain yang untuk masuk kesana.?"
Rudy pun tersenyum.
"Untuk orang jaman sekarang, itu sangat berbahaya. Setiap sudut ruangan terdapat tombol dan sensor. Kalau orang yang tidak tau, satu tombol bisa menghancurkan gunung."
"Hebat sekali, apa yang kau katakan itu benar.?"
"Aku tidak pernah berbohong padamu. Kapal ini sangat berbahaya bagi manusia, kapal Atlas memang bukan kapal perang, tapi kapal pengangkut, tapi dalam mode komando ku, Atlas bisa jadi kapal perang."
"Kapal perang.? kenapa kapal bisa ada di atas gunung.? bukankah harusnya ada di laut.?"
"Hahaha. Kau benar, harusnya kapal ini ada di ruang kosong tanpa gravitasi."
"Hmm, aku tidak paham."
Rudy pun tersenyum, lalu ia menunjuk sebuah pohon di sampingnya.
"Rachel, lihat pohon itu."
"Hm.? kenapa.?"
"Menurut mu, apa aku bisa menghancurkan pohon itu dari sini.?"
"Rudy, jangan bercanda. Aku tau kau memang orang aneh yang kucintai, tapi tolong jangan bercanda seperti itu. Apapun yang kau katakan sebelumnya, aku masih bisa menerimanya."
"Katakan saja, berapa pohon yang harus aku hancurkan."
"Hm, oke. hancurkan 5 pohon disana."
"Lihat baik-baik dan jangan berkedip." kata Rudy.
SUUT. BREDEM.
Dalam sekejap saja, 5 peluru Alteleri di luncurkan dari Atlas. Peluru yang memiliki peledak rendah, yang biasanya di gunakan untuk menghentikan laju mobil modern, digunakan Rudy untuk menghancurkan pohon.
Rachel yang melihatnya benar-benar sangat terkejut. Bahkan makanan yang ia pegang terjatuh dengan sendirinya.
"Apa kau lihat.?" kata Rudy tersenyum.
Namun Rachel hanya terdiam sambil menelan ludah.
"Itu adalah peluru paling tidak berguna bagiku. Biasanya hanya digunakan oleh anggota kepolisian untuk melumpuhkan penjahat tingkat rendah."
KrataKratak tak. Suara pohon terbakar
"Rudy, pohonnya hancur." kata Rachel melongo.
"Ya, apa kau percaya padaku. Apa perlu aku menghancurkan sebuah gunung supaya kau percaya padaku.?"
Rachel menelan ludah, lalu ia melihat Rudy dengan terkejut.
"Apa kau sorang dewa.? bahkan seorang kesatria elite sekalipun, tidak akan mampu menghancurkan 5 pohon dalam sekejap, apalagi sampai hancur seperti itu. Bahkan seorang penyihir tidak bisa melakukannya."
"Hm, penyihir jaman sekarang seperti penipu di jamanku. Dan aku ini manusia, bukan dewa, hanya beda jaman saja."
"Jadi, Axiom sebagai pelindung ku juga bisa melakukan itu.?"
"Hm? Hahahaha."
"Ketawa kau tertawa.?"
"Hahaha lucu sekali. Axiom itu di ciptakan untuk menghalau dan menyerang kapal induk Prime."
"Ap, apa maksud mu.?"
"Hihihi, Rachel, Axiom jauh lebih kuat dari yang kau lihat barusan. Satu Axiom saja, bisa menghancurkan peradapan bumi saat ini. Apalagi menghancurkan 1 Kekaisaran, itu sangat mudah sekali. Bisa di katakan, Axiom adalah malapetaka bagi manusia jaman sekarang."
"Ha.?" sahut Rachel yang ketakutan.
"Kenapa kau takut.? Meskipun begitu, Axiom tidak bisa menghancurkan satu gunung, Masih ada senjata lebih mengerikan lagi di atas sana. Hanya satu perintah yang aku keluarkan, Bumi ini bisa hancur berkeping-keping."
Glek. Rachel menelan ludah ketakutan.
"Jangan takut Rachel, tujuanku bukan itu. Justru aku menginginkan perdamaian. Aku hanya mengibaratkan saja."
"Aku sedikit percaya dengan senjata pemusnahmu, tapi kenapa kau memberikan Axiom padaku. Bukankah kau juga membutuhkannya?"
"Aku turun ke bumi, membawa 5 Axiom, satu Axiom aku berikan padamu. Dan aku masih memiliki 450 Axiom di kapal induk. Aku juga memiliki 20.000 bom nuklir, 1 bom nya saja bisa merayakan satu Kekaisaran. Masih ada 5.000 kapal perang, 12.000 Drone berkekuatan plasma antariksa, Puluhan juta roket peluncur, dan ratusan juta peluru peledak. Semuanya di buat menggunakan bahan meteorit antariksa."
"A, aku tidak paham yang kau katakan. Dan kau bilang kau turun ke bumi.? apa artinya kau dari langit.?" kata Rachel sangat gugup.
Rudy pun melihat keatas langit.
"Hm, percaya tidak percaya, aku memang dari atas sana. Aku lahir di Kolonial Union yang jauh dari bumi. Ya, bisa di katakan aku memang bukan orang bumi, tapi orang langit." jawab Rudy
Rachel pun langsung berdiri, lalu ia berlutut di depan Rudy.
"Maafkan hamba yang tidak menyadari kehadiran Sang Dewa. Maaf sudah terlalu lancang kepada Anda. Hamba pantas mati." kata Rachel ketakutan, bahkan seluruh tubuhnya merinding.
"Ha.?" Rudy pun sangat terkejut.
Dalam hati Rachel ia bergumam. "Bisa-bisanya aku mencintai seorang Dewa Agung. Aku hanya manusia biasa."
Rudy pun mengangkat tubuh Rachel.
"Bangun Rachel, jangan berlutut seperti ini."
"Hamba tidak berani." katanya dengan gugup, bahkan matanya mulai memerah ingin meneteskan air mata.
"Bangun Rachel, aku bukan Dewa, aku berani bersumpah kalau aku bukan Dewa. Aku hanya manusia biasa sama seperti mu, asalku juga dari dunia ini."
"Tapi, kau hadir dengan kekuatan seperti itu. Aku sangat ragu." sahut Rachel.
"Bangun Rachel, jangan takut, jangan gugup. Aku manusia bukan dewa. Jangan mengganggap aku seorang dewa, oke.?" kata Rudy sambil membangunkan tubuh Rachel.
Rachel pun menatap wajah Rudy. Air matanya seakan ingin menetes.
"Hm, apa kau takut padaku.?" kata Rudy sambil mengusap mata Rachel yang ingin menangis.
"Uhm." sahutnya sambil menganggukkan kepala.
"Kenapa kau takut padaku.?" katanya sambil mengusap mata Rachel.
"Aku takut tidak pantas mencintaimu."
Rudy pun berhenti seketika, lalu menatap wajah Rachel.
"Apa yang kau katakan, siapa yang bilang begitu.? tidak ada satu orang pun yang mampu melarang untuk mencintai. Bahkan seorang dewa sekalipun. Perasaan itu tumbuh sendiri karena hati manusia. Aku juga manusia, kamu juga manusia."
"Uhm." sahut Rachel, lalu air matanya menetes sendiri.
"Hm, jangan bersikap seperti ini lagi padaku. Oke.?" kata Rudy sambil mengusap air mata Rachel.
"Tapi, kau benar-benar manusia kan.?"
"Aku manusia, aku juga bisa menua dan mati kapan saja. Dan semua yang kau lihat itu, hanya sebuah alat, bukan kekuatan super dari tubuhku."
Rachel pun terdiam sambil menatap wajahnya. Lalu Rudy mengusap rambutnya.
"Hm, Sebenarnya aku tidak ingin menunjukkan itu padamu, tapi mau bagaimana lagi, karena kau tidak percaya padaku."
Rudy pun memeluk Rachel.
"Uhm, sekarang aku percaya."
.....